Bintang-bintang Origami
Senin, 27 Juli 2015
Tanpa Jeda - Bab 6
Bintang-bintang Origami
Jumat, 24 Juli 2015
Tanpa Jeda - Bab 5
“Do I Look Okay?”
Selesai makan Syila menyeret Radian ke dalam aktivitas membosankan bagi sahabatnya itu. Sebuah toko pakaian perempuan di lantai tiga menjadi tempat pertama untuk memenuhi “list to do” Syila di Mall. Di dalam sana Syila sibuk mencari pakain yang cocok untuk acara spesialnya besok. Sebenarnya Syila tidak begitu hobi belanja, tapi khusus kali ini dia berlaku seperti cewek-cewek pada umumnya. Ia sibuk mengabsen isi toko sementara Radian hanya duduk di bangku yang ada di salah satu sudut toko.
Kamis, 23 Juli 2015
Tanpa Jeda - Bab 4
Tanpa Jeda - Bab 3
Tanpa Jeda - Bab 2
Tanpa Jeda - Bab 1
Rabu, 22 Juli 2015
Rabu, 22 Juli 2015
Oh hai!
Aku sedang sibuk-sibuknya tak tau arah. Sebentar lagi jadwalnya sidang 1 TA tapi bab 2.2 ku bahkan belum di-acc. Sebentar lagi usiaku 22 tapi aku bahkan belum bisa menggapai cita-citaku sejak kecil. Jangankan menggapai, menyuilpun belum. Oh tapi bukan berarti aku tak menyentuhnya loh! Dan akuuu ah entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa begitu jenuh dengan semua usaha-usaha yang biasa kulakukan. Aku merasa goal tak juga tercetak padahal aku sudah berusaha. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dan aku ingin menangis. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang cengeng. Menjadi pemarah sudah cukup buatku. Aku tak mau tampak semakin rapuh. Aku tak mau. Meski nyatanya aku rapuh.
Sabtu, 18 Juli 2015
Belum Tahu
Cinta Sejati
Selasa, 14 Juli 2015
Buat Kamu yang Gampang Mencap Orang-Orang "Baper"
Terus saja sepelekan perasaan orang lain.
Terus saja sepelekan kecewanya orang lain.
Terus saja sepelekan marahnya orang lain.
Terus saja sepelekan sensitivitas orang lain.
Sampai nanti kamu kenal dengan rasanya disepelekan dan aku hanya bisa mengucapkan, "selamat, kamu lagi disuruh belajar".
Jumat, 10 Juli 2015
Untitle :p
Aku tidak tahu akan seperti apa jadinya setelah aku melepasmu. Tapi aku tahu, setiap air mata yang jatuh tidak selalu berarti kesenduan.
Selasa, 07 Juli 2015
Semalam
Seseorang yang selalu kunantikan.
Seseorang yang selalu menambah harapan-harapanku.
Tapi aku bingung.
Padahal aku sering berharap bisa bertemu lagi dengannya.
Atau minimal bisa dihadirkan wajahnya di dalam mimpiku.
Padahal aku sering sekali bertanya apakah aku masih punya kesempatan untuk bertemu lagi.
Padahal aku sering membayangkan akan seperti apa kalau nanti kami bertemu lagi.
Nyatanya, semalam semuanya berjalan biasa-biasa saja.
Ketika terbangun, tak ada 'senyum-senyum tak sadarkan diri' lagi seperti biasanya.
Tak ada lagi rasa rindu yang malah semakin menggebu seperti biasanya.
Tak ada lagi gundah yang merusak kinerja harianku.
Lalu benakku bertanya.
Apakah sudah tidak ada cinta lagi diantara kami?
Ah, aku tahu diriku ini seperti apa.
Apakah rindu-rindu sudah terbalas lewat mimpi semalam?
Ah, aku tahu berapa lama aku sudah menabung rindu untuknya.
Sabtu, 04 Juli 2015
Pikirku
Aku dan kamu. Kupikir memang ditakdirkan untuk bersama, berjalan bersebelahan, dan saling bahu-membahu.
Kita hanya perlu sedikit berjuang.
Ya, hanya sedikit.
Karena dunia terlalu luas untuk secuil kebersamaan dari dua insan.
Kelak bahu-membahu akan menjadi keseharian kita.
Maka sekarang kita harus menempanya dulu agar kokoh bahu-bahu kita, agar mampu untuk menopang.
Kita hanya perlu sedikit berjuang.
Ya, hanya sedikit.
Karena tidak pernah ada pelajaran yang kecil dari sebuah perjuangan.
Jangan mudah lelah.
Jangn menyerah.
Aku pikir kita memang harus bersama.
Maka tidak perlu kita sibuk peduli pada semua rintangan.
Karena kupikir kita memang ditakdirkan untuk bersama, berjalan bersebelahan, dan saling bahu-membahu.
Seorang Laki-Laki yang Aku Cintai
Aku punya seorang laki-laki yang aku cintai, yang sengaja kusediakan tempat di dalam hatiku.
Seorang laki-laki yang tidak tahu bahwa perempuan adalah jagonya menanti.
Tidak pernah ada kata maaf yang terlontar dari mulutnya padahal telah membuatku tersungkur dalam rindu.
Seorang laki-laki yang tidak pernah bisa mendengar teriakanku karena semua hanya kujelaskan melalui tetesan-tetesan air mataku.
Seseorang yang selamanya tidak akan pernah tahu bahwa dirinya sangat sulit untuk kulupakan meski aku telah mencoba menutup pintu hati yang kusediakan untuknya.
Seseorang yang kelak harus tahu bahwa dia sangat tidak beruntung ketika aku akhirnya benar-benar melepasnya.
Seseorang yang ketika aku telah melepasnya, hanya akan berakhir menjadi memori. Memori yang pelan-pelan kelak akan kehilangan detail demi detail seiring bergulirnya waktu.








