Kamis, 23 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 1



            Waktu Syila, Radian, dan Windura kelas sepuluh.



Radian belum juga keluar dari dalam ruang OSIS menghadiri rapat evaluasi ekskul. Terpaksalah Syila menunggunya di kantin dengan perasaan yang mulai jengkel karena bosan menunggu. Berkali-kali dia mengirimi Radian sms namun tak satu pun yang dibalas. Ingin sekali rasanya Syila pulang duluan tapi hujan yang sedang mengguyur sekolahnya sore itu seperti air tumpah, begitu deras dan akan membuat kuyub siapa saja yang berani menerobosnya. Karena hujan itu juga dia terpaksa hanya mendekam di kantin yang sudah agak sepi, beberapa warungnya sudah tutup dan hanya tersisa lima-enam orang siswa saja di sana.
Syila melirik jam tangannya. Ternyata dia sudah menunggu di kantin selama hampir satu jam. Segera dia mengirim sms yang kesepuluh untuk Radian, kali ini dia menggunakan banyak tanda seru dan huruf kapital disetiap kalimatnya. Sepuluh detik… lima belas detik… empat puluh detik… satu menit. Nihil, tetap tidak ada balasan dari Radian. Syila membuang napas kesal.
Hujan bukannya semakin reda malah semakin deras, membuat udara menjadi semakin dingin. Masih dengan perasaan kesalnya Syila memakai sweater warna hitam yang selalu dibawanya selama musim hujan begini.
Bosan ngomel-ngomel via sms, Syila pun akhirnya menelpon Radian. Tut… tut... tut… detik berikutnya Syila seperti sudah tidak mendengar apa-apa lagi kecuali tawa renyah dari segerombol anak laki-laki yang baru saja datang dari arah depan kantin dengan seragam mereka yang kuyub karena habis menerobos hujan. Jumlah anak dalam gerombolan itu ada enam orang dan semuanya anak laki-laki murid kelas sepuluh. Syila tahu mereka murid kelas sepuluh dari nametag mereka yang isinya nama lengkap dan kelas mereka. Semuanya tertawa begitu lepas, merasa begitu bebas setelah menerobos hujan. Syila mengerti, apapun yang dilakukan bersama teman-teman terdekat memang selalu menyenangkan sekalipun itu membuat mereka kuyub dan kemungkinan akan sakit.
Ada Robian Farahman dari kelas X-A, anak itu berbadan paling kurus diantara yang lain dengan kulit sawo matang. Ada Ringgo Dharmala dari kelas X-B, diantara yang lain dia yang bertubuh paling tambun dengan perut yang menggelambir. Ada Dido Alrijal dari kelas X-C, dia teman sekelas Syila tapi tidak begitu dekat dengan Syila karena Dido selalu duduk paling depan sementara Syila selalu memilih duduk paling belakang. Ada Mikhalean Nikolaz dari kelas X-D, diantara yang lain dia yang berkulit paling bersih dan putih, kalau Syila tidak salah ingat dia adalah anak dari salah satu donatur sekolah. Ada Audrian Mara dari kelas X-E, dia ini anak paling banyak gaya dengan sepatu kets high yang selalu dipakainya dan pakaian ngepas badan, beberapa kali Syila mendengar kalau Audrian dipanggil ke ruang BK karena gaya berpakaiannya yang sudah ditegur berulang kali tapi tetap saja tidak berubah. Dan yang terakhir, Syila tidak tahu nama mau pun kelasnya karena dia tidak memakai name tag, dia bertubuh paling pas menurut Syila –tidak kurus tapi tidak juga gemuk-, dia juga yang penampilannya yang paling pas menurut Syila –tidak neko-neko tapi juga tidak terkesan culun.
Mereka semua tampak seperti anak kecil. Tertawa riang membahas aksi penerobosan yang baru saja mereka lakukan. Membuat Syila lupa dengan panggilan yang dia lakukan pada Radian. Perhatiannya terlalu tersita oleh enam orang siswa yang sekarang duduk di meja sebelah.
‘Ayo!’ tiba-tiba saja perhatian Syila teralihkan oleh suara Radian. Dia sudah berada di hadapan Syila dengan membawa sebuah payung besar warna pink bergambar hello kitty.
‘Loh? Radian?’ tanya Syila bego.
‘Iya, Radian. Ayo pulang, katanya udah bosen,’ sahut Radian seraya meraih tas Syila di meja. Sementara Syila hanya mengangguk dan mulai beranjak.
Saat Syila hendak mengambil alih tasnya dari tangan Radian, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata anak tidak bername tag itu. Buru-buru dia menunduk lalu membuang pandangan ke arah lainnya. Lalu detik berikutnya hanya dag-dig-dug jantungnya saja yang terasa. Untuk pertama kalinya dia merasakan jantungnya berdetak hebat hanya karena bertemu mata dengan seorang laki-laki. Bahkan dengan Radian, satu-satunya laki-laki yang pernah berjarak paling dekat dengan wajahnya pun Syila tidak pernah merasakannya.
‘Syilaaa? Denger aku nggak sih dari tadi?’ tanya Radian gemas.
‘Eh iya, apa Rad?’ akhirnya setelah berada jauh dari kantin detakan jantung Syila kembali normal. Dia juga sudah bisa mendengar suara Radian yang tadi seperti larut bersama hujan.
‘Kamu mau tunggu dimana? Aku mau balikin payungnya Mira dulu,’ Radian mengulang kata-katanya.
Syila memutar bola matanya dan kemudian tertawa begitu sadar dengan warna dan gambar payung yang dibawa Radian.
‘Yeee kok malah ketawa?’ tanya Radian sewot karena bukannya menjawab pertanyaan berulangnya, Syila malah menertawai dirinya.
‘Kamu lucu. Jadi dari tadi kamu pakai payung gede ini, yang warna pink, yang gambar hello kitty begini? Ya ampun Radian, kamu unyu banget hahahaha.’
‘Dari tadi kemana aja? Udah kamu tunggu sini aja deh, aku balikin payung ke Mira dulu. Nih, kamu pakai jas hujan dari sekarang biar nggak lama.’
‘Loh kok jas hujan aku ada di tas kamu?’
‘Kalo nggak di tas aku mau di tas siapa? Kamu? Mana mau kamu bawa jas hujan. Ribetlah, beratlah, apalah, padahal cuma tipis begini.’
‘Uuuuuuh baik banget sih Radian iniiiii…’ Syila mencubit gemas pipi Radian.
‘Udah jangan kebanyakan ngerayu, buruan pakai jas hujannya.’
‘Iya….’
Berikutnya Radian menemui Mira di ruang OSIS untuk mengembalikan payung dan Syila tetap di koridor ujung menunggu Radian sambil memakai jas hujannya.
Radian, dia adalah sahabat Syila sejak kecil. Rumahnya hanya berbeda sepuluh nomor saja dari rumah Syila. Kebanyakan orang, terutama cewek-cewek, bilang kalau Radian itu keren, ganteng, ya idola bangetlah pokoknya. Dia pintar, ramah pada siapa saja, dan soal perawakan, dia itu berkulit putih, bertubuh jangkung dengan postur tubuh yang ideal, dan berhidung mancung. Tapi seputih apapun Radian, sejangkung dan seideal apapun Radian, dan semancung apapun Radian, Syila sama sekali tidak bisa terpesona pada Radian seperti teman-teman cewek lainnya. Mungkin karena sudah terlalu lama bersama makanya fisik Radian jadi tidak begitu berarti bagi Syila. Kata aku-kamu yang mereka pakai saat berbicara itu hanya soal kebiasaan saja. Mereka sudah berteman sejak mereka belum diperbolehkan menggunakan kata gue-elo, akhirnya terbiasalah mereka dengan sebutan aku-kamu yang membuat banyak cewek iri kepada Syila. Selain Syila kepada Radian dan Radian kepada Syila, mereka menggunakan kata gue-elo, sama seperti remaja-remaja lainnya kepada teman-temannya.
Radian kembali dengan berlari kecil. Dilihatnya Syila masih belum selesai memakai jas hujan. Ah itu dia Syila, lambat dalam melakukan apapun kecuali jika disuruh bernyannyi. Itu adalah hobi Syila. Sejak kecil dia paling suka menyanyi dan suaranya memang bagus, merdu, dan sangat bersahabat dengan telinga pendengarnya. Saat ini Syila tergabung dalam ekskul vocal group di sekolah. Dia sering memposting videonya saat bernyanyi di youtube dan responnya cukup bagus, delapan puluh persen viewers menyukai dan mengomentari dengan pujian-pujian.
‘Yaampun belum kelar juga pakai jas hujannya?’
‘Repot tau! Kamu sendiri mana? Belum pakai jas hujan tuh,’ sahut Syila sambil melempar lirikan kepada Radian.
‘Iya, ini mau dipakai.’ Radian mengeluarkan jas hujan dari dalam tasnya dan segera memakainya. Begitu selesai dia mengajak Syila menerobos hujan untuk menuju parkiran.
Sekarang Radian sudah sibuk menjejalkan kakinya di atas pedal sepeda. Dan Syila sudah duduk manis di belakang, di bagian boncengan, sambil berpegangan pada jas hujan Radian di samping kanan dan kirinya.
‘Rad, menurut kamu definisi jatuh cinta tuh apa sih?’ tanya Syila.
Radian mengangkat bahunya tidak tahu. ‘Tumben nanyanya. Kenapa?’
‘Jawab aja kenapa sih… nggak usah malah nanya balik.’
‘Ya aku nggak tau.’
‘Ini masa-masanya puber loh Rad, masa kamu nggak pernah ngerasain jatuh cinta sih?’
‘Deg-degan,’ sahut Radian dengan nada menebak.
‘Berarti aku lagi jatuh cinta dong?’
‘Sama aku?’ tanya Radian sambil melirik tangan Syila.
Syila pun segera melepaskan tangannya dari jas hujan Radian. ‘Yeee bukanlah!’
Radian mengangkat kedua alis tebalnya.
‘Udah ayo jalan!’ Syila menepuk pundak Radian mirip seperti kusir dan kudanya. Tangannya kembali berpegangan dengan jas hujan Radian. ‘Dih ayoooo! Malah ngeliatin tangan aku. Udah biasa juga kan?!’
‘Nebeng sih belagu!’ sahut Radian. Tapi Syila masa bodo.
Kalau Radian benar, maka Syila telah jatuh cinta. Karena jatuh cinta adalah saat kita tiba-tiba merasa jantung kita berdetak lebih cepat padahal itu hanya pertemuan singkat antara dua pasang mata.

---
Rindu yang menggebu berhasil membuat Syila bertahan menunggu Radian keluar kelas tanpa protes. Mungkin tidak ada yang spesial, tapi bagi seorang Syila, menunggu di kantin kampus lain berpuluh-puluh menit lamanya adalah hal yang luar biasa menyiksa. Pertama, Syila tidak suka menunggu. Kedua, Syila bukan tipe yang mudah beradaptasi di tempat baru. Dan ketiga, Syila paling malas berbasa-basi dengan teman Radian yang bergenit-genit padanya.
Sekarang Syila sudah menjadi mahasiswa semester enam di sebuah kampus berbeda dengan Radian, jurusan perfilman. Hobi memotret dan merekamnya menjadikan Syila akhirnya tanpa ragu memilih jurusan perfilman. Bukan hal yang mudah untuk Syila masuk di jurusan perfilman. Selama seminggu penuh dia harus capek-capek berdebat dengan kedua orang tuanya agar mau menyetujui pendaftaran masuk kuliah jurusan perfilman. Setelah berdebat pun Syila masih harus melewati masa-masa menyebalkan karena harus beradapatasi dengan lingkungan kampusnya yang ‘keras’.
Dari: Radian
Masih di kantin?
Untuk: Radian
Iya.
Ah, Akhirnya ‘masa penantian’ Syila sebentar lagi selesai. Sms dari Radian barusan akan membawa Radian segera berada di hadapan Syila.
“Jadi mau kemana?” Begitu cara Radian menyapa Syila sore ini.
Syila melihat jam tangannya. Hanya meleset sepuluh menit dari estimasi waktu yang sudah dibuatnya. “Pertama kita pergi ke dokter dulu.” Syila tersenyum lebar, sudah benar-benar siap akan bepergian hari ini demi satu acara ‘penting’ besok.
“Pertama? Huh berarti akan ada jadwal berikutnya, berikutnya, dan berikutnya…” keluh Radian pelan tapi Syila mendengarnya.
“Let’s go, don’t waste my time!” masih dengan senyum lebarnya, Syila menggandeng –atau lebih tepatnya menyeret- Radian.
“Padahal dia yang buang-buang waktu gue.” Keluh Radian dan lagi-lagi Syila mendengarnya.
“Nanti aku traktir. Kamu itu udah aku sewa jadi jangan bawel deh!”
“Ngomong apa sih anak ini?! Jadi gue semacam orang-orangan atau mobil-mobilan sih?!” Ini adalah keluhan terakhir yang Syila dengar saat mereka menuju parkiran.
Sore masih pada waktunya. Hembusan anginnya berbeda dengan yang tadi siang. Syila di atas boncengan asik menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Rambutnya yang tidak kebagian helm berayun-ayun. Dari kaca spion Radian bisa lihat kalau Syila sedang tersenyum di balik punggungnya. Dan dia tahu, anak itu pasti sedang asik dengan ‘dunianya’.
Soal estimasi waktu yang meleset sepuluh menit itu, Syila tidak mempermasalahkannya. Itu bukan salah Radian tapi dosen Radian yang sore ini keasikan mengajar dan dengan tega membuat mahasiswanya terlambat pulang dari jadwalnya.
Ah tentang tentang terlambat. Syila juga punya cerita tentang terlambat.
---
            Hari berikutnya Syila terlambat sampai di sekolah. Ah sebenarnya terlambat sampai di sekolah bukan kali pertama, kedua, atau ketiga untuk Syila. Kalau Radian tidak sedang memaksa menjemputnya, menuliskan nama dalam Daftar Keterlambatan Siswa adalah hal yang akan Syila lakukan sebelum masuk ke dalam sekolah. Kemudian dijemur selama sepuluh menit di lapangan utama sambil mengucap janji tidak akan tertambat tanpa boleh berhenti adalah hal berikutnya yang akan dilakukan Syila sebelum mendapat ceramah dari guru piket. Singkatnya, terlambat adalah ‘hobi’ Syila.
            Matahari pagi sedang tidak bersahabat, sedikit lebih menyengat dari biasanya. Dan Syila mulai merasa haus karena mengucap ‘janji basinya’ tanpa henti. Ya, basi karena sudah terlalu sering diucapkan.
            ‘Tiga puluh detik lagi.’ Pak Bonar persis seperti time keeper yang tiap menit mengingatkan Syila sisa waktu ‘penjemuran’.
            ‘Saya, Syilaria Greaty, berjanji tidak akan terlambat lagi. Saya, Syilaria Greaty, berjanji tidak akan terlambat lagi. Saya, Syilaria Great…’ Syila tiba-tiba berhenti mengucap janjinya.
            Laki-laki berpostur paling pas yang kemarin membuat Syila mendadak lupa dengan hukumannya. Laki-laki itu berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin dekat. Membuat Syila tiba-tiba tidak dapat mengontrol degupan jantungnya. Tidak seperti kemarin, degupan berima berantakan itu tidak datang dari pertemuan dua pasang mata. Tapi derapan langkah kaki laki-laki berpostur paling pas itulah yang menjadi penyebab rima berantakan di jantungnya.
            ‘Kau! Cepatlah sedikit, lamban!’ Pak Bonar meneriaki laki-laki itu. Membuat laki-laki itu pun mempercepat langkahnya dengan setengah berlari.
            Syila seperti kehilangan daya kerja otaknya saat laki-laki itu melintas di hadapannya. Mendadak dia seperti lupa bernapas. Hukuman dari Pak Bonar bahkan ikut dilupakannya.
            ‘Syila, mengapa kau berhenti? Tambah dua menit lagi.’ Pak Bonar mengembalikan kinerja otak Syila.
            Syila kembali mengucapkan janji basinya. Kali ini dengan suara pelan dan agak bergetar. Berada terlalu dekat dengan laki-laki itu membuat Syila gugup bukan main.
            ‘Ah wajah baru rupanya dalam dunia peterlambatan. Siapalah nama kau?’ Entah istilah apa yang Pak Bonar pakai. Dunia Peterlambatan, apa itu? Aneh. Untungnya Pak Bonar tidak mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, bisa hancur kosa kata remaja indonesia nanti.
‘Bah berani kali kau tak pakai name tag.’ Sebelum laki-laki itu mengucap namanya, Pak Bonar sudah menangkap basah laki-laki itu.
            ‘Maaf Pak, hilang. Baru hari ini saya mau beli.’
            ‘Segera ke koperasi! Dalam lima menit kau harus kembali dengan name tag yang sudah dicetak nama kau. Terlambat satu detik saja, hukumanmu kutambah karena kau sudah melanggar dua pasal.’
            Syila tidak tahu respon seperti apa yang laki-laki itu berikan pada Pak Bonar karena dia sendiri tidak berani menoleh sama sekali. Yang Syila tahu, tak lama setelah perintah Pak Bonar, terdengar suara langkah laki-laki itu. Nampaknya sedang menuruti perintah Pak Bonar.
            ‘Selesai. Kuharap besok kau jangan lagi datang terlambat. Bosan kali aku sama kau setiap pagi kau terlambat.’
            Syila mengangguk lalu mengambil tasnya di podium dan pergi meninggalkan Pak Bonar di lapangan. Sementara laki-laki itu masih belum kembali juga dari koperasi.
            Adalah pagi dimana Syila semakin yakin kalau dirinya sedang jatuh cinta. Ah, hanya orang yang sedang jatuh cinta saja yang degupan jantungnya jadi berantakan saat ada derapan langkah kaki orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar