Rabu, 06 Mei 2015

Cerpen: Cinta Tak Berbatas Nina

            





            Namaku Nina dan aku sangat mencintai Bisma.
            Setiap malam rasanya selalu sama saja bagiku. Hanya terisi oleh rindu yang menggebu. Termasuk malam ini. Meski orang-orang tampak sangat bergembira menyiapkan berbagai rencana untuk pergantian tahun nanti, aku tetap merasa sama. Gembiraku tidak pernah bisa berlebihan lagi. Sedihku pun selalu dengan takaran yang tidak pernah berkurang.
            Sejak setengah jam lalu kegiatanku masih belum berubah. Aku hanya tiduran di atas ranjangku seperti avertebrata sambil menatapi layar laptop. Kalau mama tidak mau mengerti, aku pasti sudah dimarahi habis-habisan karena sikapku yang nampak seperti pemalas ini.
            Jari telunjukku sibuk mengetuk-mengetuk mos setiap beberapa detik, mengganti foto demi foto di folder yang kuberi nama “US”. Isinya hanya foto-fotoku dan Bisma. Meski tidak semua fotonya berisi foto kami yang sedang tersenyum, rasa selalu tampak sangat bahagia bagiku.
            Akan kuceritakan sedikit tentang Bisma. Laki-laki spesial itu adalah laki-laki yang paling mengerti aku. Dia selalu bisa membuatku merasa nyaman, bahkan ketika dia memarahiku aku selalu merasa nyaman bersamanya. Bisma selalu punya caranya sendiri untuk menaklukan sisi keras kepalaku yang suka sekali membuat orang lain jengkel.

            Aku mengenal Bisma saat aku duduk dibangku kelas delapan. Waktu itu dia bagiku adalah laki-laki yang tampak mengerikan karena kejahilannya pada anak-anak di kelas. Dia bahkan langganan dipanggil guru BK. Mungkin karena aku adalah salah satu dari peringkat tiga besar di sekolah, wali kelasku memaksa Bisma dan aku untuk duduk bersama, berbagi meja dan buku paket yang tidak pernah mau dibawanya.
Awalnya aku merasa masa SMP-ku suram karena sebangku dengan anak paling jahil di kelas. Tapi lama-lama aku merasa nyaman juga bersamanya. Dibalik kejahilannya, dia adalah seorang laki-laki yang paling baik hati dan pemberani. Waktu hanya aku yang lupa membawa buku PR, dia ikut-ikutan tidak mengumpulkan PR dan menemaniku dihukum. Waktu aku tembus dan sakit perut sampai mau pingsan karena baru pertama kali datang bulan, dia tanpa malu pergi ke koperasi dan membelikanku pembalut lalu mengantarku pulang sampai ke rumah. Waktu aku digoda om-om jelek di tengah jalan pulang, dia dengan berani menegur dan menghajar om-om itu meski pada akhirnya tetap saja anak kelas dua SMP kalah dengan om-om jelek tua.
Sejak kebaikan-kebaikannya padaku, aku dan Bisma mulai bersahabat. Aku punya banyak teman di sekolah tapi tidak ada yang lebih dekat dari Bisma. Setiap hari kami pulang sekolah bersama lalu berpisah di persimpangan jalan karena arah rumah kami yang tidak sama.
Persahabtanku dan Bisma terus berlangsung hingga kami duduk di bangku SMA. Meski menjadi bagian dari sepuluh cowok popular di sekolah, dia tetap Bisma yang baik hati dan pemberani yang selalu ada di sampingku memberi rasa nyaman. Bisma juga tetap sama seperti Bisma SMP, tetap menjadi makhluk jahil di kelasnya –sejak SMA kami tidak pernah satu kelas lagi. Kelas sering dibuatnya menjadi ramai.
Bisma bukan anak yang bodoh, dia hanya sangat malas jadi selama ia bersekolah, pringkatnya tidak pernah jauh dari peringkat 15 terbawah. Aku yang kebetulan dianugerahi rasa rajin berlebih dan daya otak yang lebih dari bagus pun mau tidak mau akhirnya berubah menjadi “teman tiri” yang suka memaksanya belajar. Sejak duduk di kelas dua belas dan akan menghadapi UN, aku berperan sebagai guru privat Bisma. Meski aku anak jurusan IPA tapi pengetahuanku akan pelajaran jurusan IPS memadai untuk mengajari Bisma. Hampir setiap malam minggu Bisma aku ganggu dengan paksaan belajar. Kadang di rumahnya, kadang di tempatnya nongkrong. Pokoknya aku selalu menyediakan diri untuk mengajarnya yang sangat pemalas itu.
Tapi kemudian persahabatan kami berubah saat Bisma menyatakan cintanya padaku tepat dihari kelulusan UN. Di depan teman-teman satu sekolah ia menyatakan cintanya padaku. Entah dia lupa menaruh urat malunya atau apa, yang pasti saat itu lapangan sekolah sedang ramai-ramainya. Bisma meminta perhatian seluruh siswa di lapangan dengan toa yang dia pinjam dari ruang OSIS. Dia menyatakan bahwa dia jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, pintar, namun sangat keras kepala. Setelah mengucapkan kalimat-kalimat memuji, Bisma menyebutkan namaku lalu melemparkan sebuah pesawat origami yang di dalamnya ditulis “Would you like to be mine?”. Aku tersipu malu saat itu. Senyuman sama sekali tak bisa kutahan. Detakan jantungku dag-dig-dug namun bahagia. Bisma memberiku lima lembar origami berisi kalimat pilihan jawaban “Yes, I would”, “Iya gue mau”, “Pasti maulah….”, “Menurut ngana? Sudah pasti mau!” dan “Gue adalah cewek paling bego kalo nggak mau jadi pacar lo. So the answer is yes” yang harus aku pilih lalu kulipat menjadi pesawat terbang dan kuterbangkan ke arahnya.
Ah sedikit curang memang, dari kelima kertas itu tidak ada yang berisi penolakan.
Aku tidak tahu kapan pastinya aku jatuh cinta pada Bisma. Tapi hari itu aku menjawab pernyataan cintanya tanpa banyak berpikir. Aku melipat kelima kertas itu menjadi pesawat terbang dan dan menerbangkannya ke arah Bisma yang berdiri di atas podium.
Sorakan menggoda dan tepukan tangan teman-teman semakin meriah setelah kuterbangkan lima buah pesawat terbang. Lalu Bisma dengan sok serius ala Pak Soekarno, memproklamirkan bahwa sejak hari itu aku dan Bisma adalah pasangan pacaran. Guru piketku yang galak sempat memarahi Bisma atas kelakuannya tapi Bisma cuek saja. Dia hanya nyengir bego dan bilang maaf sambil turun dari podium lalu menghampiriku, mengajaku pergi dengan tangan mengacak-acak rambutku.
Namaku Nina dan aku perempuan paling beruntung karena memiliki Bisma.
Hari-hariku setelah pernyataan cinta Bisma menjadi hari-hari yang selalu kuingat. Ada sangat banyak rasa yang hadir dalam hubungan kami. Meski Bisma tidak sering melakuakn hal-hal yang romantis, tetap saja membuat teman-temanku iri.
Sayangnya, semua itu harus berakhir sejak dua tahun yang lalu. Sejak Bisma tidak lagi menghubungiku. Bukan, kami tidak putus. Bisma tidak pernah memutus hubungan pacaran kami, apalagi aku. Ya, semua itu hanya karena Bisma tidak pernah menghubungiku lagi. Kami tidak putus.
Satu bulan setalah wisudaan SMA, Bisma dipaksa kuliah di luar negeri. Papinya kesal karena Bisma tidak mau kuliah kecuali kuliah musik. Jadi papinya memaksa Bisma ke Inggris untuk kuliah bisnis dan tinggal bersama kakaknya. Awalnya Bisma menolak mati-matian ide papi. Bagaimana tidak, impian Bisma sejak kecil adalah menjadi musisi tapi ia malah tidak dibolehkan kuliah musik.
Aku sebagai orang yang mencintai Bisma, juga ingin dia maju. Jadi kubujuk dia untuk menuruti ide papinya. Bukan hal mudah membujuk Bisma dalam hal belajar. Kami sempat bertengkar selama dua minggu tapi akhirnya Bisma luluh juga ketika kubilang ini saatnya dia membanggakan dan membalas kebaikan orang tuanya. Lalu kubuat janji padanya jika dia lulus dengan nilai cumlaud, mati-matian aku akan membantunya mendapat izin menekuni dunia musik.
Satu semester pertama kuliah di Inggris membuat Bisma menjadi sangat sibuk. Kegiatan sehari-harinya hanya kuliah dan mengerjakan tugas-tugas. Semester kedua kesibukannnya semakin bertambah. Membuat Bisma semakin jarang menghubungiku. Tapi aku sama sekali tidak pernah menunjukkan kemarahanku karena aku tahu itu adalah cara terbaik Bisma agar lulus dengan nilai cumlaud dan segera kembali ke Indonesia.
Semester ketiga Bisma mulai punya waktu longgar. Ia mulai rajin menghubungiku. Hampir setiap malam minggu kami bertukar cerita. Sesekali dia menggombaliku, entahlah selain kuliah bisnis aku rasa dia juga kuliah menggombal. Tiap akhir pekan, diakhir pembicaraan kami, Bisma selalu menyampaikan kalimat-kalimat romantis padaku. Kadang kata-kata dari buku, kadang kata-kata dari tulisan tangannya sendiri.
Lalu terakhir, pada liburannya disemester empat dia menelponku dan bilang sedang mengurus tiket untuk liburan ke Indonesia. Aku tentu sangat senang sekali mendengarnya. Tapi entahlah, hari setelah itu dia sudah tidak pernah menghubungiku. Dia berbohong padaku. Nyatanya dia sama sekali tidak datang ke Indonesia. Apakah mengurus tiket penerbangan membutuhkan waktu dua tahun?
Tanganku terangkat dengan sendirinya, menyeka air mata yang membasahi pipiku karena foto dan video yang ada di dalam laptopku. Kerinduanku terlalu menggebu sampai yang hanya sekadar gambar saja bisa membuatku menangis begini. Orang-orang sekitarku melihatku dengan sedih, mengatakan betapa bodohnya aku. Tapi mungkin aku selain didesak rindu juga diserang cinta yang teramat sampai-sampai tidak mau menuruti nasihat apapun dari orang-orang di sekitarku.
Aku berhenti menatap layar laptopku dan berganti menggenggam handphone. Kupencet nomor 1 agak lama sampai muncul tulisan “memanggil my treasure” di layar handphoneku. Aku sibuk menunggu panggilan tersambung sambil sebelah tanganku memain-mainkan pesawat origami yang dulu diterbangkan Bisma saat menyatakan cintanya.
Namaku Nina dan aku membiarkan diriku dibilang bodoh karena cintaku pada Bisma.
“Bismaaaaaaaa kamu nyebelin!!!!!” ucapku pertama kali. Nadaku mewakili segenap kerinduanku. Aku kesal namun aku juga rindu. “Kamu apa kabar? Aku kangen tauuuuu!” lanjutku dengan nada kesal dicampur manja. Kurasakan bibirku kini menjadi manyun.
“Aku baik di sini. Kamu lagi sibuk banget ya sampai lupa nelpon aku? Oh iya, tiket kamu kenapa kok sampai dua tahun nggak selesai-selesai diurus? Sebel deh, orang-orang di sekitarku bilang aku bodoh lah, kurang kerjaan lah, sia-sia lah, karena sampai sekarang masih nunggu kamu.” Aku dapat merasakan betapa bibirku kini bertambah manyun.
“Eh nggak deh, nggak apa kalo kamu emang nggak bisa ke Indonesia dulu. Kamu fokus belajar aja di sana. Biar cepat lulus dan dapat nilai cumlaud. Nanti aku akan tepati janji aku, aku akan cari cara-cara dahsyat untuk meluluhkan papi kamu untuk kasih izin kamu terjun ke dunia musik.” Sekarang ekspresiku sudah berubah menjadi senyum sumringah.
“Kamu udah makan? Iya, aku udah makan kok. Iya, aku inget kamu itu ngelarang aku makan mi instan, saos pinggir jalan, sama sambal yang kebanyakan. Aku inget banget baweeellll hahaha…” lanjutku dengan air mata yang mulai menetes.
“Akhir-akhir ini aku agak kurang enak badan. Mungkin karena bergadang terus, banyak tugas, dan segudang aktivitasku di organisasi kampus. Kamu jangan tiru aku ya! Kamu harus jaga kesehatan. Inget loh, JAGA KESEHATAN! Janji ya jaga kesehatan? Aku nggak mau kamu balik ke Indonesia dengan keadaan nggak ‘utuh’. Harus sehat, harus kayak Bisma yang terakhir kali aku liat di bandara ya, sayang.”
Aku menyeka air mata yang jatuhnya semakin tidak terkendali. Kuseka lagi, lagi, dan lagi. Tapi mereka tetap membandel. Derasnya malah menjadi dua kali lipat.
“Nanti kalo kamu mau balik ke Indonesia, harus kabarin aku dulu ya! Biar nanti aku masakin sup kimlo dan rendang kesukaan kamu. Hmm… sekalian es mangga kesukaan kamu juga boleh. Apapun aku siapin deh…”
“Tapi balasannya, kamu harus ajak aku naik bianglala di dufan. Kamu hutang main bianglala loh sama aku! Nggak apa deh nggak naik bianglala pas malam tahun baru kayak yang kamu janjiin. Kapan aja, asal naiknya sama kamu aku oke-oke aja deh. Hahaha iya, sekarang aku udah nggak serewel dulu kok, sesekali aku akan ngalah deh sama kamu hahahaha. Oh iya ak---”
Dasar Kak Tita nyebelin! Gara-gara dia merebut handphone dari tanganku, aku jadi tidak bisa menyelesaikan kalimatku pada Bisma.
“Ngapain sih kak?!!!!” bentakku pada Kak Tita. Aku benci dipotong begitu.
“Kamu yang ngapain! Udah Nin, udah. Aku mohon berhenti. Dua tahun udah cukup untuk masa depresi kamu,” sahut Kak Tita tak kalah membentak, mebuat nyaliku menciut. Aku meskipun keras kepala tapi kalau sudah dibentak oleh Kak Tita, akan dengan mudah kehilangan nyali.
Kak Tita menyodorkan handphoneku tepat di depan wajahku. Matanya membulat dan air matanya mulai mengalir.
“Lihat? Bahkan panggilan untuk Bisma udah selesai dari tadi. Nomor itu udah nggak akan pernah aktif lagi.”
Aku merasa seperti dihantam besi panas tepat di dada. Sakit, panas, dan siap hancur. Iya, Kak Tita benar. Aku sebenarnya tahu nomor Bisma memang sudah tidak akan penah aktif lagi. Aku juga sebenarnya tahu kalau sejak tadi aku hanya bicara sendiri. Aku hanya berpura-pura tidak tahu. Dan aku tahu aku memang sedang berpura-pura tidak tahu.
“Ikhlas Nin, kamu harus ikhlasin Bisma. Depresi kamu yang begini akan bikin Bisma sedih di sana.” Ucapan Kak Tita yang ini membuatku semakin sakit, panas, dan siap hancur. Tiba-tiba suara papinya Bisma dua tahun lalu terngiang-ngiang di telingaku. Kabar kecelakaan pesawat yang ditumpangi Bisma membuat kedatangan Bisma ke Indonesia gagal. Pesawat itu gagal mendarat dan jatuh di sebuah hutan. Suara-suara berita di media elektronik yang mengumumkan nama-nama korban meninggal berdengung-dengung di telingaku. Semakin lama semakin membuatku merasa sakit, perih, dan siap hancur.
Kurasakan tubuhku melemas seiringan dengan pesawat origami di tanganku yang jatuh tanpa bisa kutahan. Ah, bagaimana aku bisa menahan kesedihan atas meninggalnya pacarku, toh untuk menahan kekuatan tubuhku sendiri aku tidak mampu.
Sebenarnya setiap detik setelah aku melihat jasad Bisma dengan mata kepalaku sendiri, aku selalu sadar kalau Bisma memang sudah tidak ada. Aku sadar Bisma sudah meninggal. Aku bahkan menyaksikan bagaimana pacarku itu dikebumikan sambil melawan lemas yang melanda tubuhku. Kalau bukan karena aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk melihatnya terakhir kali, aku pasti sudah mengizinkan tubuhku untuk pingsan. Tapi tidak, cintaku pada Bisma lebih besar dari semua rasa sedih dan lemas yang menyerangku.
Kehidupanku setelah Bisma dikebumikan hanya berisi kebohongan. Bukan berbohong pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Benar apa yang orang-orang bilang tentangku, aku bodoh. Sangat bodoh sampai tetap saja membohongi diriku sendiri yang tahu kalau aku memang sedang berbohong.
Aku terlarut dengan perasaanku sendiri. Apa yang Kak Tita ucapkan sudah tidak lagi kudengar. Aku baru tersadar dan kembali mendengar ucapan Kak Tita ketika Kak Tita memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Aku akan bantu kamu keluar dari depresi ini asal kamu juga punya kemauan untuk keluar dari depresi ini.” suara Kak Tita terdengar jelas olehku. Isakannya juga kudengar, kudengar sampai aku tahu betapa sedihnya Kak Tita terhadapku.
Aku hanya mengangguk-angguk. Aku baru sadar, depresiku ini menciptakan depresi lain pada orang-orang di sekitarku. Apakah yang Kak Tita ucapkan benar? Apakah dua tahun sudah cukup untuk aku terkurung dalam depresi? Apakah Bisma sedih melihatku begini?
Angin malam menerpa tubuh dan wajahku yang sekarang berada di dalam bianglala. Tadi setelah membiarkanaku menangis selama dua jam, Kak Tita memaksaku untuk ikut dengannya. Ia mengajakku menghabiskan malam tahun baru di sebuah pasar malam. Sebagai pelatihan awal keluar dari depresiku, Kak Tita mengajakku untuk melawan kenangan. Ia memaksaku untuk naik bianglala seperti yang biasa aku minta pada Bisma. Meski bukan bianglala Dufan yang besar, aku tetap saja meraskan sesuatu yang dahsyat saat aku berada di dalam bianglala pasar malam ini.
Tepat saat bunyi terompet bersahut-sahutan menyambut pukul 00.00 WIB, aku menerbangkan sebuah pesawat origami dari bianglala. Pesawat itu kuterbangkan untuk Bisma. Di dalamnya kutulis surat untuk Bisma.
Bisma sayang, terima kasih juga maaf untuk segalanya. Malam ini aku sama sekali nggak berniat untuk membuang kenangan kita. Karena melupakan kamu sama saja menghitung jumlah helai rambutku. Sangat sulit. Kalau pun bisa, waktunya akan sangat lama dan aku akan keburu menyerah.
Bisma sayang, aku cuma ingin keluar dari depresi ini. Aku cuma nggak mau menciptakan depresi bagi orang-orang di sekitarku. Aku cuma ingin kamu tenang di sana, bangga kepadaku yang tangguh.
Bisma sayang, selamat tahun baru. Hutang naik bianglala kamu sudah aku anggap lunas.
Bisma sayang, percayalah aku tetaplah aku meski aku tidak lagi membohongi diriku sendiri nanti. Aku Nina dan aku sangat mencintaimu Bisma.
            Aku tersenyum membayangkan wajah Bisma. Semua ekspresinya yang sekarang hadir dalam benakku membuatku merasa lebih baik. Pada akhirnya, seseorang yang paling kita cintai sekalipun akan pergi. Memang sangat menyedihkan rasanya ditinggal tapi itu lebih baik dari pada kita yang meninggalkan. Kalau kita yang meninggalkan berarti kita membuat orang yang kita cintai merasa sedih. Bukankah cinta seharusnya berkorban? Bukan malah membuat dia yang kita cintai merasa sedih.
            Ini aku, Nina. Nina yang tangguh dari depresi namun mempunyai cinta tak berbatas pada Bisma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar