Jumat, 30 Januari 2015

Cerpen: It's Ok, I Love You

Hehehehe setelah mimpi ngoyo gue kemarin, hari ini gue iseng nulis cerpen. Tapi sayangnya ini bukan cerpen yang bagus untuk dimasukin ke dalam pola pikir kalian. Jadi jangan ditiru ya!Kan udah gue bilang cuma cerpen. Iseng, lagi. Btw, gue nggak ngerti kenapa formasi paragrafnya nggak rapih kayak di Word gue :| *yaudah sih ya bukan lagi jam pelajaran mengarang kan ya yang panjang menjorok awal paragrafnya harus sama? :P


            Klik. Semua pekerjaan hari ini selesai. Jarum di jam juga sudah menunjukkan pukul lima sore lebih delapan menit. Sudah lewat beberapa menit dari waktu pulang.
            Laptop dimatikan. Rafli keluar dari dalam ruangannya sambil menjinjing tas coklat hasil pemberian sahabatnya beberapa bulan lalu. Sebuah senyuman manis langsung menyambut Rafli begitu ia membuka pintu.
            Nama Gendis. Sabahat Rafli sejak SMA. Wajahnya cantik khas perempuan Indonesia. Kulitnya agak kecoklatan, matanya bulat dengan bola mata hitam pekat, dan tingginya 168cm, cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Rafli mengantar Gendis, Gendis membawakan bekal untuk Rafli, selalu begitu setiap harinya. Orang-orang kantor sering menyangka kalau mereka ada fair tapi sebenarnya tidak. Mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Meski jauh di dalam lubuk hati Gendis, Gendis selalu berharap sangkaan itu akan menjadi kenyataan.
            “Kali ini lumayan, cuma terlambat delapan menit,” begitu Gendis menyambut Rafli sore ini.
            Rafli ini pekerja keras jadi dia selalu maksimal dalam mengerjakan smeua pekerjaan kantor. Dia tidak akan lega meninggalkan kantor kalau pekerjaannya belum selesai.
            “Ok, mau ditraktir apa hari ini?” sudah perjanjiannya, yang membuat menunggu harus mentraktir.
            Gendis menggeleng. “Hari ini kita kedatangan tamu spesial jadi kita harus cepat sampe rumah,” jawab Gendis.
            Rafli mengerutkan dahi, tampak berpikir.
            “Ayo!” Gendis melangkah duluan, meninggalkan Rafli yang sibuk berpikir
.
---
            Motor Rafli terparkir apik di halaman depan rumah Gendis. Keduanya segera salim kepada ayah dan ibu Gendis. Lalu detik berikutnya Rafli sukses mirip orang bodoh. Matanya kecilnya membulat, mulutnya setengah terbuka, dan tidak satu pun kata keluar dari mulutnya ketika mendapati seorang perempuan berkulit kuning langsat mulus dengan tank top hitam ketat dan hot pants jeans sedang tertidur pulas di sofa sambil kupingnya disumpel dengan earphone.
            Bukan. Bukan keseksian perempuan itu yang membuat Rafli melongo. Melainkan karena perempuan itu adalah Masya, adik Gendis. Usianya empat tahun lebih muda. Setelah tiga tahun tidak pulang dari Paris, kini akhirnya dia kembali dengan perubahannnya yang begitu mengejutkan. Dulu cara berpakaian anak itu tidak seterbuka ini, rambutnya juga tidak pirang seperti sekarang.
            Gendis juga sama terkejutnya seperti Rafli. Dia tahu hari ini adiknya itu akan pulang, tapi dia tidak tahu kalau adiknya akan pulang dengan penampilan seperti ini. Gendis menepuk-nepuk bahu Masya yang masih pulas. Agak sedikit sulit membangunkan anak itu, tapi akhirnya bangun juga.
            Masya sedikit mengulat lalu membuka matanya dengan malas. Begitu mendapati Gendis dan Rafli, kantuk dan malasnya langsung hilang. Ia bahkan langsung terduduk secara otomatis.
            “Oh my god! Akhirnya kalian pulang juga! Aku sampai ketiduran nunggu kalian tau!” ucap Masya dengan santainya. Ia beranjak dan hendak memeluk kakaknya tapi Gendis malah menghindar.
            “Pake baju dulu sana, ada Rafli tau!” omel Gendis.
            “Oh come on! Aku udah pakai baju kak,” ucap Masya sambil menunjuk-nunjuk tank top ketatnya. “Oh hai kak Rafli!!! I miss you so much!!!!!!” seru Masya sambil melirik laki-laki yang berdiri di sebelah kakaknya. Masya menghampiri Rafli dan hendak memberikan pelukan rindunya. Tapi Rafli dengan cepat bergerak mundur, tidak terbiasa dengan tradisi pelukan rindu begitu.
            “Hei what’s going on?” Masya heran.
            “Udah sana ganti  baju dulu!” Gendis memukul bahu Masya. Masya cemberut tapi menurut juga. Ia pergi ke kamar dan mencari kaos oblong.
            Itulah pertama kalinya mereka bertemu dengan Masya yang baru. Anak manis itu berubah begitu mengejutkan. Kebudayaan di tempatnya kuliah tampak memberi pengaruh yang sangat kuat pada anak itu.
---
Tiga tahun tidak pulang membuat Masya serasa tidak kehabisan bahan untuk diceritakan. Dimulai dari tempatnya kuliah, asramanya, teman-temannya, jam kuliah, sistem belajarnya, nilai-nilai yang dia peroleh selama kuliah, sampai tempat-tempat yang sudah ia kunjungi. Gendis dan Rafli menjadi pendengarnya.
            Hari-hari setelah kepulangannya, kegiatan Masya adalah mencari lokasi yang pas untuk dijadikannya butik. Sebagai lulusan jurusan desainer dengan nilai cumlaude, memiliki butik sendiri merupakan keinginan yang wajar. Sebenarnya sebulan sebelum kelulusannya kemarin, ia sudah ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan besar di Paris. Tapi orang tuanya ingin Masya tetap tinggal di Indonesia. jadi Masya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan membangun karir di sini.
Beberapa kali ia sempat reunian dengan teman-temannya semasa sekolah di Indonesia dulu. Tanggapan mereka sama seperti dengan tanggapan pertama kali orang-orang rumahnya, terkejut. Hanya bedanya, keterkejutan teman-temannya diikuti dengan komentar manis: “Makin keren aja lo, cantik.”
            Rafli yang awalnya terkejut dengan perubahan Masya kini mulai terbiasa saat mereka mengobrol tentang banyak hal. Ternyata, anak manis itu tidak benar-benar berubah. Caranya berceloteh masih sama menggemaskannya seperti dulu, masih selalu membuatnya jauh dari rasa bosan. Rafli juga masih merasakan keteduhan dari tatapan mata anak itu. Yang terpenting yang Rafli dapati, perasaan terpendamnya selama lima tahun itu tidak pernah berubah. Senyuman Masya masih selalu bisa membuatnya secara otomatis ikut tersenyum juga. Kalimat-kalimat yang dikeluarkan Masya masih selalu bisa membuatnya semangat.
            Sementara Gendis nampaknya masih belum terbiasa dengan perubahan adiknya. Dia masih sering kesal dengan cara berpakaian Masya. Apalagi dengan warna rambut Masya yang menurut Gendis sangat tidak karuan. Yang paling menyebalkan, ia jadi sering mendapat komentar-komentar dari Masya tentang cara berpakaiannya. Nggak matchinglah, kunolah, payahlah. Seolah-olah hanya Masya saja yang paling tahu soal fashion.
---
            Dihari ke empat belas setelah kepulangan Masya, Rafli mengajak Masya jalan tanpa diketahui Gendis. Selama dua minggu Rafli belum pernah benar-benar punya kesempatan mengobrol berdua dengan Masya. Kalau tidak ditemani Gendis, pasti ada orang lain lagi. Rindu yang Rafli pendam selama bertahun-tahun membuat Rafli ingin benar-benar memiliki waktu yang spesial berdua dengan Masya.
            Ketika Rafli tahu Gendis akan mengikuti rapat sampai malam, ketika itu juga Rafli mengambil kesempatan untuk memiliki waktu spesialnya bersama Masya. Alasan yang diberikan Rafli adalah ingin pulang cepat karena sudah beberapa hari mengambil lembur. Jadi Gendis membiarkan Rafli absen mengantarnya pulang.
            Masya merentangkan tangannya sambil merasakan terpaan angin di tubuhnya. Angin sore pantai, langit biru yang luas, dan burung-burung yang melintasi air-air berombak itu membuat sore ini nampak sangat indah. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi pantai. Jadi dia merasa sangat senang sekali Rafli sudah mengajaknya ke sini sore ini.
            “Pantai. I love it so much! Kak Rafli emang yang paling jago bikin orang senang,” ucap Masya sambil melempar senyum bahagianya. Gigi-gigi putihnya berderet, menemani lengkungan cantik bibirnya. Senyuman yang selalu membuat jantung Rafli berdegup lebih kencang.
            “The best place of freedom,” sahut Rafli mengucap ucapan yang sering diucapkan Masya setiap kali membicarakan soal pantai. Ya, memiliki perasaan spesial selama bertahun-tahun membuat Rafli hapal apa-apa saja yang disukai Masya.
            Sore berlalu dengan cepat. Secepat degupan jantung Rafli tiap kali Masya menanggapi pembicaraannya dengan tatapan dan senyuman. Langit perlahan menggelap. Semua cerita mereka akhiri dengan pergi makan di pinggir jalan. Setelah semua makanan habis dan jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, mereka memutuskan untuk pulang.
            Lagu What Makes You Beautiful milik One Direction dari radio yang sedang disetel di dalam mobil mulai terabaikan. Mulut Masya berhenti bergerak sesuai lirik lagu. Dahinya berkernyit saat mendapati seorang pria baru saja turun dari taksi. Masya meminta Rafli menghentikan laju mobil dan segera turun dari mobil tanpa izin.
            Dari dalam mobil Rafli bisa melihat dengan jelas Masya tersenyum pada laki-laki itu, sebuah senyuman yang berbeda dari senyum-senyum yang diberikan Masya tadi. Senyumnya yang ini menggambarkan sebuah perasaan lega dari Masya. Belum lagi soal senyum lega yang aneh itu, sekarang hati Rafli terasa terbakar melihat Masya memeluk lalu mencium kening laki-laki itu. Beberapa tahun meninggalkan Indonesia membuat Masya kelewat luwes dalam menyapa orang.
            “Kak, Jason boleh numpang sampai rumahku kan?” tanya Masya yang sekarang sudah berada di balik pintu mobil sambil menggandeng lelaki tak dikenal Rafli.
            Rafli hanya mengangguk, tidak enak untuk menolaknya.
            “Aku pindah duduk ke belakang ya kak?”
            Lagi-lagi Rafli hanya bisa mengangguk. Senyum manis itu membuatnya menjadi sangat bodoh sekarang.
            Rafli merasa sangat patah hati ketika di dalam mobil Masya mengenalkan laki-laki yang dipungutnya di jalan itu bernama Jason dan merupakan pacar Masya selama satu tahun belakangan ini. Dia yang mencintai Masya bertahun-tahun lebih dulu tapi malah bule Amerika ini yang berhasil menjadi pacar Masya, padahal kata Masya mereka baru kenal satu setengah tahun yang lalu.
            Dari kaca spion, Rafli bisa melihat kemesraan mereka. Sejak masuk ke dalam mobil, tangan Masya tidak pernah lepas menggenggam tangan Jason. Sesekali Masya bermanja-manja dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Jason, satu hal yang tidak pernah dilakukan Masya padanya.
            Rafli mendadak menginjak pedal rem saat ia mendapati adegan yang membuatnya sesak namun lebih banyak terkejutnya. Entah apa yang mereka bicarakan dengan bahasa Prancis-nya, yang Rafli lihat tiba-tiba Jason mendekatkan wajanya pada Masya dan mengecup bibir Masya. Setelah itu bule sialan yang sudah merebut Masya-nya keluar dari dalam mobil. Meninggalkan Masya dengan keadaan air mata mengalir tanpa ampun.
            “Ada apa? Apa aku perlu kejar laki-laki itu?” tanya Rafli penuh emosi. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Masya dan bule itu. Dia juga tidak tahu pasti apa yang sedang dirasakan hatinya sekarang. sesak, terkejut, dan khawatir bercampur jadi satu, tidak tahu mana yang komposisinya paling banyak.
            Masya menggeleng. “Aku perlu pindah duduk di depan lagi?” tanya Masya disela tangis yang mulai disertai isakan.
            “Kalo kamu merasa lebih baik duduk di belakang, nggak apa.” Rafli kecewa tapi juga sangat ingin menghapus air mata Masya. Dulu Rafli sering melihat Masya menangis, tapi tidak pernah yang sedihnya seperti sekarang.
            “Antar aku ke apotek atau supermarket, mau kan?” Masya memilih untuk tetap di tempatnya.
            Rafli mengangguk lalu melajukan mobil lagi. Dalam diam ia menyodorkan kotak berisi tisu kepada Masya. Setelah kata “makasih” yang keluar dari mulut Masya, tidak ada lagi suara di dalam mobil, kecuali suara radio.
            Rafli tidak tahu apa yang Masya beli di apotek karena Masya melarangnya untuk ikut. Dan bukannya pulang setelah mendapatkan barang yang dicarinya, Masya malah izin ke toilet. Agak lama, Masya kembali dari toilet dengan ekspresi wajah sangat buruk.
            “Ada apa? Jangan bikin aku bingung dan khawatir begini.” Meski rasanya ingin meledak, Rafli tetap mengeluarkan nada yang lembut. Ia bahkan menyempatkan tangannya mampir ke kepala Masya, mengelusnya walau pun gemetaran.
            “Hancur. Aku hancur kak. Aku segagal-gagalnya manusia,” jawab Masya diakhiri dengan isakan.
            “Apanya yang gagal? Pelan-pelan aja, aku akan dengerin semuanya.”
            Masya tidak menjawab. Isakannya makin lama makin kencang. Rafli membiarkannya dan kembali melajukan mobil. sekalinya kembali bersuara, Masya hanya bilang tidak ingin pulang sekarang dan ingin kembali ke pantai.
---
            Masya masih menangis tapi sudah tidak disertai isakan. Mungkin ia sudah mulai capek menangis setelah hampir dua jam ia terisak. Sekarang mereka sedang duduk di pinggir pantai, membiarkan angin malam dengan jahat menerpa tubuh mereka.
            Rafli menyodorkan sebotol air mineral kepada Masya. “Kalo putus kan wajar. Nanti pasti ada laki-laki yang lebih baik buat kamu,” ucap Rafli mencoba membuka obrolan. Satu-satunya kemungkinan yang muncul di benak Rafli tentang nangisnya Masya hanya itu.
            Masya meneguk air mineral itu tanpa jeda. Setelahnya ia menarik napas sangat panjang dan mulai merespon ucapan Rafli. “Kita nggak boleh putus kak.”
            “Kalo dia bukan lelaki baik, putus adalah jalan terbaik.”
            “Aku nggak perlu laki-laki baik. Aku cuma perlu dia.”
            “Come on Masya, percaya deh sama aku. Akan ada laki-laki yang lebih baik dari dia untuk kamu.”
            “Nggak kak, nggak akan ada.” Nadanya terdengar sangat putus asa. Air mata yang sempat berhenti, sekarang mengalir lagi. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. “Sialan! Dia laki-laki sialan!” maki Masya dengan nada makin lama makin meninggi.
            “Hei Masya hei, tenang.” Rafli segera memeluk Masya yang mulai bergerak tidak karuan. Kakinya mengacak-acak pasir pantai dan tangannya terus memukuli dirinya sendiri.
            “Aku segagal-gagalnya manusia. Nggak akan ada laki-laki baik yang mau sama aku. Hidupku hancur kak…” pelan-pelan gerakan Masya berhenti. “Kalo aja waktu itu aku nggak bodoh dan ceroboh, aku nggak akan minum minuman itu. Aku nggak akan mabuk dan kehilangan semuanya,” lanjut Masya.
            Rafli mulai melepas pelukannya. Sementara Masya dengan tangan gemetar menyodorkan sesuatu dari dalam saku celananya, barang yang ia beli di apotek tadi.
            Rafli menerima barang itu dengan tangan yang sama gemetar, hati yang sama hancur seperti Masya. Dari iklan di tv, ia tahu cara membaca alat penguji kehamilan di tangannya. Bukan lagi sesak atau terkejut atau khawatir atau kecewa yang ia rasakan saat ini. Melainkan marah yang teramat. Seumur hidupnya baru kali ini dia merasa sangat marah sampai ingin membunuh.
            “Udah berapa lama?” tanya Rafli.
            “Seminggu,” jawab Masya tapi kemudian menggeleng tidak yakin dengan jawabannya sendiri. “Atau dua minggu,” lanjutnya.
            “Dia tau?”
            “Aku baru cek tadi.”
            “Kasih aku sedikit clue tentang dia, malam ini juga aku akan cari dia.” Kemarahan terlihat jelas dari pancaran mata Rafli.
            “Terlambat. Pada akhhirnya dia nggak akan menikahiku,” sahut Masya.
“Kenapa?” Rafli jadi bingung sendiri. Dari ciuman yang dia lihat di mobil tadi, seharusnya masih ada cinta dari Jason.
“Kemarin dia menikah sama perempuan pilihan keluarganya. Hari ini dia ke Indonesia hanya untuk putusin aku.” Air mata Masya berhenti mengalir. Selain penyesalan, ada rasa malu yang teramat yang menyelimutinya. Betapa malang air matanya yang banyak keluar karena hal se-memalukan ini.
Tangan Rafli mengepal kuat-kuat. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk gadis yang dicintainya sekaligus yang paling mengecewakannya ini. Semua yang muncul dalam pikirannya sekarang terasa tidak tepat.
Hidup selalu memiliki kejutan. Dan masing-masing kejutan selalu memberi rasa. Kadang rasa senang, kadang sedih, kadang bahagia, juga kadang kecewa. Bisa-bisanya dalam sehari ia dua kali datang ke pantai yang sama namun dengan perasaan yang sangat bertolak belakang. Senangnya tadi sore tidak sama seperti hancurnya malam ini.
---
Orang baik itu pasangannya orang baik. Orang jahat, ya wajar dapat yang jahat juga. Kalimat klise itu terus menggema di telinga Rafli. Berulang kali ia mencoba mengabaikannya, berulang kali juga ia merasa kecewa. Masya yang paling ia inginkan untuk berada di sisinya, sekarang terasa seperti bukan orang yang tepat untuk menjadi pasangannya.
Malam itu mejelaskan bahwa semuanya sudah hancur. Tidak hanya bagi Masya tapi juga bagi Rafli.
Masya sudah hancur sebagai seorang perempuan. Hal terpenting dari sisinya sebagai perempuan hilang sebelum waktunya. Sebagai perempuan, ia sudah tidak punya nilai sama sekali. Selamanya dia tidak akan bisa menjadi wanita keberuntungan bagi lelaki. Sekeras apapun ia menangis, tidak akan merubah semua yang telah terjadi.
Rafli sudah hancur hatinya. Bertahun-tahun ia melewatkan banyak perempuan baik demi seorang perempuan pilihannya. Bertahun-tahun ia teguh pada rindunya yang tak pernah reda. Ya, semua itu dilakukannya bertahun-tahun tapi hancur hanya dalam satu malam. Satu rasa bernama cinta yang ia simpan untuk seorang perempuan pilihannya itu pelan-pelan mulai dikikis oleh rasa-rasa yang menyesaki hatinya. Kecewa dan marah bersatu, mengikis satu rasa cinta.
Sudah dua minggu setelah malam itu Rafli tidak mengantar-jemput Gendis di rumah. Dengan alasan malas masuk ke dalam komplek, Rafli bisa menawar Gendis untuk diantar-jemput di ujung komplek.
Gendis sendiri tidak tahu kenapa Rafli bisa semalas itu. Biasanya dia yang paling senang kalau diajak ke rumah. Apalagi diawal-awal kepulangan Masya kemarin. Tapi Gendis iya-iya saja. dia tidak bertanya lebih lanjut. Baginya, keberadaan Rafli setiap berangkat dan pulang ngantor sudah cukup membuatnya bahagia.
“Raf, kira-kira Masya kenapa ya kok akhir-akhir ini dia jadi aneh?” tanya Gendis pada suatu perjalanan pulang dari kantor.
“Maksudnya?”
“Mendadak dia jadi pendiam. Gaya pakaian kebule-buleannya hilang. Bahkan dandan pun nggak. Bukan Masya banget.”
Rafli meneguk bulat ludahnya. Jadi, belum ada lagi yang tahu tentang kehamilan Masya selain dirinya?
“Gue nggak ngerti ya dia diet atau apa, yang pasti akhir-akhir ini dia jarang makan. Sekalinya makan, nggak pernah habis. Pas mama masak sapi lada hitam kesukaannya, dia tumben banget nggak exiceted. Lo tau kan, dia biar badannya kecil, kalo udah ketemu sapi lada hitam bisa ngalah-ngalahin hulk makannya.”
Rafli memaksa diri untuk tertawa menanggapi cerita Gendis. “Emang lo udah pernah lunch sama hulk sampe tau berapa porsi makannya hulk?”
“Yeee garing!” Gendis tertawa. Ia selalu suka walaupun itu jayus.
---
Masya sudah tidak pernah menangis lagi setelah melewati hari sehabis malam itu. Dia tahu semua sudah terjadi. Sebanyak apapun air mata yang keluar tidak akan merubah keadaan. Malahan membuatnya merasa sangat malu. Dia yang berbuat salah, dia juga yang menagisi keadaan.
Langit biru berubah kelam ketika papa menghampirinya yang sedang duduk-duduk di sofa dekat jendela. Papa memanggil dengan suara keras. Langkah kaki Papa memberi tahu Masya bahwa sudah waktunya ia berhenti menutupi semuanya. Dengan mata yang menggambarkan kemarahan, Papa melempar testpack kepada Masya.
“Jelaskan sekarang!” detik berikutnya Masya hanya bisa pasrah dimaki-maki Papa. Mama yang berusaha menenagkan Papa sama sekali tidak merubah keributan di balkon. Semakin lama makian Papa semakin pedas.
Sebagai pelaku yang sangat sadar akan kesalahannya, Masya menerima saja dahinya dituding-tuding.
“Kamu itu segagal-gagalnya perempuan!” ucap Papa dibarengi dengan tanga kanan yang siap mendarat ke pipi Masya.
“Stop Om!” Rafli berlari secepat mungkin dan menghentikan gerakan tangan Papa. Setelah mendengar cerita Gendis tadi, ia jadi tidak bisa konsentrasi dengan baik. Kekhawatirannya pada Masya muncul dan mendesak Rafli untuk menengoknya.
“Biar Raf! Dia aib keluarga.” Papa jadi membentak Rafli juga.
“Ini ada apa Pa?” tanya Gendis bingung bercampur takut. Dia belum pernah melihat Papa seganas ini.
“Adik kamu ini memang sudah nggak pantas tinggal di Indonesia. kelakuannya jauh dari adat-adat kita,” jawab Papa.
Mama menarik Gendis agar menjauh. Dengan air mata beruraian Mama memberitahu tentang kehamilan Masya pada Gendis. Gendis sangat terkejut sampai tidak tahu apa yang harus dikatakannya setelah mendengar penjelasan Mama.
“Tenang Om, Masya ini anak Om,” kata Rafli mencoba mengingatkan Papa agar lebih khilaf lagi.
“Sudah bukan lagi. Detik ini juga, anak saya cuma satu, Gendis.”
“Pa…” lirih Gendis. Dia tahu adiknya salah tapi dia tidak perlu dibuang seperti itu juga.
Papa pergi meninggalkan ruang tamu. Kemudian kembali dengan membawa koper berisi beberapa pakaian Masya yang diambilnya secara asal dari lemari. Papa menyodorkan koper itu dengan kasar kepada Masya.
“Jangan pernah kembali sebelum kamu bawa laki-laki yang mau menikahi kamu!”
Dengan tangan gemetar Masya meraih koper itu. ia melangkah pergi menuruti perintah Papa. Kalau sudah berbuat salah, patuh adalah salah satu cara untuk menebus kesalahan.
“Jangan diusir, Om,” kata Rafli tapi Papa tidak menghiraukan.
“Pa tolong jangan usir Masya,” pinta Gendis. Air matanya sudah beruraian membasahi pipinya.
“Lihat adikmu itu, dia nggak akan pernah kembali lagi. Karena tidak akan ada laki-laki yang mau menikahi perempuan yang hamil duluan begitu.” Selain merasa kecewa dan marah, sebenarnya Papa juga merasa ketakutan. Dengan keadaan seperti itu, Papa takut Masya tidak akan diterima oleh lelaki manapun.
“Saya Om, saya yang akan menikahi Masya. jangan usir dia. saya mohon,” ucap Rafli cepat sebelum Masya melangkah keluar pintu. Rafli sudah melupakan kalimat klisenya. Semua seperti mendesaknya untuk memaafkan Masya dan membiarkan cinta yang sudah tidak terlalu banya itu untuk mengikis rasa marah dan kecewanya.
Otot-otot tegang Papa mengendur begitu mendengar ucapan Rafli barusan. Mama melepas peukannya pada Gendis saking terkejutnya. Masya berhenti melangkah, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dan Gendis, jatungnya serasa copot dan hatinya hancur berkeping-keping. Dia tidak mau adiknya pergi tapi juga tidak berarti setuju dengan cara Rafli menolong adiknya itu.
---
Keadaan di ruang tamu sudah berubah. Tidak ada lagi bentakan-bentakan dan kalimat pedas yang keluar dari mulut Papa. Yang ada hanya hening. Satu-satunya suara yang ada hanya percakapan anatara Papa dan Rafli.
Semua duduk di dalam ruangan yang sama namun dengan perasaan yang berbeda-beda. Gendis dengan kehancurannya, Mama dengan kelegaannya karena Masya tidak jadi diusir, Papa dengan ketidakpercayaan sekaligus kelegaan, Rafli dengan keyakinan yang terus-terusan berusaha dikumpulkannya, dan Masya dengan rasa bersalah yang teramat, kebodohannya telah membawa banyak luka dan kesulitan bagi semuanya.
“Jangan kak, aku nggak apa pergi dari sini,” ucap Masya memotong pembicaraan Papa dengan Rafli.
“Kamu nggak usah sok pahlawan begitu.” Sekarang Papa baru menyesali pengusiran tadi. Papa tidak tahu apakah menyetujui pertolongan Rafli adaah tindakan yang benar atau tidak. Yang dia tahu, sekarang anaknya benar-benar butuh pertolongan sebelum pengucilan dari masyarakat menyiksa Masya.
“Selain untuk menolong kamu, aku juga memang mencintai kamu,” ucap Rafli sambil menggenggam tangan Masya. Membuat Gendis tiba-tiba bangun dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan ruang tamu. Jika alasan Rafli hanya untuk menolong Masya saja sudah melukai hatinya, apalagi saat ia harus menerima pengakuan Rafli barusan.
---
            Waktu sudah berganti menjadi malam. Tapi keadaan di rumah tidak banyak berubah. Masya duduk termenung di balkon, menatap bintang-bintang, dan menyesalkan sejuta efek dari kebodohannya.
            Rafli menghampiri dengan membawa dua cangkir the manis hangat. Ia mengambil duduk dan memberikan satu cangkir pada Masya. Ia tidak membuka pembicaraan apa-apa melainkan sibuk dengan pikiran dan perasaanya sendiri. Dia tidak menyangka cinta bisa sebodoh ini. Sekali pun itu cinta, bukan hal yang wajar jika ia membiarkan dirinya menikahi perempuan yang telah membuatnya sangat kecewa begini.
            “Aku tahu maksud kakak baik, kakak mau nolong aku. Tapi aku akan merasa sangat bersalah terlalu membebani kakak begini,” ucap Masya, akhirnya membuka obrolan. Tapi Rafli tidak merespon. “Batalin aja niat kakak. Aku nggak apa-apa,” lanjut Masya.
            “Memangnya kamu punya solusi yang lebih baik dari itu?” sahut Rafli.
            “Dengan tidak menambah beban baru bagi orang lain.”
            “Dan membiarkan perut kamu nanti membesar tanpa ada lelaki di samping kamu? Seberapa kuat mental yang udah kamu siapin untuk menghadapi pengucilan dari masyarakat?”
            Masya diam, tidak tahu jawabannya.
            “Aku nggak sepenuhnya menolong kamu.”
            Masya menoleh bingung. Apalagi? Cinta seperti yang tadi dibilang? Tidak masuk akal.
            “Mungkin kamu nggak akan percaya tapi apa yang aku bilang tadi benar. Aku cinta kamu, sejak bertahun-tahun lamanya. Satu-satunya cinta yang aku rasa, cuma kamu yang mendatangkannya.” Ini saatnya Rafli menyampaikan apa yang sejak bertahun-tahun ingin disampaikannya. “Semua yang datangnya dari kamu membuat aku merasakan perasaan yang berbeda meski pun Gendis juga bisa melakukannya.”
            Masya bisa mencerna dengan dengan sangat baik ucapan-ucapan Rafli. Terlebih saat Rafli meraih wajahnya dan menatapnya dalam. Ia bisa merasakan kejujuran yang disampaikan Rafli.
            “Tapi ini bodoh, kak.”
            “Aku juga bingung kenapa cinta bisa sebodoh ini. Kecewa dan marahku sangat besar tapi cinta tetap bisa membodohiku.” Rafli menyunggingkan sudut bibirnya, tersenyum atas kebodohannya.
            “Gimana sama orang tua kakak nanti? Mereka nggak akan bisa terima aku begitu tau aku…” Masya tidak ingin melanjutkan kalimatnya.
            “Sejak kecil aku nggak pernah minta yang macam-macam seperti anak-anak lainnya. Aku selalu jadi anak baik dan memberi kebanggaan-kebanggaan yang mereka mau. Hidupku selalu lurus-lurus saja, taat dengan semua peraturan mereka. Jadi aku rasa kalo sekali saja meminta hal yang aneh, akan nggak apa-apa.”
            “Tapi nggak akan semudah itu.”
            “Aku tau. Bahkan kalau aku harus dimaki, dibilang bodoh, dan dipukuli bapak, aku akan terima. Sesuatu yang besar memang harus dibayar dengan yang besar juga kan?”
            “Tapi aku bukan wanita keberuntungan buat kakak nantinya.”
            “Orang-orang bilang, orang baik itu pasangannya orang baik juga. Dan orang jahat ya pasangannya orang jahat juga.”
            “Dan aku orang jahat untuk orang baik seperti kakak.”
            “Tapi ternyata nggak juga. Kadang yang baik dihadapkan dengan yang buruk untuk membantunya berubah menjadi baik juga.”
            “Tapi aku…”
            “It’s ok Masya, I love you,” ucap Rafli dengan nada paling tegas, memotong kemungkinan-kemungkinan lain akibat keputusannya yang akan disampaikan Masya.
            Masya terdiam. Perlahan air matanya mulai menetes. Apa yang dia tahu tentang Sang Pencipta adalah benar. Dia sangat baik, bahkan ketika ia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Dia masih mau memberinya hadiah seindah Rafli padahal sudah mengecewakan-Nya. Di dalam hati ia berjanji, setelah ini, selamanya ia akan berusaha tidak membuat Dia kecewa. “Thanks God,” bisik Masya dalam hati.
            Rafli menghapus air mata yang membasahi pipi perempuannya itu. “Kamu nggak capek apa nangis terus?” canda Rafli dengan suara lembutnya. Hatinya sudah menerima semuanya.
            “Terima kasih. Aku akan belajar punya cinta sebanyak dan sebodoh cinta kakak,” ucap Masya.
            Rafli tersenyum. “Jangan dipaksa karena mau balas budi. Biarin semuanya tumbuh pelan-pelan.” Rafli mengusap-usap kepala Masya penuh kasih sayang.
            Ucapan-ucapan manis Rafli memang tidak langsung menuntaskan masalah yang ada. Tapi Masya merasa lebih dari bahagia sekarang. Sedikit bebannya terangkat. Hari berikutnya dia masih harus berjuang lagi. Tapi tidak sendirian, ada Rafli lelaki yang akan segera dicintainya. Dan tentunya tuhan yang tidak akan dikecawakannya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar