Rabu, 16 April 2014

Cerpen: Tanpa Kalimat


                Aku terpaksa mengalihkan pandanganku dari layar handphone saat Satria berteriak memanggilku untuk yang ketiga kalinya. Barusan aku sedang menghitung hari di kalender handphoneku. Aku menghitung sisa hari yang aku miliki untuk menuju tanggal 16 April yang sudah kutandai. Sebenarnya tanpa perlu menghitung berulang kali seperti tadi pun aku sudah tahu kalau tanggal itu akan tiba dalam beberapa jam lagi saja. Entah aku harus senang atau sedih menyadari hari itu akan segera tiba.
                Aku. Bisa jadi adalah manusia bodoh yang sudah tahu itu model percintaan kuno tapi masih tetap saja terjebak di dalamnya. Aku sudah tahu menanti itu melelahkan tapi aku tetap saja melakukannya. Aku sudah tahu betapa mencintai seseorang yang tidak pernah berbicara denganku adalah sia-sia tapi aku tetap saja melakukannya. Aku…

                “Ayuna! Buruan!!!” ah, teriakan Satria lagi-lagi membuatku terpaksa mengalihkan fokusku dari hal-hal yang sedang aku lakukan. “Busnya udah mau jalan nih…” lanjut Satria dari dalam bus. Terlihat dia sudah dengan nyaman duduk di salah satu kursi di dekat pintu bus. Tangan kurus kecokelatannya berayun-ayun memanggilku.
                Melihat kerutan di kening Satria membuatku beranjak dari tempat aku berdiri dan buru-buru masuk ke dalam bus.
                Aku dan beberapa orang temanku yang terpilih sebagai pasukan pembuka acara wisudaan anak kelas dua belas sedang menuju Taman Mini, tempat acara wisudaan tersebut diselenggarakan. Sepanjang perjalanan ada saja tingkah teman-temanku yang menggelitik sehingga kami hampir tidak berhenti tertawa di dalam bus. Ya, aku juga ikut tertawa tapi aku sejujurnya tidak sepenuhnya sedang tertawa. Ada perasaan lain yang terus-terusan melintas di hatiku. Hanya melintas mirip seperti angin yang berhembus, tidak menetap namun bolak-balik lewat.
                Begitu sampai di lokasi, kami segera mengecek tempat lalu memulai latihan untuk mengadaptasikan formasi buatan kami dengan tempat yang tersedia. Beberapa kali kami merubah gerakan karena tempat yang tersedia tidak sesuai dengan formasi yang sudah kami buat. Beberapa perubahan inilah yang akhirnya membuat kami membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk latihan dan akhirnya baru selesai saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh.
                Aku mengedarkan pandanganku keseluruh sisi gedung yang berukuran sangat luas ini. Bangku-bangku diatur berundak dan mengelilingi separuh bagian gedung persis seperti tataan bangku bioskop. Besok akan ada beratus-ratus kakak kelasku di sini, menempati bangku masing-masing sesuai nama yang sudah ditempel di sandaran bangku. Namun dari beratus-ratus itu hanya satu yang paling ingin aku lihat. Dia, besok dia akan mengenakan pakaian yang berbeda, bukan seragam sekolah putih abu-abu lagi. Besok dia akan secara resmi menghapus title-nya sebagai anak SMA. Artinya, besok adalah hari terakhirnya sebagai anak SMA. Setelah itu dia akan sibuk dengan urusan perkuliahan. Lalu sekolah bertingkat empat yang didominasi warna hijau itu tidak lagi menjadi tempat yang akan dia datangi setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul setengah tujuh pagi sampai pukul tiga sore.
                Tanpa berusaha mencegah kakiku perlahan namun pasti, mulai mengitari baris demi baris bangku yang ada di dalam gedung ini. Satu per satu kubaca nama yang tertempel di sana sambil terus melangkah menuju bangku berikutnya. Kakiku baru mau berhenti saat akhirnya aku menemukan sebuah nama yang sudah sering sekali kusebut di dalam hati dan doa-doaku. Fardhan Arrehan.
                Aku tersenyum menatap deretan huruf yang membentuk namanya itu. Pelan-pelan aku menduduki bangku yang ditempeli namanya. Sesaat ingatan tentangnya hadir di dalam benakku. Ingatan tentang saat pertama kali aku bertemu dengannya. Sebuah pertemuan biasa yang akhirnya malah menyinggahkan dia di tempat terdalam dan luas di hatiku meski sama sekali dia tidak pernah mengeluarkan kalimatnya untukku.
Ingatan demi ingatan terus memenuhi benakku secara beruntut membuatku asik sendiri dengan diriku. Untuk beberapa saat aku menjadi tidak peduli dengan keadaan di sekitarku. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang teman-temanku lakukan usai latihan padahal mereka sedang berada di dalam gedung ini juga.
“Ayunaaaa! Buset deh lo budek banget. Siniiii!” teriak Imam, temanku yang asli betawi, sambil melemparkan sebuah kertas ke arahku.
“Apaan sih?!” sahutku sedikit kesal. Kertas yang dilempar Imam tadi berhasil membuyarkan ‘keasikanku’.
“Sini makan bareng,” jawab Imam sambil mengambil sebungkus nasi padang dari dalam plastik kresek.
“Iya, iya sebentar.” Aku pun segera beranjak dari bangku bertempelkan namanya.
“Ngapain sih di situ?”
“Duduk-duduk aja,” jawabku singkat.
Kemudian aku bergabung dengan teman-temanku yang sedang duduk mengemper di bawah panggung sambil menikmati nasi padang yang disediakan. Sesekali aku meliriki bangku tadi, menghapal letaknya baik-baik agar besok aku bisa dengan mudah menemukannya diantara beratus-ratus kakak kelasku.

Alarmku berbunyi. Sudah pukul empat pagi. Aku pun segera mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Harapan-harapan indah yang kutanam semalam sebelum tidur membuatku kehilangan rasa kantukku pagi ini. Aku rela beraktivitas sepagi ini demi hari ini.
Pukul setengah enam pagi aku sudah tiba di sekolah dengan pakaian bebas namun di dalam tasku sudah ada atribut-atribut paskibra yang akan aku pakai saat tampil nanti.
Seperti kemarin, kendaraan yang dipakai untuk sampai di lokasi wisuda adalah bus sewaan pihak sekolah. Keadaannya juga sama seperti kemarin, teman-temanku dengan tingkah yang menggelitik membuat suasana di dalam bus penuh dengan tawa. Aku juga seperti kemarin, ikutan tertawa seperti yang lainnya dengan perasaan yang tidak benar-benar sedang tertawa. Perasaan ini muncul lagi saat alarm kalender handphoneku berbunyi. Artinya, tanggal 16 April benar-benar sudah tiba.

“Buka formasi… jalan!” Sakti memberikan aba-aba kepada kami semua yang berada di dalam barisan. Kami pun segera melakukan gerakan-gerakan sesuai formasi yang kemarin sudah dibuat. Tak lama setelah formasi selesai dan membentuk sempurna, protokol pun segera mulai membuka acara wisudaan tahun ini.
Setelah lima belas menit berada di depan panggung akhirnya barisan kami dibubarkan dan kami semua diperbolehkan beristirahat di ruang ganti kecuali yang kebagian tugas membawa baki berisi medali dan sertifikat kelulusan.
Untungnya aku kebagian menjadi pasukan dalam formasi, jadi begitu barisan dibubarkan aku bisa langsung santai-santai sambil menikmati jalannya acara dengan mengintip dari celah pintu ruang ganti yang terbuka sedikit.
Ini adalah saat yang paling aku tunggu. Saat dimana aku bisa dengan leluasa memandanginya hari ini. Aku sudah hapal benar letak bangku bertempelkan namanya, jadi aku tidak perlu lagi kebingungan mengedarkan pandanganku ke arah yang lain untuk mencarinya.
Pandanganku hanya terfokus pada satu titik, di salah satu bangku dari ratusan yang ada. Dia duduk di sana, di bangku yang kemarin aku duduki. Dia terlihat sedikit berbeda hari ini. Rambut ikalnya terlihat lebih rapih karena baru dipotong. Kacamata berframe hitam yang biasa dipakainya masih setia bertengger di batang hidungnya, membingkai mata kecilnya. Kemeja putih polos yang dikenakannya berada di balik jas hitam tak berkancing, membalut tubuh kurusnya. Jam tangan berantai alumunium yang akhir-akhir ini sering dipakainya juga melingkar di pergelangan tangan yang meski belum pernah kugenggenggam namun aku tahu pasti sangat kecil. Celana bahan dan sepatu pantopel warna hitam menutupi kaki lincahnya. Dia terlihat berbeda namun semakin tampan.
Aku tersenyum. Mengamatinya dari kejauhan sepertinya memang sudah menjadi hobiku sejak tiga tahun lalu. Aku bahkan tak berkeberatan untuk mematung dalam waktu yang lama hanya demi memandanginya. Pandanganku selalu tertuju padanya, hanya dia dan tidak perlu yang lain. Namun beberapa kali aku terpaksa menunduk dan  berlagak seperti tidak sedang mengamatinya saat aku merasa dia melihat ke arahku. Melihat ke arahku bukan berarti dia melihatku. Ada terlalu banyak orang di sekitarku dan aku tidak berani mencari-cari siapa orang terdekatku yang sedang dilihatnya. Karena aku hanya bisa menunduk saja.
Memandanginya sepanjang acara ternyata belum cukup bagiku. Aku terlalu takut tidak akan bertemu dengannya setelah hari ini meski sebenarnya setakut apapun aku, dia memang tidak akan bisa aku temui lagi setelah hari ini.
Aku menghampiri kumpulan kakak kelas yang aku kenal untuk memberikan ucapan selamat atas kelulusan mereka. Dalam hati aku berharap bisa menemukan sosoknya diantara kakak kelasku yang kini sudah berhamburan tidak beraturan karena acara sudah selesai dan mereka bebas berfoto atau bahkan mau langsung pulang saja pun boleh.
Beberapa kali aku mencuri pandang ke segala arah namun tetap tidak menemukan sosoknya. “Tuhan… ini hari terakhirku. Kemana dia?” batinku.
“Nyari apa lo?” tanya salah seorang kakak kelas yang ternyata mencium gelagatku. Aku segera menggeleng dan melempar cengiran lalu berusaha bersikap sebiasa mungkin seolah benar-benar sedang tidak melakukan apa-apa.
Saat jam solat Jumat selesai aku sengaja mengajak teman-temanku yang tersisa –karena beberapa sudah pulang duluan dengan bus yang disediakan sekolah sementara aku memilih untuk pulang belakangan dengan kendaraan umum- untuk solat zuhur di masjid. Selain karena memang sudah waktuknya solat, aku juga sangat berharap bisa bertemu dengannya di sana.
Aku sengaja memperlambat langkahku meninggalkan masjid karena sejak awal sampai di masjid lalu solat bahkan sampai saat aku memakai sepatu lagi pun aku belum menemukan sosoknya.
Aku sengaja mengajak teman-temanku berkeliling di Taman Mini dengan alasan mau menghabiskan waktu kosong sampai sore. Berfoto di beberapa tempat, main sepeda, sampai makan di tempat makan dekat gedung wisuda tadi ternyata tidak juga membantuku menemukan sosoknya.
“Udah sore nih, pulang yuk!” ajak Satria.
“Yah, baru jam segini. Nanti aja.” Aku masih mau berada di sini, berharap bisa menemukannya. Tapi sayangnya teman-temanku yang lain malah setuju dengan Satria. Satu lawan banyak, jelas aku kalah. Akhirnya terpaksa aku pun pulang. Pulang tanpa bisa menemukannya lagi.
Aku tidak tahu harus mendeskripsikan perasaanku saat ini dengan apa. Aku tertawa bersama teman-temanku tapi dalam hati aku merasa sangat sedih. Mau tidak mau aku harus menerima apa yang sudah sejak lama aku ketahui. Aku tahu cepat atau lambat hari ini akan tiba. Hari dimana aku dan dia akan berpisah. Hari dimana aku hanya mampu mengagumi tanpa bisa melihatnya lagi. Hari dimana semua harapanku pupus.
Aku seperti pengagum bayangan.
Ya, dia mirip sekali dengan bayangan. Dia ada tapi tak bisa kugenggam. Seperti manusia yang tidak pernah bisa melepaskan diri dari bayangan. Hanya dia yang bisa melepaskan diri, bukan aku. Dia mirip dengan bayangan, tak pernah memiliki kalimat untukku. Mungkin dia hanya diciptakan untuk bisa kulihat dan kuamati. Tapi kemudian saat matahari tenggelam, bayangan akan lenyap dan aku tidak lagi bisa melihat dan mengamati bayangan itu.
Dan hari ini adalah saatnya matahari tenggelam. Seperti bayangan, dia pun lenyap. Lenyap tanpa kalimat. Lalu aku? Jelas seperti hukum manusia dan bayangan tadi, aku tidak bisa lagi melihat dan mengamatinya lagi.

---

Dan ini adalah 16 Aprilku yang keempat tanpa kamu.
Seandainya kata "Hai" saja bisa berada diantara kita waktu itu, mungkin ini tidak akan menjadi 16 Aprilku yang keempat tanpa kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar