Sama
seperti orang-orang di luar sana, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi
dimasa depan. Satu-satunya hal yang aku tahu tentang masa depan adalah takdir
yang pasti terjadi, entah bisa diterima atau tidak. Lalu tentang takdir, aku
tahu pasti apa itu takdir. Yaitu sesuatu yang membawa kejutan. Dan aku ingin
mendapatkan kejutan yang indah.
Maka
inilah yang terjadi sekarang. Aku berdiri di atas pasir putihnya pantai yang
sedang dibalut langit oren senja, mengingat masa lalu sambil menunggu kedatangan
seseorang. Orang-orang bilang, ini indah tapi tidak juga bagiku karena
sebenarnya aku jauh lebih menyukai hutan ketimbang pantai.
Dia
yang menyukai pantai adalah Carissa, adik kelas di kampusku yang sering
dielu-elukan karena parasnya yang cantik dan prestasi akademiknya yang sangat
gemilang. Dia telah mempesona seluruh laki-laki dan sukses membuat iri seluruh
perempuan di kampusku dengan mematahkan teori “wajah cantik berbanding terbalik
dengan kemampuan otak”. Dan bukan hanya teman-temanku saja yang menyukainya tetapi
aku juga. Bedanya aku menyukai gadis itu bukan karena paras atau prestasi yang
dia miliki melainkan karena kebaikan dan ketulusan hatinya yang tidak sengaja
kusaksikan.
Waktu
itu aku membolos mata kuliah terakhir dihari Rabu semester tujuh. Kepalaku yang
sakit dan dosen yang galak, kurasa bukan pasangan cocok. Sehingga diam-diam aku
pulang meninggalkan kelas lebih dulu. Kebetulan motorku sedang dipakai adikku
jadi hari itu aku terpaksa berangkat dan pulang kuliah menggunakan kereta.
Awalnya semua biasa saja sampai aku melihat Carissa hendak menyebrang rel
kereta sambil kerepotan membawa tiga kantung plastik besar. Entah mengapa aku
tertarik untuk membuntuti perempuan yang sedang digilai kaum pria di kampusku
itu.
Aku
tidak tahu apa yang dia bawa sampai ia berhenti melangkah di salah satu gang di
belakang rel kereta. Di sana aku melihat segerombol anak kecil langsung
mengerubungi Carissa, beberapa diantaranya membantu Carissa membawa tas
plastik. Kemudian mereka bersama-sama melangkah menuju sebuah rumah.
Sore
itu aku secara langsung melihat sifat asli kembang kampus yang katanya sombong
saking tidak pernah membalas komentar teman-temanku di akun media sosial. Aku
beruntung dan teman-temanku salah besar. Karena kenyataannya Carissa adalah
perempuan berhati lembut yang sangat baik hati. Di halaman rumah kumuh milik
salah seorang penduduk Carissa mengajarkan anak-anak malang yang tidak sanggup
bersekolah. Lalu ditengah pelajaran Carissa membagikan makanan yang ia bawa
dalam dua kantung plastik besar dan memberi satu kantung plastik besar lagi
kepada pemilik rumah yang aku yakin juga berisi makanan tapi mungkin dicampur sembako
karena Carissa bilang, “Awas pecah, ada telurnya”.
Aksi
menguntitku selesai kala Carissa memergokiku.
“Sorry, tadi gue lihat lo ribet bawa tiga
plastik besar-besar. Gue penasaran dan akhirnya gue menguntit lo terus sekarang
ketahuan deh,” kataku yang hanya bisa mengaku karena terlanjut tertangkap
basah.
Carissa
sempat terkejut namun kemudian tertawa ketika mendengar kalimat lanjutan yang aku
lontarkan, “Nyokap gue usaha wedding
organizer jadi kenal banyak catering. Kalau lo berminat bawain mereka
cordon bleu, ayam teriyaki, atau sapi lada hitam, gue bisa kasih diskon dua
persen. Satu persen karena lo junior gue di kampus dan satu persennya lagi
karena lo berbuat baik.”
“Pelit,”
sahutnya disela tawa. Dia juga bilang kalau aku satu-satunya orang yang
langsung mengaku begitu terpergok olehnya.
Sejak
itu aku berteman dekat dengan sang idola kampus. Bukan aku yang menggodanya tapi
keesokkan hari setelah sore itu Carissa datang sendiri menghampiriku ke kelas
–yang sukses membuat teman-temanku iri- dan mengajakku untuk ikut mengajar
anak-anak di belakang rel kereta bersamanya. Dia bahkan menagih diskon dua
persen dariku yang membuat kami tertawa bersama untuk pertama kalinya –suatu
kebersamaan sederhana yang kurasa begitu hangat.
Kami
melakukan banyak hal. Hampir setiap hari bersama kecuali kalau sedang libur
kuliah tetapi mengalami penyakit khas mahasiswa alias kantong kering sehingga
hanya bisa tinggal di rumah masing-masing sambil memanfaatkan fasilitas wifi
rumah untuk berkomunikasi via laptop.
Melewati
banyak bulan bersamanya, aku semakin mengenal sosok Carissa. Dia perempuan yang
sangat menyenangkan dan komplit. Pada saat tertentu, dia bisa jauh lebih bijak
dariku yang padahal adalah seniornya. Dan yang teman-temanku bilang tentang
kecantikan dan kepintaran Carissa, kurasa tidak semuanya benar. Kuakui dia memang
cantik tetapi tetap bisa tampak jelek ketika sedang bernyanyi dengan suaranya
yang jauh dari merdu atau ketika baru saja selesai menonton film drama yang
membuatnya menangis sesenggukkan sampai ingusan. Dia juga kadang jauh lebih
bodoh dari keponakanku yang baru kelas empat SD. Sudah lebih dari tiga ratus
kali dia berhasil kujahili dengan tipuan-tipuan ringan yang akhirnya selalu
membuatku terbahak ketika mendapati wajahnya yang memerah saking malu saat
menyadarinya. Ketimbang mempesona, dia lebih sering tampak menggemaskan bagiku.
“Ini
pesanannya.” Tiba-tiba Joni datang dan membuyarkan ingatanku tentang gadis yang
saat ini sangat aku rindukan. Di sebelah Joni, Carissa berdiri dengan wajah
ditekuknya yang biasa dia keluarkan saat merasa kesal. Satu jam lalu dia menolak
undanganku untuk datang ke sini sehingga kuutus Joni untuk menjemputnya dengan
paksa.
“Norak,”
adalah kata pertama yang Carissa berikan setelah satu bulan lebih lamanya kami
tidak bertemu dan putus kontak. Gara-gara aku ingkar janji dua kali tidak
datang dihari pentingnya, Carissa ngambek padaku.
Memang
salahku mangkir janji tanpa kabar selama satu bulan. Tapi aku bisa apa? Aku
sedang depresi waktu itu. Dokter memvonis hatiku rusak parah dan membutuhkan
donor secepatnya. Aku juga jadi sering sakit-sakitan dan tampak lemah seperti yang
digambarkan film drama dimana pemainnya hendak mati.
Butuh
waktu satu bulan untuk aku akhirnya berani menghadapi dunia. Aku kembali
menghubungi Carissa namun ambekannya telanjur berubah menajdi marah. Telponku
tidak pernah diangkat, pesanku di berbagai media komunikasi dan sosial tidak
pernah digubris, dan terakhir kemarin ketika kudatangi ke rumahnya, dia
menyuruh ibunya untuk menolak kedatanganku.
Tetapi
aku benar-benar ingin bersamanya. Setidaknya untuk satu kali lagi saja. Entah
mengapa sejak divonis sakit aku jadi merasa sangat dekat dengan kematian.
Masalahnya aku baru bisa sembuh jika ada yang mau mendonorkan hati dan kurasa
tidak ada orang waras yang akan rela mendonorkannya lalu mati karenaku. Bahkan
orang-orang sekarat sekali pun masih ingin hidup, atau setidaknya mati dengan
organ tubuh yang lengkap.
Joni
pergi tanpa kuminta sehingga tersisa aku dan Carissa di pantai ini.
“Halo!
Ini indah kan? Pantai dan senja, kesukaan lo banget,” sapaku sesantai mungkin
seperti caraku menyapanya dulu. Tetapi Carissa tidak membalas, dia malah
membuang pandangannya dengan menunduk sambil menendang-nendang kecil pasir
pantai. “Okay, gue minta maaf,”
lanjutku.
Dan
Carissa masih dengan sikap dinginnya.
“Gue
kasih diskon tiga persen deh kalo elo mau pesan catering di ibu.”
Akhirnya
Carissa menoleh. Aku tahu, joke ini
selalu berhasil mencuri perhatiannya.
“Satu
persen karena lo junior gue di kampus, satu persen lagi karena lo ngambek sama
gue dan satu persen terakhir karena lo udah mau datang ke sini.”
“Pelit.”
Satu-satunya julukan pelit yang aku suka menerimanya adalah julukan pelit yang
datangnya dari Carissa.
“Dari
beribu-ribu jam yang pernah kita lewatin bareng, gue hitung lo udah dua ratus
kali bilang gue pelit. Itu pun udah gue kurang-kurangin jumlahnya. Jadi supaya
dosa lo ke gue nggak banyak, lo harus mendapatkan maaf dari gue. Syaratnya
gampang, main-main di pantai sepanjang malam ini.”
“Cih!
Kalau lo bisa hitung dengan tepat jumlah ribu jam kebersamaan kita, kita
main-main di pantai.”
Kepercayaan
diriku meningkat. Dari kalimatnya, sekarang aku tahu kalau dia juga
merindukanku. “Emangnya lo tau jawabannya?” tentu saja aku tidak tahu secara
pasti jumlah jam kebersamaan kami. Kurasa tidak ada orang waras yang mau
repot-repot mencatat jumlah jam kebersamaannya dengan orang lain, sekalipun dia
orang yang kurang kerjaan.
“Menurut
lo kalau orang ngasih soal, nggak tau jawabannya?”
“Berarti
lo tau? Lo mencatat setiap jam yang kita habiskan bersama? Lo ada perasaan ya
sama gue?” Kulempar senyuman jahil yang kuyakini akan membuat wajahnya memerah.
1…
2... 3… dan dugaanku pun benar. Ekspresi Carissa berubah, wajahnya memerah, dan
aku terbahak. Detik berikutnya Carissa memukul bahuku dengan gemas. Akhirnya
kami berdamai meski tidak ada adegan maaf-maafan ala lebaran.
Aku
telah mempersiapkan malam ini. Memilih bagian pantai yang sepi pengunjung dan
membawa barang-barang yang akan membuat Carissa senang.
“Kemarin-kemarin
kenapa menghilang?” Tanya Carissa.
“Karena
gue masih sepupuan sama Jini oh Jini,” candaku.
“Dan
gue tetangganya Tuyul dan Mbak Yul,” sahut Carissa tak kalah garing.
Carissa
tersenyum kecut sementara aku tertawa girang. “Nanti kalau memang perlu, gue kasih
tahu jawabannya,” kataku di sela tawa. Meski sedikit jengkel tapi Carissa
menyetujuinya.
“Okay, lo nggak akan mengambil tindakan
tanpa alasan. You always say it,”
katanya.
Kemudian
kami mulai menghabiskan waktu di pantai yang hampir gelap. Pertama aku
mengambil handphone lalu memotret wajah kami dengan latar pantai berlangit
senja. Beberapa kali mengambil gambar, beberapa kali juga kami tertawa begitu
melihat ada foto-foto yang tampak konyol.
“Tampang
lo suram,” ledek Carissa pada potret wajahku yang sedang manyun.
“Tapi
mempesona,” sahutku asal dengan takaran PD yang berlebih seperti biasa.
“Iya,
pantainya.” Dan Carissa dengan kebiasaannya yang sangat anti memujiku.
Setelah
saling meledek hasil potret, aku mengajak Carissa untuk menepi dan makan malam.
Kukeluarkan seperangkat alat masak dan juga tiga bungkus mi goreng instan
kesukaan Carissa. Cantik-cantik begitu, Carissa bisa menghabiskan dua bungkus
mi goreng instan sendirian sementara aku hanya satu bungkus –tapi pakai nasi
dua centong.
“Masak?”
salah satu kelemahan Carissa sebagai perempuan, dia sama sekali tidak bisa
memasak. Membuat mi instan kesukaannya saja tidak pernah sama, kadang kurang
matang dan kadang terlalu matang.
“Cari
kayu bakar sana. Nanti gue yang bikinin baranya.”
“Dih
kok gue? Lo kan cowok, lo yang cari kayu bakar dan lo juga yang bikin baranya.”
“Boleh,
asal semua mi gorengnya buat gue dan lo cuma nonton aja.”
“Pelit!”
“Cepat
cari, di ujung sana banyak. Ambil tiga batang aja.” Meski tampak malas, Carissa
tetap berjalan ke arah yang kutunjuk untuk mencari kayu bakar.
Ini
dia yang aku bilang Carissa juga bisa tampak bodoh. Di pantai begini mana ada
kayu bakar. Lagi pula, kalau hanya mau makan mi goreng instan untuk apa
repot-repot memasaknya sendiri di pantai kalau sepuluh meter dari sini ada warung
yang menjualnya.
Carissa
kembali dengan tampang lesu tanpa sebatang pun kayu bakar di tangannya.
Sementara aku menyambutnya dengan senyuman.
“Kita
gadoin aja mi instannya, kayu bakarnya nggak ada.”
“Satu
bulan lebih nggak ketemu dan lo masih selalu kena tipu sama gue? Kok nggak
pinter-pinter sih….” Aku mencubit gemas pipi Carissa, sesuatu yang sering
kulakukan tetapi paling tidak disukai Carissa.
Carisssa
melotot kemudian memukulku dengan sekuat tenaga.
“Jangan
kesel begitu, jelek,” kataku di sela tawa. Tapi Carissa masih tetap dengan
bibirnya yang dimanyunkan. “Tuh di sana, gue udah masak mi instannya.” Aku
menunjuk ke arah dua meter di belakangku.
Tadi
ketika Carissa pergi mencari kayu bakar, aku menata sekotak pasir pantai
menjadi tempat makan malam. Serbet kotak-kotak seluas 1mx1m yang aku temukan di
gudang rumah kubentangkan lalu di atasnya aku tata dua botol minuman ringan dan
dua piring sekali pakai berisi mi goreng instan yang sudah kumasak di rumah
sebelum pergi ke pantai lalu di tengahnya kuletakkan satu gelas kecil berisi
lilin aroma terapi yang sumbunya aku nyalakan api.
“Lo
masak pakai apa?” Tanya Carissa melirik tiga bungkus mi instan, panci, dan
korek api di sebelah ranselku.
“Kayu
bakar dong,” jawabku sambil tersenyum.
Carissa
melongo terkejut. Sementara aku mati-matian menahan tawa sambil mengajaknya
duduk di atas serbet dan menikmati makan malam. Apa aku bilang, si idola kampus
itu bisa bodoh juga kan?
Hatiku
benar-benar telah jatuh, jatuh pada Carissa. Meski aku selalu tampak santai
saat berinteraksi dengannya, sebenarnya aku merasakan kegugupan yang luar
biasa. Desir-desir ajaib seperti yang digambarkan dalam novel romantis ketika
sang tokoh sedang jatuh cinta pun aku rasakan. Juga segala sesuatu yang
kulakukan bersamanya selalu mendatangkan rasa yang menjadi lebih dua kali
lipat. Mi goreng instan ini misalnya, meski sudah dingin dan kaku tetapi menikmatinya
bersama Carissa, mi goreng instan ini pun tetap terasa sangat-sangat-sangat nikmat.
Waktu
terus berlalu dan aku semakin jatuh ke dalam cinta. Bersama Carissa, aku selalu
menginginkannya. Menghabiskan banyak waktu dan membunuh seluruh kegundahan.
Tapi tiba-tiba aku teringat akan penyakitku sehingga didetik ini aku merasakan
kebahagian yang juga dibarengi dengan kesedihan.
Soal
percaya diri aku jagonya. Selama ini aku yakin Carissa pasti menyayangiku,
entah sebagai laki-laki atau pun sahabat. Yang pasti Carissa akan merasa sedih
dan kehilangan jika aku tidak ada. Tapi malam ini, bersama dengan senyum yang
terus merekah dibibir tipisnya, seluruh kepercayaan diriku hilang. Aku tidak
yakin, apa aku bisa untuk selalu bersamanya.
“Kenapa
tiba-tiba diam begitu?”
“Nggak,”
jawabku singkat sambil berusaha membuang jauh-jauh pikiranku barusan. “Kita
main ini yuk!”
Mata
Carissa berbinar saat aku mengeluarkan lima kotak kembang api dari dalam
ranselku. Setelah pantai dan mi goreng instan, hal lain yang sangat disukai
Carisssa adalah bermain kembang api. Pertama kali aku mengetahuinya adalah
ketika kami pulang dari makam ayah kandungnya. Setelah setengah jam dia
menangis di sebelahku, dia mengajakku pergi membeli kembang api lalu meminjam
korek api dan bermain kembang api. Membalas semua kerinduan pada ayah, katanya.
Dia juga selalu bilang kalau bermain kembang api membuatnya merasa tenang. Jadi
dimalam yang kudesain untuk membuatnya bahagai ini, kubawa serta juga barang
itu.
“Banyak
banget!” seru Carissa dengan mata yang semakin berbinar, bahkan sampai sedikit
berair. Aku tidak tahu pasti mengapa tapi mungkin karena ia jadi teringat dengan
ayah kandungnya.
Seperti
biasa, senyum bahagia selalu tampak ketika Carissa sedang bermain kembang api.
Kesukaannya adalah menggerak-gerakkan gagang kembang api untuk membentuk
tulisan melalui siluet cahaya kembang api.
Barsena jelek!
Carissa oon.
Barsena pelit.
Carissa cantik.
Kok memuji?
Karena gue sayang sama lo.
Obrolan
via kembang api kami berhenti ketika aku menulis kalimat, “karena gue sayang
sama lo”. Carissa menoleh dengan ekspresi terkejut yang dapat kumaklumi.
Bagaimana pun, jika sedang asik bermain lalu tiba-tiba ada yang menyatakan
perasaanya dengan serius rasanya pasti kaget.
Berarti diskon gue bertambah 1%
lagi?
Sayangnya
keterkejutan Carissa hanya bertahan beberapa detik saja. Disaat aku belum menjelaskan
kalimatku via lisan, Carissa langsung melanjutkan obrolan kembang api kami
dengan candaan. Sial, dia malah mengira aku sedang bercanda.
Maka
terpaksa aku menyahuti candaannya dengan candaan juga.
Pukul
sepuluh malam kami memutuskan untuk pulang. Aku mengantarnya dengan mobil yang
sengaja aku bawa karena sudah kuperhitungkan. Jika di pantai aku tidak memiliki
kesempatan untuk berbicara serius maka masih ada kesempatan di dalam mobil.
Tetapi
sampai diseparuh perjalanan aku masih belum memiliki kesempatan untuk berbicara
serius. Carissa masih asik dengan lagu-lagu yang diputar di radio. Dia dengan
suara kacaunya terus mengudara di dalam mobil.
“Lo
ikutan nyanyi dong! Sugar-nya Maroon
5 nih, yihaaa!” ajak Carissa sambil mulai berjoget-joget tidak jelas, sebuah
kebiasaan kami jika ada lagu Sugar
dari Maroon 5 yang menjadi kesukaan kami.
Suara
kacau, ekspresi konyol, dan tarian aneh Carissa yang kaku membuatku melupakan
sejenak niatku untuk berbicara serius dengannya. Kami menggila di dalam mobil,
bernyanyi sesuka hati sambil berjoget sampai tiga lagu selesai diputar dan
penyiar radio kembali berbicara.
Carissa
kelelahan dengan konser mininya barusan. Banyak-banyak dia meneguk air mineral
dari tempat minumku. Sementara aku kembali teringat dengan rencanaku dan mulai
merangkai kalimat-kalimat serius di dalam kepalaku.
“Temanya
galau banget,” komentar Carissa ketika sang penyiar radio membahas topik siarannya
malam ini.
Dan
akhirnya aku selesai merangkai kalimatku.
“Dih
buat apa cowoknya kasih kejutan-kejutan romantis kalau akhirnya dia akan
ninggalin ceweknya. Semua yang ceweknya butuhkan adalah keberadaan orang yang
dicintain kali….” Sialnya, Carissa keburu memberikan komentarnya lagi. Tapi kali
ini komentarnya menohokku.
Aku
diam, tidak jadi mengutarakan kalimatku. Menyetel siaran radio pada jam curhat
kurasa sebuah kesalahan. Terlebih curahan hati pendengar yang baru saja
dibacakan si penyiar terasa mirip denganku, seorang laki-laki membahagiakan
perempuannya disaat ia akan pergi. Dan sayangnya Carissa tidak bisa menerima konsep
membahagiakan di akhir perpisahan, cara si laki-laki tetap dianggap salah.
“Kalo
gue kayak cowok itu gimana?” setelah beberapa detik aku diam saking tertohok,
akhirnya aku kembali membuka pembicaraan.
“Yaelah
kalau elo sih paling keren juga pergi ke ragunan nengok kembaran lo. Sehari juga udah pulang saking kangennya sama gue
hahaha.”
Dari
kalimatnya aku tahu pasti Carissa tidak pernah terpikir kalau aku akan pergi
dari kehidupannya. Tawa renyahnya kubaca sebagai kepercayaan perempuan itu
bahwa aku akan selalu ada di sampinnya, entah sebagai laki-laki atau sahabat.
“Kan
mulai kan songongnya. Gue senior lo loh…” sahutku tak kalah bercanda. Dalam
situasi yang serba salah begini apalagi yang bisa kulakukan selain mencairkan
suasana hatiku sendiri.
Laju
mobil kuhentikan begitu sampai di depan rumah Carissa. Dan aku kembali terpikir
untuk bebricara serius dengannya. Aku ingin dia tahu kalau aku mencintainya,
menyayanginya sebagai perempuan, tetapi aku tidak bisa memintanya menjadi
kekasihku karena aku sakit parah. Aku juga ingin menyampaikan maafku yang
paling tulus dengan penuh keseriusan karena telah mengecewakannya dihari wisuda
dan ulang tahunnya waktu itu.
“Sebentar
Car,” kataku menahan Carissa yang hendak membuka pintu mobil.
“Ada
apa?”
“Kemarin
waktu gue menghilang tanpa kabar, apa yang lo rasain? Kalau lo jawab jujur,
diskonnya gue tambah satu persen.”
Carissa
tersenyum menahan tawa. Aku tahu, disaat aku memintaanya untuk serius tetapi
aku masih bercanda soal diskon adalah hal yang konyol. Tapi aku bisa apa? Jika
tidak ada candaan sama sekali, mungkin sebelum Carissa menjawab pertanyaanku
aku sudah keburu berkaca-kaca saking banyak hal-hal menyedihkan yang
berkeliaran di kepalaku.
“Serius
nih ya?” perlahan senyum menahan tawa Carissa hilang dan aku kembali mejadi
kikuk sendiri dengan perasaanku.
“Iya.”
“Kehilangan,”
kata Carissa dengan tatapan yang membuatku tertohok, tatapan yang penuh
kejujuran. “Gue sedih banget lo nggak ada dimoment-moment spesial gue. Dan gue
khawatir lo nggak ada kabar, takut lo kenapa-kenapa makanya gue marah,” lanjut
Carissa.
Aku
diam. Ekspresi dan tatapan penuh kejujuran Carissa benar-benar mengurungkan
niatku. Dia bilang dia mengkhawatirkan aku. Lalu bagaimana jika aku memberi
tahunya soal penyakitkuku? Kurasa aku tidak akan tega membiarkan perempuan yang
aku cintai memiliki hari yang penuh kekhawatiran.
Semakin
detik berlalu semakin luntur niatku. Sepasang bola mata coklat Carissa
menggambarkan kalau dia merasa bahagia ketika aku ada di sampingnya. Sama
seperti aku, dia juga menginginkan kebersamaan. Tapi aku tidak yakin bisa
bersamanya, sekalipun hanya sebagai sahabat. Penyakitku ini bisa merenggut
napasku kapan saja. Sehingga hanya kalimat, “Terima kasih untuk hari ini,” yang
akhirnya bisa aku katakan setelah sekian lama diam.
“Gue
kali yang makasih. Pantai, mi goreng instan, dan kembang api, semua kesukaan
gue lo sediakan hari ini. Jangan kurangin diskon gue ya!” Carissa tergelak atas
joke-nya sendiri sementara aku hanya
bisa tersenyum.
Tawa
itu, mana mungkin aku tega menghapusnya.
“Maaf
kemarin mangkir dari janji dan menghilang tanpa kabar. Maaf untuk yang kemarin,
hari ini, ataupun nanti. Gue rasa lo belum perlu tahu alasan kenapa gue hilang
kemarin.”
“It’s okay kalau belum perlu sekarang.
Gue tahu lo selalu bertindak dengan alasan,” ucap Carissa diakhiri dengan senyuman.
Oh
Tuhan… kebijaksanaan perempuan ini benar-benar mempesonaku. Aku sangat ingin
bersamanya, bersama untuk waktu yang sangat lama. Bisakah?
“Bisa
kali,” seolah mendengar percakapan di dalam hatiku, Carissa mengucap kata yang ingin
kudengar atas pertanyaan dalam benakku. Namun sayangnya Carissa segera
melanjutkan kalimatnya, “Pulang sekarang sebelum ayah keluar dan lo kena
semprot karena bikin gue pulang semalam ini”. Sial.
Aku
mengangguk lalu pamit. Carissa melambaikan tangan sampai mobilku melaju pergi,
melakukan perpisahan sementara baginya namun tidak juga bagiku. Karena perlu
kuulangi lagi, penyakitku ini bisa merenggutku kapan saja. Peluangku untuk
pergi tiba-tiba lebih besar dari orang lain yang sebenarnya sama-sama bisa mati
kapan saja.
Aku
tidak tahu apakah besok namaku masih Barsena atau sudah memiliki title tambahan di depan. Jadi malam ini
kuputuskan untuk melepaskannya, perasaanku biar aku saja yang rasa, dan
rahasiaku biar saja aku yang pegang. Perempuan yang aku cintai itu tidak boleh
bersedih. Setitik pun tak boleh air matanya jatuh karena aku.
….
Bersyukur
aku masih terbangun dengan napas penuh setelah mengalami anfal dan dilarikan ke
rumah sakit. Aku tidak ingat apa-apa tetapi Joni menceritakan semuanya. Dia
bilang aku koma sepanjang malam dan membutuhkan donor hati secepatnya. Lalu ada
seseorang yang sudah lama mendaftarkan diri sebagai relawan organ jika mati, yang
mendonorkan hatinya untukku. Aku tertolong dan si relawan yang baru saja
mengalami kecelakaan itu mati.
Aku
bersyukur tetapi juga merasa sangat hancur ketika Joni memberikan selembar post it berwarna abu-abu tua padaku. Di
sana tertulis kalimat, “Jangan pernah berpikir soal perpisahan yang indah.
Karena sehebat apapun rencanamu untuk membuatnya, setiap perpisahan tetap saja
menyisakan kehampaan. Tetapi terima kasih untuk usahamu. Teruslah hidup karena
ada aku di dalam dirimu yang tidak boleh kamu sia-siakan”.
Persetan
dengan teori laki-laki tak boleh menangis. Aku tidak bisa untuk tidak menangis
sekarang. Terlebih ketika Joni bilang seseorang itu adalah Carissa. Dia
mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit usai menerima
kabar kalau aku anfal. Lalu dalam sekaratnya ia berkata-kata kepada dokter yang
menanganinya. Dia bilang dia telah lama mendaftarkan diri menjadi pendonor
organ dan telah memutuskan untuk mendonorkan organnya untukku. Joni juga bilang
kalau sebenarnya Carissa sudah tahu mengenai penyakitku. Itu ketika Joni kuutus
untuk menjemputnya. Kalau bukan karena ke-lemes-an mulut Joni, perempuan itu
tidak akan mau datang kemarin.
Aku
merasa sangat bodoh, dengan penuh prcaya diri berpikir kalau kemarin aku yang telah
membuatnya bahagia melalui acara-acaraku. Tapi nyatanya terbalik. Sebenarnya
justru Carissa lah yang telah membuatku bahagia. Dengan segenap kebijaksaannya
dia berpura-pura tidak tahu dan memenuhi semua acaraku.
Masa
depan, ternyata benar-benar sesuatu yang membawa kejutan.
Rabu, 13 Januari 2016
00.05 pagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar