Sabtu, 13 Desember 2014

Di Suatu Senja Kita

Mike selalu suka senja.

Adalah senja saat langit tidak sepenuhnya biru dan tidak sepenuhnya hitam. Ada semburat merah, oranye, dan mencilak. Indah adalah satu kata yang menggambarkan senja bagi setiap orang. Tapi bagi Mike senja tidak hanya menggambarkan keindahan. Bagi Mike, senja juga menggambarkan kebahagiaannya. Apalagi senja setiap hari Sabtu. Dalam satu minggu, hanya senja dihari Sabtulah satu-satunya senja yang menggambarkan keindahan sekaligus kebahagiannya. 

Dihari Sabtu Mike bisa mendapatkan dua senja sekaligus. Langit berwana-warni mencilak dan sesosok gadis mungil dengan kulit kecoklatan yang selalu berdampingan dengan tawa pembawa energi positif adalah senja yang sempurna bagi Mike.


Mike selalu suka senja. Tapi tidak tahu kalau senja yang kali ini. 



Mike suka sekali dengan konsep pernikahan outdoor dengan dekorasi warna serba putih. Jas putih serta setelan celana bahan putih juga sepatunya yang putih, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dan gagah dari biasanya. Bunga mawar merah yang diselipkan di ujung sakunya adalah bunga kesukaan gadis mungilnya. Sempurna sudah konsep pernikahan, dekorasi, kostum, serta aksesori yang melekat ditubuhnya. Semuanya sudah hampir sesuai dengan keinginan Mike. Sebentar lagi dia akan menjadi ‘raja sehari’ bersama gadisnya dalam perayaan pernikahannya. Ini hari Sabtu, hari biasanya Mike menikmati senja bersama gadis mungilnya di pantai. 


Ini hari Sabtu, hari biasanya ia kencan dengan gadis mungilnya. Dalam perjalanan pulang dari mengajar di sanggar, gadis mungilnya akan menghabiskan senja bersamanya. Mereka akan saling berceloteh dalam senja yang indah, berbagi kisah selama satu minggu tidak bertemu, dan berlari mengungkapkan rasa adalah rutinitas dalam kencan mereka. 


Tapi dalam senja kali ini, semua rutinitas Sabtu sore mereka tidak bisa mereka lakukan. Mike yang sudah rapih dengan pakaian serba putih dan gadis mungilnnya yang sudah anggun dengan gaun sederhana berwarna putih pun tidak mungkin berlarian di pinggir pantai seperti biasanya. Kecuali kalau mereka mau dimarahi banyak pihak. 


Senja kali ini mereka habiskan di salah satu sudut pantai yang tidak jauh dari tempat perayaan pernikahan nanti. Keduanya bisu dalam waktu lumayan lama. 


“Senja, sore ini kamu seribu kali lebih cantik dari biasanya,” puji Mike pada gadis mungilnya. 


“Kamu juga seribu kali lebih tampan dari biasanya, Mike.” Gantian Senja yang memuji Mike. 


“Konsep pernikahan outdoor, dekorasi serba putih, dan mawar merah di sakuku benar-benar jadi kenyataan.” Mike tidak mau menatap Senja, dia lebih memilih untuk menatap pantai di hadapannya. 


Gadis mungil bernama Senja si pemilik senyum berenergi positif itu hanya menanggapi lewat anggukan dan senyum kecil saja. Dia pun sama seperti Mike, juga lebih memilih untuk menatap pantai di hadapannya. 

Lalu kebisuan kembali berada diantara mereka. Hanya ada suara ombak yang berdebum syahdu diantara mereka dan angin yang semakin kencang menerpa. 

“Kamu benar Mike,” tiba-tiba Senja membuka obrolan. 


“Tentang apa?” tanya Mike sambil menoleh kemudian mengerutkan kening, kebiasaannya ketika sedang bingung. 


Senja menengok ke tempat perayaan pernikahan. Sekelompok orang sedang sibuk menata makanan dan menyelesaikan beberapa detail dekor yang belum selesai. Sekelompok lagi sedang tertawa lepas sambil membicarakan tentang banyak hal. Beberapa diantaranya adalah keluarga Senja dan keluarga Mike. 


“Tentang senja dan matahari tenggelam, tentang keindahan, tentang kebahagian. Tentang kita,” jawab Senja. Rasanya dia ingin sekali menangis tapi dicegahnya mati-matian. Tidak mungkin dia menangis dihari bahagia seperti ini. 


Mike hanya diam mendengar jawaban Senja. Dia sama seperti Senja, ingin menangis tapi tidak mungkin. Air mata yang jatuh akan merusak keindahan warna putih dalam konsep pernikahannya. 


Tiba-tiba mereka diselimuti memori yang sama. 


Sore itu adalah sore yang sangat berarti bagi hubungan mereka. Sore yang membuat pernikahan ini terjadi. Juga sore yang membuat dua keluarga itu bisa tertawa dalam satu meja yang sama lagi setelah berbulan-bulan tidak saling berbicara. 


Pantai ini adalah saksi sore itu. Warna biru laut dan pasir putihnya membentang indah, menjadi tempat mereka membicarakan tentang kebahagiaan sore itu. Angin sepoinya membelai wajah mereka dan mengayun-ayunkan rambut kuncir kuda milik Senja. 


“Ah akhirnya aku lolos juga,” kata Senja lega. Dia tersenyum kepada Mike yang sudah menantinya sejak sepuluh menit lalu. “Maaf ya aku telat. Habis mau gimana? Manjat pagar belakang nggak segampang yang aku bayangin makanya jadi terlambat deh.” 


“Aku yang minta maaf sudah bikin kamu susah payah memanjat pagar belakang. Kamu perempuan, nggak seharusnya manjat-manjat begitu,” ucap Mike dengan nada dingin yang sama seperti saat di telpon –saat dia meminta Senja untuk datang ke pantai sore itu. 


“Habis mau gimana? Aku nggak akan bisa ketemu kamu sore ini kalau aku nggak nekat manjat pagar belakang. Kamu sendiri kan yang bilang kalau pertemuan sore ini penting? Makanya aku bela-belain cari cara supaya bisa kabur dari papa-mama dan satpam jelek itu. Lagi pula aku juga kangen pingin ketemu kamu. Udah berapa hari kita nggak ketemu? Hmm… sebulan ya?” cerosos Senja. Sore itu Mike baru sadar kalau cerocosan ini adalah hal yang paling disukainya selain menikmati senja bersama Senja. 


Mike tersenyum. Dia tidak bisa lagi berlagak dingin seperti saat di telpon tadi. “Berlebihan ah, kita baru tiga minggu diisolasi,” kata Mike meralat cerocosan lebay Senja. 


“Oh ya? Baru tiga minggu? Maklumlah, dikurung begini siapa yang tahan?” ucap Senja sambil merentangkan tangan lebar-lebar, menikmati kebebasan yang sedang dirasakannya. Sementara Mike hanya diam dan senyumnya mulai memudar. 


“Ada yang mau aku bicarain sama kamu,” kata Mike setelah spasi yang sempat tercipta. 


“Memangnya kamu pikir dari tadi kita ngapain?” 


“Maksudku tentang hal yang serius dan penting,” kata Mike mulai sedikit formal. 


“Tentang apa ya? Bisakah saudara Mike jelaskan?” canda Senja dengan nada yang dibuat-buat serius. Dia mengangguk-angguk sambil mengelus-elus dagunya, membuat gimmick lalu tertawa sendiri atas gimmicknya. 


“Pinokio… aku lagi serius nih!” Mike mencubit gemas hidung mancung Senja. 


“Ah iya-iya ampun....” Senja berusaha menyingkirkan tangan Mike dari hidungnya. “Kalau ketahuan papaku, kamu bisa dipancung loh karena sudah dengan sangat tidak manusiawi memperlakukan hidung mancungku ini!” Senja mengelus-elus hidung mancung warisan kakeknya yang kebetulan keturunan Arab itu. 


Mike tidak membalas ocehan ‘nggak penting’ Senja lagi. Ah iya, sebenarnya apapun tentang Senja, apapun yang datangnya dari Senja adalah penting bagi Mike. Tapi Mike harus mulai membiasakan diri untuk tidak menganggapnya seperti itu. 


“Kok malah diem? Katanya mau ngomong?” tanya Senja bingung. 


“Tapi nanti aja deh. Aku mau tantang kamu lari dulu, kalo aku menang, kamu harus gendong aku dari sini sampai sana!” Senja menunjuk ke sebuah arah yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri. “Tapi aku mau ngomong serius,” tolak Mike. 


Senja menggeleng. “Nggak bisa, kamu harus lomba lari dulu sama aku! Sekalian kita ngerayain kebebasan ini.” Senja sangat suka olah raga lari. Dia lebih sering mengekspresikan diri lewat berlari. Kalau sedang merasa senang, dia akan berlari. Pun kalau sedang merasa kesal. 


“Satu…dua…tiga!” Senja mulai berlari mendahului Mike yang masih terpaku. 

Tapi belum sampai dua meter, Mike meraih tangan Senja yang sedang berayun ke belakang. Setelah meraih tangan itu, Mike menariknya dan membuat Senja jatuh dalam pelukannya. Segera Mike mendekap tubuh mungil Senja.

Sementara Senja yang tidak siap dengan pelukan itu pun segera melepaskan diri. Tapi tidak bisa, Mike malah memeluknya semakin erat. 


“Mike ada apa?” tanya Senja dengan perasaan yang berubah jadi tidak enak. Tidak biasanya Mike begini. Jangankan memeluk di tempat umum, merangkul bahu Senja saja Mike jarang sekali. 


“Maafin aku, maafin aku.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari Mike. 


“Mike, jelasin sama aku!” selama satu setengah tahun berpacaran, baru kali itu Senja membentak. 

Mike terlalu kaget dengan bentakan Senja. Perlahan dia melepaskan pelukannya. Angin pantai disore hari menerpa tubuh mereka yang waktu itu berada dalam ketegangan. 

“Kita harus putus. Papa sakit dan minta aku menikahi pilihannya. Kamu penting, tapi papaku juga penting. Kamu penting, tapi agamaku juga penting. Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai tuhanku.” Akhirnya Mike bisa menjelaskan apa yang menjadi tujuannya bertemu dengan Senja sore itu. 

Kalimat-kalimat Mike telah merusak keindahan senja sore itu. Semburat merah langit terasa seperti api yang hendak menghanguskan. Cahaya yang mencilak terasa sangat menyilaukan sampai-sampai membuat Senja tidak ingin membuka mata sambil berharap bahwa ia hanya sedang bermimpi. 

“Tapi Mike… kita kan bisa cari cara lain.” Dengan susah payah Senja menanggapi kalimat Mike. Mike menggeleng penuh kegetiran. “Sulit. Tapi kita harus percaya kalau semua akan menjadi indah. Kamu lihat? Karena tahu hubungan kita, berbulan-bulan orang tua kita nggak saling bicara padahal mereka berempat sahabatan. Mereka kehilangan kebahagiaan dalam persahabatan mereka. Aku tahu betapa nggak enaknya kalau kita nggak saling bicara dengan orang-orang yang kita sayangi.” 


“Mike… kita bisa. Aku bisa pelan-pelan jelasin ke mereka kalau mereka nggak perlu takut kita menggadaikan keyakinan kita karena cinta. Aku bisa cari tips-tips terbaik untuk meluluhkan mereka dan aku bisa lakuin sebaik-baiknya.” Air mata Senja tak terbendung. Tangannya mengepal keras-keras sampai bergetar. Senja tak seindah senja biasanya, bahkan senja yang mereka lewati saat mereka bertengkar pun tidak pernah seburuk sore itu rasanya. 


“Mungkin hubungan kita harus seperti senja. Indah, penuh warna, bercahaya. Tapi saat matahari sudah benar-benar tenggelam, senja harus pergi. hubungan kita indah, menyenangkan, tapi pada akhirnya harus berakhir juga. Tidak peduli bumi berputar lebih cepat atau lebih lama, pada akhirnya matahari harus tenggelam juga,” ucap Mike sambil berusaha tegar. Dia tahu, kalimat indahnya telah merusak senja mereka. 


“Tapi ingatlah, bahwa senja yang pergi akan meninggalkan kesan yang indah. Dan matahari yang tenggelam akan digantikan dengan bulan atau bintang yang indah,” lanjut Mike. Mati-matian ia menarik bibirnya untuk membentuk senyuman. Tangannya bergetar mengelus rambut Senja. 


“Mike, kamu…” belum selesai Senja bicara, Mike sudah tahu kemana arah pembicaraan Senja. Jadi Mike memotongnya dengan cepat. 


“Maafin aku udah ngerusak senja kita.” Dengan penuh rasa penyesalan dan bersalah Mike mengucapkannya. 


Senja sudah tidak tahu harus mengeluarkan kalimat pencegahan macam apa lagi. Semua kalimat yang berkeliaran di kepalanya terasa tidak akan mampu mematahkan apa yang Mike bilang kala itu. Senja hanya mampu menangis dan terus menangis. Sambil terus mencoba menerima keputusan Mike. 

Setelah membiarkan Senja menangis sesenggukan, Mike mengajak Senja pulang tapi Senja tidak mau. Jadi Mike pergi duluan. Sementara Senja tetap di pantai. 

Perlahan kakinya mulai bergerak. Yang kanan maju lebih dulu lalu disusul kaki sebelah kirinya. Semakin lama mengayunkan kaki, semakin tinggi kecepatannya. Sore itu menjadi pertama kalinya Senja berlari sendiran tanpa Mike. Sore itu Senja berlari bukan karena bahagia atau pun kesal tapi karena perih di hatinya. Dan baru di sore itu Senja mampu berlari sangat jauh, tiga kali lipat lebih jauh dari biasanya. 


“Mike…!” tiba-tiba sebuah suara membuka selimut memori Senja dan Mike. Seorang perempuan dengan gaun pengantin warna putih melambai-lambaikan tangannya dari tempat perayaan pernikahan. 


“Iya, sebentar lagi Jesicca!” sahut Mike sambil balas melambaikan tangan pada perempuan yang telah sah menjadi isternya sejak di gereja tadi pagi. Jesicca pun hanya mengangguk lalu pergi, menunggu Mike di tempatnya. 


“Sekarang kebahagiaan itu ada. Orang tua kita bisa tertawa bareng lagi. Dan keindahan itu nyata,” ucap Senja sambil menunjuk tempat perayaan pernikahan dengan gerakan dagunya. 


Mike tersenyum tipis menanggapi ucapan Senja. Dalam hatinya dia merasa sakit. Sama sekali bukan keindahan yang sempurna bagi Mike. Konsep pernikahannya memang sesuai dengan keinginannya, tapi tanpa Senja, keindahan itu tidak dapat dirasakan dengan hatinya. 


“Kita lomba lari?” ajak Mike. 


“Kamu gila? Kamu bisa keringetan dan make up ulang nanti. Dan aku? Kamu pikir enak lari pakai high heels begini?” 


“Ayolah, sedikit aja. Buat ngerayain kebahagian dan keindahan ini.” 

Senja tampak berpikir sejenak. “Satu…dua…tiga!” Mike mencuri start dengan lari duluan. 

“Eh curang!” teriak Senja seraya buru-buru melepaskan high heels-nya dan kemudian ikutan berlari. Pasir putih yang halus mulai menempel di kaki Senja. Lembut pasir itu masih sama, tapi rasanya tidak sebahagia biasanya. 


Saat Senja berada hanya satu meter di belakang Mike, Mike meraih tangan Senja. “Ayo cepeeeeet!” 

Senja melirik tangannya yang kini terasa begitu hangat. Genggaman Mike begitu erat, seerat perih yang menyelemuti tiap sisi hatinya. Rasanya Senja tidak ingin melepaskan genggaman itu meski perih. Matahari telah tenggelam. Maka senja harus pergi. Tapi harus meninggalkan kesan yang indah. 

“Sejak kapan kamu boleh ngalahin lariku?” protes Senja sambil terus menikmati genggaman Mike untuk yang terakhir kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar