Senin, 27 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 6


               Bintang-bintang Origami



            Belum lengkap rasanya kalau punya dress baru tapi belum beli sepatu baru juga. Apalagi Syila adalah penggila sneakers. Ia hanya memiliki dua sepatu feminine di dalam lemari sepatunya –satu flatshoes yang kadang dipakainya ke kampus dan satunya lagi sepatu pantopel yang dipakai saat menghadiri acara resmi di kampus. Maka tujuan berikutnya adalah toko sepatu.
            Syila kembali menyeret Radian ke dalam kebosanan. Mereka memasuki sebuah toko sepatu di lantai dua. Letaknya agak di pojok tapi sangat menarik perhatian. Toko itu didesain dengan warna dasar coklat muda dengan kaca besar isi berbagai pernak-pernik unik yang nampaknya hasil dari handmade. Dinding-dinding di dalamnya ditempeli kertas-kertas bertuliskan filosofi-filosofi sepatu.
            “Lucu-lucu banget Rad sepatunya!” seru Syila seraya mencomot sebuah sepatu sneaker warna ungu.
            “Tapi harganya lumayan,” bisik Radian begitu melihat salah satu bandrol harga. Empat ratus ribu cukup mahal untuk sepasang sepatu dengan merk yang belum terkenal.
            “Iya.” Syila setuju, tapi kemudian berkata, “Tapi modelnya beda dari yang lain.”
            “Kebetulan kami produksi sepatunya sendiri, desain juga sendiri, handmade. Jadi mba sama mas nggak akan kembaran sama banyak orang. Kami hanya produksi tiga puluh pasang setiap modelnya,” sela seorang pelayan toko yang sepertinya mendengar pembicaraan Syila dan Radian. Selanjutnya pelayan toko itu menunjukan sepasang sepatu yang menjadi top model of the month di toko ini.
            “Ya sesuatu yang dibuat dari hasil usaha sendiri selalu memiliki harga yang mahal,” gumam Syila diantara cerocos pelayan toko. Windura pun hadir di dalam benak Syila.
Dan Syila kembali membuka pintu petualangannya. Kali itu ketika Syila sudah duduk di kelas sebelas semester dua.
---
            Beginilah Syila setiap Jumat sore. Dia tidak bisa pulang tepat waktu. Selain harus latihan ekskul, sesudahnya ia juga harus menunggu Radian yang sedang latihan basket bersama anak-anak basket lainnya. Kadang kalau anak-anak basket sedang istirahat, Syila malah mengajak mereka untuk sparing bersamanya. Maklum, basket adalah olah raga favorite Syila.
            Syila duduk terdiam di salah satu bangku yang berada mengahap lapangan sambil berpikir keras. Sebagai seorang penggemar rahasia, menjadi detektif penyelidik gerak-gerik orang yang kita sukai adalah kewajiban. Segala embel-embel mengenai dia terasa seperti kebutuhan yang harus dipenuhi terus-menerus, yang semakin lama harus semakin dalam digali. Jadi, soal ualng tahun Windura, Syila sudah hapal benar tanggalnya.
Seminggu lagi Windura akan berulang tahun yang ketujuh belas dan Syila ingin sekali memberinya sesuatu. Apa pun itu, Syila ingin menjadi bagian dari kebahagian Windura di usianya yang ketujuh belas. Oh, ini sama sekali tidak ada maksud untuk menunjukan perasaan Syila secara terang-terangan. Jadi, sesuatu yang disebut sebagai “kado” nantinya, akan Syila berikan pada Windura secara tidak langsung, sama seperti cara Syila mencintai Windura –secara diam-diam.
            Beberapa deret barang sudah mampir ke dalam pikiran Syila namun sama sekali belum ada yang cocok. Ia sempat terpikir untuk memberikan Windura buku-buku bergenre sejarah seperti yang sangat disukai Windura, tapi dia yakin Windura pasti sudah punya banyak sekali buku-buku seperti itu. ‘Tentu tidak akan berkesan bagi Windura,’ pikir Syila. Pakaian, jam tangan, topi, bunga, dan coklat juga mampir di pikiran Syila. Namun Syila enggan memilihnya, semua barang-barang itu teras begitu klise. Syila ingin sesuatu yang berbeda, sesuatu yang akan berkesan bagi Windura –meski tetap saja nantinya Windura tidak siapa pengirim kado tersebut.
            ‘Kenapa tuh bibir? Awas jatoooh!’ tiba-tiba Angga datang menghampiri Syila dan kemudian duduk di sebelahnya.
            ‘Eh Ngga, ngapain di sini?’ bukannya menjawab pertanyaan Angga, Syila malah melemparkan pertanyaan basa-basinya kepada Angga yang jelas-jelas juga sedang menunggu latihan basket selesai.
            ‘Basi pertanyaan lo.’ Angga menyodorkan seplastik es teh manis yang sengaja dibelinya untuk menunggu bersama. ‘Siapa tau minum es bikin tuh manyun jadi rapih sedikit.’ Angga tertawa renyah.
Syila menerima es the lalu segera menyeruputnya.
            ‘Hmmm Ngga, menurut lo kado apa yang paling spesial sampe bisa bikin orang yang nerimanya terkesan dan tau betapa berartinya kado itu?’ Syila mencari pencerahan melalui Angga. Yah… ancur-ancur begitu, Angga sudah pacaran lumayan lama. Minimal dia pasti pernah mendapat kado spesial.
            ‘Apa ya…’ Angga tampak berpikir-pikir sebentar. Tapi kemudian menjawab juga, ‘Mobil. Gila gue seneng banget waktu ulang tahun gue kemaren gue dapet mobil yang udah lama banget gue pengen-pengenin!’
            ‘Mita ngasih lo mobil???’ Syila hampir tersedak mendengarnya.
            ‘Ya nggak lah… lo pikir berapa juta jajan Mita sehari-hari?’ gantian Angga yang hampir tersedak mendengar pertanyaan polos Syila.
            ‘Ok, mungkin kalimat tanya gue salah. Gini-gini, maksud gue tuh pertanyaannya untuk Mita.’
            ‘Ya kalo pertanyaannya untuk Mita, kenapa nanya ke gue?’
            ‘Eh bukan gitu maksudnya….’ Syila mulai geregetan berbicara dengan Angga yang hobi nyahut itu.
            ‘Terus apa maksudnya?’
            ‘Ihhh Angga!’ Syila jadi gregetan sendiri.
            ‘Ihhh Syila!’ Angga pura-pura ikutan gregetan. Kemudian Angga tertawa-tawa sendiri melihat tingkah Syila.
            ‘Udah ah gue nggak jadi nanya!’ Syila kembali melengkungkan bibirnya ke bawah.
            ‘Hahahahaha… bercanda. Iya-iya, gue ngerti kok maksud pertanyaan lo.’ meski begitu, Angga tetap saja tertawa. Ia tidak tahan melihat wajah kusut Syila yang sedang geregetan.
            ‘Apanya yang ngerti?’ Syila masih dengan bibir manyunnya.
            ‘Maksud lo kado apa dari Mita yang bikin gue terkesan dan ngerasa kalo kado itu berarti kan?’
Syila mengangguk-angguk keras dan langsung merubah lengkungan bibirnya jadi ke atas. Lalu ia berkata, ‘Jadi apa?’ dengan penuh antusias.
‘Semua,’ jawab Angga, membuat Syila bingung dan kembali merasa sia-sia dengan usahanya mencari pencerahan lewat Angga.
‘Intinya, apa aja yang datengnya dari hati itu pasti bernilai lebih. Apa yang dibuat dengan susah payah pasti berkesan,’ lanjut Angga mencegah Syila kembali memanyukan bibirnya.
Okay, kalau begini Syila baru mengerti.
‘Dulu Mita pernah kadoin gue nasi goreng. Mungkin buat orang lain biasa aja, tapi spesial banget buat gue. Karena gue tau, Mita paling nggak bisa masak. Kerja kerasnya dia, niatnya dia buat bikin itu nasi goreng, yang bikin gue ngerasa nasi goreng itu jadi kado paling spesial.’
Syila manggut-manggut sambil mengucapkan terima kasi lalu pergi meninggalkan Angga begitu saja.
‘Lah lah ini anak kenapa jadi ninggalin gue?!’ Angga jadi bingung sendiri. Tapi Syila tidak peduli. Ia malah mempercepat langkahnya menghampiri radian yang baru saja selesai latihan. Tidak sabar untuk meminta pencerahan lewat sahabatnya yang brilian itu.
Sepanjang jalan menuju rumah Syila tidak berhenti membicarakan Windura kepada Radian. Dari mulai pertemuan mereka di lorong lantai dua, di kantin, dan juga di labolatorium praktik komputer, sampai tanggal ulang tahun Windura. Radian bosan, meski Syila tahu Radian sudah tahu semua itu, Syila tetap saja menceritakannya. Tapi Syila masa bodo. Ia malah tertawa-tawa dan sengaja bercerita ulang tiap Radian menggerutu atas ceritanya.
            'Jadi menurut kamu kado apa yang bagus? Bantu aku.' Akhirnya Syila mengakhiri cerita-cerita tak bertepinya.
            Radian hanya mengangkat kedua bahunya sambil terus mengayuh sepeda. Membuat Syila tidak tahan untuk memukul bahunya.
            'Aku main ke rumah kamu ya, siapa tahu dapat ide.'
            'Terserah,' jawab Radian singkat.
            Sampainya di rumah Radian, Syila langsung disambut oleh kertas-kertas origami yang berserakan di lantai. Tita, adik Radian, sedang asik membuat prakarya dengan origami. Radian 'si cowok hobi menggerutu' pun tidak absen menceramahi Tita karena sudah membuat ruang tamu tidak kalah berantakan dengan kapal pecah. Tapi mungkin Tita terlalu sering bermain dengan Syila jadi kelakuan Syila pun menurun juga padanya: masa bodo.
            Radian pergi berganti baju usai menggerutu. Sementara Syila tanpa antusias menghampiri Tita.
            'Kamu lagi ngapain sih Tit?'
            'Bikin hiasan buat di kamar kak. Mau ganti suasana. Tita bosen sama dekorasinya.' Adik satu-satunya Radian ini memang suka sekali mendekorasi. Hampir tiap dua bulan ia mengubah dekorasi kamarnya. Kadang kamar Radian juga ikut didekornya.
            'Eh itu bikin bangau-bangauan gitu ya?'
            Tita mengangguk lalu berkata, 'nanti mau aku gantung di lemari.'
            'Kamu luwes banget, gampang ya?' Syila sibuk memerhatikan gerakan cepat tangan Tita saat melipat origaminya.
            Tita menyodorkan sebuah kertas origami berwana biru muda dengan motif bunga-bunga kecil. 'Coba ikutin caraku."
Syila menurut. Lipatan pertama, gampang. Lipatan kedua, gampang. Lipatan ketiga mulai susah. Lipatan keempat membuat Syila frustasi. Jari-jarinya yang terampil memotret sama sekali payah dalam melipat-lipat. Sehingga pada lipatan kelima Syila banyak menggerutu dan membuat Tita tertawa-tawa.
            'SD kakak nggak ada pelajaran kesenian ya?' ledek Tita disela tawanya. Ia terus asik melipat origaminya -sudah tidak peduli dengan tujuannya mentutorialkan Syila.
            'Kamu tuh ya, kalau bukan adiknya Radian, pasti jodoh sama Radian. Sama-sama nyebelin kalo nyahut!' Syila berusaha mengejar ketinggalannya.
            Tita cuma tertawa sambil kemudian mengambil kertas origami berikutnya.
            'Minggu depan Windura ulang tahun loh!' Selain Radian, Tita juga sering menjadi korban curhatan Syila tentang Windura. Hanya bedanya kalau Radian hampir tidak pernah antusias mendengar, Tita justru sebaliknya. Seperti anak-anak kelas dua SMP lainnya yang baru-baru saja bisa centil, Tita selalu antusias dengan cerita cinta yang Syila bawakan.
            'Wah seru dong!!!! Kakak mau kasih dia apa?'
            Syila menggeleng dan berkata, 'Menurut kamu apa?'
            'Harus yang beda dari yang lain kak! Biar spesial.' Tita tersenyum penuh percaya diri.
            'Aku juga maunya gitu. Tapi bingung.'
            Tita tampak berpikir lalu tak lama kemudian ia tersenyum lagi. 'Kakak pernah dengar cerita tentang origami bangau ini?' Syila menggeleng. 'Katanya, kalau kita bisa bikin seribu bangau, permintaan kita akan terkabul.'
            'Oh ya???' Syila terbelalak saking takjubnya mendengar mitos dari Tita.
            Tita mengangguk dan berkata, 'Kakak kasih Kak Windu seribu bangau aja! Lumayan, sambil ngasih kado, sambil minta permohonan supaya Kak Windu jadi pacar kakak,' penuh antusias.
            'Ah iya-iya! Ayo ajarin aku!!! Pelan-pelan tapi.'
            Tita pun mengajari Syila membuat bangau dari origami dengan penuh kesabaran. Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk akhirnya Syila berhasil membuat bangau pertamanya.
            Satu jam berlalu tapi Syila baru berhasil menyelesaikan empat bangau -itupun bentuknya tidak simetris.
            'Kalau kayak gini sampai kapan bisa jadi seribu???' gerutu Syila. 'Ah tau ah, susah!' Syila melempar bangau setengah jadinya sembarangan dengan tampang kesal.
            Tita hanya tersenyum sambil terus membuat bangau diorigaminya yang ke lima puluh.
            'Eh bangau kamu buat aku ya! Biar cepat jadi seribu!!!' seru Syila kembali cerah, merasa mendapatkan ide brilian.
            'Mana bisa terkabul kalau ada campur tangan orang lain,' ucap Tita gemas dengan kepolosan sahabat kakaknya ini. 'Berjuang sedikit kak. Biar jadi spesial,' lanjut Tita.
            Syila terdiam sejenak. Kata-kata Angga tadi sore tengiang di telinganya. 'Ada bentuk yang lain yang lebih gampang nggak? Bentuk kerupuk udang misalnya?' meski terdengar sedikit konyol, Syila bertanya dengan sungguh-sungguh.
            Kali ini tawa Tita pecah. Radian yang sekarang sedang menonton Tv juga ikutan tertawa. Sementara Syila tetap dengan tampang seriusnya, sama sekali tidak merasa ada yang lucu. 'Kakak mau ngasih kado apa ngadain kondangan, bikin kerupuk udang?'
            'Aneh ya?' Syila jadi bingung sendiri.
            Masih sambil tertawa, Tita memberikan pilihan lain pada Syila. 'Okay-okay, kalau gitu kakak bikin bintang-bintang origami aja, lebih simple dan tetap cute kok untuk kado.'
            'Oh ya? Gimana-gimana? Ajarin!' Wajah Syila kembali cerah.
            Tita beranjak ke kamarnya untuk mengambil kertas lain: origami khusus untuk membuat bintang, yang ukurannya lebih panjang dan sudah terpotong-potong. Lalu Tita mentutorialkan cara membuat bintang-bintang origami -meski lebih mudah dari membuat bangau, tetap saja dalam lima belas menit Syila hanya mampu menghasilkan dua buah bintang.
            'Kalau ini boleh ada campur tangan orang lain, kan nggak ada mitosnya,' kata Tita sambil meneruskan membuat bangau.
            'Radian...' panggil Syila dengan nada manja sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
            'Ogah!' tolak Radian mentah-mentah seraya pergi ke dapur.
            Jadilah setiap malam -kadang sampai pagi- Syila sibuk membuat bintang-bintang origami selama satu minggu hingga jumlahnya genap seribu. Setelah itu ia mengumpulkan bintang-bintang karyanya ke dalam sebuah toples bening.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar