Kamis, 28 Januari 2016

Sesuatu Tentang Masa Depan


Sama seperti orang-orang di luar sana, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Satu-satunya hal yang aku tahu tentang masa depan adalah takdir yang pasti terjadi, entah bisa diterima atau tidak. Lalu tentang takdir, aku tahu pasti apa itu takdir. Yaitu sesuatu yang membawa kejutan. Dan aku ingin mendapatkan kejutan yang indah.
Maka inilah yang terjadi sekarang. Aku berdiri di atas pasir putihnya pantai yang sedang dibalut langit oren senja, mengingat masa lalu sambil menunggu kedatangan seseorang. Orang-orang bilang, ini indah tapi tidak juga bagiku karena sebenarnya aku jauh lebih menyukai hutan ketimbang pantai.
Dia yang menyukai pantai adalah Carissa, adik kelas di kampusku yang sering dielu-elukan karena parasnya yang cantik dan prestasi akademiknya yang sangat gemilang. Dia telah mempesona seluruh laki-laki dan sukses membuat iri seluruh perempuan di kampusku dengan mematahkan teori “wajah cantik berbanding terbalik dengan kemampuan otak”. Dan bukan hanya teman-temanku saja yang menyukainya tetapi aku juga. Bedanya aku menyukai gadis itu bukan karena paras atau prestasi yang dia miliki melainkan karena kebaikan dan ketulusan hatinya yang tidak sengaja kusaksikan.

Waktu itu aku membolos mata kuliah terakhir dihari Rabu semester tujuh. Kepalaku yang sakit dan dosen yang galak, kurasa bukan pasangan cocok. Sehingga diam-diam aku pulang meninggalkan kelas lebih dulu. Kebetulan motorku sedang dipakai adikku jadi hari itu aku terpaksa berangkat dan pulang kuliah menggunakan kereta. Awalnya semua biasa saja sampai aku melihat Carissa hendak menyebrang rel kereta sambil kerepotan membawa tiga kantung plastik besar. Entah mengapa aku tertarik untuk membuntuti perempuan yang sedang digilai kaum pria di kampusku itu.
Aku tidak tahu apa yang dia bawa sampai ia berhenti melangkah di salah satu gang di belakang rel kereta. Di sana aku melihat segerombol anak kecil langsung mengerubungi Carissa, beberapa diantaranya membantu Carissa membawa tas plastik. Kemudian mereka bersama-sama melangkah menuju sebuah rumah.
Sore itu aku secara langsung melihat sifat asli kembang kampus yang katanya sombong saking tidak pernah membalas komentar teman-temanku di akun media sosial. Aku beruntung dan teman-temanku salah besar. Karena kenyataannya Carissa adalah perempuan berhati lembut yang sangat baik hati. Di halaman rumah kumuh milik salah seorang penduduk Carissa mengajarkan anak-anak malang yang tidak sanggup bersekolah. Lalu ditengah pelajaran Carissa membagikan makanan yang ia bawa dalam dua kantung plastik besar dan memberi satu kantung plastik besar lagi kepada pemilik rumah yang aku yakin juga berisi makanan tapi mungkin dicampur sembako karena Carissa bilang, “Awas pecah, ada telurnya”.
Aksi menguntitku selesai kala Carissa memergokiku.
Sorry, tadi gue lihat lo ribet bawa tiga plastik besar-besar. Gue penasaran dan akhirnya gue menguntit lo terus sekarang ketahuan deh,” kataku yang hanya bisa mengaku karena terlanjut tertangkap basah.
Carissa sempat terkejut namun kemudian tertawa ketika mendengar kalimat lanjutan yang aku lontarkan, “Nyokap gue usaha wedding organizer jadi kenal banyak catering. Kalau lo berminat bawain mereka cordon bleu, ayam teriyaki, atau sapi lada hitam, gue bisa kasih diskon dua persen. Satu persen karena lo junior gue di kampus dan satu persennya lagi karena lo berbuat baik.”
“Pelit,” sahutnya disela tawa. Dia juga bilang kalau aku satu-satunya orang yang langsung mengaku begitu terpergok olehnya.
Sejak itu aku berteman dekat dengan sang idola kampus. Bukan aku yang menggodanya tapi keesokkan hari setelah sore itu Carissa datang sendiri menghampiriku ke kelas –yang sukses membuat teman-temanku iri- dan mengajakku untuk ikut mengajar anak-anak di belakang rel kereta bersamanya. Dia bahkan menagih diskon dua persen dariku yang membuat kami tertawa bersama untuk pertama kalinya –suatu kebersamaan sederhana yang kurasa begitu hangat.
Kami melakukan banyak hal. Hampir setiap hari bersama kecuali kalau sedang libur kuliah tetapi mengalami penyakit khas mahasiswa alias kantong kering sehingga hanya bisa tinggal di rumah masing-masing sambil memanfaatkan fasilitas wifi rumah untuk berkomunikasi via laptop.
Melewati banyak bulan bersamanya, aku semakin mengenal sosok Carissa. Dia perempuan yang sangat menyenangkan dan komplit. Pada saat tertentu, dia bisa jauh lebih bijak dariku yang padahal adalah seniornya. Dan yang teman-temanku bilang tentang kecantikan dan kepintaran Carissa, kurasa tidak semuanya benar. Kuakui dia memang cantik tetapi tetap bisa tampak jelek ketika sedang bernyanyi dengan suaranya yang jauh dari merdu atau ketika baru saja selesai menonton film drama yang membuatnya menangis sesenggukkan sampai ingusan. Dia juga kadang jauh lebih bodoh dari keponakanku yang baru kelas empat SD. Sudah lebih dari tiga ratus kali dia berhasil kujahili dengan tipuan-tipuan ringan yang akhirnya selalu membuatku terbahak ketika mendapati wajahnya yang memerah saking malu saat menyadarinya. Ketimbang mempesona, dia lebih sering tampak menggemaskan bagiku.
“Ini pesanannya.” Tiba-tiba Joni datang dan membuyarkan ingatanku tentang gadis yang saat ini sangat aku rindukan. Di sebelah Joni, Carissa berdiri dengan wajah ditekuknya yang biasa dia keluarkan saat merasa kesal. Satu jam lalu dia menolak undanganku untuk datang ke sini sehingga kuutus Joni untuk menjemputnya dengan paksa.
“Norak,” adalah kata pertama yang Carissa berikan setelah satu bulan lebih lamanya kami tidak bertemu dan putus kontak. Gara-gara aku ingkar janji dua kali tidak datang dihari pentingnya, Carissa ngambek padaku.
Memang salahku mangkir janji tanpa kabar selama satu bulan. Tapi aku bisa apa? Aku sedang depresi waktu itu. Dokter memvonis hatiku rusak parah dan membutuhkan donor secepatnya. Aku juga jadi sering sakit-sakitan dan tampak lemah seperti yang digambarkan film drama dimana pemainnya hendak mati.
Butuh waktu satu bulan untuk aku akhirnya berani menghadapi dunia. Aku kembali menghubungi Carissa namun ambekannya telanjur berubah menajdi marah. Telponku tidak pernah diangkat, pesanku di berbagai media komunikasi dan sosial tidak pernah digubris, dan terakhir kemarin ketika kudatangi ke rumahnya, dia menyuruh ibunya untuk menolak kedatanganku.
Tetapi aku benar-benar ingin bersamanya. Setidaknya untuk satu kali lagi saja. Entah mengapa sejak divonis sakit aku jadi merasa sangat dekat dengan kematian. Masalahnya aku baru bisa sembuh jika ada yang mau mendonorkan hati dan kurasa tidak ada orang waras yang akan rela mendonorkannya lalu mati karenaku. Bahkan orang-orang sekarat sekali pun masih ingin hidup, atau setidaknya mati dengan organ tubuh yang lengkap.
Joni pergi tanpa kuminta sehingga tersisa aku dan Carissa di pantai ini.
“Halo! Ini indah kan? Pantai dan senja, kesukaan lo banget,” sapaku sesantai mungkin seperti caraku menyapanya dulu. Tetapi Carissa tidak membalas, dia malah membuang pandangannya dengan menunduk sambil menendang-nendang kecil pasir pantai. “Okay, gue minta maaf,” lanjutku.
Dan Carissa masih dengan sikap dinginnya.
“Gue kasih diskon tiga persen deh kalo elo mau pesan catering di ibu.”
Akhirnya Carissa menoleh. Aku tahu, joke ini selalu berhasil mencuri perhatiannya.
“Satu persen karena lo junior gue di kampus, satu persen lagi karena lo ngambek sama gue dan satu persen terakhir karena lo udah mau datang ke sini.”
“Pelit.” Satu-satunya julukan pelit yang aku suka menerimanya adalah julukan pelit yang datangnya dari Carissa.
“Dari beribu-ribu jam yang pernah kita lewatin bareng, gue hitung lo udah dua ratus kali bilang gue pelit. Itu pun udah gue kurang-kurangin jumlahnya. Jadi supaya dosa lo ke gue nggak banyak, lo harus mendapatkan maaf dari gue. Syaratnya gampang, main-main di pantai sepanjang malam ini.”
“Cih! Kalau lo bisa hitung dengan tepat jumlah ribu jam kebersamaan kita, kita main-main di pantai.”
Kepercayaan diriku meningkat. Dari kalimatnya, sekarang aku tahu kalau dia juga merindukanku. “Emangnya lo tau jawabannya?” tentu saja aku tidak tahu secara pasti jumlah jam kebersamaan kami. Kurasa tidak ada orang waras yang mau repot-repot mencatat jumlah jam kebersamaannya dengan orang lain, sekalipun dia orang yang kurang kerjaan.
“Menurut lo kalau orang ngasih soal, nggak tau jawabannya?”
“Berarti lo tau? Lo mencatat setiap jam yang kita habiskan bersama? Lo ada perasaan ya sama gue?” Kulempar senyuman jahil yang kuyakini akan membuat wajahnya memerah.
1… 2... 3… dan dugaanku pun benar. Ekspresi Carissa berubah, wajahnya memerah, dan aku terbahak. Detik berikutnya Carissa memukul bahuku dengan gemas. Akhirnya kami berdamai meski tidak ada adegan maaf-maafan ala lebaran.
Aku telah mempersiapkan malam ini. Memilih bagian pantai yang sepi pengunjung dan membawa barang-barang yang akan membuat Carissa senang.
“Kemarin-kemarin kenapa menghilang?” Tanya Carissa.
“Karena gue masih sepupuan sama Jini oh Jini,” candaku.
“Dan gue tetangganya Tuyul dan Mbak Yul,” sahut Carissa tak kalah garing.
Carissa tersenyum kecut sementara aku tertawa girang. “Nanti kalau memang perlu, gue kasih tahu jawabannya,” kataku di sela tawa. Meski sedikit jengkel tapi Carissa menyetujuinya.
Okay, lo nggak akan mengambil tindakan tanpa alasan. You always say it,” katanya.
Kemudian kami mulai menghabiskan waktu di pantai yang hampir gelap. Pertama aku mengambil handphone lalu memotret wajah kami dengan latar pantai berlangit senja. Beberapa kali mengambil gambar, beberapa kali juga kami tertawa begitu melihat ada foto-foto yang tampak konyol.
“Tampang lo suram,” ledek Carissa pada potret wajahku yang sedang manyun.
“Tapi mempesona,” sahutku asal dengan takaran PD yang berlebih seperti biasa.
“Iya, pantainya.” Dan Carissa dengan kebiasaannya yang sangat anti memujiku.
Setelah saling meledek hasil potret, aku mengajak Carissa untuk menepi dan makan malam. Kukeluarkan seperangkat alat masak dan juga tiga bungkus mi goreng instan kesukaan Carissa. Cantik-cantik begitu, Carissa bisa menghabiskan dua bungkus mi goreng instan sendirian sementara aku hanya satu bungkus –tapi pakai nasi dua centong.
“Masak?” salah satu kelemahan Carissa sebagai perempuan, dia sama sekali tidak bisa memasak. Membuat mi instan kesukaannya saja tidak pernah sama, kadang kurang matang dan kadang terlalu matang.
“Cari kayu bakar sana. Nanti gue yang bikinin baranya.”
“Dih kok gue? Lo kan cowok, lo yang cari kayu bakar dan lo juga yang bikin baranya.”
“Boleh, asal semua mi gorengnya buat gue dan lo cuma nonton aja.”
“Pelit!”
“Cepat cari, di ujung sana banyak. Ambil tiga batang aja.” Meski tampak malas, Carissa tetap berjalan ke arah yang kutunjuk untuk mencari kayu bakar.
Ini dia yang aku bilang Carissa juga bisa tampak bodoh. Di pantai begini mana ada kayu bakar. Lagi pula, kalau hanya mau makan mi goreng instan untuk apa repot-repot memasaknya sendiri di pantai kalau sepuluh meter dari sini ada warung yang menjualnya.
Carissa kembali dengan tampang lesu tanpa sebatang pun kayu bakar di tangannya. Sementara aku menyambutnya dengan senyuman.
“Kita gadoin aja mi instannya, kayu bakarnya nggak ada.”
“Satu bulan lebih nggak ketemu dan lo masih selalu kena tipu sama gue? Kok nggak pinter-pinter sih….” Aku mencubit gemas pipi Carissa, sesuatu yang sering kulakukan tetapi paling tidak disukai Carissa.
Carisssa melotot kemudian memukulku dengan sekuat tenaga.
“Jangan kesel begitu, jelek,” kataku di sela tawa. Tapi Carissa masih tetap dengan bibirnya yang dimanyunkan. “Tuh di sana, gue udah masak mi instannya.” Aku menunjuk ke arah dua meter di belakangku.
Tadi ketika Carissa pergi mencari kayu bakar, aku menata sekotak pasir pantai menjadi tempat makan malam. Serbet kotak-kotak seluas 1mx1m yang aku temukan di gudang rumah kubentangkan lalu di atasnya aku tata dua botol minuman ringan dan dua piring sekali pakai berisi mi goreng instan yang sudah kumasak di rumah sebelum pergi ke pantai lalu di tengahnya kuletakkan satu gelas kecil berisi lilin aroma terapi yang sumbunya aku nyalakan api.
“Lo masak pakai apa?” Tanya Carissa melirik tiga bungkus mi instan, panci, dan korek api di sebelah ranselku.
“Kayu bakar dong,” jawabku sambil tersenyum.
Carissa melongo terkejut. Sementara aku mati-matian menahan tawa sambil mengajaknya duduk di atas serbet dan menikmati makan malam. Apa aku bilang, si idola kampus itu bisa bodoh juga kan?
Hatiku benar-benar telah jatuh, jatuh pada Carissa. Meski aku selalu tampak santai saat berinteraksi dengannya, sebenarnya aku merasakan kegugupan yang luar biasa. Desir-desir ajaib seperti yang digambarkan dalam novel romantis ketika sang tokoh sedang jatuh cinta pun aku rasakan. Juga segala sesuatu yang kulakukan bersamanya selalu mendatangkan rasa yang menjadi lebih dua kali lipat. Mi goreng instan ini misalnya, meski sudah dingin dan kaku tetapi menikmatinya bersama Carissa, mi goreng instan ini pun tetap terasa sangat-sangat-sangat nikmat.
Waktu terus berlalu dan aku semakin jatuh ke dalam cinta. Bersama Carissa, aku selalu menginginkannya. Menghabiskan banyak waktu dan membunuh seluruh kegundahan. Tapi tiba-tiba aku teringat akan penyakitku sehingga didetik ini aku merasakan kebahagian yang juga dibarengi dengan kesedihan.
Soal percaya diri aku jagonya. Selama ini aku yakin Carissa pasti menyayangiku, entah sebagai laki-laki atau pun sahabat. Yang pasti Carissa akan merasa sedih dan kehilangan jika aku tidak ada. Tapi malam ini, bersama dengan senyum yang terus merekah dibibir tipisnya, seluruh kepercayaan diriku hilang. Aku tidak yakin, apa aku bisa untuk selalu bersamanya.
“Kenapa tiba-tiba diam begitu?”
“Nggak,” jawabku singkat sambil berusaha membuang jauh-jauh pikiranku barusan. “Kita main ini yuk!”
Mata Carissa berbinar saat aku mengeluarkan lima kotak kembang api dari dalam ranselku. Setelah pantai dan mi goreng instan, hal lain yang sangat disukai Carisssa adalah bermain kembang api. Pertama kali aku mengetahuinya adalah ketika kami pulang dari makam ayah kandungnya. Setelah setengah jam dia menangis di sebelahku, dia mengajakku pergi membeli kembang api lalu meminjam korek api dan bermain kembang api. Membalas semua kerinduan pada ayah, katanya. Dia juga selalu bilang kalau bermain kembang api membuatnya merasa tenang. Jadi dimalam yang kudesain untuk membuatnya bahagai ini, kubawa serta juga barang itu.
“Banyak banget!” seru Carissa dengan mata yang semakin berbinar, bahkan sampai sedikit berair. Aku tidak tahu pasti mengapa tapi mungkin karena ia jadi teringat dengan ayah kandungnya.
Seperti biasa, senyum bahagia selalu tampak ketika Carissa sedang bermain kembang api. Kesukaannya adalah menggerak-gerakkan gagang kembang api untuk membentuk tulisan melalui siluet cahaya kembang api.
Barsena jelek!
Carissa oon.
Barsena pelit.
Carissa cantik.
Kok memuji?
Karena gue sayang sama lo.
Obrolan via kembang api kami berhenti ketika aku menulis kalimat, “karena gue sayang sama lo”. Carissa menoleh dengan ekspresi terkejut yang dapat kumaklumi. Bagaimana pun, jika sedang asik bermain lalu tiba-tiba ada yang menyatakan perasaanya dengan serius rasanya pasti kaget.
Berarti diskon gue bertambah 1% lagi?
Sayangnya keterkejutan Carissa hanya bertahan beberapa detik saja. Disaat aku belum menjelaskan kalimatku via lisan, Carissa langsung melanjutkan obrolan kembang api kami dengan candaan. Sial, dia malah mengira aku sedang bercanda.
Maka terpaksa aku menyahuti candaannya dengan candaan juga.
Pukul sepuluh malam kami memutuskan untuk pulang. Aku mengantarnya dengan mobil yang sengaja aku bawa karena sudah kuperhitungkan. Jika di pantai aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara serius maka masih ada kesempatan di dalam mobil.
Tetapi sampai diseparuh perjalanan aku masih belum memiliki kesempatan untuk berbicara serius. Carissa masih asik dengan lagu-lagu yang diputar di radio. Dia dengan suara kacaunya terus mengudara di dalam mobil.
“Lo ikutan nyanyi dong! Sugar-nya Maroon 5 nih, yihaaa!” ajak Carissa sambil mulai berjoget-joget tidak jelas, sebuah kebiasaan kami jika ada lagu Sugar dari Maroon 5 yang menjadi kesukaan kami.
Suara kacau, ekspresi konyol, dan tarian aneh Carissa yang kaku membuatku melupakan sejenak niatku untuk berbicara serius dengannya. Kami menggila di dalam mobil, bernyanyi sesuka hati sambil berjoget sampai tiga lagu selesai diputar dan penyiar radio kembali berbicara.
Carissa kelelahan dengan konser mininya barusan. Banyak-banyak dia meneguk air mineral dari tempat minumku. Sementara aku kembali teringat dengan rencanaku dan mulai merangkai kalimat-kalimat serius di dalam kepalaku.
“Temanya galau banget,” komentar Carissa ketika sang penyiar radio membahas topik siarannya malam ini.
Dan akhirnya aku selesai merangkai kalimatku.
“Dih buat apa cowoknya kasih kejutan-kejutan romantis kalau akhirnya dia akan ninggalin ceweknya. Semua yang ceweknya butuhkan adalah keberadaan orang yang dicintain kali….” Sialnya, Carissa keburu memberikan komentarnya lagi. Tapi kali ini komentarnya menohokku.
Aku diam, tidak jadi mengutarakan kalimatku. Menyetel siaran radio pada jam curhat kurasa sebuah kesalahan. Terlebih curahan hati pendengar yang baru saja dibacakan si penyiar terasa mirip denganku, seorang laki-laki membahagiakan perempuannya disaat ia akan pergi. Dan sayangnya Carissa tidak bisa menerima konsep membahagiakan di akhir perpisahan, cara si laki-laki tetap dianggap salah.
“Kalo gue kayak cowok itu gimana?” setelah beberapa detik aku diam saking tertohok, akhirnya aku kembali membuka pembicaraan.
“Yaelah kalau elo sih paling keren juga pergi ke ragunan nengok kembaran lo. Sehari juga udah pulang saking kangennya sama gue hahaha.”
Dari kalimatnya aku tahu pasti Carissa tidak pernah terpikir kalau aku akan pergi dari kehidupannya. Tawa renyahnya kubaca sebagai kepercayaan perempuan itu bahwa aku akan selalu ada di sampinnya, entah sebagai laki-laki atau sahabat.
“Kan mulai kan songongnya. Gue senior lo loh…” sahutku tak kalah bercanda. Dalam situasi yang serba salah begini apalagi yang bisa kulakukan selain mencairkan suasana hatiku sendiri.
Laju mobil kuhentikan begitu sampai di depan rumah Carissa. Dan aku kembali terpikir untuk bebricara serius dengannya. Aku ingin dia tahu kalau aku mencintainya, menyayanginya sebagai perempuan, tetapi aku tidak bisa memintanya menjadi kekasihku karena aku sakit parah. Aku juga ingin menyampaikan maafku yang paling tulus dengan penuh keseriusan karena telah mengecewakannya dihari wisuda dan ulang tahunnya waktu itu.
“Sebentar Car,” kataku menahan Carissa yang hendak membuka pintu mobil.
“Ada apa?”
“Kemarin waktu gue menghilang tanpa kabar, apa yang lo rasain? Kalau lo jawab jujur, diskonnya gue tambah satu persen.”
Carissa tersenyum menahan tawa. Aku tahu, disaat aku memintaanya untuk serius tetapi aku masih bercanda soal diskon adalah hal yang konyol. Tapi aku bisa apa? Jika tidak ada candaan sama sekali, mungkin sebelum Carissa menjawab pertanyaanku aku sudah keburu berkaca-kaca saking banyak hal-hal menyedihkan yang berkeliaran di kepalaku.
“Serius nih ya?” perlahan senyum menahan tawa Carissa hilang dan aku kembali mejadi kikuk sendiri dengan perasaanku.
“Iya.”
“Kehilangan,” kata Carissa dengan tatapan yang membuatku tertohok, tatapan yang penuh kejujuran. “Gue sedih banget lo nggak ada dimoment-moment spesial gue. Dan gue khawatir lo nggak ada kabar, takut lo kenapa-kenapa makanya gue marah,” lanjut Carissa.
Aku diam. Ekspresi dan tatapan penuh kejujuran Carissa benar-benar mengurungkan niatku. Dia bilang dia mengkhawatirkan aku. Lalu bagaimana jika aku memberi tahunya soal penyakitkuku? Kurasa aku tidak akan tega membiarkan perempuan yang aku cintai memiliki hari yang penuh kekhawatiran.
Semakin detik berlalu semakin luntur niatku. Sepasang bola mata coklat Carissa menggambarkan kalau dia merasa bahagia ketika aku ada di sampingnya. Sama seperti aku, dia juga menginginkan kebersamaan. Tapi aku tidak yakin bisa bersamanya, sekalipun hanya sebagai sahabat. Penyakitku ini bisa merenggut napasku kapan saja. Sehingga hanya kalimat, “Terima kasih untuk hari ini,” yang akhirnya bisa aku katakan setelah sekian lama diam.
“Gue kali yang makasih. Pantai, mi goreng instan, dan kembang api, semua kesukaan gue lo sediakan hari ini. Jangan kurangin diskon gue ya!” Carissa tergelak atas joke-nya sendiri sementara aku hanya bisa tersenyum.
Tawa itu, mana mungkin aku tega menghapusnya.
“Maaf kemarin mangkir dari janji dan menghilang tanpa kabar. Maaf untuk yang kemarin, hari ini, ataupun nanti. Gue rasa lo belum perlu tahu alasan kenapa gue hilang kemarin.”
It’s okay kalau belum perlu sekarang. Gue tahu lo selalu bertindak dengan alasan,” ucap Carissa diakhiri dengan senyuman.
Oh Tuhan… kebijaksanaan perempuan ini benar-benar mempesonaku. Aku sangat ingin bersamanya, bersama untuk waktu yang sangat lama. Bisakah?
“Bisa kali,” seolah mendengar percakapan di dalam hatiku, Carissa mengucap kata yang ingin kudengar atas pertanyaan dalam benakku. Namun sayangnya Carissa segera melanjutkan kalimatnya, “Pulang sekarang sebelum ayah keluar dan lo kena semprot karena bikin gue pulang semalam ini”. Sial.
Aku mengangguk lalu pamit. Carissa melambaikan tangan sampai mobilku melaju pergi, melakukan perpisahan sementara baginya namun tidak juga bagiku. Karena perlu kuulangi lagi, penyakitku ini bisa merenggutku kapan saja. Peluangku untuk pergi tiba-tiba lebih besar dari orang lain yang sebenarnya sama-sama bisa mati kapan saja.
Aku tidak tahu apakah besok namaku masih Barsena atau sudah memiliki title tambahan di depan. Jadi malam ini kuputuskan untuk melepaskannya, perasaanku biar aku saja yang rasa, dan rahasiaku biar saja aku yang pegang. Perempuan yang aku cintai itu tidak boleh bersedih. Setitik pun tak boleh air matanya jatuh karena aku.
….
Bersyukur aku masih terbangun dengan napas penuh setelah mengalami anfal dan dilarikan ke rumah sakit. Aku tidak ingat apa-apa tetapi Joni menceritakan semuanya. Dia bilang aku koma sepanjang malam dan membutuhkan donor hati secepatnya. Lalu ada seseorang yang sudah lama mendaftarkan diri sebagai relawan organ jika mati, yang mendonorkan hatinya untukku. Aku tertolong dan si relawan yang baru saja mengalami kecelakaan itu mati.
Aku bersyukur tetapi juga merasa sangat hancur ketika Joni memberikan selembar post it berwarna abu-abu tua padaku. Di sana tertulis kalimat, “Jangan pernah berpikir soal perpisahan yang indah. Karena sehebat apapun rencanamu untuk membuatnya, setiap perpisahan tetap saja menyisakan kehampaan. Tetapi terima kasih untuk usahamu. Teruslah hidup karena ada aku di dalam dirimu yang tidak boleh kamu sia-siakan”.
Persetan dengan teori laki-laki tak boleh menangis. Aku tidak bisa untuk tidak menangis sekarang. Terlebih ketika Joni bilang seseorang itu adalah Carissa. Dia mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit usai menerima kabar kalau aku anfal. Lalu dalam sekaratnya ia berkata-kata kepada dokter yang menanganinya. Dia bilang dia telah lama mendaftarkan diri menjadi pendonor organ dan telah memutuskan untuk mendonorkan organnya untukku. Joni juga bilang kalau sebenarnya Carissa sudah tahu mengenai penyakitku. Itu ketika Joni kuutus untuk menjemputnya. Kalau bukan karena ke-lemes-an mulut Joni, perempuan itu tidak akan mau datang kemarin.
Aku merasa sangat bodoh, dengan penuh prcaya diri berpikir kalau kemarin aku yang telah membuatnya bahagia melalui acara-acaraku. Tapi nyatanya terbalik. Sebenarnya justru Carissa lah yang telah membuatku bahagia. Dengan segenap kebijaksaannya dia berpura-pura tidak tahu dan memenuhi semua acaraku.
Masa depan, ternyata benar-benar sesuatu yang membawa kejutan.
Rabu, 13 Januari 2016
00.05 pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar