Hujan
“Turun! Jadi kan ke dokternya?”
Radian menghentikan ‘petualangan’ Syila dengan dunianya.
“Hehehe… jadi.” Syila pun segera
turun dari boncengan. Kemudian Radian memarkirkan motornya.
Dr. Dewika, Dokter Kulit dan Kecantikan.
Di sinilah sekarang Syila dan Radian berada. Sebuah klinik khusus penanganan
terhadap kulit dan kecantikan. Sudah lama sekali Syila tidak datang ke tempat
ini. Kebetulan Syila bukan gadis yang suka repot-repot merawat diri, jadi dia
jarang sekali ke sini. Dia baru akan datang ke sini kalau sedang ada urusan
dengan dokter Dewika atau kalau dia sedang ada masalah dengan kulitnya yang
alergi dengan bulu kucing.
"Emang
mau ngapain sih?" Radian tidak merasa ada yang salah dengan kulit Syila
saat ini.
"Facial,
masker, ya apa ajalah yang kira-kira diperluin."
Radian
meraih dagu Syila lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Syila. Dengan alis
bertaut, dia mencermati setiap detail wajah Syila. Tapi dia tidak menemukan
sesuatu yang salah di sana.
"Muka
kamu nggak kenapa-kenapa. Bersih, nggak ada jerawat, nggak ada komedo
juga."
"Udah
kamu jangan bawel, ini urusan cewek. Cuma aku sama Bunda kamu yang
ngerti." Syila melepaskan tangan Radian dari dagunya lalu berjalan lebih
dulu meninggalkan Radian.
"Sejak
kapan kamu ngerti urusan cewek?" seperti biasa, Radian mengguman sendirian
dengan suara pelan.
"Aku
denger loh Rad!" Syila menghentikan langkahnya dan melempar tatapan
melototnya pada Radian.
"Hehehe."
Radian balas dengan cengirannya.
"Ayo!"
Syila menghampiri Radian dan menyeretnya untuk berjalan lebih cepat.
Hanya
sepuluh menit Syila dan Radian berada di dalam ruang dokter "Tuh... bener
kan apa yang aku bilang? Muka kamu nggak bermasalah. Buang-buang waktu aja!"
ucap Radian kepada Syila saat mereka baru saja keluar dari dalam ruang Dokter
Dewika.
"Tapi
kan lumayan, aku jadi dapet ini. Gratis pula." Syila memamerkan masker
vitamin c yang baru saja diberikan oleh Dokter Dewika, bundanya Radian. Dia
bilang, saat ini wajah Syila baik-baik saja dan tidak memerlukan penanganan
apapun jadi agar tidak pulang dengan tangan kosong, Syila diberikan oleh-oleh.
"Mau
kemana kita sekarang?" tanya Radian.
"Mall!"
"Mau
cari apa?"
"Banyak."
Syila berjalan mendului Radian.
"Dasar
cewek rempong!" cibir Radian.
"Tuh
kan akhirnya kamu ngakuin juga kalo aku ini cewek!" sahut Syila dengan
nada penuh kemenangan.
Hujan
tiba-tiba deras. Memaksa Syila dan Radian menghentikan perjalanan mereka.
Untung saja saat ini mereka sedang berada tidak jauh dari halte bus.
Angin
yang berhembus semakin besar. Meski mereka sudah berdesakan dengan orang-orang
yang sedang menunggu bus, tetap saja anginnya menyelimuti dengan erat seolah di
halte hanya ada satu-dua orang saja.
"Kamu
tumben nggak bawa jas hujan?" Syila berdiri di sebelah Radian. Sesekali
dia mengusap-usap lengannya karena mulai merasa kedinginan.
"Kan
jas hujannya ketinggalan di rumah kamu. Dan kamu udah pasti nggak akan balikin
jas hujan itu kalau aku nggak ambil sendiri."
Syila
cuma nyengir, secara tidak langsung meng-iya-kan yang dikatakan Radian. Radian melirik
Syila di sebelahnya. Berdesakan dengan calon penumpang bus membuat Syila berada
di bawah pinggiran atap halte. Sebelah lengannya basah karena tidak terlindungi
atap.
"Sini
tukeran!" Radian menarik tubuh Syila dan menukar posisinya dengan posisi
Syila.
"Nanti
kamu basah loh...."
"Jangan
bawel, ini urusan cowok. Aku nggak bawa jaket, jadi kamu harus aman dari air hujan
biar nggak kedinginan."
Syila
tersenyum dengan perasaan senang. Radian adalah salah satu hal yang paling
disyukuri Syila. Meski suka mengeluh, menggerutu, atau memasang tampang bete
kalau sedang direpotkan, tapi Radian adalah teman terbaiknya. Dia paling tulus
dalam menolong Syila -cuma ekspresinya saja yang tidak tulus. Radian juga yang
paling bisa diandalkan dalam banyak hal. Salah satunya menjadi pahlawan untuk
Syila. Tanpa diucapkan, Radian selalu menjaga Syila dengan sebaik mungkin.
"Aku
suka hujan." Sekarang Syila sudah berada di depan 'gerbang petualangannya'
lagi.
"Iya
tau," sahut Radian dingin. Kalau sudah begini, Radian tahu kemana arah
pembicaraan Syila. Radian bahkan sudah hapal tiap kalimat yang akan dikeluarkan
Syila saat membahas hujan seperti ini.
"Karena
dulu hujan selalu..." senyum Syila mengembang. Sekarang dia sudah kembali
membuka ‘gerbang petualangannya’.
"Iya
tau." Dua kata ini cukup untuk membuat Radian tidak perlu mendengar
kalimat Syila secara utuh.
---
Sudah
lumrah kalau hujan dianggap penggangu aktivitas manusia. Karena hujan, manusia
malas bepergian, apalagi kalau tidak memiliki mobil pribadi. Hujan juga bisa
menyebabkan jalanan tergenang sehingga jalanan macet dan akhirnya manusia
terlambat sampai di tujuannya. Kadang hujan menyebabkan jalanan licin dan
memberi potensi kecelakaan yang lebih besar dari biasanya. Seringnya, hujan
juga dianggap menyebalkan. Apalagi kalau sampai terjebak terlalu lama
karenanya.
Lumrah
bukan berarti berlaku untuk seluruh umuat manusia. Contohnya Syila, ia malah
menganggap hujan sebagi sesuatu yang menyenangkan.
Bel
pulang sudah berbunyi tapi Syila tidak bisa segera pulang. Hujan yang turun masih
saja deras. Jadi ia dan beberapa muruid lainnya menunggu hujan di sekolah. Ada
yang menunggu di lorong, ada yang menunggu di ruang ekskul, ada yang menunggu
di kantin, ada yang menunggu di kelas, dan entah ada yang menunggu dimana lagi.
Syila sendiri adalah bagian dari yang menunggu di dalam kelas bersama Radian
dan beberapa teman sekelasnya.
Syila
sibuk dengan kamera barunya. Kamera yang didapatnya dari Papa setelah merengek
selama dua bulan penuh dan berjanji untuk merelakan tiga puluh persen uang
jajannya selama lima bulan –meski pun sebenarnya tiga puluh persen dari uang
jajannya selama lima bulan masih jauh dari cukup untuk mengganti harga kamera
tersebut.
‘Ayo
Rad foto!’ Syila mendekatkan diri dengan Radian. Klik. Syila sudah memotret sebelum Radian sempat bergaya, bahkan
senyum pun belum. Syila tertawa-tawa saat melihat hasil potretannya sendiri.
Radian tampak sangat lucu di sana.
‘Kamu
curang, aku belum siap,’ ucap Radian dengan nada sensi khasnya.
‘Apa
bedanya kamu udah siap atau belum? Sama aja ah. Ayo lagi!’
Klik.
Lagi. Klik. Lagi. Klik.
‘Sayang
di sini nggak ada ekskul fotografi atau perfilman.’ Syila berhenti memotret
lalu sibuk mengutak-atik kameranya. ‘Kan bingung harus belajar sama siapa. Kamu
mana bisa.’
‘Otodidaklah.
Searching di internet atau dibuku-buku. Kamu nggak buta aksara kan?’
Syila
segera melempar tatapan tajam sambil manyun begitu mendengar sahutan asal
Radian. Tapi kemudian tersenyum juga saat dia tiba-tiba teringat sesuatu.
‘Ah
iya dari buku. Betul-betul, iya dari buku!’ seru Syila penuh semnagat. Senyum
mengembang begitu saja di bibirnya. Kalau Radian tidak kenal Syila, dia pasti
sudah mengira Syila gila karena bicara sendiri begitu.
Syila
memasukan kameranya ke dalam tas lalu menggemblok tasnya, bersiap untuk keluar
dari dalam kelas.
‘Mau
kemana?’
‘Perpus.
Mau ikut?’
‘Nggak
salah denger nih?’
‘Okay,
bye!’ Syila melangkah pergi.
‘Eh...
ikut deh. Bosen juga.’ Radian mengekor.
Meski
Radian merasa heran tapi dia tetap saja mengekori Syila ke perpustakaan. Bagi
Radian, mendengar kata "mau ke perpus" dari Syila adalah sesuatu yang
sangat asing di telinganya. Jangankan perpustakaan, ke toko buku yang
suasananya tidak sekaku di perpustakaan saja Syila hampir tidak pernah.
Sekali-kalinya ke sana, hanya karena Syila harus membeli buku paket atau
kebetulan Syila sedang ingin membeli komik. Ah, komik-komik pun tidak pasti
habis dibacanya.
‘Pantesan
hari ini tiba-tiba hujan,’ celetuk Radian saat mereka sedang melepas sepatu.
‘Hehehe
waktu aku izin ke toilet di jam Bu Rita, aku tuh pergi ke sini. Aku nemu buku
fotografi gitu. Makanya aku sampe lupa balik ke kelas lagi.’ Syila tersenyum
saat mengingat kejadian tempo lalu –lebih tepatnya kejadian dimana dia tidak
sengaja bertemu Windura-.
‘Kamu
kok nggak bilang sih kalau di sini ada rak seni?’ Sekarang mereka sudah berada
di dalam perpustakaan. ‘Aku suka banget buku-buku di rak seni. Sayangnya buku-buku
seni itu ditaruh paling atas dan aku…’ Syila sengaja tidak menyelesaikan
kalimatnya. Dia malah membawa Radian menuju rak yang dimaksudnya.
Saking
antusiasnya, Syila yang berjalan grusukan mirip tikus dikejar-kejar sampai
sempat menabrak meja dan beberapa orang yang mereka lalui. Tapi Syila cuek
saja, ia hanya meminta maaf sekedarnya lalu melanjutkan langkah menuju rak
seni. ‘Pelan-pelan aja kenapa jalannya!’ protes Radian saat Syila baru saja
menabrak orang.
‘Itu
raknya! Liat, tinggi banget kan? Kalo kamu sih nyampe,’ ucap Syila begitu sampai
di hadapan rak yang dimaksudnya. Dia segera mengukur tinggi badannya, tinggi
Radian, dan tinggi rak tersebut.
‘Terus?
Kan ada Pak Deni, bisa minta tolong,’ ucap Radian datar.
‘Nggak
kepikiran. Tapi untungnya waktu itu aku ditolongin sama…’ kalimat Syila
terhenti. Bukan karena dipotong oleh Radian seperti biasanya, tapi karena dia
baru menyadari keberadaan sesuatu di dekatnya.
Sesuatu
yang akhir-akhir ini membuat Syila agak aneh. Sesuatu yang akhir-akhir ini
membuat detakan jantungnya mengalun berantakan. Sesuatu yang datangnya dari
laki-laki paling pas-nya: Windura.
Syila
buru-buru menutup wajahnya dengan salah satu majalah di dekatnya yang diambil
dengan asal. Saking buru-burunnya, Syila sampai tidak sadar kalau dia memegang
majalahnya dengan terbalik.
‘Kenapa
sih?’ tanya Radian bingung sambil menarik majalah yang sedang menutupi wajah
sahabatnya itu. Tapi Syila menahannya.
‘Eitsss
jangan diambil dooong…’ ucap Syila dengan nada berbisik campur geregetan.
‘Mau
acrobat apa sih? Baca buku terbalik gitu, nggak pusing?’ tanya Radian yang
sebenarnya penasaran tapi tetap saja nadanya datar.
Beruntung,
cuma Radian yang sadar kalau majalah –yang seolah-olah sedang dibaca Syila-
terbalik. Buru-buru Syila memutar posisi majalahnya sambil melempar cengiran
kuda pangkat tampang blo’on.
‘Yuk
cari tempat duduk!’ Syila menggandeng tangan Radian. Dia ingin buru-buru
mencari jarak teraman yang akan menjauhkannya dari hal-hal konyol yang mungkin
saja dilakukannya tanpa terkendali.
‘Eh
nanti dulu, kan belum nemu buku yang mau dibaca.’
‘Udaaaah…
ini aja. Bagus kok majalahnya. Yuk! Yuk! Yuk!’ Syila menggandeng Radian dengan
sekuat tenaga agar bisa cepat-cepat mencari jarak teramannya.
‘Kamu
yakin mau baca itu?’ kali ini wajah Radian tidak lagi datar. Keningnya sedikit
mengerut dan matanya agak menyipit.
‘Iya,
bawel banget sih!’ Okay, Radian malas berdebat. Akhirnya dia pasrah saja
diseret Syila.
Sekarang
Syila merasa aman berada di salah satu bangku bersama Radian yang bingung tapi
tetap bertahan dengan ekspresi datarnya. Di posisi amannya, Syila mengamati
Windura yang sedang larut bersama buku di tangannya. Kali ini judulnya berbeda,
tapi tetap berbau sejarah. Nampaknya Windura memang suka dengan sejarah
–berbeda sekali dengan Syila.
‘Anak
itu namanya Windura. Aku baru lihat dia beberapa hari ini. Tapi aku rasa aku
jatuh cinta sama dia,’ bisik Syila pada Radian. Membuat Radian terasa seperti tersedak,
heran ada orang yang bisa dengan mudahnya menyatakan diri sedang jatuh cinta
pada laki-laki yang baru ditemui beberapa hari saja.
Syila
tidak repot menanyakan mengapa Radian tampak seperti orang tersedak. Dia lebih
repot memerhatikan Windura dari posisi amannya dengan sesekali sok sibuk
membaca saat merasa ada tanda-tanda ‘bahaya’.
Syila
tersenyum-senyum. Kalau bukan karena hujan, mungkin sekarang dia tidak di sini,
melihat Windura dengan posisi aman. Kalau bukan karena hujan, mungkin Windura
tidak akan tertahan lama di sini. Dalam hati, sejak sore ini Syila menyukai
hujan. Kalau bisa, hujan selalu datang setiap pulang sekolah supaya bisa
menahan Windura lebih lama, membuat Syila dapat dengan mudah menemukan dan
memerhatikannya lebih lama.
Baru
setelah hujan berhenti Windura keluar dari perpustakaan. Dan baru saat itu juga
Syila menyadari buku apa yang ada di tangannya. “Misteri Siksa Kubur 1”, begitu
judul dari buku yang sekarang membuat Syila terkejut. Bisa-bisanya dia membawa
buku itu.
‘Aku
bilang juga apa, kamu yakin baca buku itu?’ adalah kalimat pertama yang keluar
dari mulut Radian begitu Syila sibuk terkejut. ‘Kelihatan sok religius, nggak
cocok,’ adalah kalimat kedua Radian.
Syila
keluar dengan membawa dua buku yang dia pinjam. Satu buku tentang fotografi dan
satu lagi buku sejarah Majapahit –buku yang kemarin dibaca Windura. ‘Kemarin
dia baca buku ini jadi aku harus baca buku ini juga supaya kalo diajak ngobrol,
aku nyambung sama dia,’ begitu jawaban Syila waktu Radian terheran-heran dengan
buku sejarah yang dipinjamnya. Dalam hati Radian bahkan tidak yakin Syila akan
membaca buku itu nantinya. Pasti hanya untuk gaya-gayaan saja.
Dari
Syila, Radian jadi tahu bahwa jatuh cinta membuat kita mudah memutuskan.
Kemudian Syila
membuat hipotesa gejala jatuh cinta yang keempat: jatuh cinta membuat menunggu
menjadi asik, membuat jebakan hujan tak lagi membosankan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar