Jumat, 30 Januari 2015

Cerpen: It's Ok, I Love You

Hehehehe setelah mimpi ngoyo gue kemarin, hari ini gue iseng nulis cerpen. Tapi sayangnya ini bukan cerpen yang bagus untuk dimasukin ke dalam pola pikir kalian. Jadi jangan ditiru ya!Kan udah gue bilang cuma cerpen. Iseng, lagi. Btw, gue nggak ngerti kenapa formasi paragrafnya nggak rapih kayak di Word gue :| *yaudah sih ya bukan lagi jam pelajaran mengarang kan ya yang panjang menjorok awal paragrafnya harus sama? :P


            Klik. Semua pekerjaan hari ini selesai. Jarum di jam juga sudah menunjukkan pukul lima sore lebih delapan menit. Sudah lewat beberapa menit dari waktu pulang.
            Laptop dimatikan. Rafli keluar dari dalam ruangannya sambil menjinjing tas coklat hasil pemberian sahabatnya beberapa bulan lalu. Sebuah senyuman manis langsung menyambut Rafli begitu ia membuka pintu.
            Nama Gendis. Sabahat Rafli sejak SMA. Wajahnya cantik khas perempuan Indonesia. Kulitnya agak kecoklatan, matanya bulat dengan bola mata hitam pekat, dan tingginya 168cm, cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Setiap hari mereka selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Rafli mengantar Gendis, Gendis membawakan bekal untuk Rafli, selalu begitu setiap harinya. Orang-orang kantor sering menyangka kalau mereka ada fair tapi sebenarnya tidak. Mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Meski jauh di dalam lubuk hati Gendis, Gendis selalu berharap sangkaan itu akan menjadi kenyataan.
            “Kali ini lumayan, cuma terlambat delapan menit,” begitu Gendis menyambut Rafli sore ini.
            Rafli ini pekerja keras jadi dia selalu maksimal dalam mengerjakan smeua pekerjaan kantor. Dia tidak akan lega meninggalkan kantor kalau pekerjaannya belum selesai.
            “Ok, mau ditraktir apa hari ini?” sudah perjanjiannya, yang membuat menunggu harus mentraktir.
            Gendis menggeleng. “Hari ini kita kedatangan tamu spesial jadi kita harus cepat sampe rumah,” jawab Gendis.
            Rafli mengerutkan dahi, tampak berpikir.

Rabu, 28 Januari 2015

Mimpi Ngoyo Gue

Halo! Kali ini post gue agak sedikit nyerempet-nyerempet curhat, nggak apa ya! *Iya, pokoknya harus nggak apa! :| haha.

Kalian, tertutama para 'Pasien Demam Korea', pasti tau dong salah satu drama korea yang judulnya Dream High. Drama ini ngetop abis di negeri gingseng sana. Kalo nggak salah, drama ini dibikin sampe 3 season. Kalo nggak salah loh ya! Hmm... tapi gue cuma nonton Dream High season 1. Jadi maklum deh kalo gue nggak tau pasti itu drama ada berapa season.

Sebenernya drama ini udah lama banget ada. Waktu itu gue nonton di Indosiar. And you should know! itu drama adalah satu-satunya drama korea yang gue tonton full tanpa ketinggalan satu episode pun. Pokoknya disempet-sempetin nonton deh!

Gue suka banget sama drama ini karena drama ini bikin gue semangat. Drama yang bercerita tentang perjuangan merealisasikan mimpi ini, bikin gue percaya bahwa sebesar apapun mimpi lo, pada suatu hari lo pasti bisa meraihnya, asal lo mau kerja keras kayak murid-murid Kirin Art School itu.

Meski suka banget sama film ini udah lama, baru beberapa bulan lalu tuh film ada dalam list film di laptop gue. Itu pun gue dapet dari temen sekelas gue hahaha. Kemudian jadilah gue nonton ulang itu drama. Gue tonton itu drama secara runtut dari episode 1-16. Dan akhirnya gue ‘kecanduan’ lagi. Gue nonton ulang lagi, lagi, lagi sampe tante gue komen, “Nggak bosen-bosen apa nontonnya itu terus? Kan males tau kalo udah tau ceritanya!”. Parahnnya, sekarang kegiatan internetan gue adalah googling dan youtubing segala embel-embel tuh drama. Dan yang paling aneh sekaligus memalukan, karena ngerasa jilat ludah sendiri, adalah sekarang beberapa song playlist di HP gue itu lagu-lagu korea, lagu-lagu soundtrack Dream High. *ampuni Pinces plisss!*


Senin, 26 Januari 2015

Dear Allah...

I wrote this letter with all of my fatigue. When my heart was broken so much. When I feel like too tired to live but also afraid to die. I think I want to make a rebellion. But then... I remember that there is You always be here.