Jumat, 24 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 5


            “Do I Look Okay?”

 

            Selesai makan Syila menyeret Radian ke dalam aktivitas membosankan bagi sahabatnya itu. Sebuah toko pakaian perempuan di lantai tiga menjadi tempat pertama untuk memenuhi “list to do” Syila di Mall. Di dalam sana Syila sibuk mencari pakain yang cocok untuk acara spesialnya besok. Sebenarnya Syila tidak begitu hobi belanja, tapi khusus kali ini dia berlaku seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia sibuk mengabsen isi toko sementara Radian hanya duduk di bangku yang ada di salah satu sudut toko.
            Sudah lima belas menit di toko itu tapi Syila sama sekali belum menemukan pakaian yang cocok. Sepuluh model pakaian dipilih, sepuluh-sepuluhnya juga ditinggalkan. Radian kebagian jadi tim penilai. Setiap mencoba, Syila meminta pendapatnya dan Radian selalu menjawab dengan anggukan bersama wajah datarnya.
            “Ah nggak ada yang cocok nih!” meski radian sudah mengangguk, Syila tetap merasa belum menemukan pakaian yang cocok. Ia malah menaruh kembali pakaian yang dipilihnya lalu mengajak Radian ke toko yang lain.
            Kali ini sudah toko keempat dan Syila masih belum juga menemukan pilihan yang menurutnya cocok.
            “Syil, ayolah Syil pilih satu. List to do kamu kan nggak cuma ini.” Radian mulai gerah dengan kerepotan Syila.
            “Iya-iya, aku bingung banget nih. Kamu bantu pilih dong…”
            “Kamu cocok pakai apa aja asal jangan dangdut.”
            “Aku mau pakaian yang pas. Harus bagus tapi nggak berkesan berlebihan.” Syila memilih sepotong dress santai warna peach dan bersiap untuk mencobanya.”
            “Yang berlebihan itu bukan model baju-baju di mall ini, tapi kamu. Cuma acara reuni aja kayak mau ketemu apaan!” Radian cemberut. Syila hanya membalasnya dengan aksi memanyunkan bibir.
            “Ya emang mau ketemu ‘apaan’, Windura. Nanti gantian deh aku yang bantu kamu. Karena hari ini banyak yang mau aku beli, jadi aku bantu cariin baju buat kamu tapi kamu yang bayar sendiri ya!” Syila mencubit centil tampang kusut Radian. “ Sebentar, aku coba baju ini dulu!” Syila ngeloyor ke ruang ganti.
            Lalu tak lama kemudian Syila kembali dengan memakai pakaian pilihannya. Sebuah dress selutut sederhana berwarna peach melekat di tubuh mungilnya. Dress itu tampak hampir polos, hanya ada pattern sederhana berwarna putih di bagian bawahnya.
            “Aku suka nih. Menurut kamu gimana? Do I look okay?” Syila meminta pendapat Radian yang masih saja tampak kusut.
            Radian mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya-ya-ya.”
            “Okay, aku ke kasir dulu.” Syila pergi ke kasir dengan hati senang, berharap dress itu akan mempercantiknya di depan Windura besok. Sementara Radian melangkah gontai mengekori Syila sambil teringat dengan kejadian konyol waktu SMA.
---
            Waktu itu Syila sudah duduk di kelas sebelas jadi Syila dan teman-teman seangkatannya di ekskul vocal group bertanggung jawab atas jalannya paduan suara pengiring upacara. Pagi itu Syila dan teman-teman seangkatannya tampil sebagai pengiring upacara untuk pertama kalinya. Tugas sudah dibagi-bagi, dari mulai suara1-2-3 sampai bagian dirigen. Syila kebagian suara dua waktu itu.
            Untuk ketiga kalinya selama di SMA Syila tidak datang terlambat. Pagi-pagi sekali dia sudah sampai di sekolah. Jelas membuat Radian merasa heran, apalagi dengan tas Syila yang besarnya jadi dua kali lipat dari biasanya.
            ‘Bantu aku ngepasin penampilan ya!’ Syila mengeluarkan barang-barang di dalam tasnya.
Radian tidak menjawab. Ia malah mengerutkan dahi. ‘Kamu bawa rok dua?’
Syila mengangguk lalu berkata, ‘Bagusan pakai rok yang span atau rok rempel?’
            ‘Kan sekolah nggak bolehin pakai rok rempel,’ jawab Radian dengan nada datarnya.
            ‘Cepet pilih!’
            ‘Span.’
            ‘Ah bagusan rempel. Nanti aku ganti.’ Lalu, ‘Bagusan pakai yang ini yang badan atau yang agak longgar?’ sambil menunjukkan sepotong seragam di tangannya dan menunjuk seragam yang sedang dipakainya.
            ‘Kamu mau kena hukum gara-gara pakai seragam ketat?’
            ‘Okay, berarti tetap pakai seragam ini. Lagian aku juga nggak PD pakai seragam ketat.’
            ‘Terus menurut kamu aku pakai kalung ini atau yang ini? Oh, atau ini? Kalau aku pakai gelang gimana?’ tapi detik berikutnya Syila berkata lagi, ‘Tapi akukan udah pakai jam tangan, nanti keramaian nggak sih kelihatannya?’
            ‘Kamu mau ngapain sih repot banget?’ Radian menaikan sebelah alisnya.
            ‘Hari ini kan aku kebagian tampil jadi tim paduan suara, ngiringin upacara. First time, deg-degan.’ Syila tersenyum riang.
            ‘Oh. Hmm, kayaknya nggak perlu deh kamu pakai…’ belum sempat Radian menyelesaikan kalimatnya, Syila sudah memotong.
            ‘Nanti tim paduan suara akan di pajang di depan menghadap peserta upacara. Wah… Windura pasti nanti liat aku deh!!!!’
            ‘Makanya kamu sibuk banget mix and match pagi ini? Bawa rok dua, seragam dua, aksesoris tante-tante sampai tas kamu ngalahin karung beras gedenya?’ Radian mulai mengeluarkan nada sensinya. Sejak mendeklarasikan diri sebagai manusia yang sedang terjangkit jatuh cinta, Radian merasa Syila menjadi sedikit aneh dan sangat repot.
            ‘Oh iya, kalau aku pakai bando ini cocoknya rambutku digerai atau diikat?’ tanya Syila mengabaikan nada-sensi-bakat-alamiahnya Radian. ‘Aku pinjam dari Mita, dia bilang bando model begini lagi ngetrend.’ Lanjutnya sambil menyebatkan bando dengan pita besar berwarna kuning.
            ‘Terserah!’ sahut Radian yang kemudian dibarengi oleh bel sekolah. ‘Aku turun duluan, udah waktunya upacara.’ Lalu Radian pergi meninggalkan kelas. Sementara Syila segera pergi ke toilet untuk mengganti roknya menjadi model rempel dengan panik.
            Akhirnya jadilah “Syila yang aneh” dimata Radian. Dari barisan peserta upacara Radian bisa menangkap Syila yang berdiri di depan, diantara teman-teman paduan suara, dengan penampilan nyetrik yang… –ah sakit mata Radian melihatnya. Roknya rempel dan lain sendiri. Sebuah kalung manik-manik sederhana –namun tetap saja terasa tidak cocok dipakai untuk skeolah- melingkar di lehernya. Lalu gelang-gelang warna hitam melingkar di atas jam tangannya. Dan ah! Bodohnya Syila tetap memakai bando aneh pinjaman dari Mita, padahal semua yang berada di lapangan harus memakai topi upacara jadi percuma saja bando itu dipakai –toh yang terlihat hanya gagang hitam tipisnya saja di balik telinga. Kalau itu bukan Syila, Radian tidak akan mau berteman dengan yang seperti itu.
            Yang membuat semuanya kian konyol adalah selama upacara Syila sama sekali tidak menemukan sosok Windura diantara barisan kelasnya. Kemudian dijam istirahat pertama Syila baru tahu kalau Windura tidak masuk karena sedang sakit.
            ‘Hahaha kalo Windura maksain diri masuk sekolah, bisa makin sakit dia liat penampilan aneh kamu hari ini.’ Radian tertawa lepas ketika Syila menceritakan soal tidak hadirnya Windura.
            ‘Ih nyebelin!!!!’ Syila memanyunkan bibirnya sambil mencubit lengan Radian.
            Ah, rupanya jatuh cinta memang bisa merubah sesuatu yang kecil menjadi besar. Sesederhana tampil di depan barisan upacara sekolah, tapi menyiapkannya seperti akan menjamu presiden.
---
            “Kamu kenapa mesem-mesem gitu?” tanya Syila yang sekarang sudah keluar dari toko pakaian.
            Radian geleng-geleng sambil terus menahan rasa ingin tertawanya. “Nggak, yuk!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar