“Do I Look Okay?”
Selesai makan Syila menyeret Radian ke dalam aktivitas membosankan bagi sahabatnya itu. Sebuah toko pakaian perempuan di lantai tiga menjadi tempat pertama untuk memenuhi “list to do” Syila di Mall. Di dalam sana Syila sibuk mencari pakain yang cocok untuk acara spesialnya besok. Sebenarnya Syila tidak begitu hobi belanja, tapi khusus kali ini dia berlaku seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia sibuk mengabsen isi toko sementara Radian hanya duduk di bangku yang ada di salah satu sudut toko.
Sudah lima belas menit di toko itu tapi Syila sama sekali
belum menemukan pakaian yang cocok. Sepuluh model pakaian dipilih,
sepuluh-sepuluhnya juga ditinggalkan. Radian kebagian jadi tim penilai. Setiap
mencoba, Syila meminta pendapatnya dan Radian selalu menjawab dengan anggukan
bersama wajah datarnya.
“Ah nggak ada yang cocok nih!” meski radian sudah
mengangguk, Syila tetap merasa belum menemukan pakaian yang cocok. Ia malah
menaruh kembali pakaian yang dipilihnya lalu mengajak Radian ke toko yang lain.
Kali ini sudah toko keempat dan Syila masih belum juga
menemukan pilihan yang menurutnya cocok.
“Syil, ayolah Syil pilih satu. List to do kamu kan nggak
cuma ini.” Radian mulai gerah dengan kerepotan Syila.
“Iya-iya, aku bingung banget nih. Kamu bantu pilih dong…”
“Kamu cocok pakai apa aja asal jangan dangdut.”
“Aku mau pakaian yang pas. Harus bagus tapi nggak
berkesan berlebihan.” Syila memilih sepotong dress santai warna peach dan
bersiap untuk mencobanya.”
“Yang berlebihan itu bukan model baju-baju di mall ini,
tapi kamu. Cuma acara reuni aja kayak mau ketemu apaan!” Radian cemberut. Syila
hanya membalasnya dengan aksi memanyunkan bibir.
“Ya emang mau ketemu ‘apaan’, Windura. Nanti gantian deh
aku yang bantu kamu. Karena hari ini banyak yang mau aku beli, jadi aku bantu
cariin baju buat kamu tapi kamu yang bayar sendiri ya!” Syila mencubit centil
tampang kusut Radian. “ Sebentar, aku coba baju ini dulu!” Syila ngeloyor ke
ruang ganti.
Lalu tak lama kemudian Syila kembali dengan memakai
pakaian pilihannya. Sebuah dress selutut sederhana berwarna peach melekat di
tubuh mungilnya. Dress itu tampak hampir polos, hanya ada pattern sederhana
berwarna putih di bagian bawahnya.
“Aku suka nih. Menurut kamu gimana? Do I look okay?”
Syila meminta pendapat Radian yang masih saja tampak kusut.
Radian mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya-ya-ya.”
“Okay, aku ke kasir dulu.” Syila pergi ke kasir dengan
hati senang, berharap dress itu akan mempercantiknya di depan Windura besok. Sementara
Radian melangkah gontai mengekori Syila sambil teringat dengan kejadian konyol
waktu SMA.
Waktu itu Syila sudah duduk di kelas sebelas jadi Syila
dan teman-teman seangkatannya di ekskul vocal group bertanggung jawab atas jalannya
paduan suara pengiring upacara. Pagi itu Syila dan teman-teman seangkatannya
tampil sebagai pengiring upacara untuk pertama kalinya. Tugas sudah
dibagi-bagi, dari mulai suara1-2-3 sampai bagian dirigen. Syila kebagian suara
dua waktu itu.
Untuk ketiga kalinya selama di SMA Syila tidak datang
terlambat. Pagi-pagi sekali dia sudah sampai di sekolah. Jelas membuat Radian
merasa heran, apalagi dengan tas Syila yang besarnya jadi dua kali lipat dari
biasanya.
‘Bantu aku ngepasin penampilan ya!’ Syila mengeluarkan
barang-barang di dalam tasnya.
Radian
tidak menjawab. Ia malah mengerutkan dahi. ‘Kamu bawa rok dua?’
Syila
mengangguk lalu berkata, ‘Bagusan pakai rok yang span atau rok rempel?’
‘Kan sekolah nggak bolehin pakai rok rempel,’ jawab
Radian dengan nada datarnya.
‘Cepet pilih!’
‘Span.’
‘Ah bagusan rempel. Nanti aku ganti.’ Lalu, ‘Bagusan
pakai yang ini yang badan atau yang agak longgar?’ sambil menunjukkan sepotong
seragam di tangannya dan menunjuk seragam yang sedang dipakainya.
‘Kamu mau kena hukum gara-gara pakai seragam ketat?’
‘Okay, berarti tetap pakai seragam ini. Lagian aku juga
nggak PD pakai seragam ketat.’
‘Terus menurut kamu aku pakai kalung ini atau yang ini? Oh,
atau ini? Kalau aku pakai gelang gimana?’ tapi detik berikutnya Syila berkata
lagi, ‘Tapi akukan udah pakai jam tangan, nanti keramaian nggak sih
kelihatannya?’
‘Kamu mau ngapain sih repot banget?’ Radian menaikan
sebelah alisnya.
‘Hari ini kan aku kebagian tampil jadi tim paduan suara,
ngiringin upacara. First time, deg-degan.’ Syila tersenyum riang.
‘Oh. Hmm, kayaknya nggak perlu deh kamu pakai…’ belum
sempat Radian menyelesaikan kalimatnya, Syila sudah memotong.
‘Nanti tim paduan suara akan di pajang di depan menghadap
peserta upacara. Wah… Windura pasti nanti liat aku deh!!!!’
‘Makanya kamu sibuk banget mix and match pagi ini? Bawa rok
dua, seragam dua, aksesoris tante-tante sampai tas kamu ngalahin karung beras
gedenya?’ Radian mulai mengeluarkan nada sensinya. Sejak mendeklarasikan diri
sebagai manusia yang sedang terjangkit jatuh cinta, Radian merasa Syila menjadi
sedikit aneh dan sangat repot.
‘Oh iya, kalau aku pakai bando ini cocoknya rambutku
digerai atau diikat?’ tanya Syila mengabaikan nada-sensi-bakat-alamiahnya
Radian. ‘Aku pinjam dari Mita, dia bilang bando model begini lagi ngetrend.’ Lanjutnya
sambil menyebatkan bando dengan pita besar berwarna kuning.
‘Terserah!’ sahut Radian yang kemudian dibarengi oleh bel
sekolah. ‘Aku turun duluan, udah waktunya upacara.’ Lalu Radian pergi
meninggalkan kelas. Sementara Syila segera pergi ke toilet untuk mengganti
roknya menjadi model rempel dengan panik.
Akhirnya jadilah “Syila yang aneh” dimata Radian. Dari barisan
peserta upacara Radian bisa menangkap Syila yang berdiri di depan, diantara
teman-teman paduan suara, dengan penampilan nyetrik yang… –ah sakit mata Radian
melihatnya. Roknya rempel dan lain sendiri. Sebuah kalung manik-manik sederhana
–namun tetap saja terasa tidak cocok dipakai untuk skeolah- melingkar di
lehernya. Lalu gelang-gelang warna hitam melingkar di atas jam tangannya. Dan ah!
Bodohnya Syila tetap memakai bando aneh pinjaman dari Mita, padahal semua yang
berada di lapangan harus memakai topi upacara jadi percuma saja bando itu
dipakai –toh yang terlihat hanya gagang hitam tipisnya saja di balik telinga. Kalau
itu bukan Syila, Radian tidak akan mau berteman dengan yang seperti itu.
Yang membuat semuanya kian konyol adalah selama upacara
Syila sama sekali tidak menemukan sosok Windura diantara barisan kelasnya. Kemudian
dijam istirahat pertama Syila baru tahu kalau Windura tidak masuk karena sedang
sakit.
‘Hahaha kalo Windura maksain diri masuk sekolah, bisa
makin sakit dia liat penampilan aneh kamu hari ini.’ Radian tertawa lepas
ketika Syila menceritakan soal tidak hadirnya Windura.
‘Ih nyebelin!!!!’ Syila memanyunkan bibirnya sambil
mencubit lengan Radian.
Ah, rupanya jatuh cinta memang bisa merubah sesuatu yang
kecil menjadi besar. Sesederhana tampil di depan barisan upacara sekolah, tapi
menyiapkannya seperti akan menjamu presiden.
---
“Kamu kenapa mesem-mesem gitu?” tanya Syila yang sekarang
sudah keluar dari toko pakaian.
Radian geleng-geleng sambil terus menahan rasa ingin
tertawanya. “Nggak, yuk!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar