Waktu Syila, Radian, dan Windura kelas
sepuluh.
Radian
belum juga keluar dari dalam ruang OSIS menghadiri rapat evaluasi ekskul.
Terpaksalah Syila menunggunya di kantin dengan perasaan yang mulai jengkel
karena bosan menunggu. Berkali-kali dia mengirimi Radian sms namun tak satu pun
yang dibalas. Ingin sekali rasanya Syila pulang duluan tapi hujan yang sedang
mengguyur sekolahnya sore itu seperti air tumpah, begitu deras dan akan membuat
kuyub siapa saja yang berani menerobosnya. Karena hujan itu juga dia terpaksa
hanya mendekam di kantin yang sudah agak sepi, beberapa warungnya sudah tutup
dan hanya tersisa lima-enam orang siswa saja di sana.
Syila
melirik jam tangannya. Ternyata dia sudah menunggu di kantin selama hampir satu
jam. Segera dia mengirim sms yang kesepuluh untuk Radian, kali ini dia
menggunakan banyak tanda seru dan huruf kapital disetiap kalimatnya. Sepuluh
detik… lima belas detik… empat puluh detik… satu menit. Nihil, tetap tidak ada
balasan dari Radian. Syila membuang napas kesal.
Hujan
bukannya semakin reda malah semakin deras, membuat udara menjadi semakin
dingin. Masih dengan perasaan kesalnya Syila memakai sweater warna hitam yang
selalu dibawanya selama musim hujan begini.
Bosan
ngomel-ngomel via sms, Syila pun akhirnya menelpon Radian. Tut… tut... tut…
detik berikutnya Syila seperti sudah tidak mendengar apa-apa lagi kecuali tawa
renyah dari segerombol anak laki-laki yang baru saja datang dari arah depan
kantin dengan seragam mereka yang kuyub karena habis menerobos hujan. Jumlah
anak dalam gerombolan itu ada enam orang dan semuanya anak laki-laki murid
kelas sepuluh. Syila tahu mereka murid kelas sepuluh dari nametag mereka yang
isinya nama lengkap dan kelas mereka. Semuanya tertawa begitu lepas, merasa
begitu bebas setelah menerobos hujan. Syila mengerti, apapun yang dilakukan
bersama teman-teman terdekat memang selalu menyenangkan sekalipun itu membuat
mereka kuyub dan kemungkinan akan sakit.
Ada
Robian Farahman dari kelas X-A, anak itu berbadan paling kurus diantara yang
lain dengan kulit sawo matang. Ada Ringgo Dharmala dari kelas X-B, diantara
yang lain dia yang bertubuh paling tambun dengan perut yang menggelambir. Ada Dido
Alrijal dari kelas X-C, dia teman sekelas Syila tapi tidak begitu dekat dengan
Syila karena Dido selalu duduk paling depan sementara Syila selalu memilih
duduk paling belakang. Ada Mikhalean Nikolaz dari kelas X-D, diantara yang lain
dia yang berkulit paling bersih dan putih, kalau Syila tidak salah ingat dia
adalah anak dari salah satu donatur sekolah. Ada Audrian Mara dari kelas X-E,
dia ini anak paling banyak gaya dengan sepatu kets high yang selalu dipakainya
dan pakaian ngepas badan, beberapa kali Syila mendengar kalau Audrian dipanggil
ke ruang BK karena gaya berpakaiannya yang sudah ditegur berulang kali tapi
tetap saja tidak berubah. Dan yang terakhir, Syila tidak tahu nama mau pun
kelasnya karena dia tidak memakai name tag, dia bertubuh paling pas menurut
Syila –tidak kurus tapi tidak juga gemuk-, dia juga yang penampilannya yang
paling pas menurut Syila –tidak neko-neko tapi juga tidak terkesan culun.
Mereka
semua tampak seperti anak kecil. Tertawa riang membahas aksi penerobosan yang
baru saja mereka lakukan. Membuat Syila lupa dengan panggilan yang dia lakukan
pada Radian. Perhatiannya terlalu tersita oleh enam orang siswa yang sekarang
duduk di meja sebelah.
‘Ayo!’
tiba-tiba saja perhatian Syila teralihkan oleh suara Radian. Dia sudah berada
di hadapan Syila dengan membawa sebuah payung besar warna pink bergambar hello
kitty.
‘Loh?
Radian?’ tanya Syila bego.
‘Iya,
Radian. Ayo pulang, katanya udah bosen,’ sahut Radian seraya meraih tas Syila
di meja. Sementara Syila hanya mengangguk dan mulai beranjak.
Saat
Syila hendak mengambil alih tasnya dari tangan Radian, matanya tidak sengaja
bertemu dengan mata anak tidak bername tag itu. Buru-buru dia menunduk lalu
membuang pandangan ke arah lainnya. Lalu detik berikutnya hanya dag-dig-dug
jantungnya saja yang terasa. Untuk pertama kalinya dia merasakan jantungnya
berdetak hebat hanya karena bertemu mata dengan seorang laki-laki. Bahkan
dengan Radian, satu-satunya laki-laki yang pernah berjarak paling dekat dengan
wajahnya pun Syila tidak pernah merasakannya.
‘Syilaaa?
Denger aku nggak sih dari tadi?’ tanya Radian gemas.
‘Eh
iya, apa Rad?’ akhirnya setelah berada jauh dari kantin detakan jantung Syila
kembali normal. Dia juga sudah bisa mendengar suara Radian yang tadi seperti
larut bersama hujan.
‘Kamu
mau tunggu dimana? Aku mau balikin payungnya Mira dulu,’ Radian mengulang
kata-katanya.
Syila
memutar bola matanya dan kemudian tertawa begitu sadar dengan warna dan gambar
payung yang dibawa Radian.
‘Yeee
kok malah ketawa?’ tanya Radian sewot karena bukannya menjawab pertanyaan
berulangnya, Syila malah menertawai dirinya.
‘Kamu
lucu. Jadi dari tadi kamu pakai payung gede ini, yang warna pink, yang gambar
hello kitty begini? Ya ampun Radian, kamu unyu banget hahahaha.’
‘Dari
tadi kemana aja? Udah kamu tunggu sini aja deh, aku balikin payung ke Mira
dulu. Nih, kamu pakai jas hujan dari sekarang biar nggak lama.’
‘Loh
kok jas hujan aku ada di tas kamu?’
‘Kalo
nggak di tas aku mau di tas siapa? Kamu? Mana mau kamu bawa jas hujan. Ribetlah,
beratlah, apalah, padahal cuma tipis begini.’
‘Uuuuuuh
baik banget sih Radian iniiiii…’ Syila mencubit gemas pipi Radian.
‘Udah
jangan kebanyakan ngerayu, buruan pakai jas hujannya.’
‘Iya….’
Berikutnya
Radian menemui Mira di ruang OSIS untuk mengembalikan payung dan Syila tetap di
koridor ujung menunggu Radian sambil memakai jas hujannya.
Radian,
dia adalah sahabat Syila sejak kecil. Rumahnya hanya berbeda sepuluh nomor saja
dari rumah Syila. Kebanyakan orang, terutama cewek-cewek, bilang kalau Radian
itu keren, ganteng, ya idola bangetlah pokoknya. Dia pintar, ramah pada siapa
saja, dan soal perawakan, dia itu berkulit putih, bertubuh jangkung dengan
postur tubuh yang ideal, dan berhidung mancung. Tapi seputih apapun Radian,
sejangkung dan seideal apapun Radian, dan semancung apapun Radian, Syila sama
sekali tidak bisa terpesona pada Radian seperti teman-teman cewek lainnya.
Mungkin karena sudah terlalu lama bersama makanya fisik Radian jadi tidak
begitu berarti bagi Syila. Kata aku-kamu yang mereka pakai saat berbicara itu
hanya soal kebiasaan saja. Mereka sudah berteman sejak mereka belum diperbolehkan
menggunakan kata gue-elo, akhirnya terbiasalah mereka dengan sebutan aku-kamu
yang membuat banyak cewek iri kepada Syila. Selain Syila kepada Radian dan
Radian kepada Syila, mereka menggunakan kata gue-elo, sama seperti
remaja-remaja lainnya kepada teman-temannya.
Radian
kembali dengan berlari kecil. Dilihatnya Syila masih belum selesai memakai jas
hujan. Ah itu dia Syila, lambat dalam melakukan apapun kecuali jika disuruh
bernyannyi. Itu adalah hobi Syila. Sejak kecil dia paling suka menyanyi dan
suaranya memang bagus, merdu, dan sangat bersahabat dengan telinga
pendengarnya. Saat ini Syila tergabung dalam ekskul vocal group di sekolah. Dia
sering memposting videonya saat bernyanyi di youtube dan responnya cukup bagus,
delapan puluh persen viewers menyukai dan mengomentari dengan pujian-pujian.
‘Yaampun
belum kelar juga pakai jas hujannya?’
‘Repot
tau! Kamu sendiri mana? Belum pakai jas hujan tuh,’ sahut Syila sambil melempar
lirikan kepada Radian.
‘Iya,
ini mau dipakai.’ Radian mengeluarkan jas hujan dari dalam tasnya dan segera memakainya.
Begitu selesai dia mengajak Syila menerobos hujan untuk menuju parkiran.
Sekarang
Radian sudah sibuk menjejalkan kakinya di atas pedal sepeda. Dan Syila sudah
duduk manis di belakang, di bagian boncengan, sambil berpegangan pada jas hujan
Radian di samping kanan dan kirinya.
‘Rad,
menurut kamu definisi jatuh cinta tuh apa sih?’ tanya Syila.
Radian
mengangkat bahunya tidak tahu. ‘Tumben nanyanya. Kenapa?’
‘Jawab
aja kenapa sih… nggak usah malah nanya balik.’
‘Ya
aku nggak tau.’
‘Ini
masa-masanya puber loh Rad, masa kamu nggak pernah ngerasain jatuh cinta sih?’
‘Deg-degan,’
sahut Radian dengan nada menebak.
‘Berarti
aku lagi jatuh cinta dong?’
‘Sama
aku?’ tanya Radian sambil melirik tangan Syila.
Syila
pun segera melepaskan tangannya dari jas hujan Radian. ‘Yeee bukanlah!’
Radian
mengangkat kedua alis tebalnya.
‘Udah
ayo jalan!’ Syila menepuk pundak Radian mirip seperti kusir dan kudanya.
Tangannya kembali berpegangan dengan jas hujan Radian. ‘Dih ayoooo! Malah
ngeliatin tangan aku. Udah biasa juga kan?!’
‘Nebeng
sih belagu!’ sahut Radian. Tapi Syila masa bodo.
Kalau
Radian benar, maka Syila telah jatuh cinta. Karena jatuh cinta adalah saat kita
tiba-tiba merasa jantung kita berdetak lebih cepat padahal itu hanya pertemuan
singkat antara dua pasang mata.
---
Rindu
yang menggebu berhasil membuat Syila bertahan menunggu Radian keluar kelas tanpa
protes. Mungkin tidak ada yang spesial, tapi bagi seorang Syila, menunggu di
kantin kampus lain berpuluh-puluh menit lamanya adalah hal yang luar biasa menyiksa.
Pertama, Syila tidak suka menunggu. Kedua, Syila bukan tipe yang mudah
beradaptasi di tempat baru. Dan ketiga, Syila paling malas berbasa-basi dengan
teman Radian yang bergenit-genit padanya.
Sekarang
Syila sudah menjadi mahasiswa semester enam di sebuah kampus berbeda dengan
Radian, jurusan perfilman. Hobi memotret dan merekamnya menjadikan Syila
akhirnya tanpa ragu memilih jurusan perfilman. Bukan hal yang mudah untuk Syila
masuk di jurusan perfilman. Selama seminggu penuh dia harus capek-capek
berdebat dengan kedua orang tuanya agar mau menyetujui pendaftaran masuk kuliah
jurusan perfilman. Setelah berdebat pun Syila masih harus melewati masa-masa
menyebalkan karena harus beradapatasi dengan lingkungan kampusnya yang ‘keras’.
Dari:
Radian
Masih
di kantin?
Untuk:
Radian
Iya.
Ah,
Akhirnya ‘masa penantian’ Syila sebentar lagi selesai. Sms dari Radian barusan
akan membawa Radian segera berada di hadapan Syila.
“Jadi
mau kemana?” Begitu cara Radian menyapa Syila sore ini.
Syila
melihat jam tangannya. Hanya meleset sepuluh menit dari estimasi waktu yang
sudah dibuatnya. “Pertama kita pergi ke dokter dulu.” Syila tersenyum lebar,
sudah benar-benar siap akan bepergian hari ini demi satu acara ‘penting’ besok.
“Pertama?
Huh berarti akan ada jadwal berikutnya, berikutnya, dan berikutnya…” keluh
Radian pelan tapi Syila mendengarnya.
“Let’s
go, don’t waste my time!” masih dengan senyum lebarnya, Syila menggandeng –atau
lebih tepatnya menyeret- Radian.
“Padahal
dia yang buang-buang waktu gue.” Keluh Radian dan lagi-lagi Syila mendengarnya.
“Nanti
aku traktir. Kamu itu udah aku sewa jadi jangan bawel deh!”
“Ngomong
apa sih anak ini?! Jadi gue semacam orang-orangan atau mobil-mobilan sih?!” Ini
adalah keluhan terakhir yang Syila dengar saat mereka menuju parkiran.
Sore
masih pada waktunya. Hembusan anginnya berbeda dengan yang tadi siang. Syila di
atas boncengan asik menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Rambutnya
yang tidak kebagian helm berayun-ayun. Dari kaca spion Radian bisa lihat kalau
Syila sedang tersenyum di balik punggungnya. Dan dia tahu, anak itu pasti
sedang asik dengan ‘dunianya’.
Soal
estimasi waktu yang meleset sepuluh menit itu, Syila tidak mempermasalahkannya.
Itu bukan salah Radian tapi dosen Radian yang sore ini keasikan mengajar dan dengan
tega membuat mahasiswanya terlambat pulang dari jadwalnya.
Ah
tentang tentang terlambat. Syila juga punya cerita tentang terlambat.
---
Hari berikutnya Syila terlambat
sampai di sekolah. Ah sebenarnya terlambat sampai di sekolah bukan kali
pertama, kedua, atau ketiga untuk Syila. Kalau Radian tidak sedang memaksa
menjemputnya, menuliskan nama dalam Daftar Keterlambatan Siswa adalah hal yang
akan Syila lakukan sebelum masuk ke dalam sekolah. Kemudian dijemur selama
sepuluh menit di lapangan utama sambil mengucap janji tidak akan tertambat
tanpa boleh berhenti adalah hal berikutnya yang akan dilakukan Syila sebelum
mendapat ceramah dari guru piket. Singkatnya, terlambat adalah ‘hobi’ Syila.
Matahari pagi sedang tidak
bersahabat, sedikit lebih menyengat dari biasanya. Dan Syila mulai merasa haus
karena mengucap ‘janji basinya’ tanpa henti. Ya, basi karena sudah terlalu
sering diucapkan.
‘Tiga puluh detik lagi.’ Pak Bonar
persis seperti time keeper yang tiap
menit mengingatkan Syila sisa waktu ‘penjemuran’.
‘Saya, Syilaria Greaty, berjanji
tidak akan terlambat lagi. Saya, Syilaria Greaty, berjanji tidak akan terlambat
lagi. Saya, Syilaria Great…’ Syila tiba-tiba berhenti mengucap janjinya.
Laki-laki berpostur paling pas yang kemarin
membuat Syila mendadak lupa dengan hukumannya. Laki-laki itu berjalan ke
arahnya. Semakin lama semakin dekat. Membuat Syila tiba-tiba tidak dapat
mengontrol degupan jantungnya. Tidak seperti kemarin, degupan berima berantakan
itu tidak datang dari pertemuan dua pasang mata. Tapi derapan langkah kaki
laki-laki berpostur paling pas itulah yang menjadi penyebab rima berantakan di
jantungnya.
‘Kau! Cepatlah sedikit, lamban!’ Pak
Bonar meneriaki laki-laki itu. Membuat laki-laki itu pun mempercepat langkahnya
dengan setengah berlari.
Syila seperti kehilangan daya kerja
otaknya saat laki-laki itu melintas di hadapannya. Mendadak dia seperti lupa
bernapas. Hukuman dari Pak Bonar bahkan ikut dilupakannya.
‘Syila, mengapa kau berhenti? Tambah
dua menit lagi.’ Pak Bonar mengembalikan kinerja otak Syila.
Syila kembali mengucapkan janji
basinya. Kali ini dengan suara pelan dan agak bergetar. Berada terlalu dekat
dengan laki-laki itu membuat Syila gugup bukan main.
‘Ah wajah baru rupanya dalam dunia
peterlambatan. Siapalah nama kau?’ Entah istilah apa yang Pak Bonar pakai.
Dunia Peterlambatan, apa itu? Aneh. Untungnya Pak Bonar tidak mengajar
pelajaran Bahasa Indonesia, bisa hancur kosa kata remaja indonesia nanti.
‘Bah
berani kali kau tak pakai name tag.’ Sebelum laki-laki itu mengucap namanya, Pak
Bonar sudah menangkap basah laki-laki itu.
‘Maaf Pak, hilang. Baru hari ini
saya mau beli.’
‘Segera ke koperasi! Dalam lima
menit kau harus kembali dengan name tag yang sudah dicetak nama kau. Terlambat
satu detik saja, hukumanmu kutambah karena kau sudah melanggar dua pasal.’
Syila tidak tahu respon seperti apa
yang laki-laki itu berikan pada Pak Bonar karena dia sendiri tidak berani
menoleh sama sekali. Yang Syila tahu, tak lama setelah perintah Pak Bonar, terdengar
suara langkah laki-laki itu. Nampaknya sedang menuruti perintah Pak Bonar.
‘Selesai. Kuharap besok kau jangan
lagi datang terlambat. Bosan kali aku sama kau setiap pagi kau terlambat.’
Syila mengangguk lalu mengambil
tasnya di podium dan pergi meninggalkan Pak Bonar di lapangan. Sementara
laki-laki itu masih belum kembali juga dari koperasi.
Adalah pagi dimana Syila semakin
yakin kalau dirinya sedang jatuh cinta. Ah, hanya orang yang sedang jatuh cinta
saja yang degupan jantungnya jadi berantakan saat ada derapan langkah kaki
orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar