Nasi Goreng Pedas
Akhirnya mereka sampai juga di Mall. Tempat yang paling
pertama mereka kunjungi adalah tempat makan. Sebenarnya Syila mau langsung
mengunjungi toko-toko yang sudah ada dalam daftar tujuannya hari ini. Tapi
melihat wajah lelah campur bunyi memalukan dari perut Radian –yang meski malu
karena ketahuan kelaparan tetap saja berekspresi datar- jadi Syila membelokkan
niatnya.
Keduanya memesan menu yang sama. Nasi goreng adalah
makanan kesukaan mereka sejak kecil, apalagi kalau pakai telur mata sapi setengah
matang dan irisan tomat.
‘Tumben pesen nasi goreng yang pedas juga,’ komentar
Radian ketika mereka sedang menunggu pesanan. Seingat Radian sudah lama Syila
tidak makan pedas. Kecuali kalau sedang merasa kangen banget dengan satu sosok
yang selalu hidup di hati Syila, yang selalu menjadi pemeran utama di dalam
memori masa SMA Syila.
‘Biasa,’ jawab Syila sambil senyum-senyum, kembali
berniat masuk ke dalam ‘gerbang petualangan’.
‘Kangen?’ Radian menaikan sebelah alisnya, bosan dengan
alasan yang sudah pasti ini. Syila mengangguk. ‘Besok kan ketemu,’ lanjut
Radian acuh tak acuh.
‘Justru karena itu!’ sahut Syila penuh semangat. Sebelah
kakinya sudah masuk ke dalam dunia petualangan.
Soal pedas. Ah, siapa pun yang pernah makan dengan Syila
pasti hapal dengan komposisi racikan terbaik –menurut Syila- yang selalu
dipakainya saat makan. Kecap, Syila paling suka dengan kecap –makanya nasi
goreng bisa menjadi makan favavorite Syila. Makan apa saja harus pakai kecap.
Bahkan ketika memesan roti bakar keju-susu pun Syila tidak lupa menyelipkan
kecap di dalamnya. Syila paling tidak suka pedas. Tubuhnya tidak bisa
bersahabat dengan cabai. Makan sedikit saja, lidahnya mudah merasa panas.
Tapi jatuh cinta membuat Syila berbeda.
Sejak naksir Windura, Syila mulai memiliki hobi lain
selain bernyanyi dan memotret. Hampir setiap hari pada jadwal yang sudah
dihapal Syila, dia selalu berlagak bak detektif. Misalnya hari Senin seblum
upacara dimulai ia harus cerdik mencari barisan kelas Windura yang letaknya selalu
dirolling, setiap Selasa pada jam pelajaran olah raga ia harus segera berganti
pakaian agar bisa berpapasan dengan anak-anak kelas Windura yang hijrah ke Lab
Komputer, setiap Rabu ia harus jajan cilok Mang Ujang di samping sekolah karena
tahu itu jadwalnya Windura membawa motor dan menitipkannya di parkiran toko kue
dekat Mang Ujang mangkal, setiap Kamis Syila harus ke perpustakaan kalau ingin
melihat buku apa yang berikutnya dipinjam Windura, lalu setiap hari Jumat
sebelum waktunya solat Jumat, Syila mewajibkan diri untuk berkunjung ke kantin
karena pada saat itulah jadwalnya Windura bersama teman-teman satu gengnya
menunggu waktu solat Jumat sambil makan.
Dari kegiatan wajib bak detektifnya itu Syila tahu
makanan kesukaan Windura. Apapun pesanan Windura selalu memakai sambal atau
minimal saus pedas. Kesimpulannya, Windura sangat suka dengan makanan pedas.
‘Heh! Nggak salah tuh?’ tanya Radian heran melihat kecap
yang terabaikan oleh Syila. Adalah pertama kalinya Radian melihat Syila
menuangkan sambal ke dalam makanannya sendiri.
Syila menggeleng sambil terus menuangkan sambal ke dalam
semangkuk baksonya.
‘Udah cukup,’ ucap Radian sambil mencegah tangan Syila
yang hendak menyendok sambal lagi.
‘Okay.’ Syila memang berhenti menyendok sambal. Tapi malah
berganti dengan menuang saus cabai ke dalam mangkuknya.
Radian melongo menatapi kuah bakso Syila yang sekarang
nampak mirip seperti kubangan darah karena warnanya yang merah banget. ‘Nggak
pake kecap?’ tanya Radian sambil ngeri membayangkan yang akan terjadi ketika
Syila menyendokan makanan itu.
‘Libur dulu,’ sahut Syila cuek. Sendok berisi kuah dan
bakso yang sudah dipotong siap masuk ke dalam mulut Syila.
Radian kembali menahan tangan Syila. ‘Yakin?’
Syila mengangguk. “Biar kayak Windura.” Syila menunjuk
Windura dengan gerakan kepalanya sambil tersenyum konyol.
Ledakan pedas dari sendokan pertamanya mati-matian ia
lawan. Alhasil semalaman suntuk Syila bersahabat dengan toilet. Ia bahkan
hampir tidak tidur karena diare.
---
Aroma pedas menyesaki indra penciuman Syila ketika
seorang pelayan datang membawa pesanan mereka dan meletakannya di meja. Kepala
Syila agak mundur untuk menjauhi asap mengepul dari nasi goring pedasnya.
“Sini tukeran.” Tanpa menunggu persetujuan dari Syila,
Radian menukar piringnya dengan milik Syila.
“Kamu yakin? Kayaknya pedas banget deh.” Syila memasang
tampang menyesalnya karena telah memesan nasi goreng pedas di sini.
“Dari pada kamu diare?”
“Kamu kan juga sama-sama nggak suka pedas?”
“Tapi nggak gampang diare. Lagian ngapain sih gaya-gayaan
mesan yang pedas banget gini!” gerutu Radian sambil menyiapkan sendokan
pertamanya.
“Mana aku tahu kalau akan sepedas ini.”
“Udah sana pesenin aku minum lagi. Segelas pasti nggak
cukup.” Lalu Radian menyuapkan sendokan pertamanya. Sementara Syila tersenyum
lebar menampakan gigi-giginya.
“Makasih....” Kemudian Syila pergi memesan minuman untuk
Radian.
Ketika kembali dari kasir Syila menemukan Radian sudah
kuyup karena keringat. Air minumnya juga sudah habis diteguk Radian. Kasihan,
Radian pasti kepedasan.
Lagi-lagi Syila merasa begitu
beruntung memiliki sahabat seperti Radian, yang suka menggerutu tapi mau jadi
pahlawan kepedasannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar