Kamis, 23 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 2



Mengenal Windura

Siang setelah jam istirahat kedua adalah waktu dimana semangat belajar sudah luntur. Matahari terik menyengat lebih dari jam-jam sebelumnya. Hal yang paling enak dilakukan saat ini adalah tidur atau bersantai –bukannya malah terjebak di dalam kelas dan harus mendengar “ceramah” dari pelajaran sosiologi.
Syila juga sama seperti yang lain, tidak berminat mendengarkan Bu Rita di depan kelas. Banyak dari siswa di kelas yang menatap lurus ke depan dengan alis bertaut seolah-olah sedang berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Bu Rita padahal sedang mati-matian melawan kantuk. Dan sebagian kecilnya –yang sedikit lebih berani mengekspresikan diri dari pada “murid-murid munafik” itu- meletakan kepalanya di atas lipatan tangan mereka dengan wajah memelas. Berharap dengan begitu Bu Rita akan kasihan dan segera menyudahi jam pelajaran secepatnya.
‘Bu, izin ke toilet.’ Hampir seluruh isi kelas menengok ke arah Syila dengan tatapan iri.
Setelah bu Rita mengangguk, Syila beranjak dari kursinya dan membalas tatapan anak-anak itu dengan senyum penuh kemenangan. Membuat anak-anak itu di dalam hatinya berjanji akan mengikuti cara Syila barusan setelah Syila kembali dari –yang katanya sih ke toilet.
Pintu kelas ditutup dari luar dan ah, akhirnya Syila berhasil terbebas dari belenggu kebosanan. Dia menjauhi pintu kelas beberapa langkah lalu berdiri santai menghadap lapangan di bawah. Sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas. Sisanya hanya ada benda-benda mati atau kalau pun hidup ya hanya tanaman dan hewan-hewan peliharaan sekolah yang sedang santai di kandang mereka.
‘Ah Syila! Apa yang kau lakukan di sini?’ Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Pak Bonar sudah ada di sebelah Syila.
Okay, Syila harus cepat-cepat mencari alasan atau kalau tidak, dia akan mendapat masalah –bukan hanya dari Pak Bonar saja tapi juga Bu Rita yang sudah dibohonginya.
‘Kau kabur dari jam pelajaran?’ Kali ini pak Bonar melempar ekspresi siap menghukum.
Aha! Kalau di kartun-kartun, pasti sekarang ada bohlam di atas kepala Syila. Danu, anak kelas sebelah, baru saja melintas dengan membawa banyak buku di tangannya dan memunculkan ide cemerlang bagi Syila.
‘Mau ke perpus Pak. Saya nggak bawa buku paket sosiologi jadi saya disuruh pinjam buku di perpus.’ Untung kakek Syila merupakan mantan pemain teater jadi sedikit-sedikit bakat itu mengalir juga dalam dirinya. Dia berhasil memasang ekspresi santai dan meyakinkan Pak Bonar.
‘Saya permisi ya Pak, harus buru-buru. Takut ketinggalan materi.’ Syila segera mengenyahkan diri sebelum bakat yang cuma sedikit di dalam dirinya itu hilang.
Karena kebohongannya barusan, Syila pun terpaksa berada di perpustakaan. Sudah satu semester dia bersekolah tapi dia belum pernah mengunjungi perpustakaan. Membaca bukan hobi Syila jadi perpusatakaan tidak pernah menjadi tempat yang dia tuju.
Syila melepas sepatu dan menaruhnya di loker atas. Setelah mengisi daftar perpustakaan, Syila mencoba –memaksa- kakinya menjelajahi lorong-lorong yang diapit rak-rak besar berisi buku.
Rak sosial, rak teknologi, rak pengetahuan umum, rak sains, dan rak sastra sudah dilewatinya tapi tidak ada yang menarik. Tinggal satu rak lagi yang belum dilewatinya. Kalau sampai tidak menarik juga, Syila akan segera kembali ke kelas.
Sebuah buku berjudul “Fotografi” di rak seni akhirnya menarik Syila. Syila pikir perpustakaan hanya menyediakan buku-buku membosankan saja, tapi ternyata tidak juga. Di bagian rak seni dia menemukan banyak buku tentang fotografi dan perfilman, hal-hal yang sangat diminatinya selain bernyanyi.
Sayangnya buku berjudul “Fotografi” itu berada di bagian paling atas jadi Syila harus bersusah payah mengambilnya. Dia berjinjit tapi tidak terambil. Dia melompat-lompat pun sama, tidak terambil juga. Sampai tiba-tiba sebuah tangan menghentikan usaha Syila. Ah, akhirnya.
Tangan itu dengan luwes mengambil buku berjudul “Fotografi” dan kemudian memberikannya kepada Syila.
Oh tuhan… degupan jantung Syila kembali berima kacau saat dia melihat si pemilik tangan yang sudah berbaik hati mengambilkannya buku. Dia si laki-laki itu. Walaupun sekarang Syila sedang diserang mati gaya, tapi Syila masih bisa melihat dengan sangat jelas.
‘Makasih.’ Hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan suara bergetar. Syila segera mengambil langkah pergi. Begitu juga dengan laki-laki itu.
Ah, mati gaya semakin menyerang Syila saat laki-laki itu ternyata duduk di sebelahnya. Sekarang bahu mereka hanya dipisah dengan kayu kecil saja. Berbeda dengan Syila, setelah duduk, laki-laki itu segera larut ke dalam buku ditangannya.
Syila memberanikan diri menoleh pelan-pelan. Ingin melihat apa saja yang ada pada laki-laki itu. “Majapahit”, begitu judul yang tertera di cover buku yang sedang asik dibaca laki-laki itu. Takut ketahuan, Syila pun kembali membuang pandangannya dan mencoba membuka buku di tangannya.
Tapi sekarang Syila penasaran dengan nama laki-laki itu. Jadi Syila memberanikan diri lagi untuk menoleh. Harus pelan-pelan agar tidak ketahuan.
Belum sempat melihat name tag-nya, laki-laki itu keburu menoleh. Jadi Syila juga buru-buru membuang pandangan. Dengan penuh salah tingkah Syila membuka-buka halaman buku ditangannya, begitu asalnya sampai menimbulkan bunyi yang agak mengganggu. Membuat laki-laki itu tiba-tiba bangkit dan pergi menuju meja peminjaman buku.
OH TUHAN! Yang barusan itu bunyi bel pergantian jam? Serius?
‘Mati gue! Jam pelajaran Bu Rita udah habis. Udah berapa lama ini gue izin ke toiletnya? Habis lo Syl, habis!’ Syila buru-buru bangkit dan berlari keluar perpustakaan.
Saking buru-burunya dia sampai menabrak laki-laki itu, yang nampak sedang registrasi untuk meminjam buku –sungguh, ini sama sekali bukan kesengajaan atau akal-akalan Syila, sungguh.
‘Maaf… maaf…’ Syila memungut kartu perpustakaan yang jatuh karena tabrakannya tadi. Sebentar! Yang ada di tangan Syila sekarang itu kartu perpustakaan laki-laki itu kan? Syila melirik foto dalam kartu itu. Matanya membulat dan segera menyempatkan diri untuk mencuri pandang, membaca nama dan kelas yang tertera di kartu itu. Windura Alamsyah, kelas X-A. Ah… rasanya Syila ingin sekali berteriak sambil joget-joget tapi tidak mungkin. Jatuh cinta pada orang yang belum kalian kenal, akan membuat rasa sangat bahagia ketika akhirnya kau tahu sesuatu tentang dia –sekalipun hanya sekadar namanya.
Laki-laki itu –yang ternyata bernama Windura Alamsyah- mengulurkan tangannya dengan telapak tangan menengadah. Tanpa kata-kata dia meminta kartunya. Lalu Syila tanpa berani menoleh pun mengembalikan kartu di tangannya. Sebelum habis oleh rasa malunya sendiri, Syila segera keluar dari dalam perpustakaan.
Di balik pintu perpustakaan Syila melupakan semua kesalahannya pada Bu Rita. Yang ia ingat saat itu juga hanya deretan huruf yang membentuk nama seorang laki-laki yang mulai dikenalnya.
Itu adalah pertama kalinya Syila mengenal laki-laki itu, Windura Alamsyah anak kelas X-A.
Saat Syila kembali, Bu Rita sudah tidak ada di dalam kelas.
‘Anjir Syil, lo lama banget izin ke toiletnya.’
‘Tau nih, kita jadi nggak kebagian izin juga.’
‘Lo boker ya Syil?’
Sahutan demi sahutan menyambut kedatangan Syila di kelas. Sahutan iri yang direfleksikan dengan nada sewot, tentunya.
‘Enak aja!’ Syila kemudian nyengir lebar banget. ‘Maaf ya, keasikan jalan-jalan.’ Lanjut Syila, mengundang sorakan dari teman-temannya.
Hari itu Syila membuat hipotesa gejala jatuh cinta yang ketiga: jatuh cinta bisa membuat orang lupa dengan banyak hal. Termasuk lupa untuk kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar