Bintang-bintang Origami
Belum lengkap rasanya kalau punya
dress baru tapi belum beli sepatu baru juga. Apalagi Syila adalah penggila sneakers.
Ia hanya memiliki dua sepatu feminine di dalam lemari sepatunya –satu flatshoes
yang kadang dipakainya ke kampus dan satunya lagi sepatu pantopel yang dipakai
saat menghadiri acara resmi di kampus. Maka tujuan berikutnya adalah toko
sepatu.
Syila kembali menyeret Radian ke
dalam kebosanan. Mereka memasuki sebuah toko sepatu di lantai dua. Letaknya
agak di pojok tapi sangat menarik perhatian. Toko itu didesain dengan warna
dasar coklat muda dengan kaca besar isi berbagai pernak-pernik unik yang nampaknya
hasil dari handmade. Dinding-dinding di dalamnya ditempeli kertas-kertas
bertuliskan filosofi-filosofi sepatu.
“Lucu-lucu banget Rad sepatunya!”
seru Syila seraya mencomot sebuah sepatu sneaker warna ungu.
“Tapi harganya lumayan,” bisik
Radian begitu melihat salah satu bandrol harga. Empat ratus ribu cukup mahal
untuk sepasang sepatu dengan merk yang belum terkenal.
“Iya.” Syila setuju, tapi kemudian
berkata, “Tapi modelnya beda dari yang lain.”
“Kebetulan kami produksi sepatunya
sendiri, desain juga sendiri, handmade. Jadi mba sama mas nggak akan kembaran
sama banyak orang. Kami hanya produksi tiga puluh pasang setiap modelnya,” sela
seorang pelayan toko yang sepertinya mendengar pembicaraan Syila dan Radian.
Selanjutnya pelayan toko itu menunjukan sepasang sepatu yang menjadi top model
of the month di toko ini.
“Ya sesuatu yang dibuat dari hasil
usaha sendiri selalu memiliki harga yang mahal,” gumam Syila diantara cerocos
pelayan toko. Windura pun hadir di dalam benak Syila.
Dan
Syila kembali membuka pintu petualangannya. Kali itu ketika Syila sudah duduk
di kelas sebelas semester dua.
Beginilah Syila setiap Jumat sore.
Dia tidak bisa pulang tepat waktu. Selain harus latihan ekskul, sesudahnya ia
juga harus menunggu Radian yang sedang latihan basket bersama anak-anak basket
lainnya. Kadang kalau anak-anak basket sedang istirahat, Syila malah mengajak
mereka untuk sparing bersamanya. Maklum, basket adalah olah raga favorite
Syila.
Syila duduk terdiam di salah satu
bangku yang berada mengahap lapangan sambil berpikir keras. Sebagai seorang
penggemar rahasia, menjadi detektif penyelidik gerak-gerik orang yang kita
sukai adalah kewajiban. Segala embel-embel mengenai dia terasa seperti
kebutuhan yang harus dipenuhi terus-menerus, yang semakin lama harus semakin
dalam digali. Jadi, soal ualng tahun Windura, Syila sudah hapal benar
tanggalnya.
Seminggu
lagi Windura akan berulang tahun yang ketujuh belas dan Syila ingin sekali
memberinya sesuatu. Apa pun itu, Syila ingin menjadi bagian dari kebahagian
Windura di usianya yang ketujuh belas. Oh, ini sama sekali tidak ada maksud
untuk menunjukan perasaan Syila secara terang-terangan. Jadi, sesuatu yang disebut
sebagai “kado” nantinya, akan Syila berikan pada Windura secara tidak langsung,
sama seperti cara Syila mencintai Windura –secara diam-diam.
Beberapa deret barang sudah mampir
ke dalam pikiran Syila namun sama sekali belum ada yang cocok. Ia sempat
terpikir untuk memberikan Windura buku-buku bergenre sejarah seperti yang
sangat disukai Windura, tapi dia yakin Windura pasti sudah punya banyak sekali
buku-buku seperti itu. ‘Tentu tidak akan berkesan bagi Windura,’ pikir Syila.
Pakaian, jam tangan, topi, bunga, dan coklat juga mampir di pikiran Syila.
Namun Syila enggan memilihnya, semua barang-barang itu teras begitu klise.
Syila ingin sesuatu yang berbeda, sesuatu yang akan berkesan bagi Windura
–meski tetap saja nantinya Windura tidak siapa pengirim kado tersebut.
‘Kenapa tuh bibir? Awas jatoooh!’
tiba-tiba Angga datang menghampiri Syila dan kemudian duduk di sebelahnya.
‘Eh Ngga, ngapain di sini?’ bukannya
menjawab pertanyaan Angga, Syila malah melemparkan pertanyaan basa-basinya
kepada Angga yang jelas-jelas juga sedang menunggu latihan basket selesai.
‘Basi pertanyaan lo.’ Angga
menyodorkan seplastik es teh manis yang sengaja dibelinya untuk menunggu
bersama. ‘Siapa tau minum es bikin tuh manyun jadi rapih sedikit.’ Angga
tertawa renyah.
Syila
menerima es the lalu segera menyeruputnya.
‘Hmmm Ngga, menurut lo kado apa yang
paling spesial sampe bisa bikin orang yang nerimanya terkesan dan tau betapa
berartinya kado itu?’ Syila mencari pencerahan melalui Angga. Yah… ancur-ancur
begitu, Angga sudah pacaran lumayan lama. Minimal dia pasti pernah mendapat kado
spesial.
‘Apa ya…’ Angga tampak berpikir-pikir
sebentar. Tapi kemudian menjawab juga, ‘Mobil. Gila gue seneng banget waktu
ulang tahun gue kemaren gue dapet mobil yang udah lama banget gue pengen-pengenin!’
‘Mita ngasih lo mobil???’ Syila
hampir tersedak mendengarnya.
‘Ya nggak lah… lo pikir berapa juta
jajan Mita sehari-hari?’ gantian Angga yang hampir tersedak mendengar
pertanyaan polos Syila.
‘Ok, mungkin kalimat tanya gue
salah. Gini-gini, maksud gue tuh pertanyaannya untuk Mita.’
‘Ya kalo pertanyaannya untuk Mita,
kenapa nanya ke gue?’
‘Eh bukan gitu maksudnya….’ Syila
mulai geregetan berbicara dengan Angga yang hobi nyahut itu.
‘Terus apa maksudnya?’
‘Ihhh Angga!’ Syila jadi gregetan
sendiri.
‘Ihhh Syila!’ Angga pura-pura ikutan
gregetan. Kemudian Angga tertawa-tawa sendiri melihat tingkah Syila.
‘Udah ah gue nggak jadi nanya!’
Syila kembali melengkungkan bibirnya ke bawah.
‘Hahahahaha… bercanda. Iya-iya, gue
ngerti kok maksud pertanyaan lo.’ meski begitu, Angga tetap saja tertawa. Ia
tidak tahan melihat wajah kusut Syila yang sedang geregetan.
‘Apanya yang ngerti?’ Syila masih
dengan bibir manyunnya.
‘Maksud lo kado apa dari Mita yang
bikin gue terkesan dan ngerasa kalo kado itu berarti kan?’
Syila
mengangguk-angguk keras dan langsung merubah lengkungan bibirnya jadi ke atas.
Lalu ia berkata, ‘Jadi apa?’ dengan penuh antusias.
‘Semua,’
jawab Angga, membuat Syila bingung dan kembali merasa sia-sia dengan usahanya
mencari pencerahan lewat Angga.
‘Intinya,
apa aja yang datengnya dari hati itu pasti bernilai lebih. Apa yang dibuat dengan
susah payah pasti berkesan,’ lanjut Angga mencegah Syila kembali memanyukan
bibirnya.
Okay,
kalau begini Syila baru mengerti.
‘Dulu
Mita pernah kadoin gue nasi goreng. Mungkin buat orang lain biasa aja, tapi
spesial banget buat gue. Karena gue tau, Mita paling nggak bisa masak. Kerja
kerasnya dia, niatnya dia buat bikin itu nasi goreng, yang bikin gue ngerasa
nasi goreng itu jadi kado paling spesial.’
Syila
manggut-manggut sambil mengucapkan terima kasi lalu pergi meninggalkan Angga begitu
saja.
‘Lah
lah ini anak kenapa jadi ninggalin gue?!’ Angga jadi bingung sendiri. Tapi
Syila tidak peduli. Ia malah mempercepat langkahnya menghampiri radian yang
baru saja selesai latihan. Tidak sabar untuk meminta pencerahan lewat
sahabatnya yang brilian itu.
Sepanjang
jalan menuju rumah Syila tidak berhenti membicarakan Windura kepada Radian. Dari
mulai pertemuan mereka di lorong lantai dua, di kantin, dan juga di labolatorium
praktik komputer, sampai tanggal ulang tahun Windura. Radian bosan, meski Syila
tahu Radian sudah tahu semua itu, Syila tetap saja menceritakannya. Tapi Syila masa
bodo. Ia malah tertawa-tawa dan sengaja bercerita ulang tiap Radian menggerutu atas
ceritanya.
'Jadi menurut kamu kado apa yang bagus?
Bantu aku.' Akhirnya Syila mengakhiri cerita-cerita tak bertepinya.
Radian hanya mengangkat kedua bahunya
sambil terus mengayuh sepeda. Membuat Syila tidak tahan untuk memukul bahunya.
'Aku main ke rumah kamu ya, siapa tahu
dapat ide.'
'Terserah,' jawab Radian singkat.
Sampainya di rumah Radian, Syila langsung
disambut oleh kertas-kertas origami yang berserakan di lantai. Tita, adik Radian,
sedang asik membuat prakarya dengan origami. Radian 'si cowok hobi menggerutu' pun
tidak absen menceramahi Tita karena sudah membuat ruang tamu tidak kalah berantakan
dengan kapal pecah. Tapi mungkin Tita terlalu sering bermain dengan Syila jadi kelakuan
Syila pun menurun juga padanya: masa bodo.
Radian pergi berganti baju usai menggerutu.
Sementara Syila tanpa antusias menghampiri Tita.
'Kamu lagi ngapain sih Tit?'
'Bikin hiasan buat di kamar kak. Mau
ganti suasana. Tita bosen sama dekorasinya.' Adik satu-satunya Radian ini memang
suka sekali mendekorasi. Hampir tiap dua bulan ia mengubah dekorasi kamarnya. Kadang
kamar Radian juga ikut didekornya.
'Eh itu bikin bangau-bangauan gitu ya?'
Tita mengangguk lalu berkata, 'nanti
mau aku gantung di lemari.'
'Kamu luwes banget, gampang ya?' Syila
sibuk memerhatikan gerakan cepat tangan Tita saat melipat origaminya.
Tita menyodorkan sebuah kertas origami
berwana biru muda dengan motif bunga-bunga kecil. 'Coba ikutin caraku."
Syila
menurut. Lipatan pertama, gampang. Lipatan kedua, gampang. Lipatan ketiga mulai
susah. Lipatan keempat membuat Syila frustasi. Jari-jarinya yang terampil memotret
sama sekali payah dalam melipat-lipat. Sehingga pada lipatan kelima Syila banyak
menggerutu dan membuat Tita tertawa-tawa.
'SD kakak nggak ada pelajaran kesenian
ya?' ledek Tita disela tawanya. Ia terus asik melipat origaminya -sudah tidak peduli
dengan tujuannya mentutorialkan Syila.
'Kamu tuh ya, kalau bukan adiknya Radian,
pasti jodoh sama Radian. Sama-sama nyebelin kalo nyahut!' Syila berusaha mengejar
ketinggalannya.
Tita cuma tertawa sambil kemudian mengambil
kertas origami berikutnya.
'Minggu depan Windura ulang tahun loh!'
Selain Radian, Tita juga sering menjadi korban curhatan Syila tentang Windura. Hanya
bedanya kalau Radian hampir tidak pernah antusias mendengar, Tita justru sebaliknya.
Seperti anak-anak kelas dua SMP lainnya yang baru-baru saja bisa centil, Tita selalu
antusias dengan cerita cinta yang Syila bawakan.
'Wah seru dong!!!! Kakak mau kasih dia
apa?'
Syila menggeleng dan berkata, 'Menurut
kamu apa?'
'Harus yang beda dari yang lain kak!
Biar spesial.' Tita tersenyum penuh percaya diri.
'Aku juga maunya gitu. Tapi bingung.'
Tita tampak berpikir lalu tak lama kemudian
ia tersenyum lagi. 'Kakak pernah dengar cerita tentang origami bangau ini?' Syila
menggeleng. 'Katanya, kalau kita bisa bikin seribu bangau, permintaan kita akan
terkabul.'
'Oh ya???' Syila terbelalak saking takjubnya
mendengar mitos dari Tita.
Tita mengangguk dan berkata, 'Kakak kasih
Kak Windu seribu bangau aja! Lumayan, sambil ngasih kado, sambil minta permohonan
supaya Kak Windu jadi pacar kakak,' penuh antusias.
'Ah iya-iya! Ayo ajarin aku!!! Pelan-pelan
tapi.'
Tita pun mengajari Syila membuat bangau
dari origami dengan penuh kesabaran. Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit
untuk akhirnya Syila berhasil membuat bangau pertamanya.
Satu jam berlalu tapi Syila baru berhasil
menyelesaikan empat bangau -itupun bentuknya tidak simetris.
'Kalau kayak gini sampai kapan bisa jadi
seribu???' gerutu Syila. 'Ah tau ah, susah!' Syila melempar bangau setengah jadinya
sembarangan dengan tampang kesal.
Tita hanya tersenyum sambil terus membuat
bangau diorigaminya yang ke lima puluh.
'Eh bangau kamu buat aku ya! Biar cepat
jadi seribu!!!' seru Syila kembali cerah, merasa mendapatkan ide brilian.
'Mana bisa terkabul kalau ada campur
tangan orang lain,' ucap Tita gemas dengan kepolosan sahabat kakaknya ini. 'Berjuang
sedikit kak. Biar jadi spesial,' lanjut Tita.
Syila terdiam sejenak. Kata-kata Angga
tadi sore tengiang di telinganya. 'Ada bentuk yang lain yang lebih gampang nggak?
Bentuk kerupuk udang misalnya?' meski terdengar sedikit konyol, Syila bertanya dengan
sungguh-sungguh.
Kali ini tawa Tita pecah. Radian yang
sekarang sedang menonton Tv juga ikutan tertawa. Sementara Syila tetap dengan tampang
seriusnya, sama sekali tidak merasa ada yang lucu. 'Kakak mau ngasih kado apa ngadain
kondangan, bikin kerupuk udang?'
'Aneh ya?' Syila jadi bingung sendiri.
Masih sambil tertawa, Tita memberikan
pilihan lain pada Syila. 'Okay-okay, kalau gitu kakak bikin bintang-bintang origami
aja, lebih simple dan tetap cute kok untuk kado.'
'Oh ya? Gimana-gimana? Ajarin!' Wajah
Syila kembali cerah.
Tita beranjak ke kamarnya untuk mengambil
kertas lain: origami khusus untuk membuat bintang, yang ukurannya lebih panjang
dan sudah terpotong-potong. Lalu Tita mentutorialkan cara membuat bintang-bintang
origami -meski lebih mudah dari membuat bangau, tetap saja dalam lima belas menit
Syila hanya mampu menghasilkan dua buah bintang.
'Kalau ini boleh ada campur tangan orang
lain, kan nggak ada mitosnya,' kata Tita sambil meneruskan membuat bangau.
'Radian...' panggil Syila dengan nada
manja sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
'Ogah!' tolak Radian mentah-mentah seraya
pergi ke dapur.
Jadilah setiap malam -kadang sampai pagi-
Syila sibuk membuat bintang-bintang origami selama satu minggu hingga jumlahnya
genap seribu. Setelah itu ia mengumpulkan bintang-bintang karyanya ke dalam sebuah
toples bening.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar