Kamis, 23 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 3



Hujan

            “Turun! Jadi kan ke dokternya?” Radian menghentikan ‘petualangan’ Syila dengan dunianya.
            “Hehehe… jadi.” Syila pun segera turun dari boncengan. Kemudian Radian memarkirkan motornya.       
Dr. Dewika, Dokter Kulit dan Kecantikan. Di sinilah sekarang Syila dan Radian berada. Sebuah klinik khusus penanganan terhadap kulit dan kecantikan. Sudah lama sekali Syila tidak datang ke tempat ini. Kebetulan Syila bukan gadis yang suka repot-repot merawat diri, jadi dia jarang sekali ke sini. Dia baru akan datang ke sini kalau sedang ada urusan dengan dokter Dewika atau kalau dia sedang ada masalah dengan kulitnya yang alergi dengan bulu kucing.
"Emang mau ngapain sih?" Radian tidak merasa ada yang salah dengan kulit Syila saat ini.
"Facial, masker, ya apa ajalah yang kira-kira diperluin."
Radian meraih dagu Syila lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Syila. Dengan alis bertaut, dia mencermati setiap detail wajah Syila. Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang salah di sana.
"Muka kamu nggak kenapa-kenapa. Bersih, nggak ada jerawat, nggak ada komedo juga."
"Udah kamu jangan bawel, ini urusan cewek. Cuma aku sama Bunda kamu yang ngerti." Syila melepaskan tangan Radian dari dagunya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Radian.
"Sejak kapan kamu ngerti urusan cewek?" seperti biasa, Radian mengguman sendirian dengan suara pelan.
"Aku denger loh Rad!" Syila menghentikan langkahnya dan melempar tatapan melototnya pada Radian.
"Hehehe." Radian balas dengan cengirannya.
"Ayo!" Syila menghampiri Radian dan menyeretnya untuk berjalan lebih cepat.
Hanya sepuluh menit Syila dan Radian berada di dalam ruang dokter "Tuh... bener kan apa yang aku bilang? Muka kamu nggak bermasalah. Buang-buang waktu aja!" ucap Radian kepada Syila saat mereka baru saja keluar dari dalam ruang Dokter Dewika.
"Tapi kan lumayan, aku jadi dapet ini. Gratis pula." Syila memamerkan masker vitamin c yang baru saja diberikan oleh Dokter Dewika, bundanya Radian. Dia bilang, saat ini wajah Syila baik-baik saja dan tidak memerlukan penanganan apapun jadi agar tidak pulang dengan tangan kosong, Syila diberikan oleh-oleh.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Radian.
"Mall!"
"Mau cari apa?"
"Banyak." Syila berjalan mendului Radian.
"Dasar cewek rempong!" cibir Radian.
"Tuh kan akhirnya kamu ngakuin juga kalo aku ini cewek!" sahut Syila dengan nada penuh kemenangan.
"Terserah!" Radian pun terpaksa menyeret diri mengikuti Syila.

Hujan tiba-tiba deras. Memaksa Syila dan Radian menghentikan perjalanan mereka. Untung saja saat ini mereka sedang berada tidak jauh dari halte bus.
Angin yang berhembus semakin besar. Meski mereka sudah berdesakan dengan orang-orang yang sedang menunggu bus, tetap saja anginnya menyelimuti dengan erat seolah di halte hanya ada satu-dua orang saja.
"Kamu tumben nggak bawa jas hujan?" Syila berdiri di sebelah Radian. Sesekali dia mengusap-usap lengannya karena mulai merasa kedinginan.
"Kan jas hujannya ketinggalan di rumah kamu. Dan kamu udah pasti nggak akan balikin jas hujan itu kalau aku nggak ambil sendiri."
Syila cuma nyengir, secara tidak langsung meng-iya-kan yang dikatakan Radian. Radian melirik Syila di sebelahnya. Berdesakan dengan calon penumpang bus membuat Syila berada di bawah pinggiran atap halte. Sebelah lengannya basah karena tidak terlindungi atap.
"Sini tukeran!" Radian menarik tubuh Syila dan menukar posisinya dengan posisi Syila.
"Nanti kamu basah loh...."
"Jangan bawel, ini urusan cowok. Aku nggak bawa jaket, jadi kamu harus aman dari air hujan biar nggak kedinginan."
Syila tersenyum dengan perasaan senang. Radian adalah salah satu hal yang paling disyukuri Syila. Meski suka mengeluh, menggerutu, atau memasang tampang bete kalau sedang direpotkan, tapi Radian adalah teman terbaiknya. Dia paling tulus dalam menolong Syila -cuma ekspresinya saja yang tidak tulus. Radian juga yang paling bisa diandalkan dalam banyak hal. Salah satunya menjadi pahlawan untuk Syila. Tanpa diucapkan, Radian selalu menjaga Syila dengan sebaik mungkin.
"Aku suka hujan." Sekarang Syila sudah berada di depan 'gerbang petualangannya' lagi.
"Iya tau," sahut Radian dingin. Kalau sudah begini, Radian tahu kemana arah pembicaraan Syila. Radian bahkan sudah hapal tiap kalimat yang akan dikeluarkan Syila saat membahas hujan seperti ini.
"Karena dulu hujan selalu..." senyum Syila mengembang. Sekarang dia sudah kembali membuka ‘gerbang petualangannya’.
"Iya tau." Dua kata ini cukup untuk membuat Radian tidak perlu mendengar kalimat Syila secara utuh.
---
Sudah lumrah kalau hujan dianggap penggangu aktivitas manusia. Karena hujan, manusia malas bepergian, apalagi kalau tidak memiliki mobil pribadi. Hujan juga bisa menyebabkan jalanan tergenang sehingga jalanan macet dan akhirnya manusia terlambat sampai di tujuannya. Kadang hujan menyebabkan jalanan licin dan memberi potensi kecelakaan yang lebih besar dari biasanya. Seringnya, hujan juga dianggap menyebalkan. Apalagi kalau sampai terjebak terlalu lama karenanya.
Lumrah bukan berarti berlaku untuk seluruh umuat manusia. Contohnya Syila, ia malah menganggap hujan sebagi sesuatu yang menyenangkan.
Bel pulang sudah berbunyi tapi Syila tidak bisa segera pulang. Hujan yang turun masih saja deras. Jadi ia dan beberapa muruid lainnya menunggu hujan di sekolah. Ada yang menunggu di lorong, ada yang menunggu di ruang ekskul, ada yang menunggu di kantin, ada yang menunggu di kelas, dan entah ada yang menunggu dimana lagi. Syila sendiri adalah bagian dari yang menunggu di dalam kelas bersama Radian dan beberapa teman sekelasnya.
Syila sibuk dengan kamera barunya. Kamera yang didapatnya dari Papa setelah merengek selama dua bulan penuh dan berjanji untuk merelakan tiga puluh persen uang jajannya selama lima bulan –meski pun sebenarnya tiga puluh persen dari uang jajannya selama lima bulan masih jauh dari cukup untuk mengganti harga kamera tersebut.
‘Ayo Rad foto!’ Syila mendekatkan diri dengan Radian. Klik. Syila sudah memotret sebelum Radian sempat bergaya, bahkan senyum pun belum. Syila tertawa-tawa saat melihat hasil potretannya sendiri. Radian tampak sangat lucu di sana.
‘Kamu curang, aku belum siap,’ ucap Radian dengan nada sensi khasnya.
‘Apa bedanya kamu udah siap atau belum? Sama aja ah. Ayo lagi!’
Klik. Lagi. Klik. Lagi. Klik.
‘Sayang di sini nggak ada ekskul fotografi atau perfilman.’ Syila berhenti memotret lalu sibuk mengutak-atik kameranya. ‘Kan bingung harus belajar sama siapa. Kamu mana bisa.’
‘Otodidaklah. Searching di internet atau dibuku-buku. Kamu nggak buta aksara kan?’
Syila segera melempar tatapan tajam sambil manyun begitu mendengar sahutan asal Radian. Tapi kemudian tersenyum juga saat dia tiba-tiba teringat sesuatu.
‘Ah iya dari buku. Betul-betul, iya dari buku!’ seru Syila penuh semnagat. Senyum mengembang begitu saja di bibirnya. Kalau Radian tidak kenal Syila, dia pasti sudah mengira Syila gila karena bicara sendiri begitu.
Syila memasukan kameranya ke dalam tas lalu menggemblok tasnya, bersiap untuk keluar dari dalam kelas.
‘Mau kemana?’
‘Perpus. Mau ikut?’
‘Nggak salah denger nih?’
‘Okay, bye!’ Syila melangkah pergi.
‘Eh... ikut deh. Bosen juga.’ Radian mengekor.
Meski Radian merasa heran tapi dia tetap saja mengekori Syila ke perpustakaan. Bagi Radian, mendengar kata "mau ke perpus" dari Syila adalah sesuatu yang sangat asing di telinganya. Jangankan perpustakaan, ke toko buku yang suasananya tidak sekaku di perpustakaan saja Syila hampir tidak pernah. Sekali-kalinya ke sana, hanya karena Syila harus membeli buku paket atau kebetulan Syila sedang ingin membeli komik. Ah, komik-komik pun tidak pasti habis dibacanya.
‘Pantesan hari ini tiba-tiba hujan,’ celetuk Radian saat mereka sedang melepas sepatu.
‘Hehehe waktu aku izin ke toilet di jam Bu Rita, aku tuh pergi ke sini. Aku nemu buku fotografi gitu. Makanya aku sampe lupa balik ke kelas lagi.’ Syila tersenyum saat mengingat kejadian tempo lalu –lebih tepatnya kejadian dimana dia tidak sengaja bertemu Windura-.
‘Kamu kok nggak bilang sih kalau di sini ada rak seni?’ Sekarang mereka sudah berada di dalam perpustakaan. ‘Aku suka banget buku-buku di rak seni. Sayangnya buku-buku seni itu ditaruh paling atas dan aku…’ Syila sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia malah membawa Radian menuju rak yang dimaksudnya.
Saking antusiasnya, Syila yang berjalan grusukan mirip tikus dikejar-kejar sampai sempat menabrak meja dan beberapa orang yang mereka lalui. Tapi Syila cuek saja, ia hanya meminta maaf sekedarnya lalu melanjutkan langkah menuju rak seni. ‘Pelan-pelan aja kenapa jalannya!’ protes Radian saat Syila baru saja menabrak orang.
‘Itu raknya! Liat, tinggi banget kan? Kalo kamu sih nyampe,’ ucap Syila begitu sampai di hadapan rak yang dimaksudnya. Dia segera mengukur tinggi badannya, tinggi Radian, dan tinggi rak tersebut.
‘Terus? Kan ada Pak Deni, bisa minta tolong,’ ucap Radian datar.
‘Nggak kepikiran. Tapi untungnya waktu itu aku ditolongin sama…’ kalimat Syila terhenti. Bukan karena dipotong oleh Radian seperti biasanya, tapi karena dia baru menyadari keberadaan sesuatu di dekatnya.
Sesuatu yang akhir-akhir ini membuat Syila agak aneh. Sesuatu yang akhir-akhir ini membuat detakan jantungnya mengalun berantakan. Sesuatu yang datangnya dari laki-laki paling pas-nya: Windura.
Syila buru-buru menutup wajahnya dengan salah satu majalah di dekatnya yang diambil dengan asal. Saking buru-burunnya, Syila sampai tidak sadar kalau dia memegang majalahnya dengan terbalik.
‘Kenapa sih?’ tanya Radian bingung sambil menarik majalah yang sedang menutupi wajah sahabatnya itu. Tapi Syila menahannya.
‘Eitsss jangan diambil dooong…’ ucap Syila dengan nada berbisik campur geregetan.
‘Mau acrobat apa sih? Baca buku terbalik gitu, nggak pusing?’ tanya Radian yang sebenarnya penasaran tapi tetap saja nadanya datar.
Beruntung, cuma Radian yang sadar kalau majalah –yang seolah-olah sedang dibaca Syila- terbalik. Buru-buru Syila memutar posisi majalahnya sambil melempar cengiran kuda pangkat tampang blo’on.
‘Yuk cari tempat duduk!’ Syila menggandeng tangan Radian. Dia ingin buru-buru mencari jarak teraman yang akan menjauhkannya dari hal-hal konyol yang mungkin saja dilakukannya tanpa terkendali.
‘Eh nanti dulu, kan belum nemu buku yang mau dibaca.’
‘Udaaaah… ini aja. Bagus kok majalahnya. Yuk! Yuk! Yuk!’ Syila menggandeng Radian dengan sekuat tenaga agar bisa cepat-cepat mencari jarak teramannya.
‘Kamu yakin mau baca itu?’ kali ini wajah Radian tidak lagi datar. Keningnya sedikit mengerut dan matanya agak menyipit.
‘Iya, bawel banget sih!’ Okay, Radian malas berdebat. Akhirnya dia pasrah saja diseret Syila.
Sekarang Syila merasa aman berada di salah satu bangku bersama Radian yang bingung tapi tetap bertahan dengan ekspresi datarnya. Di posisi amannya, Syila mengamati Windura yang sedang larut bersama buku di tangannya. Kali ini judulnya berbeda, tapi tetap berbau sejarah. Nampaknya Windura memang suka dengan sejarah –berbeda sekali dengan Syila.
‘Anak itu namanya Windura. Aku baru lihat dia beberapa hari ini. Tapi aku rasa aku jatuh cinta sama dia,’ bisik Syila pada Radian. Membuat Radian terasa seperti tersedak, heran ada orang yang bisa dengan mudahnya menyatakan diri sedang jatuh cinta pada laki-laki yang baru ditemui beberapa hari saja.
Syila tidak repot menanyakan mengapa Radian tampak seperti orang tersedak. Dia lebih repot memerhatikan Windura dari posisi amannya dengan sesekali sok sibuk membaca saat merasa ada tanda-tanda ‘bahaya’.
Syila tersenyum-senyum. Kalau bukan karena hujan, mungkin sekarang dia tidak di sini, melihat Windura dengan posisi aman. Kalau bukan karena hujan, mungkin Windura tidak akan tertahan lama di sini. Dalam hati, sejak sore ini Syila menyukai hujan. Kalau bisa, hujan selalu datang setiap pulang sekolah supaya bisa menahan Windura lebih lama, membuat Syila dapat dengan mudah menemukan dan memerhatikannya lebih lama.
Baru setelah hujan berhenti Windura keluar dari perpustakaan. Dan baru saat itu juga Syila menyadari buku apa yang ada di tangannya. “Misteri Siksa Kubur 1”, begitu judul dari buku yang sekarang membuat Syila terkejut. Bisa-bisanya dia membawa buku itu.
‘Aku bilang juga apa, kamu yakin baca buku itu?’ adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Radian begitu Syila sibuk terkejut. ‘Kelihatan sok religius, nggak cocok,’ adalah kalimat kedua Radian.
Syila keluar dengan membawa dua buku yang dia pinjam. Satu buku tentang fotografi dan satu lagi buku sejarah Majapahit –buku yang kemarin dibaca Windura. ‘Kemarin dia baca buku ini jadi aku harus baca buku ini juga supaya kalo diajak ngobrol, aku nyambung sama dia,’ begitu jawaban Syila waktu Radian terheran-heran dengan buku sejarah yang dipinjamnya. Dalam hati Radian bahkan tidak yakin Syila akan membaca buku itu nantinya. Pasti hanya untuk gaya-gayaan saja.
Dari Syila, Radian jadi tahu bahwa jatuh cinta membuat kita mudah memutuskan.
Kemudian Syila membuat hipotesa gejala jatuh cinta yang keempat: jatuh cinta membuat menunggu menjadi asik, membuat jebakan hujan tak lagi membosankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar