Hehehehe setelah mimpi ngoyo gue kemarin,
hari ini gue iseng nulis cerpen. Tapi sayangnya ini bukan cerpen yang bagus
untuk dimasukin ke dalam pola pikir kalian. Jadi jangan ditiru ya!Kan udah gue
bilang cuma cerpen. Iseng, lagi. Btw, gue nggak ngerti kenapa formasi
paragrafnya nggak rapih kayak di Word gue :| *yaudah sih ya bukan lagi jam
pelajaran mengarang kan ya yang panjang menjorok awal paragrafnya harus sama?
:P
Klik. Semua pekerjaan hari ini selesai.
Jarum di jam juga sudah menunjukkan pukul lima sore lebih delapan menit. Sudah
lewat beberapa menit dari waktu pulang.
Laptop
dimatikan. Rafli keluar dari dalam ruangannya sambil menjinjing tas coklat
hasil pemberian sahabatnya beberapa bulan lalu. Sebuah senyuman manis langsung
menyambut Rafli begitu ia membuka pintu.
Nama
Gendis. Sabahat Rafli sejak SMA. Wajahnya cantik khas perempuan Indonesia. Kulitnya
agak kecoklatan, matanya bulat dengan bola mata hitam pekat, dan tingginya
168cm, cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Setiap hari mereka selalu
berangkat dan pulang kerja bersama. Rafli mengantar Gendis, Gendis membawakan
bekal untuk Rafli, selalu begitu setiap harinya. Orang-orang kantor sering
menyangka kalau mereka ada fair tapi
sebenarnya tidak. Mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Meski jauh di dalam
lubuk hati Gendis, Gendis selalu berharap sangkaan itu akan menjadi kenyataan.
“Kali
ini lumayan, cuma terlambat delapan menit,” begitu Gendis menyambut Rafli sore
ini.
Rafli
ini pekerja keras jadi dia selalu maksimal dalam mengerjakan smeua pekerjaan
kantor. Dia tidak akan lega meninggalkan kantor kalau pekerjaannya belum
selesai.
“Ok,
mau ditraktir apa hari ini?” sudah perjanjiannya, yang membuat menunggu harus
mentraktir.
Gendis
menggeleng. “Hari ini kita kedatangan tamu spesial jadi kita harus cepat sampe
rumah,” jawab Gendis.
Rafli
mengerutkan dahi, tampak berpikir.
“Ayo!”
Gendis melangkah duluan, meninggalkan Rafli yang sibuk berpikir
.
---
Motor
Rafli terparkir apik di halaman depan rumah Gendis. Keduanya segera salim
kepada ayah dan ibu Gendis. Lalu detik berikutnya Rafli sukses mirip orang
bodoh. Matanya kecilnya membulat, mulutnya setengah terbuka, dan tidak satu pun
kata keluar dari mulutnya ketika mendapati seorang perempuan berkulit kuning
langsat mulus dengan tank top hitam ketat dan hot pants jeans sedang tertidur
pulas di sofa sambil kupingnya disumpel dengan earphone.
Bukan.
Bukan keseksian perempuan itu yang membuat Rafli melongo. Melainkan karena
perempuan itu adalah Masya, adik Gendis. Usianya empat tahun lebih muda. Setelah
tiga tahun tidak pulang dari Paris, kini akhirnya dia kembali dengan
perubahannnya yang begitu mengejutkan. Dulu cara berpakaian anak itu tidak
seterbuka ini, rambutnya juga tidak pirang seperti sekarang.
Gendis
juga sama terkejutnya seperti Rafli. Dia tahu hari ini adiknya itu akan pulang,
tapi dia tidak tahu kalau adiknya akan pulang dengan penampilan seperti ini.
Gendis menepuk-nepuk bahu Masya yang masih pulas. Agak sedikit sulit
membangunkan anak itu, tapi akhirnya bangun juga.
Masya
sedikit mengulat lalu membuka matanya dengan malas. Begitu mendapati Gendis dan
Rafli, kantuk dan malasnya langsung hilang. Ia bahkan langsung terduduk secara
otomatis.
“Oh
my god! Akhirnya kalian pulang juga! Aku sampai ketiduran nunggu kalian tau!”
ucap Masya dengan santainya. Ia beranjak dan hendak memeluk kakaknya tapi Gendis
malah menghindar.
“Pake
baju dulu sana, ada Rafli tau!” omel Gendis.
“Oh
come on! Aku udah pakai baju kak,” ucap Masya sambil menunjuk-nunjuk tank top
ketatnya. “Oh hai kak Rafli!!! I miss you so much!!!!!!” seru Masya sambil
melirik laki-laki yang berdiri di sebelah kakaknya. Masya menghampiri Rafli dan
hendak memberikan pelukan rindunya. Tapi Rafli dengan cepat bergerak mundur,
tidak terbiasa dengan tradisi pelukan rindu begitu.
“Hei
what’s going on?” Masya heran.
“Udah
sana ganti baju dulu!” Gendis memukul
bahu Masya. Masya cemberut tapi menurut juga. Ia pergi ke kamar dan mencari
kaos oblong.
Itulah
pertama kalinya mereka bertemu dengan Masya yang baru. Anak manis itu berubah
begitu mengejutkan. Kebudayaan di tempatnya kuliah tampak memberi pengaruh yang
sangat kuat pada anak itu.
---
Tiga
tahun tidak pulang membuat Masya serasa tidak kehabisan bahan untuk diceritakan.
Dimulai dari tempatnya kuliah, asramanya, teman-temannya, jam kuliah, sistem
belajarnya, nilai-nilai yang dia peroleh selama kuliah, sampai tempat-tempat
yang sudah ia kunjungi. Gendis dan Rafli menjadi pendengarnya.
Hari-hari
setelah kepulangannya, kegiatan Masya adalah mencari lokasi yang pas untuk
dijadikannya butik. Sebagai lulusan jurusan desainer dengan nilai cumlaude,
memiliki butik sendiri merupakan keinginan yang wajar. Sebenarnya sebulan
sebelum kelulusannya kemarin, ia sudah ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan
besar di Paris. Tapi orang tuanya ingin Masya tetap tinggal di Indonesia. jadi
Masya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan membangun karir di sini.
Beberapa
kali ia sempat reunian dengan teman-temannya semasa sekolah di Indonesia dulu. Tanggapan
mereka sama seperti dengan tanggapan pertama kali orang-orang rumahnya,
terkejut. Hanya bedanya, keterkejutan teman-temannya diikuti dengan komentar
manis: “Makin keren aja lo, cantik.”
Rafli
yang awalnya terkejut dengan perubahan Masya kini mulai terbiasa saat mereka
mengobrol tentang banyak hal. Ternyata, anak manis itu tidak benar-benar
berubah. Caranya berceloteh masih sama menggemaskannya seperti dulu, masih
selalu membuatnya jauh dari rasa bosan. Rafli juga masih merasakan keteduhan
dari tatapan mata anak itu. Yang terpenting yang Rafli dapati, perasaan
terpendamnya selama lima tahun itu tidak pernah berubah. Senyuman Masya masih
selalu bisa membuatnya secara otomatis ikut tersenyum juga. Kalimat-kalimat
yang dikeluarkan Masya masih selalu bisa membuatnya semangat.
Sementara
Gendis nampaknya masih belum terbiasa dengan perubahan adiknya. Dia masih
sering kesal dengan cara berpakaian Masya. Apalagi dengan warna rambut Masya
yang menurut Gendis sangat tidak karuan. Yang paling menyebalkan, ia jadi
sering mendapat komentar-komentar dari Masya tentang cara berpakaiannya. Nggak
matchinglah, kunolah, payahlah. Seolah-olah hanya Masya saja yang paling tahu
soal fashion.
---
Dihari
ke empat belas setelah kepulangan Masya, Rafli mengajak Masya jalan tanpa
diketahui Gendis. Selama dua minggu Rafli belum pernah benar-benar punya
kesempatan mengobrol berdua dengan Masya. Kalau tidak ditemani Gendis, pasti
ada orang lain lagi. Rindu yang Rafli pendam selama bertahun-tahun membuat Rafli
ingin benar-benar memiliki waktu yang spesial berdua dengan Masya.
Ketika
Rafli tahu Gendis akan mengikuti rapat sampai malam, ketika itu juga Rafli
mengambil kesempatan untuk memiliki waktu spesialnya bersama Masya. Alasan yang
diberikan Rafli adalah ingin pulang cepat karena sudah beberapa hari mengambil
lembur. Jadi Gendis membiarkan Rafli absen mengantarnya pulang.
Masya
merentangkan tangannya sambil merasakan terpaan angin di tubuhnya. Angin sore
pantai, langit biru yang luas, dan burung-burung yang melintasi air-air
berombak itu membuat sore ini nampak sangat indah. Sudah lama sekali ia tidak
mengunjungi pantai. Jadi dia merasa sangat senang sekali Rafli sudah
mengajaknya ke sini sore ini.
“Pantai.
I love it so much! Kak Rafli emang yang paling jago bikin orang senang,” ucap
Masya sambil melempar senyum bahagianya. Gigi-gigi putihnya berderet, menemani
lengkungan cantik bibirnya. Senyuman yang selalu membuat jantung Rafli berdegup
lebih kencang.
“The
best place of freedom,” sahut Rafli mengucap ucapan yang sering diucapkan Masya
setiap kali membicarakan soal pantai. Ya, memiliki perasaan spesial selama
bertahun-tahun membuat Rafli hapal apa-apa saja yang disukai Masya.
Sore
berlalu dengan cepat. Secepat degupan jantung Rafli tiap kali Masya menanggapi
pembicaraannya dengan tatapan dan senyuman. Langit perlahan menggelap. Semua
cerita mereka akhiri dengan pergi makan di pinggir jalan. Setelah semua makanan
habis dan jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, mereka memutuskan untuk
pulang.
Lagu
What Makes You Beautiful milik One Direction dari radio yang sedang disetel di
dalam mobil mulai terabaikan. Mulut Masya berhenti bergerak sesuai lirik lagu.
Dahinya berkernyit saat mendapati seorang pria baru saja turun dari taksi.
Masya meminta Rafli menghentikan laju mobil dan segera turun dari mobil tanpa
izin.
Dari
dalam mobil Rafli bisa melihat dengan jelas Masya tersenyum pada laki-laki itu,
sebuah senyuman yang berbeda dari senyum-senyum yang diberikan Masya tadi.
Senyumnya yang ini menggambarkan sebuah perasaan lega dari Masya. Belum lagi
soal senyum lega yang aneh itu, sekarang hati Rafli terasa terbakar melihat
Masya memeluk lalu mencium kening laki-laki itu. Beberapa tahun meninggalkan
Indonesia membuat Masya kelewat luwes
dalam menyapa orang.
“Kak,
Jason boleh numpang sampai rumahku kan?” tanya Masya yang sekarang sudah berada
di balik pintu mobil sambil menggandeng lelaki tak dikenal Rafli.
Rafli
hanya mengangguk, tidak enak untuk menolaknya.
“Aku
pindah duduk ke belakang ya kak?”
Lagi-lagi
Rafli hanya bisa mengangguk. Senyum manis itu membuatnya menjadi sangat bodoh
sekarang.
Rafli
merasa sangat patah hati ketika di dalam mobil Masya mengenalkan laki-laki yang
dipungutnya di jalan itu bernama Jason dan merupakan pacar Masya selama satu
tahun belakangan ini. Dia yang mencintai Masya bertahun-tahun lebih dulu tapi
malah bule Amerika ini yang berhasil menjadi pacar Masya, padahal kata Masya
mereka baru kenal satu setengah tahun yang lalu.
Dari
kaca spion, Rafli bisa melihat kemesraan mereka. Sejak masuk ke dalam mobil,
tangan Masya tidak pernah lepas menggenggam tangan Jason. Sesekali Masya
bermanja-manja dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Jason, satu hal yang tidak
pernah dilakukan Masya padanya.
Rafli
mendadak menginjak pedal rem saat ia mendapati adegan yang membuatnya sesak namun
lebih banyak terkejutnya. Entah apa yang mereka bicarakan dengan bahasa Prancis-nya,
yang Rafli lihat tiba-tiba Jason mendekatkan wajanya pada Masya dan mengecup
bibir Masya. Setelah itu bule sialan yang sudah merebut Masya-nya keluar dari
dalam mobil. Meninggalkan Masya dengan keadaan air mata mengalir tanpa ampun.
“Ada
apa? Apa aku perlu kejar laki-laki itu?” tanya Rafli penuh emosi. Dia tidak
tahu apa yang terjadi antara Masya dan bule itu. Dia juga tidak tahu pasti apa
yang sedang dirasakan hatinya sekarang. sesak, terkejut, dan khawatir bercampur
jadi satu, tidak tahu mana yang komposisinya paling banyak.
Masya
menggeleng. “Aku perlu pindah duduk di depan lagi?” tanya Masya disela tangis
yang mulai disertai isakan.
“Kalo
kamu merasa lebih baik duduk di belakang, nggak apa.” Rafli kecewa tapi juga
sangat ingin menghapus air mata Masya. Dulu Rafli sering melihat Masya
menangis, tapi tidak pernah yang sedihnya seperti sekarang.
“Antar
aku ke apotek atau supermarket, mau kan?” Masya memilih untuk tetap di
tempatnya.
Rafli
mengangguk lalu melajukan mobil lagi. Dalam diam ia menyodorkan kotak berisi
tisu kepada Masya. Setelah kata “makasih” yang keluar dari mulut Masya, tidak
ada lagi suara di dalam mobil, kecuali suara radio.
Rafli
tidak tahu apa yang Masya beli di apotek karena Masya melarangnya untuk ikut.
Dan bukannya pulang setelah mendapatkan barang yang dicarinya, Masya malah izin
ke toilet. Agak lama, Masya kembali dari toilet dengan ekspresi wajah sangat
buruk.
“Ada
apa? Jangan bikin aku bingung dan khawatir begini.” Meski rasanya ingin
meledak, Rafli tetap mengeluarkan nada yang lembut. Ia bahkan menyempatkan
tangannya mampir ke kepala Masya, mengelusnya walau pun gemetaran.
“Hancur.
Aku hancur kak. Aku segagal-gagalnya manusia,” jawab Masya diakhiri dengan
isakan.
“Apanya
yang gagal? Pelan-pelan aja, aku akan dengerin semuanya.”
Masya
tidak menjawab. Isakannya makin lama makin kencang. Rafli membiarkannya dan
kembali melajukan mobil. sekalinya kembali bersuara, Masya hanya bilang tidak
ingin pulang sekarang dan ingin kembali ke pantai.
---
Masya
masih menangis tapi sudah tidak disertai isakan. Mungkin ia sudah mulai capek
menangis setelah hampir dua jam ia terisak. Sekarang mereka sedang duduk di pinggir
pantai, membiarkan angin malam dengan jahat menerpa tubuh mereka.
Rafli
menyodorkan sebotol air mineral kepada Masya. “Kalo putus kan wajar. Nanti pasti
ada laki-laki yang lebih baik buat kamu,” ucap Rafli mencoba membuka obrolan.
Satu-satunya kemungkinan yang muncul di benak Rafli tentang nangisnya Masya
hanya itu.
Masya
meneguk air mineral itu tanpa jeda. Setelahnya ia menarik napas sangat panjang
dan mulai merespon ucapan Rafli. “Kita nggak boleh putus kak.”
“Kalo
dia bukan lelaki baik, putus adalah jalan terbaik.”
“Aku
nggak perlu laki-laki baik. Aku cuma perlu dia.”
“Come
on Masya, percaya deh sama aku. Akan ada laki-laki yang lebih baik dari dia
untuk kamu.”
“Nggak
kak, nggak akan ada.” Nadanya terdengar sangat putus asa. Air mata yang sempat
berhenti, sekarang mengalir lagi. Bahkan lebih deras dari sebelumnya. “Sialan!
Dia laki-laki sialan!” maki Masya dengan nada makin lama makin meninggi.
“Hei
Masya hei, tenang.” Rafli segera memeluk Masya yang mulai bergerak tidak
karuan. Kakinya mengacak-acak pasir pantai dan tangannya terus memukuli dirinya
sendiri.
“Aku
segagal-gagalnya manusia. Nggak akan ada laki-laki baik yang mau sama aku.
Hidupku hancur kak…” pelan-pelan gerakan Masya berhenti. “Kalo aja waktu itu
aku nggak bodoh dan ceroboh, aku nggak akan minum minuman itu. Aku nggak akan
mabuk dan kehilangan semuanya,” lanjut Masya.
Rafli
mulai melepas pelukannya. Sementara Masya dengan tangan gemetar menyodorkan
sesuatu dari dalam saku celananya, barang yang ia beli di apotek tadi.
Rafli
menerima barang itu dengan tangan yang sama gemetar, hati yang sama hancur
seperti Masya. Dari iklan di tv, ia tahu cara membaca alat penguji kehamilan di
tangannya. Bukan lagi sesak atau terkejut atau khawatir atau kecewa yang ia
rasakan saat ini. Melainkan marah yang teramat. Seumur hidupnya baru kali ini
dia merasa sangat marah sampai ingin membunuh.
“Udah
berapa lama?” tanya Rafli.
“Seminggu,”
jawab Masya tapi kemudian menggeleng tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
“Atau dua minggu,” lanjutnya.
“Dia
tau?”
“Aku
baru cek tadi.”
“Kasih
aku sedikit clue tentang dia, malam ini juga aku akan cari dia.” Kemarahan
terlihat jelas dari pancaran mata Rafli.
“Terlambat.
Pada akhhirnya dia nggak akan menikahiku,” sahut Masya.
“Kenapa?”
Rafli jadi bingung sendiri. Dari ciuman yang dia lihat di mobil tadi,
seharusnya masih ada cinta dari Jason.
“Kemarin
dia menikah sama perempuan pilihan keluarganya. Hari ini dia ke Indonesia hanya
untuk putusin aku.” Air mata Masya berhenti mengalir. Selain penyesalan, ada
rasa malu yang teramat yang menyelimutinya. Betapa malang air matanya yang
banyak keluar karena hal se-memalukan ini.
Tangan
Rafli mengepal kuat-kuat. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk gadis yang
dicintainya sekaligus yang paling mengecewakannya ini. Semua yang muncul dalam
pikirannya sekarang terasa tidak tepat.
Hidup
selalu memiliki kejutan. Dan masing-masing kejutan selalu memberi rasa. Kadang
rasa senang, kadang sedih, kadang bahagia, juga kadang kecewa. Bisa-bisanya
dalam sehari ia dua kali datang ke pantai yang sama namun dengan perasaan yang
sangat bertolak belakang. Senangnya tadi sore tidak sama seperti hancurnya
malam ini.
---
Orang baik itu pasangannya orang baik. Orang
jahat, ya wajar dapat yang jahat juga. Kalimat klise itu terus menggema di telinga
Rafli. Berulang kali ia mencoba mengabaikannya, berulang kali juga ia merasa
kecewa. Masya yang paling ia inginkan untuk berada di sisinya, sekarang terasa
seperti bukan orang yang tepat untuk menjadi pasangannya.
Malam
itu mejelaskan bahwa semuanya sudah hancur. Tidak hanya bagi Masya tapi juga
bagi Rafli.
Masya
sudah hancur sebagai seorang perempuan. Hal terpenting dari sisinya sebagai
perempuan hilang sebelum waktunya. Sebagai perempuan, ia sudah tidak punya
nilai sama sekali. Selamanya dia tidak akan bisa menjadi wanita keberuntungan
bagi lelaki. Sekeras apapun ia menangis, tidak akan merubah semua yang telah
terjadi.
Rafli
sudah hancur hatinya. Bertahun-tahun ia melewatkan banyak perempuan baik demi
seorang perempuan pilihannya. Bertahun-tahun ia teguh pada rindunya yang tak
pernah reda. Ya, semua itu dilakukannya bertahun-tahun tapi hancur hanya dalam
satu malam. Satu rasa bernama cinta yang ia simpan untuk seorang perempuan
pilihannya itu pelan-pelan mulai dikikis oleh rasa-rasa yang menyesaki hatinya.
Kecewa dan marah bersatu, mengikis satu rasa cinta.
Sudah
dua minggu setelah malam itu Rafli tidak mengantar-jemput Gendis di rumah.
Dengan alasan malas masuk ke dalam komplek, Rafli bisa menawar Gendis untuk
diantar-jemput di ujung komplek.
Gendis
sendiri tidak tahu kenapa Rafli bisa semalas itu. Biasanya dia yang paling
senang kalau diajak ke rumah. Apalagi diawal-awal kepulangan Masya kemarin.
Tapi Gendis iya-iya saja. dia tidak bertanya lebih lanjut. Baginya, keberadaan
Rafli setiap berangkat dan pulang ngantor sudah cukup membuatnya bahagia.
“Raf,
kira-kira Masya kenapa ya kok akhir-akhir ini dia jadi aneh?” tanya Gendis pada
suatu perjalanan pulang dari kantor.
“Maksudnya?”
“Mendadak
dia jadi pendiam. Gaya pakaian kebule-buleannya hilang. Bahkan dandan pun
nggak. Bukan Masya banget.”
Rafli
meneguk bulat ludahnya. Jadi, belum ada lagi yang tahu tentang kehamilan Masya
selain dirinya?
“Gue
nggak ngerti ya dia diet atau apa, yang pasti akhir-akhir ini dia jarang makan.
Sekalinya makan, nggak pernah habis. Pas mama masak sapi lada hitam
kesukaannya, dia tumben banget nggak exiceted. Lo tau kan, dia biar badannya
kecil, kalo udah ketemu sapi lada hitam bisa ngalah-ngalahin hulk makannya.”
Rafli
memaksa diri untuk tertawa menanggapi cerita Gendis. “Emang lo udah pernah
lunch sama hulk sampe tau berapa porsi makannya hulk?”
“Yeee
garing!” Gendis tertawa. Ia selalu suka walaupun itu jayus.
---
Masya
sudah tidak pernah menangis lagi setelah melewati hari sehabis malam itu. Dia
tahu semua sudah terjadi. Sebanyak apapun air mata yang keluar tidak akan
merubah keadaan. Malahan membuatnya merasa sangat malu. Dia yang berbuat salah,
dia juga yang menagisi keadaan.
Langit
biru berubah kelam ketika papa menghampirinya yang sedang duduk-duduk di sofa
dekat jendela. Papa memanggil dengan suara keras. Langkah kaki Papa memberi
tahu Masya bahwa sudah waktunya ia berhenti menutupi semuanya. Dengan mata yang
menggambarkan kemarahan, Papa melempar testpack kepada Masya.
“Jelaskan
sekarang!” detik berikutnya Masya hanya bisa pasrah dimaki-maki Papa. Mama yang
berusaha menenagkan Papa sama sekali tidak merubah keributan di balkon. Semakin
lama makian Papa semakin pedas.
Sebagai
pelaku yang sangat sadar akan kesalahannya, Masya menerima saja dahinya
dituding-tuding.
“Kamu
itu segagal-gagalnya perempuan!” ucap Papa dibarengi dengan tanga kanan yang
siap mendarat ke pipi Masya.
“Stop
Om!” Rafli berlari secepat mungkin dan menghentikan gerakan tangan Papa.
Setelah mendengar cerita Gendis tadi, ia jadi tidak bisa konsentrasi dengan
baik. Kekhawatirannya pada Masya muncul dan mendesak Rafli untuk menengoknya.
“Biar
Raf! Dia aib keluarga.” Papa jadi membentak Rafli juga.
“Ini
ada apa Pa?” tanya Gendis bingung bercampur takut. Dia belum pernah melihat
Papa seganas ini.
“Adik
kamu ini memang sudah nggak pantas tinggal di Indonesia. kelakuannya jauh dari
adat-adat kita,” jawab Papa.
Mama
menarik Gendis agar menjauh. Dengan air mata beruraian Mama memberitahu tentang
kehamilan Masya pada Gendis. Gendis sangat terkejut sampai tidak tahu apa yang
harus dikatakannya setelah mendengar penjelasan Mama.
“Tenang
Om, Masya ini anak Om,” kata Rafli mencoba mengingatkan Papa agar lebih khilaf
lagi.
“Sudah
bukan lagi. Detik ini juga, anak saya cuma satu, Gendis.”
“Pa…”
lirih Gendis. Dia tahu adiknya salah tapi dia tidak perlu dibuang seperti itu
juga.
Papa
pergi meninggalkan ruang tamu. Kemudian kembali dengan membawa koper berisi
beberapa pakaian Masya yang diambilnya secara asal dari lemari. Papa
menyodorkan koper itu dengan kasar kepada Masya.
“Jangan
pernah kembali sebelum kamu bawa laki-laki yang mau menikahi kamu!”
Dengan
tangan gemetar Masya meraih koper itu. ia melangkah pergi menuruti perintah
Papa. Kalau sudah berbuat salah, patuh adalah salah satu cara untuk menebus
kesalahan.
“Jangan
diusir, Om,” kata Rafli tapi Papa tidak menghiraukan.
“Pa
tolong jangan usir Masya,” pinta Gendis. Air matanya sudah beruraian membasahi
pipinya.
“Lihat
adikmu itu, dia nggak akan pernah kembali lagi. Karena tidak akan ada laki-laki
yang mau menikahi perempuan yang hamil duluan begitu.” Selain merasa kecewa dan
marah, sebenarnya Papa juga merasa ketakutan. Dengan keadaan seperti itu, Papa
takut Masya tidak akan diterima oleh lelaki manapun.
“Saya
Om, saya yang akan menikahi Masya. jangan usir dia. saya mohon,” ucap Rafli
cepat sebelum Masya melangkah keluar pintu. Rafli sudah melupakan kalimat
klisenya. Semua seperti mendesaknya untuk memaafkan Masya dan membiarkan cinta
yang sudah tidak terlalu banya itu untuk mengikis rasa marah dan kecewanya.
Otot-otot
tegang Papa mengendur begitu mendengar ucapan Rafli barusan. Mama melepas
peukannya pada Gendis saking terkejutnya. Masya berhenti melangkah, tidak
percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Dan Gendis, jatungnya serasa copot
dan hatinya hancur berkeping-keping. Dia tidak mau adiknya pergi tapi juga
tidak berarti setuju dengan cara Rafli menolong adiknya itu.
---
Keadaan
di ruang tamu sudah berubah. Tidak ada lagi bentakan-bentakan dan kalimat pedas
yang keluar dari mulut Papa. Yang ada hanya hening. Satu-satunya suara yang ada
hanya percakapan anatara Papa dan Rafli.
Semua
duduk di dalam ruangan yang sama namun dengan perasaan yang berbeda-beda.
Gendis dengan kehancurannya, Mama dengan kelegaannya karena Masya tidak jadi
diusir, Papa dengan ketidakpercayaan sekaligus kelegaan, Rafli dengan keyakinan
yang terus-terusan berusaha dikumpulkannya, dan Masya dengan rasa bersalah yang
teramat, kebodohannya telah membawa banyak luka dan kesulitan bagi semuanya.
“Jangan
kak, aku nggak apa pergi dari sini,” ucap Masya memotong pembicaraan Papa
dengan Rafli.
“Kamu
nggak usah sok pahlawan begitu.” Sekarang Papa baru menyesali pengusiran tadi.
Papa tidak tahu apakah menyetujui pertolongan Rafli adaah tindakan yang benar
atau tidak. Yang dia tahu, sekarang anaknya benar-benar butuh pertolongan
sebelum pengucilan dari masyarakat menyiksa Masya.
“Selain
untuk menolong kamu, aku juga memang mencintai kamu,” ucap Rafli sambil
menggenggam tangan Masya. Membuat Gendis tiba-tiba bangun dari duduknya dan
kemudian pergi meninggalkan ruang tamu. Jika alasan Rafli hanya untuk menolong
Masya saja sudah melukai hatinya, apalagi saat ia harus menerima pengakuan
Rafli barusan.
---
Waktu
sudah berganti menjadi malam. Tapi keadaan di rumah tidak banyak berubah. Masya
duduk termenung di balkon, menatap bintang-bintang, dan menyesalkan sejuta efek
dari kebodohannya.
Rafli
menghampiri dengan membawa dua cangkir the manis hangat. Ia mengambil duduk dan
memberikan satu cangkir pada Masya. Ia tidak membuka pembicaraan apa-apa
melainkan sibuk dengan pikiran dan perasaanya sendiri. Dia tidak menyangka
cinta bisa sebodoh ini. Sekali pun itu cinta, bukan hal yang wajar jika ia
membiarkan dirinya menikahi perempuan yang telah membuatnya sangat kecewa
begini.
“Aku
tahu maksud kakak baik, kakak mau nolong aku. Tapi aku akan merasa sangat
bersalah terlalu membebani kakak begini,” ucap Masya, akhirnya membuka obrolan.
Tapi Rafli tidak merespon. “Batalin aja niat kakak. Aku nggak apa-apa,” lanjut
Masya.
“Memangnya
kamu punya solusi yang lebih baik dari itu?” sahut Rafli.
“Dengan
tidak menambah beban baru bagi orang lain.”
“Dan
membiarkan perut kamu nanti membesar tanpa ada lelaki di samping kamu? Seberapa
kuat mental yang udah kamu siapin untuk menghadapi pengucilan dari masyarakat?”
Masya
diam, tidak tahu jawabannya.
“Aku
nggak sepenuhnya menolong kamu.”
Masya
menoleh bingung. Apalagi? Cinta seperti yang tadi dibilang? Tidak masuk akal.
“Mungkin
kamu nggak akan percaya tapi apa yang aku bilang tadi benar. Aku cinta kamu,
sejak bertahun-tahun lamanya. Satu-satunya cinta yang aku rasa, cuma kamu yang
mendatangkannya.” Ini saatnya Rafli menyampaikan apa yang sejak bertahun-tahun
ingin disampaikannya. “Semua yang datangnya dari kamu membuat aku merasakan
perasaan yang berbeda meski pun Gendis juga bisa melakukannya.”
Masya
bisa mencerna dengan dengan sangat baik ucapan-ucapan Rafli. Terlebih saat
Rafli meraih wajahnya dan menatapnya dalam. Ia bisa merasakan kejujuran yang
disampaikan Rafli.
“Tapi
ini bodoh, kak.”
“Aku
juga bingung kenapa cinta bisa sebodoh ini. Kecewa dan marahku sangat besar
tapi cinta tetap bisa membodohiku.” Rafli menyunggingkan sudut bibirnya,
tersenyum atas kebodohannya.
“Gimana
sama orang tua kakak nanti? Mereka nggak akan bisa terima aku begitu tau aku…”
Masya tidak ingin melanjutkan kalimatnya.
“Sejak
kecil aku nggak pernah minta yang macam-macam seperti anak-anak lainnya. Aku
selalu jadi anak baik dan memberi kebanggaan-kebanggaan yang mereka mau.
Hidupku selalu lurus-lurus saja, taat dengan semua peraturan mereka. Jadi aku
rasa kalo sekali saja meminta hal yang aneh, akan nggak apa-apa.”
“Tapi
nggak akan semudah itu.”
“Aku
tau. Bahkan kalau aku harus dimaki, dibilang bodoh, dan dipukuli bapak, aku
akan terima. Sesuatu yang besar memang harus dibayar dengan yang besar juga
kan?”
“Tapi
aku bukan wanita keberuntungan buat kakak nantinya.”
“Orang-orang
bilang, orang baik itu pasangannya orang baik juga. Dan orang jahat ya pasangannya
orang jahat juga.”
“Dan
aku orang jahat untuk orang baik seperti kakak.”
“Tapi
ternyata nggak juga. Kadang yang baik dihadapkan dengan yang buruk untuk
membantunya berubah menjadi baik juga.”
“Tapi
aku…”
“It’s
ok Masya, I love you,” ucap Rafli dengan nada paling tegas, memotong
kemungkinan-kemungkinan lain akibat keputusannya yang akan disampaikan Masya.
Masya
terdiam. Perlahan air matanya mulai menetes. Apa yang dia tahu tentang Sang
Pencipta adalah benar. Dia sangat baik, bahkan ketika ia sudah melakukan
kesalahan yang sangat besar. Dia masih mau memberinya hadiah seindah Rafli
padahal sudah mengecewakan-Nya. Di dalam hati ia berjanji, setelah ini,
selamanya ia akan berusaha tidak membuat Dia kecewa. “Thanks God,” bisik Masya
dalam hati.
Rafli
menghapus air mata yang membasahi pipi perempuannya itu. “Kamu nggak capek apa
nangis terus?” canda Rafli dengan suara lembutnya. Hatinya sudah menerima
semuanya.
“Terima
kasih. Aku akan belajar punya cinta sebanyak dan sebodoh cinta kakak,” ucap
Masya.
Rafli
tersenyum. “Jangan dipaksa karena mau balas budi. Biarin semuanya tumbuh
pelan-pelan.” Rafli mengusap-usap kepala Masya penuh kasih sayang.
Ucapan-ucapan
manis Rafli memang tidak langsung menuntaskan masalah yang ada. Tapi Masya
merasa lebih dari bahagia sekarang. Sedikit bebannya terangkat. Hari berikutnya
dia masih harus berjuang lagi. Tapi tidak sendirian, ada Rafli lelaki yang akan
segera dicintainya. Dan tentunya tuhan yang tidak akan dikecawakannya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar