Hehehehe setelah mimpi ngoyo gue kemarin,
hari ini gue iseng nulis cerpen. Tapi sayangnya ini bukan cerpen yang bagus
untuk dimasukin ke dalam pola pikir kalian. Jadi jangan ditiru ya!Kan udah gue
bilang cuma cerpen. Iseng, lagi. Btw, gue nggak ngerti kenapa formasi
paragrafnya nggak rapih kayak di Word gue :| *yaudah sih ya bukan lagi jam
pelajaran mengarang kan ya yang panjang menjorok awal paragrafnya harus sama?
:P
Klik. Semua pekerjaan hari ini selesai.
Jarum di jam juga sudah menunjukkan pukul lima sore lebih delapan menit. Sudah
lewat beberapa menit dari waktu pulang.
Laptop
dimatikan. Rafli keluar dari dalam ruangannya sambil menjinjing tas coklat
hasil pemberian sahabatnya beberapa bulan lalu. Sebuah senyuman manis langsung
menyambut Rafli begitu ia membuka pintu.
Nama
Gendis. Sabahat Rafli sejak SMA. Wajahnya cantik khas perempuan Indonesia. Kulitnya
agak kecoklatan, matanya bulat dengan bola mata hitam pekat, dan tingginya
168cm, cukup tinggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Setiap hari mereka selalu
berangkat dan pulang kerja bersama. Rafli mengantar Gendis, Gendis membawakan
bekal untuk Rafli, selalu begitu setiap harinya. Orang-orang kantor sering
menyangka kalau mereka ada fair tapi
sebenarnya tidak. Mereka hanya bersahabat, tidak lebih. Meski jauh di dalam
lubuk hati Gendis, Gendis selalu berharap sangkaan itu akan menjadi kenyataan.
“Kali
ini lumayan, cuma terlambat delapan menit,” begitu Gendis menyambut Rafli sore
ini.
Rafli
ini pekerja keras jadi dia selalu maksimal dalam mengerjakan smeua pekerjaan
kantor. Dia tidak akan lega meninggalkan kantor kalau pekerjaannya belum
selesai.
“Ok,
mau ditraktir apa hari ini?” sudah perjanjiannya, yang membuat menunggu harus
mentraktir.
Gendis
menggeleng. “Hari ini kita kedatangan tamu spesial jadi kita harus cepat sampe
rumah,” jawab Gendis.
Rafli
mengerutkan dahi, tampak berpikir.