Kamis, 23 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 4


            Nasi Goreng Pedas

            Akhirnya mereka sampai juga di Mall. Tempat yang paling pertama mereka kunjungi adalah tempat makan. Sebenarnya Syila mau langsung mengunjungi toko-toko yang sudah ada dalam daftar tujuannya hari ini. Tapi melihat wajah lelah campur bunyi memalukan dari perut Radian –yang meski malu karena ketahuan kelaparan tetap saja berekspresi datar- jadi Syila membelokkan niatnya.
            Keduanya memesan menu yang sama. Nasi goreng adalah makanan kesukaan mereka sejak kecil, apalagi kalau pakai telur mata sapi setengah matang dan irisan tomat.
            ‘Tumben pesen nasi goreng yang pedas juga,’ komentar Radian ketika mereka sedang menunggu pesanan. Seingat Radian sudah lama Syila tidak makan pedas. Kecuali kalau sedang merasa kangen banget dengan satu sosok yang selalu hidup di hati Syila, yang selalu menjadi pemeran utama di dalam memori masa SMA Syila.
            ‘Biasa,’ jawab Syila sambil senyum-senyum, kembali berniat masuk ke dalam ‘gerbang petualangan’.
            ‘Kangen?’ Radian menaikan sebelah alisnya, bosan dengan alasan yang sudah pasti ini. Syila mengangguk. ‘Besok kan ketemu,’ lanjut Radian acuh tak acuh.
            ‘Justru karena itu!’ sahut Syila penuh semangat. Sebelah kakinya sudah masuk ke dalam dunia petualangan.
            Soal pedas. Ah, siapa pun yang pernah makan dengan Syila pasti hapal dengan komposisi racikan terbaik –menurut Syila- yang selalu dipakainya saat makan. Kecap, Syila paling suka dengan kecap –makanya nasi goreng bisa menjadi makan favavorite Syila. Makan apa saja harus pakai kecap. Bahkan ketika memesan roti bakar keju-susu pun Syila tidak lupa menyelipkan kecap di dalamnya. Syila paling tidak suka pedas. Tubuhnya tidak bisa bersahabat dengan cabai. Makan sedikit saja, lidahnya mudah merasa panas.
            Tapi jatuh cinta membuat Syila berbeda.
---
            Sejak naksir Windura, Syila mulai memiliki hobi lain selain bernyanyi dan memotret. Hampir setiap hari pada jadwal yang sudah dihapal Syila, dia selalu berlagak bak detektif. Misalnya hari Senin seblum upacara dimulai ia harus cerdik mencari barisan kelas Windura yang letaknya selalu dirolling, setiap Selasa pada jam pelajaran olah raga ia harus segera berganti pakaian agar bisa berpapasan dengan anak-anak kelas Windura yang hijrah ke Lab Komputer, setiap Rabu ia harus jajan cilok Mang Ujang di samping sekolah karena tahu itu jadwalnya Windura membawa motor dan menitipkannya di parkiran toko kue dekat Mang Ujang mangkal, setiap Kamis Syila harus ke perpustakaan kalau ingin melihat buku apa yang berikutnya dipinjam Windura, lalu setiap hari Jumat sebelum waktunya solat Jumat, Syila mewajibkan diri untuk berkunjung ke kantin karena pada saat itulah jadwalnya Windura bersama teman-teman satu gengnya menunggu waktu solat Jumat sambil makan.
            Dari kegiatan wajib bak detektifnya itu Syila tahu makanan kesukaan Windura. Apapun pesanan Windura selalu memakai sambal atau minimal saus pedas. Kesimpulannya, Windura sangat suka dengan makanan pedas.
            ‘Heh! Nggak salah tuh?’ tanya Radian heran melihat kecap yang terabaikan oleh Syila. Adalah pertama kalinya Radian melihat Syila menuangkan sambal ke dalam makanannya sendiri.
            Syila menggeleng sambil terus menuangkan sambal ke dalam semangkuk baksonya.
            ‘Udah cukup,’ ucap Radian sambil mencegah tangan Syila yang hendak menyendok sambal lagi.
            ‘Okay.’ Syila memang berhenti menyendok sambal. Tapi malah berganti dengan menuang saus cabai ke dalam mangkuknya.
            Radian melongo menatapi kuah bakso Syila yang sekarang nampak mirip seperti kubangan darah karena warnanya yang merah banget. ‘Nggak pake kecap?’ tanya Radian sambil ngeri membayangkan yang akan terjadi ketika Syila menyendokan makanan itu.
            ‘Libur dulu,’ sahut Syila cuek. Sendok berisi kuah dan bakso yang sudah dipotong siap masuk ke dalam mulut Syila.
            Radian kembali menahan tangan Syila. ‘Yakin?’
            Syila mengangguk. “Biar kayak Windura.” Syila menunjuk Windura dengan gerakan kepalanya sambil tersenyum konyol.
            Ledakan pedas dari sendokan pertamanya mati-matian ia lawan. Alhasil semalaman suntuk Syila bersahabat dengan toilet. Ia bahkan hampir tidak tidur karena diare.
---
            Aroma pedas menyesaki indra penciuman Syila ketika seorang pelayan datang membawa pesanan mereka dan meletakannya di meja. Kepala Syila agak mundur untuk menjauhi asap mengepul dari nasi goring pedasnya.
            “Sini tukeran.” Tanpa menunggu persetujuan dari Syila, Radian menukar piringnya dengan milik Syila.
            “Kamu yakin? Kayaknya pedas banget deh.” Syila memasang tampang menyesalnya karena telah memesan nasi goreng pedas di sini.
            “Dari pada kamu diare?”
            “Kamu kan juga sama-sama nggak suka pedas?”
            “Tapi nggak gampang diare. Lagian ngapain sih gaya-gayaan mesan yang pedas banget gini!” gerutu Radian sambil menyiapkan sendokan pertamanya.
            “Mana aku tahu kalau akan sepedas ini.”
            “Udah sana pesenin aku minum lagi. Segelas pasti nggak cukup.” Lalu Radian menyuapkan sendokan pertamanya. Sementara Syila tersenyum lebar menampakan gigi-giginya.
            “Makasih....” Kemudian Syila pergi memesan minuman untuk Radian.
            Ketika kembali dari kasir Syila menemukan Radian sudah kuyup karena keringat. Air minumnya juga sudah habis diteguk Radian. Kasihan, Radian pasti kepedasan.
            Lagi-lagi Syila merasa begitu beruntung memiliki sahabat seperti Radian, yang suka menggerutu tapi mau jadi pahlawan kepedasannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar