Mengenal
Windura
Siang
setelah jam istirahat kedua adalah waktu dimana semangat belajar sudah luntur.
Matahari terik menyengat lebih dari jam-jam sebelumnya. Hal yang paling enak
dilakukan saat ini adalah tidur atau bersantai –bukannya malah terjebak di
dalam kelas dan harus mendengar “ceramah” dari pelajaran sosiologi.
Syila
juga sama seperti yang lain, tidak berminat mendengarkan Bu Rita di depan
kelas. Banyak dari siswa di kelas yang menatap lurus ke depan dengan alis
bertaut seolah-olah sedang berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Bu Rita
padahal sedang mati-matian melawan kantuk. Dan sebagian kecilnya –yang sedikit
lebih berani mengekspresikan diri dari pada “murid-murid munafik” itu-
meletakan kepalanya di atas lipatan tangan mereka dengan wajah memelas.
Berharap dengan begitu Bu Rita akan kasihan dan segera menyudahi jam pelajaran
secepatnya.
‘Bu,
izin ke toilet.’ Hampir seluruh isi kelas menengok ke arah Syila dengan tatapan
iri.
Setelah
bu Rita mengangguk, Syila beranjak dari kursinya dan membalas tatapan anak-anak
itu dengan senyum penuh kemenangan. Membuat anak-anak itu di dalam hatinya
berjanji akan mengikuti cara Syila barusan setelah Syila kembali dari –yang
katanya sih ke toilet.
Pintu
kelas ditutup dari luar dan ah, akhirnya Syila berhasil terbebas dari belenggu
kebosanan. Dia menjauhi pintu kelas beberapa langkah lalu berdiri santai
menghadap lapangan di bawah. Sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas.
Sisanya hanya ada benda-benda mati atau kalau pun hidup ya hanya tanaman dan
hewan-hewan peliharaan sekolah yang sedang santai di kandang mereka.
‘Ah
Syila! Apa yang kau lakukan di sini?’ Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Pak
Bonar sudah ada di sebelah Syila.
Okay,
Syila harus cepat-cepat mencari alasan atau kalau tidak, dia akan mendapat
masalah –bukan hanya dari Pak Bonar saja tapi juga Bu Rita yang sudah dibohonginya.
Aha!
Kalau di kartun-kartun, pasti sekarang ada bohlam di atas kepala Syila. Danu,
anak kelas sebelah, baru saja melintas dengan membawa banyak buku di tangannya
dan memunculkan ide cemerlang bagi Syila.
‘Mau
ke perpus Pak. Saya nggak bawa buku paket sosiologi jadi saya disuruh pinjam
buku di perpus.’ Untung kakek Syila merupakan mantan pemain teater jadi
sedikit-sedikit bakat itu mengalir juga dalam dirinya. Dia berhasil memasang ekspresi
santai dan meyakinkan Pak Bonar.
‘Saya
permisi ya Pak, harus buru-buru. Takut ketinggalan materi.’ Syila segera mengenyahkan
diri sebelum bakat yang cuma sedikit di dalam dirinya itu hilang.
Karena
kebohongannya barusan, Syila pun terpaksa berada di perpustakaan. Sudah satu
semester dia bersekolah tapi dia belum pernah mengunjungi perpustakaan. Membaca
bukan hobi Syila jadi perpusatakaan tidak pernah menjadi tempat yang dia tuju.
Syila
melepas sepatu dan menaruhnya di loker atas. Setelah mengisi daftar
perpustakaan, Syila mencoba –memaksa- kakinya menjelajahi lorong-lorong yang
diapit rak-rak besar berisi buku.
Rak
sosial, rak teknologi, rak pengetahuan umum, rak sains, dan rak sastra sudah
dilewatinya tapi tidak ada yang menarik. Tinggal satu rak lagi yang belum
dilewatinya. Kalau sampai tidak menarik juga, Syila akan segera kembali ke
kelas.
Sebuah
buku berjudul “Fotografi” di rak seni akhirnya menarik Syila. Syila pikir
perpustakaan hanya menyediakan buku-buku membosankan saja, tapi ternyata tidak
juga. Di bagian rak seni dia menemukan banyak buku tentang fotografi dan
perfilman, hal-hal yang sangat diminatinya selain bernyanyi.
Sayangnya
buku berjudul “Fotografi” itu berada di bagian paling atas jadi Syila harus
bersusah payah mengambilnya. Dia berjinjit tapi tidak terambil. Dia
melompat-lompat pun sama, tidak terambil juga. Sampai tiba-tiba sebuah tangan
menghentikan usaha Syila. Ah, akhirnya.
Tangan
itu dengan luwes mengambil buku berjudul “Fotografi” dan kemudian memberikannya
kepada Syila.
Oh
tuhan… degupan jantung Syila kembali berima kacau saat dia melihat si pemilik
tangan yang sudah berbaik hati mengambilkannya buku. Dia si laki-laki itu.
Walaupun sekarang Syila sedang diserang mati gaya, tapi Syila masih bisa
melihat dengan sangat jelas.
‘Makasih.’
Hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan suara bergetar. Syila segera
mengambil langkah pergi. Begitu juga dengan laki-laki itu.
Ah,
mati gaya semakin menyerang Syila saat laki-laki itu ternyata duduk di
sebelahnya. Sekarang bahu mereka hanya dipisah dengan kayu kecil saja. Berbeda
dengan Syila, setelah duduk, laki-laki itu segera larut ke dalam buku
ditangannya.
Syila
memberanikan diri menoleh pelan-pelan. Ingin melihat apa saja yang ada pada
laki-laki itu. “Majapahit”, begitu judul yang tertera di cover buku yang sedang
asik dibaca laki-laki itu. Takut ketahuan, Syila pun kembali membuang
pandangannya dan mencoba membuka buku di tangannya.
Tapi
sekarang Syila penasaran dengan nama laki-laki itu. Jadi Syila memberanikan
diri lagi untuk menoleh. Harus pelan-pelan agar tidak ketahuan.
Belum
sempat melihat name tag-nya, laki-laki itu keburu menoleh. Jadi Syila juga
buru-buru membuang pandangan. Dengan penuh salah tingkah Syila membuka-buka
halaman buku ditangannya, begitu asalnya sampai menimbulkan bunyi yang agak
mengganggu. Membuat laki-laki itu tiba-tiba bangkit dan pergi menuju meja
peminjaman buku.
OH
TUHAN! Yang barusan itu bunyi bel pergantian jam? Serius?
‘Mati
gue! Jam pelajaran Bu Rita udah habis. Udah berapa lama ini gue izin ke toiletnya?
Habis lo Syl, habis!’ Syila buru-buru bangkit dan berlari keluar perpustakaan.
Saking
buru-burunya dia sampai menabrak laki-laki itu, yang nampak sedang registrasi
untuk meminjam buku –sungguh, ini sama sekali bukan kesengajaan atau
akal-akalan Syila, sungguh.
‘Maaf…
maaf…’ Syila memungut kartu perpustakaan yang jatuh karena tabrakannya tadi.
Sebentar! Yang ada di tangan Syila sekarang itu kartu perpustakaan laki-laki
itu kan? Syila melirik foto dalam kartu itu. Matanya membulat dan segera menyempatkan
diri untuk mencuri pandang, membaca nama dan kelas yang tertera di kartu itu.
Windura Alamsyah, kelas X-A. Ah… rasanya Syila ingin sekali berteriak sambil
joget-joget tapi tidak mungkin. Jatuh cinta pada orang yang belum kalian kenal,
akan membuat rasa sangat bahagia ketika akhirnya kau tahu sesuatu tentang dia –sekalipun
hanya sekadar namanya.
Laki-laki
itu –yang ternyata bernama Windura Alamsyah- mengulurkan tangannya dengan
telapak tangan menengadah. Tanpa kata-kata dia meminta kartunya. Lalu Syila
tanpa berani menoleh pun mengembalikan kartu di tangannya. Sebelum habis oleh
rasa malunya sendiri, Syila segera keluar dari dalam perpustakaan.
Di
balik pintu perpustakaan Syila melupakan semua kesalahannya pada Bu Rita. Yang ia
ingat saat itu juga hanya deretan huruf yang membentuk nama seorang laki-laki
yang mulai dikenalnya.
Itu
adalah pertama kalinya Syila mengenal laki-laki itu, Windura Alamsyah anak
kelas X-A.
Saat
Syila kembali, Bu Rita sudah tidak ada di dalam kelas.
‘Anjir
Syil, lo lama banget izin ke toiletnya.’
‘Tau
nih, kita jadi nggak kebagian izin juga.’
‘Lo
boker ya Syil?’
Sahutan
demi sahutan menyambut kedatangan Syila di kelas. Sahutan iri yang
direfleksikan dengan nada sewot, tentunya.
‘Enak
aja!’ Syila kemudian nyengir lebar banget. ‘Maaf ya, keasikan jalan-jalan.’
Lanjut Syila, mengundang sorakan dari teman-temannya.
Hari
itu Syila membuat hipotesa gejala jatuh cinta yang ketiga: jatuh cinta bisa
membuat orang lupa dengan banyak hal. Termasuk lupa untuk kembali ke kelas
untuk melanjutkan pelajaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar