Aku
terpaksa mengalihkan pandanganku dari layar handphone saat Satria berteriak
memanggilku untuk yang ketiga kalinya. Barusan aku sedang menghitung hari di
kalender handphoneku. Aku menghitung sisa hari yang aku miliki untuk menuju
tanggal 16 April yang sudah kutandai. Sebenarnya tanpa perlu menghitung
berulang kali seperti tadi pun aku sudah tahu kalau tanggal itu akan tiba dalam
beberapa jam lagi saja. Entah aku harus senang atau sedih menyadari hari itu
akan segera tiba.
Aku.
Bisa jadi adalah manusia bodoh yang sudah tahu itu model percintaan kuno tapi
masih tetap saja terjebak di dalamnya. Aku sudah tahu menanti itu melelahkan
tapi aku tetap saja melakukannya. Aku sudah tahu betapa mencintai seseorang
yang tidak pernah berbicara denganku adalah sia-sia tapi aku tetap saja
melakukannya. Aku…
“Ayuna! Buruan!!!” ah, teriakan Satria lagi-lagi membuatku terpaksa mengalihkan fokusku dari hal-hal yang sedang aku lakukan. “Busnya udah mau jalan nih…” lanjut Satria dari dalam bus. Terlihat dia sudah dengan nyaman duduk di salah satu kursi di dekat pintu bus. Tangan kurus kecokelatannya berayun-ayun memanggilku.
Melihat
kerutan di kening Satria membuatku beranjak dari tempat aku berdiri dan
buru-buru masuk ke dalam bus.
Aku
dan beberapa orang temanku yang terpilih sebagai pasukan pembuka acara wisudaan
anak kelas dua belas sedang menuju Taman Mini, tempat acara wisudaan tersebut
diselenggarakan. Sepanjang perjalanan ada saja tingkah teman-temanku yang
menggelitik sehingga kami hampir tidak berhenti tertawa di dalam bus. Ya, aku
juga ikut tertawa tapi aku sejujurnya tidak sepenuhnya sedang tertawa. Ada
perasaan lain yang terus-terusan melintas di hatiku. Hanya melintas mirip
seperti angin yang berhembus, tidak menetap namun bolak-balik lewat.
Begitu
sampai di lokasi, kami segera mengecek tempat lalu memulai latihan untuk
mengadaptasikan formasi buatan kami dengan tempat yang tersedia. Beberapa kali kami
merubah gerakan karena tempat yang tersedia tidak sesuai dengan formasi yang
sudah kami buat. Beberapa perubahan inilah yang akhirnya membuat kami
membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk latihan dan akhirnya baru
selesai saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh.
Aku
mengedarkan pandanganku keseluruh sisi gedung yang berukuran sangat luas ini. Bangku-bangku
diatur berundak dan mengelilingi separuh bagian gedung persis seperti tataan
bangku bioskop. Besok akan ada beratus-ratus kakak kelasku di sini, menempati
bangku masing-masing sesuai nama yang sudah ditempel di sandaran bangku. Namun
dari beratus-ratus itu hanya satu yang paling ingin aku lihat. Dia, besok dia akan
mengenakan pakaian yang berbeda, bukan seragam sekolah putih abu-abu lagi.
Besok dia akan secara resmi menghapus title-nya
sebagai anak SMA. Artinya, besok adalah hari terakhirnya sebagai anak SMA.
Setelah itu dia akan sibuk dengan urusan perkuliahan. Lalu sekolah bertingkat
empat yang didominasi warna hijau itu tidak lagi menjadi tempat yang akan dia
datangi setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul setengah tujuh pagi sampai
pukul tiga sore.
Tanpa
berusaha mencegah kakiku perlahan namun pasti, mulai mengitari baris demi baris
bangku yang ada di dalam gedung ini. Satu per satu kubaca nama yang tertempel
di sana sambil terus melangkah menuju bangku berikutnya. Kakiku baru mau
berhenti saat akhirnya aku menemukan sebuah nama yang sudah sering sekali
kusebut di dalam hati dan doa-doaku. Fardhan Arrehan.
Aku
tersenyum menatap deretan huruf yang membentuk namanya itu. Pelan-pelan aku
menduduki bangku yang ditempeli namanya. Sesaat ingatan tentangnya hadir di
dalam benakku. Ingatan tentang saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sebuah
pertemuan biasa yang akhirnya malah menyinggahkan dia di tempat terdalam dan
luas di hatiku meski sama sekali dia tidak pernah mengeluarkan kalimatnya
untukku.
Ingatan demi ingatan terus memenuhi benakku
secara beruntut membuatku asik sendiri dengan diriku. Untuk beberapa saat aku
menjadi tidak peduli dengan keadaan di sekitarku. Aku bahkan tidak tahu apa
yang sedang teman-temanku lakukan usai latihan padahal mereka sedang berada di
dalam gedung ini juga.
“Ayunaaaa! Buset deh lo budek banget.
Siniiii!” teriak Imam, temanku yang asli betawi, sambil melemparkan sebuah
kertas ke arahku.
“Apaan sih?!” sahutku sedikit kesal. Kertas
yang dilempar Imam tadi berhasil membuyarkan ‘keasikanku’.
“Sini makan bareng,” jawab Imam sambil
mengambil sebungkus nasi padang dari dalam plastik kresek.
“Iya, iya sebentar.” Aku pun segera beranjak
dari bangku bertempelkan namanya.
“Ngapain sih di situ?”
“Duduk-duduk aja,” jawabku singkat.
Kemudian aku bergabung dengan teman-temanku
yang sedang duduk mengemper di bawah panggung sambil menikmati nasi padang yang
disediakan. Sesekali aku meliriki bangku tadi, menghapal letaknya baik-baik
agar besok aku bisa dengan mudah menemukannya diantara beratus-ratus kakak
kelasku.
Alarmku berbunyi. Sudah pukul empat pagi. Aku
pun segera mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Harapan-harapan indah yang
kutanam semalam sebelum tidur membuatku kehilangan rasa kantukku pagi ini. Aku
rela beraktivitas sepagi ini demi hari ini.
Pukul setengah enam pagi aku sudah tiba di
sekolah dengan pakaian bebas namun di dalam tasku sudah ada atribut-atribut
paskibra yang akan aku pakai saat tampil nanti.
Seperti kemarin, kendaraan yang dipakai untuk
sampai di lokasi wisuda adalah bus sewaan pihak sekolah. Keadaannya juga sama
seperti kemarin, teman-temanku dengan tingkah yang menggelitik membuat suasana
di dalam bus penuh dengan tawa. Aku juga seperti kemarin, ikutan tertawa
seperti yang lainnya dengan perasaan yang tidak benar-benar sedang tertawa.
Perasaan ini muncul lagi saat alarm kalender handphoneku berbunyi. Artinya,
tanggal 16 April benar-benar sudah tiba.
“Buka formasi… jalan!” Sakti memberikan
aba-aba kepada kami semua yang berada di dalam barisan. Kami pun segera
melakukan gerakan-gerakan sesuai formasi yang kemarin sudah dibuat. Tak lama
setelah formasi selesai dan membentuk sempurna, protokol pun segera mulai membuka
acara wisudaan tahun ini.
Setelah lima belas menit berada di depan
panggung akhirnya barisan kami dibubarkan dan kami semua diperbolehkan
beristirahat di ruang ganti kecuali yang kebagian tugas membawa baki berisi
medali dan sertifikat kelulusan.
Untungnya aku kebagian menjadi pasukan dalam formasi,
jadi begitu barisan dibubarkan aku bisa langsung santai-santai sambil menikmati
jalannya acara dengan mengintip dari celah pintu ruang ganti yang terbuka
sedikit.
Ini adalah saat yang paling aku tunggu. Saat
dimana aku bisa dengan leluasa memandanginya hari ini. Aku sudah hapal benar
letak bangku bertempelkan namanya, jadi aku tidak perlu lagi kebingungan
mengedarkan pandanganku ke arah yang lain untuk mencarinya.
Pandanganku hanya terfokus pada satu titik,
di salah satu bangku dari ratusan yang ada. Dia duduk di sana, di bangku yang
kemarin aku duduki. Dia terlihat sedikit berbeda hari ini. Rambut ikalnya
terlihat lebih rapih karena baru dipotong. Kacamata berframe hitam yang biasa
dipakainya masih setia bertengger di batang hidungnya, membingkai mata
kecilnya. Kemeja putih polos yang dikenakannya berada di balik jas hitam tak
berkancing, membalut tubuh kurusnya. Jam tangan berantai alumunium yang
akhir-akhir ini sering dipakainya juga melingkar di pergelangan tangan yang
meski belum pernah kugenggenggam namun aku tahu pasti sangat kecil. Celana
bahan dan sepatu pantopel warna hitam menutupi kaki lincahnya. Dia terlihat
berbeda namun semakin tampan.
Aku tersenyum. Mengamatinya dari kejauhan
sepertinya memang sudah menjadi hobiku sejak tiga tahun lalu. Aku bahkan tak
berkeberatan untuk mematung dalam waktu yang lama hanya demi memandanginya.
Pandanganku selalu tertuju padanya, hanya dia dan tidak perlu yang lain. Namun
beberapa kali aku terpaksa menunduk dan
berlagak seperti tidak sedang mengamatinya saat aku merasa dia melihat
ke arahku. Melihat ke arahku bukan berarti dia melihatku. Ada terlalu banyak
orang di sekitarku dan aku tidak berani mencari-cari siapa orang terdekatku
yang sedang dilihatnya. Karena aku hanya bisa menunduk saja.
Memandanginya sepanjang acara ternyata belum
cukup bagiku. Aku terlalu takut tidak akan bertemu dengannya setelah hari ini
meski sebenarnya setakut apapun aku, dia memang tidak akan bisa aku temui lagi
setelah hari ini.
Aku menghampiri kumpulan kakak kelas yang aku
kenal untuk memberikan ucapan selamat atas kelulusan mereka. Dalam hati aku
berharap bisa menemukan sosoknya diantara kakak kelasku yang kini sudah
berhamburan tidak beraturan karena acara sudah selesai dan mereka bebas berfoto
atau bahkan mau langsung pulang saja pun boleh.
Beberapa kali aku mencuri pandang ke segala
arah namun tetap tidak menemukan sosoknya. “Tuhan…
ini hari terakhirku. Kemana dia?” batinku.
“Nyari apa lo?” tanya salah seorang kakak
kelas yang ternyata mencium gelagatku. Aku segera menggeleng dan melempar
cengiran lalu berusaha bersikap sebiasa mungkin seolah benar-benar sedang tidak
melakukan apa-apa.
Saat jam solat Jumat selesai aku sengaja mengajak
teman-temanku yang tersisa –karena beberapa sudah pulang duluan dengan bus yang
disediakan sekolah sementara aku memilih untuk pulang belakangan dengan
kendaraan umum- untuk solat zuhur di masjid. Selain karena memang sudah
waktuknya solat, aku juga sangat berharap bisa bertemu dengannya di sana.
Aku sengaja memperlambat langkahku
meninggalkan masjid karena sejak awal sampai di masjid lalu solat bahkan sampai
saat aku memakai sepatu lagi pun aku belum menemukan sosoknya.
Aku sengaja mengajak teman-temanku
berkeliling di Taman Mini dengan alasan mau menghabiskan waktu kosong sampai
sore. Berfoto di beberapa tempat, main sepeda, sampai makan di tempat makan
dekat gedung wisuda tadi ternyata tidak juga membantuku menemukan sosoknya.
“Udah sore nih, pulang yuk!” ajak Satria.
“Yah, baru jam segini. Nanti aja.” Aku masih
mau berada di sini, berharap bisa menemukannya. Tapi sayangnya teman-temanku
yang lain malah setuju dengan Satria. Satu lawan banyak, jelas aku kalah.
Akhirnya terpaksa aku pun pulang. Pulang tanpa bisa menemukannya lagi.
Aku tidak tahu harus mendeskripsikan
perasaanku saat ini dengan apa. Aku tertawa bersama teman-temanku tapi dalam
hati aku merasa sangat sedih. Mau tidak mau aku harus menerima apa yang sudah
sejak lama aku ketahui. Aku tahu cepat atau lambat hari ini akan tiba. Hari dimana
aku dan dia akan berpisah. Hari dimana aku hanya mampu mengagumi tanpa bisa
melihatnya lagi. Hari dimana semua harapanku pupus.
Aku seperti pengagum bayangan.
Ya, dia mirip sekali dengan bayangan. Dia ada
tapi tak bisa kugenggam. Seperti manusia yang tidak pernah bisa melepaskan diri
dari bayangan. Hanya dia yang bisa melepaskan diri, bukan aku. Dia mirip dengan
bayangan, tak pernah memiliki kalimat untukku. Mungkin dia hanya diciptakan
untuk bisa kulihat dan kuamati. Tapi kemudian saat matahari tenggelam, bayangan
akan lenyap dan aku tidak lagi bisa melihat dan mengamati bayangan itu.
Dan hari ini adalah saatnya matahari
tenggelam. Seperti bayangan, dia pun lenyap. Lenyap tanpa kalimat. Lalu aku?
Jelas seperti hukum manusia dan bayangan tadi, aku tidak bisa lagi melihat dan
mengamatinya lagi.
---
Dan ini adalah 16 Aprilku yang keempat tanpa kamu.
Seandainya kata "Hai" saja bisa berada diantara kita waktu itu, mungkin ini tidak akan menjadi 16 Aprilku yang keempat tanpa kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar