Bersama Jingga
Ada
sangat banyak manusia yang kita temui di dunia ini. Tapi hanya satu yang
benar-benar kita butuh dan inginkan kehadirannya. Yaitu dia yang jika kita
bersamanya, kita akan merasa jadi lebih baik.
Lima
tahun sudah Haris di sini. Di sebuah kota yang menjadi jantung negara. Sebuah kota
dengan segenap kepelikan tapi sekaligus kemewahan yang ditawarkan. Jakarta.
Sejak kejadian sore itu Haris memutuskan untuk meninggalkan Yogyakarta, tempat
ia lahir, tumbuh, dan berkembang. Selain untuk kuliah, Haris juga memutuskan
untuk tinggal bersama ibunya di Jakarta, meninggalkan bapak dengan keluarga
barunya.
Menyelesaikan
S1 dengan program kejar target, yaitu hanya 3,5 tahun, membuat Haris sekarang
sudah bekerja sambil melanjutkan S2 selama 1,5 tahun di sebuah perusahaan
besar. Dan karena kecakapannnya dalam bekerja, sekarang Haris sudah naik
pangkat menjadi kepala bagian divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia di
kantornya. Sekarang Haris sudah bisa membiayai hidupnya dan juga ibu dengan
uangnya sendiri.
Di
tahun pertamanya tinggal di Jakarta, Haris sempat ingin sekali kembali lagi ke
Yogya. Baginya Jakarta terlalu kejam. Dia hampir merasa sakit setiap harinya.
Banyak sekali orang-orang berbahaya di sekitarnya. Tapi dia kemudian bangkit
dan terus bertahan di Jakarta karena teringat kalimat-kalimat seorang perempuan,
seorang perempuan yang dulu sangat disayanginya.
“Haris, ayo cepat turun, ibu sudah lapar dan kamu bisa terlambat kalau terlalu lama dandan begitu…” teriak ibu dari lantai satu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi dan mereka harus segera sarapan kalau tidak mau terjebak macetnya Jakarta yang menggila.
“Iya
bu…” sahut Haris. Klek, sebuah jam
tangan alumunium melingkar di pergelangan tangan kanan Haris. Tas selempang
warna hitam dijinjingnya lalu bergegas keluar kamar.
Aroma
sop iga dan keripik kentang buatan ibu segera menyesaki indera penciuman Haris
begitu ia tiba di meja makan. Ia mengambil tempat tepat di hadapan ibu. Dengan
senyum hangat, ibu menyapanya.
“Kamu
tuh kalau nggak ibu panggil, pasti masih asik dandan di kamar.”
“Ih
ibu sok tahu… Haris sih nggak perlu dandan lama-lama juga udah keren.” Haris
menyendoki nasi ke piring ibu dan kemudian ke piringnya sendiri.
“Mana
buktinya? Orang keren itu harusnya sudah laku. Lah kamu? Ibu bingung, kamu
sampai sudah mapan begini masih saja sendiri.” Giliran ibu yang menyendokan sop
iga ke mangkuknya dan kemudian ke mangkuk Haris.
“Siapa
bilang? Nih, aku berdua sama ibu.” Haris mulai menyendokan suapan pertamanya.
Segarnya kuah sop iga buatan ibu segera menggelitik lidah Haris, membuat Haris
ingin cepat-cepat mendapatkan suapan keduanya.
“Kamu
ini nggak pernah bisa serius kalau sudah bicara pasangan.”
“Nanti
kalau aku tiba-tiba serius, ibu bisa kaget hahaha. Sudah bu, ayo cepat dimakan
sopnya. Kalau nggak mau, Haris siap habisin porsi ibu.”
“Wooo
kamu ini… ibu yang ribet masak, kamu yang habisin.”
“Hahahaha…
makanya ayo cepat dimakan!”
Begini
pagi-pagi Haris di Jakarta. Pukul setengah enam dia sarapan bersama ibu lalu
jam enam kurang lima belas dia sudah harus berangkat ke kantor kalau ingin
sampai di kantor lima belas menit sebelum jam kerja. Jakarta memang paling gila
kalau soal macet, jadi kalau tidak ingin jadwalnya rusak, dia harus bergerak
lebih cepat.
Desember 2010
Bel
tanda selesainya jam istirahat berbunyi. Membuat Jingga terpaksa mengangkat
kepala dari meja perpustakaan. Sebenarnya dia malas sekali beranjak dari
ruangan ini. Setelah bel barusan, kelasnya akan kedapatan pelajaran biologi,
pelajaran yang tidak disukainya. Kalau bukan karena permintaan orang tuanya
untuk belajar yang benar, dia tidak akan takut untuk membolos tiap kali ada
pelajaran biologi.
Setelah
susah payah memotivasi dirinya sendiri, akhirnya Jingga mampu juga menyeret
diri ke kelasnya. Beruntung, pak Marlo belum terlihat di kelas jadi dia belum
terhitung terlambat sampai di kelas padahal sudah sepuluh menit lewat dari
bunyi bel tadi.
“Tumben
pak Marlo telat masuk kelas?” tanya Jingga seraya duduk di kursinya.
“Menurut
kamu seorang pak Marlo akan terlambat mengajar?”
“Ya
nggak lah… makanya gue bilang tumben.” Tinggal di Yogya selama sebulan belum
cukup membuat Jingga melupakan gaya bicaranya di Jakarta. Sebagai murid
pindahan dari Jakarta, teman-temannya maklum dengan dengan gaya bicara Jingga.
“Siang
ini guru-guru ada rapat. Sampai jam sebelas nanti katanya. Makanya pak Marlo
jam segini belum masuk kelas,” jelas Diayu, teman semeja Jingga.
“Huaaaah
emang rejeki gue…” ucap Jingga santai sambil mengulet. Dia senang sekali
terbebas dari jam pelajaran biologi.
“Menurut
kamu seorang pak Marlo akan rela meninggalkan jam pelajaran tanpa tugas?” Ah,
ternyata Jingga salah. Ada atau tidak ada pak Marlo, dia tidak bisa benar-benar
terlepas dari pelajaran biologi.
“Ck…
nggak mau rugi banget sih dia!” keluh Jingga sambil terpaksa mengeluarkan buku
tulis dan paket biologinya. “Halaman berapa tugasnya?”
“Bukan
dari buku. Kita dibuatkan kelompok sama pak Marlo dan setiap kelompok mendapat
tugasnya masing-masing.”
“Ah…
ribet! Gue kelompok berapa?”
“Kamu
kelompok empat, bareng sama Niko dan Haris,” jawab Diayu sambil menunjuk ke arah
belakang. Jingga menoleh dan segera mendapati kedua teman sekelompoknya. Niko
sudah tersenyum lebar sambil melambai-lambaikan tangannya saat Jingga menoleh.
Sementara Haris, dia tidak memberi respon apa-apa. Hanya sekali lirik, kemudian
Haris sibuk sendiri menulis di kertas polio bergaris di tangannya.
Dengan
malas, Jingga pun beranjak dari kursinya untuk menghampiri Niko dan Haris.
“Okay,
apa tugas kita?” tanya Jingga.
“Gambar
detail paru-paru terus tulis esai sebanyak-banyaknya tentang paru-paru,” jawab
Niko dengan penuh semangat. Sejak pertama kali Jingga masuk kelas ini, Niko
memang mengincar Jingga. Tapi Jingga sama sekali tidak berminat untuk tertarik
sedikit pun pada Niko. Selain sok ganteng, yang Jingga dengar, Niko itu
playboy. Makanya sejak pertama kali, Jingga sudah ilfeel duluan pada Niko.
“Ah
kenapa ribet banget sih… pak Marlo itu hobi ya membatasi kebahagiaan muridnya?”
gerutu Jingga.
“Tenang
Jingga, ada Niko. Walau pun nggak terlalu jago, Niko bisa kok gambar paru-paru.
Nah nanti untuk esainya, kan ada Haris… iya kan, Ris?” Niko menyenggol siku
Haris dengan gaya sok asik. Tapi yang disenggol cuma manggut lalu mulai
tenggelam ke dalam buku paket biologinya.
“Terus
gue?” tanya Jingga sambil berharap Niko akan menyuruhnya untuk santai-santai.
“Kamu
santai-santai aja.”
“Yeay!
Dengan senang hati! hahaha....” Jingga yakin, teman-temannya pasti iri padanya
karena bisa satu kelompok dengan dua manusia aneh ini.
Niko
sibuk menggambar paru-paru beserta detail-detail bagiannya. Haris sibuk
merangkum semua informasi tentang organ paru-paru kemudian diimplementasikannya
ke dalam esai di polio. Dan Jingga asik BBM-an dengan teman-temannya di Jakarta.
Ini
adalah pertama kalinya Jingga berada dekat dengan Haris. Dari sini cerita ini
dimulai.
Haris
adalah seorang murid laki-laki dengan kulit kecoklatan, tubuh ideal, dan wajah
manis khas orang jawa. Di kelas, dia termasuk murid yang pendiam tapi tetap
banyak teman yang mau mengajaknya ngobrol. Di sekolah, dia lumayan menjadi
idola karena wajahnya yang terbilang ganteng dan prestasinya di bidang akademik
yang segudang.
Bagi murid kelas dua belas yang
sudah mulai disibukan dengan kegiatan PM (Pendalaman Materi) dan segudang
kesibukan lainnya menuju Ujian Nasional, pelajaran olah raga adalah pelajaran
yang paling ditunggu-tunggu. Pelajaran ini menjadi primadona karena lewat
pelajaran ini murid-murid jadi bisa menyegarkan pikiran. Lewat pelajaran ini
mereka bisa sedikit bermain-main di lapangan, tidak melulu di kelas sambil
serius memandangi papan tulis. Semua murid kelas dua belas suka pelajaran olah
raga, kecuali satu: Haris.
Jingga mendapati Haris sedang duduk
di pinggir lapangan. Bu Anit sudah menyelesaikan pelajaran olah raga padahal
masih ada waktu setengah jam lagi. Sebagian murid sudah jajan di kantin dan
sebagiannya lagi masih asik di lapangan, menghabiskan sisa tiga puluh menit mereka
dengan bermain basket.
Kali ini tim putri melawan tim
putra. Jingga suka sekali bermain basket, jadi dia menunjuk diri untuk menjadi
kapten tim putri. Sementara tim putra dikapteni oleh Niko yang berisik memaksa
ingin menjadi kapten karena Jingga juga menjadi kapten.
Tiba-tiba formasi dari setiap tim
bubar dan berubah jadi mengerubungi Niko yang baru saja terjatuh dan dengkulnya
beradu dengan aspal. Mita yang kebetulan saat itu sedang merebut bola di tangan
Niko jadi merasa bersalah karena berkat cegatannya,
Niko jadi terjatuh begini. Dan Niko membuat Jingga semakin ilfeel padanya karena terus-terusan merengek kesakitan. Iya sih,
Jingga tahu luka di dengkul memang sakit tapi Niko kan laki-laki, tidak
seharusnya Niko secengeng itu.
Akhirnya tim putra kekurangan satu
pemain. Yuda, kapten baru tim putra tidak mau bermain timpang. Dia mau kedua
team berjumlah utuh.
“Aha! Tuh ada Haris, ajak aja!” seru
Jingga dengan wajah berseri-seri seakan baru memberi solusi terbaik bagi tim
putra.
“Mana mau dia ikutan? Kalau ikut
olimpiade matematika, fisika, kimia, atau biologi sih aku yakin dia mau. Tapi
kalau sparing basket, aku nggak yakin,” kata Mita pesimis. Semua yang pernah
satu kelas dengan Haris pasti tahu kalau Haris paling tidak ahli di pelajaran
olah raga. Nilainya untuk pelajaran olah raga selalu nilai standar minimal. Itu
juga karena guru-guru tidak tega merusak keindahan angka 90-an yang bertengger dimata
pelajaran lainnya.
“Mau… udah coba dulu sana ajak! Dari
pada pertandingan nggak mulai-mulai, waktu kita tinggal lima belas menit loh…
sayang banget kalo dilewatin sia-sia begini,” sahut Jingga.
“Yaudah, kamu aja sana yang ajak!”
“Kok gue? Ya anak-anak cowoknya
lah.”
“Pasti nggak mau deh si Haris….”
“Ah kalian payah, belum juga coba
ajak dia!” Jingga mulai melangkah menuju Haris yang sekarang tampak beranjak
dari duduknya.
“Haris!” panggil Jingga untuk
mencegah Haris pergi sebelum ia sampai di hadapannya. Haris menoleh. “Ikutan
sparing yuk! Tim putra kurang satu pemain. Yuda nggak mau mulai permainan kalo
timnya timpang.”
Haris mengerutkan dahi, ragu dengan
apa yang didengarnya. Baginya, diajak bermain basket adalah semacam keajaiban.
Kalau ajakan untuk satu kelompok pelajaran, Haris yakin itu benar-benar
keinginan teman-temannya. Tapi kalau satu tim olah raga, apalagi basket, Haris
ragu. Bahkan ketika kekurangan orang, mungkin mereka akan lebih memilih untuk
menyudahi permainan dari pada harus satu tim dengannya.
“Udah nggak usah kebanyakan mikir!
Ayok!” Jingga menggandeng tangan Haris dengan santai menuju teman-temannya.
“Tapi aku…” Haris benar-benar ragu
dengan kemampuannya sekaligus kemauan teman-temannya untuk satu tim dengannya.
Akhirnya dengan terpaksa Haris pun
ikut bermain basket kali ini. Meski dengan keraguan Haris yang besar dan
keterpaksaan tim putra untuk menerimanya, permainan tetap berjalan.
Haris benar-benar payah. Dia selalu
kehilangan bolanya. Baru sebenatar dapat bola, sudah direbut lagi oleh
lawannya. Sekalinya ia dapat kesempatan untuk menggiring bola sampai ke depan ring,
bolanya tidak sampai masuk ke dalam ring. Dan akhirnya tim putrilah yang menang
dalam permainan kali ini.
Pulang sekolah Haris izin meminjam
bola basket dari gudang olah raga. Tadi bu Anit bilang, minggu depan adalah
pelajaran olah raga terakhir bagi kelas dua belas karena mulai semester genap
kelas dua belas hanya akan belajar pelajaran yang diujikan saat UN nanti. Jadi
minggu depan bu Anit akan mengambil nilai untuk ujian praktik olah raga.
Haris sudah terbiasa mendapat nilai
bagus dalam banyak pelajaran. Tapi khusus pelajaran olah raga, Haris belum
pernah. Dikesempatan terakhirnya, dia ingin sekali mendapat nilai yang bagus
dalam pelajaran olah raga. Sebagai laki-laki dia merasa malu karena payah dalam
pelajaran olah raga. Jadi dia memutuskan untuk berlatih selama seminggu ini.
Lapangan sudah sepi. Haris juga
sudah selesai pemanasan. Dia mulai men-dribble bola basket di tangannya. Tapi
sayang, hanya dua ketukan saja yang dia dapat dari dribble-an itu. Dia mencoba
lagi tapi tetap dua ketukan yang dia bisa. Dia mencoba lagi, lagi, dan lagi. Sampai
akhirnnya dia berhasil memiliki tiga ketukan.
“Huaaaah!” Haris membuang napas
panjang. Meski malu mengakuinya, dia senang sekali berhasil memiliki tiga
ketukan dari dribble-annya.
“Pantesan cuma dapet tiga ketukan.
Cara megang bolanya aja lo salah!”
Haris tersentak mendengar sebuah
suara dari arah belakang. Saat dia menoleh, dia mendapati Jingga sedang menaruh
tas di pinggir lapangan dan kemudian berjalan menghampirinya.
“Sini!” Jingga menjulurkan telapak
tangannya, menanti bola dari Haris. Haris tersenyum canggung sambil menahan
malu. Bola itu dilemparkan pelan kepada Jingga dan Jingga menerimanya dengan
santai.
“Begini, lo seharusnya pegang
bolanya begini!” Sekarang Jingga sudah berada tepat di hadapan Haris. “Pegang
bolanya seolah-olah nempel sama tangan lo.” Jingga memulai tutorialnya dan
Haris memerhatikan dengan saksama.
“Terus cari dribble-nya begini.”
Haris manggut-manggut, paham dengan tutorial yang diberikan Jingga. “Paham?”
“Ya!”
“Okay, sekarang lo coba!” Jingga
melempar bola basket pada Haris namun Haris kepayahan menerimanya.
Saat bola basket sudah di tangannya,
Haris mulai mencoba memegang bola sesuai tutorial Jingga.
“Eh salah… telapaknya rileks aja.”
Sore ini menjadi awal kedekatan
Jingga dan Haris. Sore ini Jingga sudah dengan tidak sengaja mengetuk pintu
kehidupan Haris. Dan Haris, sore ini untuk pertama kalinya dia mempersilahkan
seorang perempuan benar-benar masuk ke dalam dunianya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar