Senin, 27 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 6


               Bintang-bintang Origami



            Belum lengkap rasanya kalau punya dress baru tapi belum beli sepatu baru juga. Apalagi Syila adalah penggila sneakers. Ia hanya memiliki dua sepatu feminine di dalam lemari sepatunya –satu flatshoes yang kadang dipakainya ke kampus dan satunya lagi sepatu pantopel yang dipakai saat menghadiri acara resmi di kampus. Maka tujuan berikutnya adalah toko sepatu.
            Syila kembali menyeret Radian ke dalam kebosanan. Mereka memasuki sebuah toko sepatu di lantai dua. Letaknya agak di pojok tapi sangat menarik perhatian. Toko itu didesain dengan warna dasar coklat muda dengan kaca besar isi berbagai pernak-pernik unik yang nampaknya hasil dari handmade. Dinding-dinding di dalamnya ditempeli kertas-kertas bertuliskan filosofi-filosofi sepatu.
            “Lucu-lucu banget Rad sepatunya!” seru Syila seraya mencomot sebuah sepatu sneaker warna ungu.
            “Tapi harganya lumayan,” bisik Radian begitu melihat salah satu bandrol harga. Empat ratus ribu cukup mahal untuk sepasang sepatu dengan merk yang belum terkenal.
            “Iya.” Syila setuju, tapi kemudian berkata, “Tapi modelnya beda dari yang lain.”
            “Kebetulan kami produksi sepatunya sendiri, desain juga sendiri, handmade. Jadi mba sama mas nggak akan kembaran sama banyak orang. Kami hanya produksi tiga puluh pasang setiap modelnya,” sela seorang pelayan toko yang sepertinya mendengar pembicaraan Syila dan Radian. Selanjutnya pelayan toko itu menunjukan sepasang sepatu yang menjadi top model of the month di toko ini.
            “Ya sesuatu yang dibuat dari hasil usaha sendiri selalu memiliki harga yang mahal,” gumam Syila diantara cerocos pelayan toko. Windura pun hadir di dalam benak Syila.
Dan Syila kembali membuka pintu petualangannya. Kali itu ketika Syila sudah duduk di kelas sebelas semester dua.
---

Jumat, 24 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 5


            “Do I Look Okay?”

 

            Selesai makan Syila menyeret Radian ke dalam aktivitas membosankan bagi sahabatnya itu. Sebuah toko pakaian perempuan di lantai tiga menjadi tempat pertama untuk memenuhi “list to do” Syila di Mall. Di dalam sana Syila sibuk mencari pakain yang cocok untuk acara spesialnya besok. Sebenarnya Syila tidak begitu hobi belanja, tapi khusus kali ini dia berlaku seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia sibuk mengabsen isi toko sementara Radian hanya duduk di bangku yang ada di salah satu sudut toko.
            Sudah lima belas menit di toko itu tapi Syila sama sekali belum menemukan pakaian yang cocok. Sepuluh model pakaian dipilih, sepuluh-sepuluhnya juga ditinggalkan. Radian kebagian jadi tim penilai. Setiap mencoba, Syila meminta pendapatnya dan Radian selalu menjawab dengan anggukan bersama wajah datarnya.
            “Ah nggak ada yang cocok nih!” meski radian sudah mengangguk, Syila tetap merasa belum menemukan pakaian yang cocok. Ia malah menaruh kembali pakaian yang dipilihnya lalu mengajak Radian ke toko yang lain.
            Kali ini sudah toko keempat dan Syila masih belum juga menemukan pilihan yang menurutnya cocok.
            “Syil, ayolah Syil pilih satu. List to do kamu kan nggak cuma ini.” Radian mulai gerah dengan kerepotan Syila.
            “Iya-iya, aku bingung banget nih. Kamu bantu pilih dong…”
            “Kamu cocok pakai apa aja asal jangan dangdut.”
            “Aku mau pakaian yang pas. Harus bagus tapi nggak berkesan berlebihan.” Syila memilih sepotong dress santai warna peach dan bersiap untuk mencobanya.”
            “Yang berlebihan itu bukan model baju-baju di mall ini, tapi kamu. Cuma acara reuni aja kayak mau ketemu apaan!” Radian cemberut. Syila hanya membalasnya dengan aksi memanyunkan bibir.
            “Ya emang mau ketemu ‘apaan’, Windura. Nanti gantian deh aku yang bantu kamu. Karena hari ini banyak yang mau aku beli, jadi aku bantu cariin baju buat kamu tapi kamu yang bayar sendiri ya!” Syila mencubit centil tampang kusut Radian. “ Sebentar, aku coba baju ini dulu!” Syila ngeloyor ke ruang ganti.
            Lalu tak lama kemudian Syila kembali dengan memakai pakaian pilihannya. Sebuah dress selutut sederhana berwarna peach melekat di tubuh mungilnya. Dress itu tampak hampir polos, hanya ada pattern sederhana berwarna putih di bagian bawahnya.
            “Aku suka nih. Menurut kamu gimana? Do I look okay?” Syila meminta pendapat Radian yang masih saja tampak kusut.
            Radian mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya-ya-ya.”
            “Okay, aku ke kasir dulu.” Syila pergi ke kasir dengan hati senang, berharap dress itu akan mempercantiknya di depan Windura besok. Sementara Radian melangkah gontai mengekori Syila sambil teringat dengan kejadian konyol waktu SMA.
---

Kamis, 23 Juli 2015

Tanpa Jeda - Bab 4


            Nasi Goreng Pedas

            Akhirnya mereka sampai juga di Mall. Tempat yang paling pertama mereka kunjungi adalah tempat makan. Sebenarnya Syila mau langsung mengunjungi toko-toko yang sudah ada dalam daftar tujuannya hari ini. Tapi melihat wajah lelah campur bunyi memalukan dari perut Radian –yang meski malu karena ketahuan kelaparan tetap saja berekspresi datar- jadi Syila membelokkan niatnya.
            Keduanya memesan menu yang sama. Nasi goreng adalah makanan kesukaan mereka sejak kecil, apalagi kalau pakai telur mata sapi setengah matang dan irisan tomat.
            ‘Tumben pesen nasi goreng yang pedas juga,’ komentar Radian ketika mereka sedang menunggu pesanan. Seingat Radian sudah lama Syila tidak makan pedas. Kecuali kalau sedang merasa kangen banget dengan satu sosok yang selalu hidup di hati Syila, yang selalu menjadi pemeran utama di dalam memori masa SMA Syila.
            ‘Biasa,’ jawab Syila sambil senyum-senyum, kembali berniat masuk ke dalam ‘gerbang petualangan’.
            ‘Kangen?’ Radian menaikan sebelah alisnya, bosan dengan alasan yang sudah pasti ini. Syila mengangguk. ‘Besok kan ketemu,’ lanjut Radian acuh tak acuh.
            ‘Justru karena itu!’ sahut Syila penuh semangat. Sebelah kakinya sudah masuk ke dalam dunia petualangan.
            Soal pedas. Ah, siapa pun yang pernah makan dengan Syila pasti hapal dengan komposisi racikan terbaik –menurut Syila- yang selalu dipakainya saat makan. Kecap, Syila paling suka dengan kecap –makanya nasi goreng bisa menjadi makan favavorite Syila. Makan apa saja harus pakai kecap. Bahkan ketika memesan roti bakar keju-susu pun Syila tidak lupa menyelipkan kecap di dalamnya. Syila paling tidak suka pedas. Tubuhnya tidak bisa bersahabat dengan cabai. Makan sedikit saja, lidahnya mudah merasa panas.
            Tapi jatuh cinta membuat Syila berbeda.
---

Tanpa Jeda - Bab 3



Hujan

            “Turun! Jadi kan ke dokternya?” Radian menghentikan ‘petualangan’ Syila dengan dunianya.
            “Hehehe… jadi.” Syila pun segera turun dari boncengan. Kemudian Radian memarkirkan motornya.       
Dr. Dewika, Dokter Kulit dan Kecantikan. Di sinilah sekarang Syila dan Radian berada. Sebuah klinik khusus penanganan terhadap kulit dan kecantikan. Sudah lama sekali Syila tidak datang ke tempat ini. Kebetulan Syila bukan gadis yang suka repot-repot merawat diri, jadi dia jarang sekali ke sini. Dia baru akan datang ke sini kalau sedang ada urusan dengan dokter Dewika atau kalau dia sedang ada masalah dengan kulitnya yang alergi dengan bulu kucing.
"Emang mau ngapain sih?" Radian tidak merasa ada yang salah dengan kulit Syila saat ini.
"Facial, masker, ya apa ajalah yang kira-kira diperluin."
Radian meraih dagu Syila lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Syila. Dengan alis bertaut, dia mencermati setiap detail wajah Syila. Tapi dia tidak menemukan sesuatu yang salah di sana.
"Muka kamu nggak kenapa-kenapa. Bersih, nggak ada jerawat, nggak ada komedo juga."
"Udah kamu jangan bawel, ini urusan cewek. Cuma aku sama Bunda kamu yang ngerti." Syila melepaskan tangan Radian dari dagunya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Radian.
"Sejak kapan kamu ngerti urusan cewek?" seperti biasa, Radian mengguman sendirian dengan suara pelan.
"Aku denger loh Rad!" Syila menghentikan langkahnya dan melempar tatapan melototnya pada Radian.
"Hehehe." Radian balas dengan cengirannya.
"Ayo!" Syila menghampiri Radian dan menyeretnya untuk berjalan lebih cepat.
Hanya sepuluh menit Syila dan Radian berada di dalam ruang dokter "Tuh... bener kan apa yang aku bilang? Muka kamu nggak bermasalah. Buang-buang waktu aja!" ucap Radian kepada Syila saat mereka baru saja keluar dari dalam ruang Dokter Dewika.
"Tapi kan lumayan, aku jadi dapet ini. Gratis pula." Syila memamerkan masker vitamin c yang baru saja diberikan oleh Dokter Dewika, bundanya Radian. Dia bilang, saat ini wajah Syila baik-baik saja dan tidak memerlukan penanganan apapun jadi agar tidak pulang dengan tangan kosong, Syila diberikan oleh-oleh.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Radian.
"Mall!"
"Mau cari apa?"
"Banyak." Syila berjalan mendului Radian.
"Dasar cewek rempong!" cibir Radian.
"Tuh kan akhirnya kamu ngakuin juga kalo aku ini cewek!" sahut Syila dengan nada penuh kemenangan.
"Terserah!" Radian pun terpaksa menyeret diri mengikuti Syila.

Tanpa Jeda - Bab 2



Mengenal Windura

Siang setelah jam istirahat kedua adalah waktu dimana semangat belajar sudah luntur. Matahari terik menyengat lebih dari jam-jam sebelumnya. Hal yang paling enak dilakukan saat ini adalah tidur atau bersantai –bukannya malah terjebak di dalam kelas dan harus mendengar “ceramah” dari pelajaran sosiologi.
Syila juga sama seperti yang lain, tidak berminat mendengarkan Bu Rita di depan kelas. Banyak dari siswa di kelas yang menatap lurus ke depan dengan alis bertaut seolah-olah sedang berkonsentrasi mendengarkan penjelasan Bu Rita padahal sedang mati-matian melawan kantuk. Dan sebagian kecilnya –yang sedikit lebih berani mengekspresikan diri dari pada “murid-murid munafik” itu- meletakan kepalanya di atas lipatan tangan mereka dengan wajah memelas. Berharap dengan begitu Bu Rita akan kasihan dan segera menyudahi jam pelajaran secepatnya.
‘Bu, izin ke toilet.’ Hampir seluruh isi kelas menengok ke arah Syila dengan tatapan iri.
Setelah bu Rita mengangguk, Syila beranjak dari kursinya dan membalas tatapan anak-anak itu dengan senyum penuh kemenangan. Membuat anak-anak itu di dalam hatinya berjanji akan mengikuti cara Syila barusan setelah Syila kembali dari –yang katanya sih ke toilet.
Pintu kelas ditutup dari luar dan ah, akhirnya Syila berhasil terbebas dari belenggu kebosanan. Dia menjauhi pintu kelas beberapa langkah lalu berdiri santai menghadap lapangan di bawah. Sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang melintas. Sisanya hanya ada benda-benda mati atau kalau pun hidup ya hanya tanaman dan hewan-hewan peliharaan sekolah yang sedang santai di kandang mereka.
‘Ah Syila! Apa yang kau lakukan di sini?’ Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Pak Bonar sudah ada di sebelah Syila.
Okay, Syila harus cepat-cepat mencari alasan atau kalau tidak, dia akan mendapat masalah –bukan hanya dari Pak Bonar saja tapi juga Bu Rita yang sudah dibohonginya.
‘Kau kabur dari jam pelajaran?’ Kali ini pak Bonar melempar ekspresi siap menghukum.

Tanpa Jeda - Bab 1



            Waktu Syila, Radian, dan Windura kelas sepuluh.



Radian belum juga keluar dari dalam ruang OSIS menghadiri rapat evaluasi ekskul. Terpaksalah Syila menunggunya di kantin dengan perasaan yang mulai jengkel karena bosan menunggu. Berkali-kali dia mengirimi Radian sms namun tak satu pun yang dibalas. Ingin sekali rasanya Syila pulang duluan tapi hujan yang sedang mengguyur sekolahnya sore itu seperti air tumpah, begitu deras dan akan membuat kuyub siapa saja yang berani menerobosnya. Karena hujan itu juga dia terpaksa hanya mendekam di kantin yang sudah agak sepi, beberapa warungnya sudah tutup dan hanya tersisa lima-enam orang siswa saja di sana.
Syila melirik jam tangannya. Ternyata dia sudah menunggu di kantin selama hampir satu jam. Segera dia mengirim sms yang kesepuluh untuk Radian, kali ini dia menggunakan banyak tanda seru dan huruf kapital disetiap kalimatnya. Sepuluh detik… lima belas detik… empat puluh detik… satu menit. Nihil, tetap tidak ada balasan dari Radian. Syila membuang napas kesal.
Hujan bukannya semakin reda malah semakin deras, membuat udara menjadi semakin dingin. Masih dengan perasaan kesalnya Syila memakai sweater warna hitam yang selalu dibawanya selama musim hujan begini.
Bosan ngomel-ngomel via sms, Syila pun akhirnya menelpon Radian. Tut… tut... tut… detik berikutnya Syila seperti sudah tidak mendengar apa-apa lagi kecuali tawa renyah dari segerombol anak laki-laki yang baru saja datang dari arah depan kantin dengan seragam mereka yang kuyub karena habis menerobos hujan. Jumlah anak dalam gerombolan itu ada enam orang dan semuanya anak laki-laki murid kelas sepuluh. Syila tahu mereka murid kelas sepuluh dari nametag mereka yang isinya nama lengkap dan kelas mereka. Semuanya tertawa begitu lepas, merasa begitu bebas setelah menerobos hujan. Syila mengerti, apapun yang dilakukan bersama teman-teman terdekat memang selalu menyenangkan sekalipun itu membuat mereka kuyub dan kemungkinan akan sakit.
Ada Robian Farahman dari kelas X-A, anak itu berbadan paling kurus diantara yang lain dengan kulit sawo matang. Ada Ringgo Dharmala dari kelas X-B, diantara yang lain dia yang bertubuh paling tambun dengan perut yang menggelambir. Ada Dido Alrijal dari kelas X-C, dia teman sekelas Syila tapi tidak begitu dekat dengan Syila karena Dido selalu duduk paling depan sementara Syila selalu memilih duduk paling belakang. Ada Mikhalean Nikolaz dari kelas X-D, diantara yang lain dia yang berkulit paling bersih dan putih, kalau Syila tidak salah ingat dia adalah anak dari salah satu donatur sekolah. Ada Audrian Mara dari kelas X-E, dia ini anak paling banyak gaya dengan sepatu kets high yang selalu dipakainya dan pakaian ngepas badan, beberapa kali Syila mendengar kalau Audrian dipanggil ke ruang BK karena gaya berpakaiannya yang sudah ditegur berulang kali tapi tetap saja tidak berubah. Dan yang terakhir, Syila tidak tahu nama mau pun kelasnya karena dia tidak memakai name tag, dia bertubuh paling pas menurut Syila –tidak kurus tapi tidak juga gemuk-, dia juga yang penampilannya yang paling pas menurut Syila –tidak neko-neko tapi juga tidak terkesan culun.
Mereka semua tampak seperti anak kecil. Tertawa riang membahas aksi penerobosan yang baru saja mereka lakukan. Membuat Syila lupa dengan panggilan yang dia lakukan pada Radian. Perhatiannya terlalu tersita oleh enam orang siswa yang sekarang duduk di meja sebelah.
‘Ayo!’ tiba-tiba saja perhatian Syila teralihkan oleh suara Radian. Dia sudah berada di hadapan Syila dengan membawa sebuah payung besar warna pink bergambar hello kitty.

Rabu, 22 Juli 2015

Rabu, 22 Juli 2015

Oh hai!
Aku sedang sibuk-sibuknya tak tau arah. Sebentar lagi jadwalnya sidang 1 TA tapi bab 2.2 ku bahkan belum di-acc. Sebentar lagi usiaku 22 tapi aku bahkan belum bisa menggapai cita-citaku sejak kecil. Jangankan menggapai, menyuilpun belum. Oh tapi bukan berarti aku tak menyentuhnya loh! Dan akuuu ah entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa begitu jenuh dengan semua usaha-usaha yang biasa kulakukan. Aku merasa goal tak juga tercetak padahal aku sudah berusaha. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dan aku ingin menangis. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang cengeng. Menjadi pemarah sudah cukup buatku. Aku tak mau tampak semakin rapuh. Aku tak mau. Meski nyatanya aku rapuh.

Sabtu, 18 Juli 2015

Belum Tahu

Cinta Sejati

 

 

Ada yang bilang, manusia bisa jatuh cinta berkali-kali sebelum akhirnya bertemu dengan cinta sejatinya. Tapi Damar, seorang bocah laki-laki yang baru berusia 18 tahun merasa telah jatuh cinta untuk pertama kalinya dan yakin sekaligus terakhir kalinya. Berpuluh-puluh atau mungkin sudah beratus-ratus kali ia ditertawakan dengan keyakinannya itu. Tapi Damar sama sekali tidak punya niat untuk mundur pada cintanya yang penuh keyakinan itu.

Suatu hari ketika Damar berusia 13 tahun, ia bertemu dengan seorang perempuan berbaju seragam SMA yang sangat baik hati. Damar tidak tahu apa tujuan perempuan itu tapi Damar yakin yang dilakukannya itu tulus. Lalu dua bulan berikutnya Damar kembali bertemu dengan perempuan itu. Perempuan itu masih dengan kegiatan yang sama. Tapi kali itu Damar memberikannya julukan "malaikat". Bukan hanya karena senyumnya yang menggetarkan hati Damar tapi juga takdir yang terjadi karena perempuan itu. Damar berjanji, seumur hidup dia akan selalu mengingat perempuan itu dan menjadikannya perempuan beruntung karena dirinya. Dan sejak hari itu Damar mendeklarasikan bahwa perempuan itu adalah cinta sejatinya, yang kelak akan mencitainya juga dan harus menjadi teman hidupnya, yang akan selalu dijaganya. Sekalipun ia tidak bisa menjangkaunya dari jarak dekat.

Selain menjadi seorang pengajar kesenian bagi anak jalanan di sebuah rumah singgah, kegiatan Damar lainnya adalah menjadi pengamen di bis. Ia putus sekolah sejak ia duduk di bangku kelas satu SMA semester dua. Selain kesulitan ekonomi, ia juga sudah tidak punya keinginan untuk bersekolah. Melihat teman-teman seumurannya yang mampu menghasilkan uang tanpa sekolah membuat Damar lebih memilih menjadi pengamen.

Entah bisa disebut beruntung atau tidak perempuan itu dicintai oleh seorang Damar. Selain kenyataan-kenyataan tadi, fakta lainnya adalah Damar hanya seorang anak miskin yang sudah yatim piatu dengan tanggungan seorang adik perempuan berusia dua tahun lebih muda darinya, Dinar namanya. Sebagai seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin Damar pun semakin tidak punya apa-apa setelah ibunya meninggal dan melengkapi titlenya dari yatim menjadi yatim piatu. Tapi Damar beruntung, dia punya banyak teman jadi dia tidak susah sendiri. Apalagi setelah bertemu Bang Jigor yang sekarang mengangkat ia dan adiknya sebagai keluarga.

Bang Jigor bukan orang kaya tapi ia mampu mengangkat Damar dan Dinar. Ia adalah salah satu anak jalanan yang sudah dianggap senior jadi untuk urusan mengamen, Bang Jigor akan mendapatkan hasil lebih dari pengamen lainnya jadi bisa untuk membiayai hidup bertiga Damar dan Dinar. Tidak ada anak jalanan di wilayah A yang berani menentang Bang Jigor. Perawakannya yang bertubuh gemuk dan tinggi membuat anak jalanan junior mudah kehilangan nyali saat berhadapan dengannya. Ditambah lagi Bang Jigor pernah memenangkan pertarungan dengan ketua geng anak jalanan wilayah B dua tahun lalu yang akhirnya membuat Bang Jigor semakin terkenal kuasanya.

Untuk informasi, Bang Jigor juga salah satu orang yang menertawakan Damar atas cintanya pada perempuan berjulukan malaikat. Ia hampir tidak pernah absen mengudarakan tawa kerasnya tiap kali Damar bicara tentang cintanya pada perempuan itu.

...

Sementara itu di kehidupan lainnya ada Rara. Seorang gadis berusia 22 tahun yang sedang sibuk melanjutkan studi S2 sambil bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Hampir mirip dengan Damar, Rara juga merasa sudah menemukan cinta sejatinya sejak bertahun-tahun lamanya sebelum hari ini. Hanya bedanya Rara tidak begitu yakin laki-laki yang dicintainya akan men

Selasa, 14 Juli 2015

Buat Kamu yang Gampang Mencap Orang-Orang "Baper"

Terus saja sepelekan perasaan orang lain.
Terus saja sepelekan kecewanya orang lain.
Terus saja sepelekan marahnya orang lain.
Terus saja sepelekan sensitivitas orang lain.
Sampai nanti kamu kenal dengan rasanya disepelekan dan aku hanya bisa mengucapkan, "selamat, kamu lagi disuruh belajar".

Jumat, 10 Juli 2015

Untitle :p

Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya setelah aku melepasmu. Tapi aku tahu, setiap air mata yang jatuh tidak selalu berarti kesenduan.

Selasa, 07 Juli 2015

Semalam

Semalam aku memimpikan seseorang yang sudah lama tak kutemui.
Seseorang yang selalu kunantikan.
Seseorang yang selalu menambah harapan-harapanku.
Tapi aku bingung.
Padahal aku sering berharap bisa bertemu lagi dengannya.
Atau minimal bisa dihadirkan wajahnya di dalam mimpiku.
Padahal aku sering sekali bertanya apakah aku masih punya kesempatan untuk bertemu lagi.
Padahal aku sering membayangkan akan seperti apa kalau nanti kami bertemu lagi.
Nyatanya, semalam semuanya berjalan biasa-biasa saja.
Ketika terbangun, tak ada 'senyum-senyum tak sadarkan diri' lagi seperti biasanya.
Tak ada lagi rasa rindu yang malah semakin menggebu seperti biasanya.
Tak ada lagi gundah yang merusak kinerja harianku.
Lalu benakku bertanya.
Apakah sudah tidak ada cinta lagi diantara kami?
Ah, aku tahu diriku ini seperti apa.
Apakah rindu-rindu sudah terbalas lewat mimpi semalam?
Ah, aku tahu berapa lama aku sudah menabung rindu untuknya.

Sabtu, 04 Juli 2015

Pikirku


Aku dan kamu. Kupikir memang ditakdirkan untuk bersama, berjalan bersebelahan, dan saling bahu-membahu.
Kita hanya perlu sedikit berjuang.
Ya, hanya sedikit.
Karena dunia terlalu luas untuk secuil kebersamaan dari dua insan.
Kelak bahu-membahu akan menjadi keseharian kita.
Maka sekarang kita harus menempanya dulu agar kokoh bahu-bahu kita, agar mampu untuk menopang.
Kita hanya perlu sedikit berjuang.
Ya, hanya sedikit.
Karena tidak pernah ada pelajaran yang kecil dari sebuah perjuangan.
Jangan mudah lelah.
Jangn menyerah.
Aku pikir kita memang harus bersama.
Maka tidak perlu kita sibuk peduli pada semua rintangan.
Karena kupikir kita memang ditakdirkan untuk bersama, berjalan bersebelahan, dan saling bahu-membahu.

Seorang Laki-Laki yang Aku Cintai


Aku punya seorang laki-laki yang aku cintai, yang sengaja kusediakan tempat di dalam hatiku.
Seorang laki-laki yang tidak tahu bahwa perempuan adalah jagonya menanti.
Tidak pernah ada kata maaf yang terlontar dari mulutnya padahal telah membuatku tersungkur dalam rindu.
Seorang laki-laki yang tidak pernah bisa mendengar teriakanku karena semua hanya kujelaskan melalui tetesan-tetesan air mataku.
Seseorang yang selamanya tidak akan pernah tahu bahwa dirinya sangat sulit untuk kulupakan meski aku telah mencoba menutup pintu hati yang kusediakan untuknya.
Seseorang yang kelak harus tahu bahwa dia sangat tidak beruntung ketika aku akhirnya benar-benar melepasnya.
Seseorang yang ketika aku telah melepasnya, hanya akan berakhir menjadi memori. Memori yang pelan-pelan kelak akan kehilangan detail demi detail seiring bergulirnya waktu.