Namaku
Nina dan aku sangat mencintai Bisma.
Setiap
malam rasanya selalu sama saja bagiku. Hanya terisi oleh rindu yang menggebu.
Termasuk malam ini. Meski orang-orang tampak sangat bergembira menyiapkan
berbagai rencana untuk pergantian tahun nanti, aku tetap merasa sama. Gembiraku
tidak pernah bisa berlebihan lagi. Sedihku pun selalu dengan takaran yang tidak
pernah berkurang.
Sejak
setengah jam lalu kegiatanku masih belum berubah. Aku hanya tiduran di atas
ranjangku seperti avertebrata sambil menatapi layar laptop. Kalau mama tidak
mau mengerti, aku pasti sudah dimarahi habis-habisan karena sikapku yang nampak
seperti pemalas ini.
Jari
telunjukku sibuk mengetuk-mengetuk mos setiap beberapa detik, mengganti foto
demi foto di folder yang kuberi nama “US”. Isinya hanya foto-fotoku dan Bisma.
Meski tidak semua fotonya berisi foto kami yang sedang tersenyum, rasa selalu
tampak sangat bahagia bagiku.
Akan
kuceritakan sedikit tentang Bisma. Laki-laki spesial itu adalah laki-laki yang
paling mengerti aku. Dia selalu bisa membuatku merasa nyaman, bahkan ketika dia
memarahiku aku selalu merasa nyaman bersamanya. Bisma selalu punya caranya
sendiri untuk menaklukan sisi keras kepalaku yang suka sekali membuat orang
lain jengkel.
Aku mengenal Bisma saat aku duduk dibangku kelas delapan. Waktu itu dia bagiku adalah laki-laki yang tampak mengerikan karena kejahilannya pada anak-anak di kelas. Dia bahkan langganan dipanggil guru BK. Mungkin karena aku adalah salah satu dari peringkat tiga besar di sekolah, wali kelasku memaksa Bisma dan aku untuk duduk bersama, berbagi meja dan buku paket yang tidak pernah mau dibawanya.
Awalnya
aku merasa masa SMP-ku suram karena sebangku dengan anak paling jahil di kelas.
Tapi lama-lama aku merasa nyaman juga bersamanya. Dibalik kejahilannya, dia
adalah seorang laki-laki yang paling baik hati dan pemberani. Waktu hanya aku
yang lupa membawa buku PR, dia ikut-ikutan tidak mengumpulkan PR dan menemaniku
dihukum. Waktu aku tembus dan sakit
perut sampai mau pingsan karena baru pertama kali datang bulan, dia tanpa malu
pergi ke koperasi dan membelikanku pembalut lalu mengantarku pulang sampai ke
rumah. Waktu aku digoda om-om jelek di tengah jalan pulang, dia dengan berani
menegur dan menghajar om-om itu meski pada akhirnya tetap saja anak kelas dua
SMP kalah dengan om-om jelek tua.
Sejak
kebaikan-kebaikannya padaku, aku dan Bisma mulai bersahabat. Aku punya banyak
teman di sekolah tapi tidak ada yang lebih dekat dari Bisma. Setiap hari kami
pulang sekolah bersama lalu berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah
kami yang tidak sama.
Persahabtanku
dan Bisma terus berlangsung hingga kami duduk di bangku SMA. Meski menjadi
bagian dari sepuluh cowok popular di sekolah, dia tetap Bisma yang baik hati
dan pemberani yang selalu ada di sampingku memberi rasa nyaman. Bisma juga
tetap sama seperti Bisma SMP, tetap menjadi makhluk jahil di kelasnya –sejak
SMA kami tidak pernah satu kelas lagi. Kelas sering dibuatnya menjadi ramai.
Bisma
bukan anak yang bodoh, dia hanya sangat malas jadi selama ia bersekolah,
pringkatnya tidak pernah jauh dari peringkat 15 terbawah. Aku yang kebetulan
dianugerahi rasa rajin berlebih dan daya otak yang lebih dari bagus pun mau
tidak mau akhirnya berubah menjadi “teman tiri” yang suka memaksanya belajar.
Sejak duduk di kelas dua belas dan akan menghadapi UN, aku berperan sebagai
guru privat Bisma. Meski aku anak jurusan IPA tapi pengetahuanku akan pelajaran
jurusan IPS memadai untuk mengajari Bisma. Hampir setiap malam minggu Bisma aku
ganggu dengan paksaan belajar. Kadang di rumahnya, kadang di tempatnya
nongkrong. Pokoknya aku selalu menyediakan diri untuk mengajarnya yang sangat
pemalas itu.
Tapi
kemudian persahabatan kami berubah saat Bisma menyatakan cintanya padaku tepat
dihari kelulusan UN. Di depan teman-teman satu sekolah ia menyatakan cintanya
padaku. Entah dia lupa menaruh urat malunya atau apa, yang pasti saat itu
lapangan sekolah sedang ramai-ramainya. Bisma meminta perhatian seluruh siswa
di lapangan dengan toa yang dia pinjam dari ruang OSIS. Dia menyatakan bahwa
dia jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, pintar, namun sangat keras
kepala. Setelah mengucapkan kalimat-kalimat memuji, Bisma menyebutkan namaku
lalu melemparkan sebuah pesawat origami yang di dalamnya ditulis “Would you
like to be mine?”. Aku tersipu malu saat itu. Senyuman sama sekali tak bisa
kutahan. Detakan jantungku dag-dig-dug namun bahagia. Bisma memberiku lima
lembar origami berisi kalimat pilihan jawaban “Yes, I would”, “Iya gue mau”,
“Pasti maulah….”, “Menurut ngana?
Sudah pasti mau!” dan “Gue adalah cewek paling bego kalo nggak mau jadi pacar
lo. So the answer is yes” yang harus aku pilih lalu kulipat menjadi pesawat
terbang dan kuterbangkan ke arahnya.
Ah
sedikit curang memang, dari kelima kertas itu tidak ada yang berisi penolakan.
Aku
tidak tahu kapan pastinya aku jatuh cinta pada Bisma. Tapi hari itu aku
menjawab pernyataan cintanya tanpa banyak berpikir. Aku melipat kelima kertas
itu menjadi pesawat terbang dan dan menerbangkannya ke arah Bisma yang berdiri
di atas podium.
Sorakan
menggoda dan tepukan tangan teman-teman semakin meriah setelah kuterbangkan
lima buah pesawat terbang. Lalu Bisma dengan sok serius ala Pak Soekarno,
memproklamirkan bahwa sejak hari itu aku dan Bisma adalah pasangan pacaran.
Guru piketku yang galak sempat memarahi Bisma atas kelakuannya tapi Bisma cuek
saja. Dia hanya nyengir bego dan bilang maaf sambil turun dari podium lalu
menghampiriku, mengajaku pergi dengan tangan mengacak-acak rambutku.
Namaku
Nina dan aku perempuan paling beruntung karena memiliki Bisma.
Hari-hariku
setelah pernyataan cinta Bisma menjadi hari-hari yang selalu kuingat. Ada
sangat banyak rasa yang hadir dalam hubungan kami. Meski Bisma tidak sering
melakuakn hal-hal yang romantis, tetap saja membuat teman-temanku iri.
Sayangnya,
semua itu harus berakhir sejak dua tahun yang lalu. Sejak Bisma tidak lagi
menghubungiku. Bukan, kami tidak putus. Bisma tidak pernah memutus hubungan pacaran
kami, apalagi aku. Ya, semua itu hanya karena Bisma tidak pernah menghubungiku
lagi. Kami tidak putus.
Satu
bulan setalah wisudaan SMA, Bisma dipaksa kuliah di luar negeri. Papinya kesal
karena Bisma tidak mau kuliah kecuali kuliah musik. Jadi papinya memaksa Bisma
ke Inggris untuk kuliah bisnis dan tinggal bersama kakaknya. Awalnya Bisma
menolak mati-matian ide papi. Bagaimana tidak, impian Bisma sejak kecil adalah
menjadi musisi tapi ia malah tidak dibolehkan kuliah musik.
Aku
sebagai orang yang mencintai Bisma, juga ingin dia maju. Jadi kubujuk dia untuk
menuruti ide papinya. Bukan hal mudah membujuk Bisma dalam hal belajar. Kami
sempat bertengkar selama dua minggu tapi akhirnya Bisma luluh juga ketika
kubilang ini saatnya dia membanggakan dan membalas kebaikan orang tuanya. Lalu
kubuat janji padanya jika dia lulus dengan nilai cumlaud, mati-matian aku akan
membantunya mendapat izin menekuni dunia musik.
Satu
semester pertama kuliah di Inggris membuat Bisma menjadi sangat sibuk. Kegiatan
sehari-harinya hanya kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Semester kedua
kesibukannnya semakin bertambah. Membuat Bisma semakin jarang menghubungiku.
Tapi aku sama sekali tidak pernah menunjukkan kemarahanku karena aku tahu itu
adalah cara terbaik Bisma agar lulus dengan nilai cumlaud dan segera kembali ke
Indonesia.
Semester
ketiga Bisma mulai punya waktu longgar. Ia mulai rajin menghubungiku. Hampir
setiap malam minggu kami bertukar cerita. Sesekali dia menggombaliku, entahlah
selain kuliah bisnis aku rasa dia juga kuliah menggombal. Tiap akhir pekan,
diakhir pembicaraan kami, Bisma selalu menyampaikan kalimat-kalimat romantis
padaku. Kadang kata-kata dari buku, kadang kata-kata dari tulisan tangannya
sendiri.
Lalu
terakhir, pada liburannya disemester empat dia menelponku dan bilang sedang
mengurus tiket untuk liburan ke Indonesia. Aku tentu sangat senang sekali
mendengarnya. Tapi entahlah, hari setelah itu dia sudah tidak pernah
menghubungiku. Dia berbohong padaku. Nyatanya dia sama sekali tidak datang ke
Indonesia. Apakah mengurus tiket penerbangan membutuhkan waktu dua tahun?
Tanganku
terangkat dengan sendirinya, menyeka air mata yang membasahi pipiku karena foto
dan video yang ada di dalam laptopku. Kerinduanku terlalu menggebu sampai yang
hanya sekadar gambar saja bisa membuatku menangis begini. Orang-orang sekitarku
melihatku dengan sedih, mengatakan betapa bodohnya aku. Tapi mungkin aku selain
didesak rindu juga diserang cinta yang teramat sampai-sampai tidak mau menuruti
nasihat apapun dari orang-orang di sekitarku.
Aku
berhenti menatap layar laptopku dan berganti menggenggam handphone. Kupencet
nomor 1 agak lama sampai muncul tulisan “memanggil my treasure” di layar
handphoneku. Aku sibuk menunggu panggilan tersambung sambil sebelah tanganku memain-mainkan
pesawat origami yang dulu diterbangkan Bisma saat menyatakan cintanya.
Namaku
Nina dan aku membiarkan diriku dibilang bodoh karena cintaku pada Bisma.
“Bismaaaaaaaa
kamu nyebelin!!!!!” ucapku pertama kali. Nadaku mewakili segenap kerinduanku.
Aku kesal namun aku juga rindu. “Kamu apa kabar? Aku kangen tauuuuu!” lanjutku
dengan nada kesal dicampur manja. Kurasakan bibirku kini menjadi manyun.
“Aku
baik di sini. Kamu lagi sibuk banget ya sampai lupa nelpon aku? Oh iya, tiket
kamu kenapa kok sampai dua tahun nggak selesai-selesai diurus? Sebel deh,
orang-orang di sekitarku bilang aku bodoh lah, kurang kerjaan lah, sia-sia lah,
karena sampai sekarang masih nunggu kamu.” Aku dapat merasakan betapa bibirku
kini bertambah manyun.
“Eh
nggak deh, nggak apa kalo kamu emang nggak bisa ke Indonesia dulu. Kamu fokus
belajar aja di sana. Biar cepat lulus dan dapat nilai cumlaud. Nanti aku akan
tepati janji aku, aku akan cari cara-cara dahsyat untuk meluluhkan papi kamu
untuk kasih izin kamu terjun ke dunia musik.” Sekarang ekspresiku sudah berubah
menjadi senyum sumringah.
“Kamu
udah makan? Iya, aku udah makan kok. Iya, aku inget kamu itu ngelarang aku
makan mi instan, saos pinggir jalan, sama sambal yang kebanyakan. Aku inget
banget baweeellll hahaha…” lanjutku dengan air mata yang mulai menetes.
“Akhir-akhir
ini aku agak kurang enak badan. Mungkin karena bergadang terus, banyak tugas,
dan segudang aktivitasku di organisasi kampus. Kamu jangan tiru aku ya! Kamu
harus jaga kesehatan. Inget loh, JAGA KESEHATAN! Janji ya jaga kesehatan? Aku
nggak mau kamu balik ke Indonesia dengan keadaan nggak ‘utuh’. Harus sehat,
harus kayak Bisma yang terakhir kali aku liat di bandara ya, sayang.”
Aku
menyeka air mata yang jatuhnya semakin tidak terkendali. Kuseka lagi, lagi, dan
lagi. Tapi mereka tetap membandel. Derasnya malah menjadi dua kali lipat.
“Nanti
kalo kamu mau balik ke Indonesia, harus kabarin aku dulu ya! Biar nanti aku
masakin sup kimlo dan rendang kesukaan kamu. Hmm… sekalian es mangga kesukaan
kamu juga boleh. Apapun aku siapin deh…”
“Tapi
balasannya, kamu harus ajak aku naik bianglala di dufan. Kamu hutang main
bianglala loh sama aku! Nggak apa deh nggak naik bianglala pas malam tahun baru
kayak yang kamu janjiin. Kapan aja, asal naiknya sama kamu aku oke-oke aja deh.
Hahaha iya, sekarang aku udah nggak serewel dulu kok, sesekali aku akan ngalah
deh sama kamu hahahaha. Oh iya ak---”
Dasar
Kak Tita nyebelin! Gara-gara dia merebut handphone dari tanganku, aku jadi
tidak bisa menyelesaikan kalimatku pada Bisma.
“Ngapain
sih kak?!!!!” bentakku pada Kak Tita. Aku benci dipotong begitu.
“Kamu
yang ngapain! Udah Nin, udah. Aku mohon berhenti. Dua tahun udah cukup untuk
masa depresi kamu,” sahut Kak Tita tak kalah membentak, mebuat nyaliku menciut.
Aku meskipun keras kepala tapi kalau sudah dibentak oleh Kak Tita, akan dengan
mudah kehilangan nyali.
Kak
Tita menyodorkan handphoneku tepat di depan wajahku. Matanya membulat dan air
matanya mulai mengalir.
“Lihat?
Bahkan panggilan untuk Bisma udah selesai dari tadi. Nomor itu udah nggak akan
pernah aktif lagi.”
Aku
merasa seperti dihantam besi panas tepat di dada. Sakit, panas, dan siap
hancur. Iya, Kak Tita benar. Aku sebenarnya tahu nomor Bisma memang sudah tidak
akan penah aktif lagi. Aku juga sebenarnya tahu kalau sejak tadi aku hanya
bicara sendiri. Aku hanya berpura-pura tidak tahu. Dan aku tahu aku memang
sedang berpura-pura tidak tahu.
“Ikhlas
Nin, kamu harus ikhlasin Bisma. Depresi kamu yang begini akan bikin Bisma sedih
di sana.” Ucapan Kak Tita yang ini membuatku semakin sakit, panas, dan siap
hancur. Tiba-tiba suara papinya Bisma dua tahun lalu terngiang-ngiang di
telingaku. Kabar kecelakaan pesawat yang ditumpangi Bisma membuat kedatangan
Bisma ke Indonesia gagal. Pesawat itu gagal mendarat dan jatuh di sebuah hutan.
Suara-suara berita di media elektronik yang mengumumkan nama-nama korban
meninggal berdengung-dengung di telingaku. Semakin lama semakin membuatku
merasa sakit, perih, dan siap hancur.
Kurasakan
tubuhku melemas seiringan dengan pesawat origami di tanganku yang jatuh tanpa
bisa kutahan. Ah, bagaimana aku bisa menahan kesedihan atas meninggalnya
pacarku, toh untuk menahan kekuatan tubuhku sendiri aku tidak mampu.
Sebenarnya
setiap detik setelah aku melihat jasad Bisma dengan mata kepalaku sendiri, aku
selalu sadar kalau Bisma memang sudah tidak ada. Aku sadar Bisma sudah
meninggal. Aku bahkan menyaksikan bagaimana pacarku itu dikebumikan sambil
melawan lemas yang melanda tubuhku. Kalau bukan karena aku tidak mau kehilangan
kesempatan untuk melihatnya terakhir kali, aku pasti sudah mengizinkan tubuhku
untuk pingsan. Tapi tidak, cintaku pada Bisma lebih besar dari semua rasa sedih
dan lemas yang menyerangku.
Kehidupanku
setelah Bisma dikebumikan hanya berisi kebohongan. Bukan berbohong pada orang
lain, melainkan pada diriku sendiri. Benar apa yang orang-orang bilang
tentangku, aku bodoh. Sangat bodoh sampai tetap saja membohongi diriku sendiri
yang tahu kalau aku memang sedang berbohong.
Aku
terlarut dengan perasaanku sendiri. Apa yang Kak Tita ucapkan sudah tidak lagi
kudengar. Aku baru tersadar dan kembali mendengar ucapan Kak Tita ketika Kak
Tita memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Aku
akan bantu kamu keluar dari depresi ini asal kamu juga punya kemauan untuk
keluar dari depresi ini.” suara Kak Tita terdengar jelas olehku. Isakannya juga
kudengar, kudengar sampai aku tahu betapa sedihnya Kak Tita terhadapku.
Aku
hanya mengangguk-angguk. Aku baru sadar, depresiku ini menciptakan depresi lain
pada orang-orang di sekitarku. Apakah yang Kak Tita ucapkan benar? Apakah dua tahun
sudah cukup untuk aku terkurung dalam depresi? Apakah Bisma sedih melihatku
begini?
Angin
malam menerpa tubuh dan wajahku yang sekarang berada di dalam bianglala. Tadi
setelah membiarkanaku menangis selama dua jam, Kak Tita memaksaku untuk ikut
dengannya. Ia mengajakku menghabiskan malam tahun baru di sebuah pasar malam.
Sebagai pelatihan awal keluar dari depresiku, Kak Tita mengajakku untuk melawan
kenangan. Ia memaksaku untuk naik bianglala seperti yang biasa aku minta pada
Bisma. Meski bukan bianglala Dufan yang besar, aku tetap saja meraskan sesuatu
yang dahsyat saat aku berada di dalam bianglala pasar malam ini.
Tepat
saat bunyi terompet bersahut-sahutan menyambut pukul 00.00 WIB, aku
menerbangkan sebuah pesawat origami dari bianglala. Pesawat itu kuterbangkan
untuk Bisma. Di dalamnya kutulis surat untuk Bisma.
Bisma sayang, terima kasih juga maaf untuk segalanya. Malam ini aku sama
sekali nggak berniat untuk membuang kenangan kita. Karena melupakan kamu sama
saja menghitung jumlah helai rambutku. Sangat sulit. Kalau pun bisa, waktunya
akan sangat lama dan aku akan keburu menyerah.
Bisma sayang, aku cuma ingin keluar dari depresi ini. Aku cuma nggak mau
menciptakan depresi bagi orang-orang di sekitarku. Aku cuma ingin kamu tenang
di sana, bangga kepadaku yang tangguh.
Bisma sayang, selamat tahun baru. Hutang naik bianglala kamu sudah aku
anggap lunas.
Bisma sayang, percayalah aku tetaplah aku meski aku tidak lagi
membohongi diriku sendiri nanti. Aku Nina dan aku sangat mencintaimu Bisma.
Aku
tersenyum membayangkan wajah Bisma. Semua ekspresinya yang sekarang hadir dalam
benakku membuatku merasa lebih baik. Pada akhirnya, seseorang yang paling kita
cintai sekalipun akan pergi. Memang sangat menyedihkan rasanya ditinggal tapi
itu lebih baik dari pada kita yang meninggalkan. Kalau kita yang meninggalkan
berarti kita membuat orang yang kita cintai merasa sedih. Bukankah cinta
seharusnya berkorban? Bukan malah membuat dia yang kita cintai merasa sedih.
Ini
aku, Nina. Nina yang tangguh dari depresi namun mempunyai cinta tak berbatas
pada Bisma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar