Kamis, 25 Desember 2014

Bersama Jingga - Part 1

Bersama Jingga
Ada sangat banyak manusia yang kita temui di dunia ini. Tapi hanya satu yang benar-benar kita butuh dan inginkan kehadirannya. Yaitu dia yang jika kita bersamanya, kita akan merasa jadi lebih baik.

Lima tahun sudah Haris di sini. Di sebuah kota yang menjadi jantung negara. Sebuah kota dengan segenap kepelikan tapi sekaligus kemewahan yang ditawarkan. Jakarta. Sejak kejadian sore itu Haris memutuskan untuk meninggalkan Yogyakarta, tempat ia lahir, tumbuh, dan berkembang. Selain untuk kuliah, Haris juga memutuskan untuk tinggal bersama ibunya di Jakarta, meninggalkan bapak dengan keluarga barunya.
Menyelesaikan S1 dengan program kejar target, yaitu hanya 3,5 tahun, membuat Haris sekarang sudah bekerja sambil melanjutkan S2 selama 1,5 tahun di sebuah perusahaan besar. Dan karena kecakapannnya dalam bekerja, sekarang Haris sudah naik pangkat menjadi kepala bagian divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia di kantornya. Sekarang Haris sudah bisa membiayai hidupnya dan juga ibu dengan uangnya sendiri.
Di tahun pertamanya tinggal di Jakarta, Haris sempat ingin sekali kembali lagi ke Yogya. Baginya Jakarta terlalu kejam. Dia hampir merasa sakit setiap harinya. Banyak sekali orang-orang berbahaya di sekitarnya. Tapi dia kemudian bangkit dan terus bertahan di Jakarta karena teringat kalimat-kalimat seorang perempuan, seorang perempuan yang dulu sangat disayanginya.

“Haris, ayo cepat turun, ibu sudah lapar dan kamu bisa terlambat kalau terlalu lama dandan begitu…” teriak ibu dari lantai satu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan mereka harus segera sarapan kalau tidak mau terjebak macetnya Jakarta yang menggila.
“Iya bu…” sahut Haris. Klek, sebuah jam tangan alumunium melingkar di pergelangan tangan kanan Haris. Tas selempang warna hitam dijinjingnya lalu bergegas keluar kamar.
Aroma sop iga dan keripik kentang buatan ibu segera menyesaki indera penciuman Haris begitu ia tiba di meja makan. Ia mengambil tempat tepat di hadapan ibu. Dengan senyum hangat, ibu menyapanya.
“Kamu tuh kalau nggak ibu panggil, pasti masih asik dandan di kamar.”
“Ih ibu sok tahu… Haris sih nggak perlu dandan lama-lama juga udah keren.” Haris menyendoki nasi ke piring ibu dan kemudian ke piringnya sendiri.
“Mana buktinya? Orang keren itu harusnya sudah laku. Lah kamu? Ibu bingung, kamu sampai sudah mapan begini masih saja sendiri.” Giliran ibu yang menyendokan sop iga ke mangkuknya dan kemudian ke mangkuk Haris.
“Siapa bilang? Nih, aku berdua sama ibu.” Haris mulai menyendokan suapan pertamanya. Segarnya kuah sop iga buatan ibu segera menggelitik lidah Haris, membuat Haris ingin cepat-cepat mendapatkan suapan keduanya.
“Kamu ini nggak pernah bisa serius kalau sudah bicara pasangan.”
“Nanti kalau aku tiba-tiba serius, ibu bisa kaget hahaha. Sudah bu, ayo cepat dimakan sopnya. Kalau nggak mau, Haris siap habisin porsi ibu.”
“Wooo kamu ini… ibu yang ribet masak, kamu yang habisin.”
“Hahahaha… makanya ayo cepat dimakan!”
Begini pagi-pagi Haris di Jakarta. Pukul setengah enam dia sarapan bersama ibu lalu jam enam kurang lima belas dia sudah harus berangkat ke kantor kalau ingin sampai di kantor lima belas menit sebelum jam kerja. Jakarta memang paling gila kalau soal macet, jadi kalau tidak ingin jadwalnya rusak, dia harus bergerak lebih cepat.

Seperti cantiknya jingga diwaktu senja, aku hanya mampu hadir sebentar. Kamu mungkin akan kesal karena indahnya hanya sebentar. Ah, kamu harus sadar bahwa tidak ada keindahan yang kekal. Kita bahkan perlu tahu bagaimana buruk jika kita ingin tahu bagaimana indah.
Desember 2010
Bel tanda selesainya jam istirahat berbunyi. Membuat Jingga terpaksa mengangkat kepala dari meja perpustakaan. Sebenarnya dia malas sekali beranjak dari ruangan ini. Setelah bel barusan, kelasnya akan kedapatan pelajaran biologi, pelajaran yang tidak disukainya. Kalau bukan karena permintaan orang tuanya untuk belajar yang benar, dia tidak akan takut untuk membolos tiap kali ada pelajaran biologi.
Setelah susah payah memotivasi dirinya sendiri, akhirnya Jingga mampu juga menyeret diri ke kelasnya. Beruntung, pak Marlo belum terlihat di kelas jadi dia belum terhitung terlambat sampai di kelas padahal sudah sepuluh menit lewat dari bunyi bel tadi.
“Tumben pak Marlo telat masuk kelas?” tanya Jingga seraya duduk di kursinya.
“Menurut kamu seorang pak Marlo akan terlambat mengajar?”
“Ya nggak lah… makanya gue bilang tumben.” Tinggal di Yogya selama sebulan belum cukup membuat Jingga melupakan gaya bicaranya di Jakarta. Sebagai murid pindahan dari Jakarta, teman-temannya maklum dengan dengan gaya bicara Jingga.
“Siang ini guru-guru ada rapat. Sampai jam sebelas nanti katanya. Makanya pak Marlo jam segini belum masuk kelas,” jelas Diayu, teman semeja Jingga.
“Huaaaah emang rejeki gue…” ucap Jingga santai sambil mengulet. Dia senang sekali terbebas dari jam pelajaran biologi.
“Menurut kamu seorang pak Marlo akan rela meninggalkan jam pelajaran tanpa tugas?” Ah, ternyata Jingga salah. Ada atau tidak ada pak Marlo, dia tidak bisa benar-benar terlepas dari  pelajaran biologi.
“Ck… nggak mau rugi banget sih dia!” keluh Jingga sambil terpaksa mengeluarkan buku tulis dan paket biologinya. “Halaman berapa tugasnya?”
“Bukan dari buku. Kita dibuatkan kelompok sama pak Marlo dan setiap kelompok mendapat tugasnya masing-masing.”
“Ah… ribet! Gue kelompok berapa?”
“Kamu kelompok empat, bareng sama Niko dan Haris,” jawab Diayu sambil menunjuk ke arah belakang. Jingga menoleh dan segera mendapati kedua teman sekelompoknya. Niko sudah tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya saat Jingga menoleh. Sementara Haris, dia tidak memberi respon apa-apa. Hanya sekali lirik, kemudian Haris sibuk sendiri menulis di kertas polio bergaris di tangannya.
Dengan malas, Jingga pun beranjak dari kursinya untuk menghampiri Niko dan Haris.
“Okay, apa tugas kita?” tanya Jingga.
“Gambar detail paru-paru terus tulis esai sebanyak-banyaknya tentang paru-paru,” jawab Niko dengan penuh semangat. Sejak pertama kali Jingga masuk kelas ini, Niko memang mengincar Jingga. Tapi Jingga sama sekali tidak berminat untuk tertarik sedikit pun pada Niko. Selain sok ganteng, yang Jingga dengar, Niko itu playboy. Makanya sejak pertama kali, Jingga sudah ilfeel duluan pada Niko.
“Ah kenapa ribet banget sih… pak Marlo itu hobi ya membatasi kebahagiaan muridnya?” gerutu Jingga.
“Tenang Jingga, ada Niko. Walau pun nggak terlalu jago, Niko bisa kok gambar paru-paru. Nah nanti untuk esainya, kan ada Haris… iya kan, Ris?” Niko menyenggol siku Haris dengan gaya sok asik. Tapi yang disenggol cuma manggut lalu mulai tenggelam ke dalam buku paket biologinya.
“Terus gue?” tanya Jingga sambil berharap Niko akan menyuruhnya untuk santai-santai.
“Kamu santai-santai aja.”
“Yeay! Dengan senang hati! hahaha....” Jingga yakin, teman-temannya pasti iri padanya karena bisa satu kelompok dengan dua manusia aneh ini.
Niko sibuk menggambar paru-paru beserta detail-detail bagiannya. Haris sibuk merangkum semua informasi tentang organ paru-paru kemudian diimplementasikannya ke dalam esai di polio. Dan Jingga asik BBM-an dengan teman-temannya di Jakarta.
Ini adalah pertama kalinya Jingga berada dekat dengan Haris. Dari sini cerita ini dimulai.
Haris adalah seorang murid laki-laki dengan kulit kecoklatan, tubuh ideal, dan wajah manis khas orang jawa. Di kelas, dia termasuk murid yang pendiam tapi tetap banyak teman yang mau mengajaknya ngobrol. Di sekolah, dia lumayan menjadi idola karena wajahnya yang terbilang ganteng dan prestasinya di bidang akademik yang segudang.

            Bagi murid kelas dua belas yang sudah mulai disibukan dengan kegiatan PM (Pendalaman Materi) dan segudang kesibukan lainnya menuju Ujian Nasional, pelajaran olah raga adalah pelajaran yang paling ditunggu-tunggu. Pelajaran ini menjadi primadona karena lewat pelajaran ini murid-murid jadi bisa menyegarkan pikiran. Lewat pelajaran ini mereka bisa sedikit bermain-main di lapangan, tidak melulu di kelas sambil serius memandangi papan tulis. Semua murid kelas dua belas suka pelajaran olah raga, kecuali satu: Haris.
            Jingga mendapati Haris sedang duduk di pinggir lapangan. Bu Anit sudah menyelesaikan pelajaran olah raga padahal masih ada waktu setengah jam lagi. Sebagian murid sudah jajan di kantin dan sebagiannya lagi masih asik di lapangan, menghabiskan sisa tiga puluh menit mereka dengan bermain basket.
            Kali ini tim putri melawan tim putra. Jingga suka sekali bermain basket, jadi dia menunjuk diri untuk menjadi kapten tim putri. Sementara tim putra dikapteni oleh Niko yang berisik memaksa ingin menjadi kapten karena Jingga juga menjadi kapten.
            Tiba-tiba formasi dari setiap tim bubar dan berubah jadi mengerubungi Niko yang baru saja terjatuh dan dengkulnya beradu dengan aspal. Mita yang kebetulan saat itu sedang merebut bola di tangan Niko jadi merasa bersalah karena berkat cegatannya, Niko jadi terjatuh begini. Dan Niko membuat Jingga semakin ilfeel padanya karena terus-terusan merengek kesakitan. Iya sih, Jingga tahu luka di dengkul memang sakit tapi Niko kan laki-laki, tidak seharusnya Niko secengeng itu.
            Akhirnya tim putra kekurangan satu pemain. Yuda, kapten baru tim putra tidak mau bermain timpang. Dia mau kedua team berjumlah utuh.
            “Aha! Tuh ada Haris, ajak aja!” seru Jingga dengan wajah berseri-seri seakan baru memberi solusi terbaik bagi tim putra.
            “Mana mau dia ikutan? Kalau ikut olimpiade matematika, fisika, kimia, atau biologi sih aku yakin dia mau. Tapi kalau sparing basket, aku nggak yakin,” kata Mita pesimis. Semua yang pernah satu kelas dengan Haris pasti tahu kalau Haris paling tidak ahli di pelajaran olah raga. Nilainya untuk pelajaran olah raga selalu nilai standar minimal. Itu juga karena guru-guru tidak tega merusak keindahan angka 90-an yang bertengger dimata pelajaran lainnya.
            “Mau… udah coba dulu sana ajak! Dari pada pertandingan nggak mulai-mulai, waktu kita tinggal lima belas menit loh… sayang banget kalo dilewatin sia-sia begini,” sahut Jingga.
            “Yaudah, kamu aja sana yang ajak!”
            “Kok gue? Ya anak-anak cowoknya lah.”
            “Pasti nggak mau deh si Haris….”
            “Ah kalian payah, belum juga coba ajak dia!” Jingga mulai melangkah menuju Haris yang sekarang tampak beranjak dari duduknya.
            “Haris!” panggil Jingga untuk mencegah Haris pergi sebelum ia sampai di hadapannya. Haris menoleh. “Ikutan sparing yuk! Tim putra kurang satu pemain. Yuda nggak mau mulai permainan kalo timnya timpang.”
            Haris mengerutkan dahi, ragu dengan apa yang didengarnya. Baginya, diajak bermain basket adalah semacam keajaiban. Kalau ajakan untuk satu kelompok pelajaran, Haris yakin itu benar-benar keinginan teman-temannya. Tapi kalau satu tim olah raga, apalagi basket, Haris ragu. Bahkan ketika kekurangan orang, mungkin mereka akan lebih memilih untuk menyudahi permainan dari pada harus satu tim dengannya.
            “Udah nggak usah kebanyakan mikir! Ayok!” Jingga menggandeng tangan Haris dengan santai menuju teman-temannya.
            “Tapi aku…” Haris benar-benar ragu dengan kemampuannya sekaligus kemauan teman-temannya untuk satu tim dengannya.
            Akhirnya dengan terpaksa Haris pun ikut bermain basket kali ini. Meski dengan keraguan Haris yang besar dan keterpaksaan tim putra untuk menerimanya, permainan tetap berjalan.
            Haris benar-benar payah. Dia selalu kehilangan bolanya. Baru sebenatar dapat bola, sudah direbut lagi oleh lawannya. Sekalinya ia dapat kesempatan untuk menggiring bola sampai ke depan ring, bolanya tidak sampai masuk ke dalam ring. Dan akhirnya tim putrilah yang menang dalam permainan kali ini.

            Pulang sekolah Haris izin meminjam bola basket dari gudang olah raga. Tadi bu Anit bilang, minggu depan adalah pelajaran olah raga terakhir bagi kelas dua belas karena mulai semester genap kelas dua belas hanya akan belajar pelajaran yang diujikan saat UN nanti. Jadi minggu depan bu Anit akan mengambil nilai untuk ujian praktik olah raga.
            Haris sudah terbiasa mendapat nilai bagus dalam banyak pelajaran. Tapi khusus pelajaran olah raga, Haris belum pernah. Dikesempatan terakhirnya, dia ingin sekali mendapat nilai yang bagus dalam pelajaran olah raga. Sebagai laki-laki dia merasa malu karena payah dalam pelajaran olah raga. Jadi dia memutuskan untuk berlatih selama seminggu ini.
            Lapangan sudah sepi. Haris juga sudah selesai pemanasan. Dia mulai men-dribble bola basket di tangannya. Tapi sayang, hanya dua ketukan saja yang dia dapat dari dribble-an itu. Dia mencoba lagi tapi tetap dua ketukan yang dia bisa. Dia mencoba lagi, lagi, dan lagi. Sampai akhirnnya dia berhasil memiliki tiga ketukan.
            “Huaaaah!” Haris membuang napas panjang. Meski malu mengakuinya, dia senang sekali berhasil memiliki tiga ketukan dari dribble-annya.
            “Pantesan cuma dapet tiga ketukan. Cara megang bolanya aja lo salah!”
            Haris tersentak mendengar sebuah suara dari arah belakang. Saat dia menoleh, dia mendapati Jingga sedang menaruh tas di pinggir lapangan dan kemudian berjalan menghampirinya.
            “Sini!” Jingga menjulurkan telapak tangannya, menanti bola dari Haris. Haris tersenyum canggung sambil menahan malu. Bola itu dilemparkan pelan kepada Jingga dan Jingga menerimanya dengan santai.
            “Begini, lo seharusnya pegang bolanya begini!” Sekarang Jingga sudah berada tepat di hadapan Haris. “Pegang bolanya seolah-olah nempel sama tangan lo.” Jingga memulai tutorialnya dan Haris memerhatikan dengan saksama.
            “Terus cari dribble-nya begini.” Haris manggut-manggut, paham dengan tutorial yang diberikan Jingga. “Paham?”
            “Ya!”
            “Okay, sekarang lo coba!” Jingga melempar bola basket pada Haris namun Haris kepayahan menerimanya.
            Saat bola basket sudah di tangannya, Haris mulai mencoba memegang bola sesuai tutorial Jingga.  
            “Eh salah… telapaknya rileks aja.”
            Sore ini menjadi awal kedekatan Jingga dan Haris. Sore ini Jingga sudah dengan tidak sengaja mengetuk pintu kehidupan Haris. Dan Haris, sore ini untuk pertama kalinya dia mempersilahkan seorang perempuan benar-benar masuk ke dalam dunianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar