Jumat, 05 September 2014

Cerpen: Banjir Marigold

Banjir Marigold
Ini dia pacarnya Kirana, namanya Pilar. Mereka sudah lima tahun menjalin hubungan dan sejauh ini semuanya hampir tidak ada yang berberubah dari sejak pertama mereka pacaran. Pilar masih dengan sikap-sikapnya yang harus dimengerti Kirana. Dan Kirana masih dengan sedikit keinginan-keinginannya yang seperti anak ABG.
Mereka sedang melintasi arena ice skating.
“Car main yuk car!” ‘Car’adalah cara mereka menggunakan panggilan sayang, yang diambil dari suku kata terakhir dari kata ‘Pacar’. “Aku pengen banget,” pinta Kirana sambil menunjuk-nunjuk arena ice skating dengan dagunya. Matanya berbinar persis seperti anak kecil merajuk minta permen.
“Nggak. Kamu nggak liat yang main anak kecil semua?” Pilar malah melangkah menjauhi arena ice skating.
“Itu ada anak SMA-nya kok…” ucap Kirana memelas. Seumur-umur dia belum pernah main ice skating jadi dia penasaran banget mau mencoba permainan itu.
“Dan kita udah bukan anak SMA lagi. Kita ke tempat makan aja!” Selalu saja ini yang dikatakan Pilar saat menolak keinginan-keinginan –yang dianggap bocah- Kirana.
“Okay.” Dan untuk kesekian kalinya Kirana tidak bisa memaksakan keinginan kekanak-kanakannya itu. Mau tidak mau Kirana pun mengikuti kemauan Pilar untuk meninggalkan arena ice skating dan pergi ke tempat makan. Ah lagi pula Kirana juga sudah mulai merasa lapar.
Tapi bukan Pilar namanya kalau mau bermanis-manis setelah menolak permintaan pacarnya. Lihat saja kelakuannya, sudah menolak Kirana sekarang malah jalan duluan. Kirana pun cuma bisa menggoyang-goyangkan tangannya yang hampa sambil manyun dan mencoba untuk mengerti. Pilar memang tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum, seperti anak ABG saja katanya.
Tapi kadang… Kirana kan juga ingin seperti pasangan-pasangan ABG yang kalau sedang jalan tangannya digandeng.
Kirana mulai merasa bosan sendirian menunggu Pilar yang tak kunjung kembali dari toilet sejak setengah jam yang lalu. Berkali-kali dia mencoba menelpon pacarnya itu tapi tidak juga diangkat. Dengan kesal dia beranjak dari duduknya lalu memanggil pelayan restoran untuk meminta bill pesanan. Tapi pelayan bilang, semuanya sudah dibayar lunas atas nama Pilar. Kirana bingung saat tiba-tiba pelayan itu memberinya sekuntum bunga marigold, bunga kesukaannya.
“Bunga dari siapa mas?” tanya Kirana bingung.
“Selamat berbahagia, Anda boleh meninggalkan restoran ini.” bukannya menjawab pertanyaan Kirana, pelayan itu malah mengusir Kirana dengan halus.
Malas bertanya lagi, Kirana pun pergi meninggalkan restoran dengan perasaan heran tapi lebih banyak kesalnya. Kesal karena tiba-tiba Pilar izin ke toilet tapi nggak balik-balik padahal sudah setengah jam. Kesal karena Pilar nggak mengangkat telepon darinya dan telah membuatnya menunggu lama. Kesal karena ternyata Pilar sudah membayar semua pesanan padahal niatnya hari ini dia mau mentraktir Pilar karena baru saja menerima honor dari hasil penjualan novel kedelapannya yang baru terbit dua minggu tapi sudah laku terjual sekitar 800.000 kopi. Kesal karena Pilar nggak ngasih kabar apa-apa.
Baru satu meter dari pintu restoran, Kirana dipanggil dan terpaksa harus menoleh. Itu bukan suara Pilar. Itu suara perempuan, salah satu pelayan restoran tadi.
“Ada apa?” tanya Kirana.
“Ini, tadi ada mas-mas nitip ini buat mbak. Mba Kirana kan?” tanya si pelayan sambil ngos-ngosan karena habis lari dari dalam untuk mengejar Kirana. Pelayan itu memberi Kirana setangkai bunga marigold.
“Dari siapa?” tanya Kirana. Dia malas menjawab pertanyaan si pelayan. Kalau toh dia sudah menyodorkan barang padanya, kenapa pula dia malah baru bertanya untuk memastikan apa benar dia sedang berbicara dengan Kirana atau bukan.
“Selamat berbahagia, Anda boleh meninggalkan restoran ini,” kata si pelayan sambil tersenyum ramah. Kalimatnya sama persis dengan pelayan yang sebelumnya memberi Kirana bunga.
“Mba janjian ya sama pelayan yang di dalam?” tanya Kirana heran dengan kalimat yang diucapkan pelayan ini sama persis dengan ucapan pelayan yang di dalam tadi.
“Jangan lupa dibaca ya mba suratnya,” pesan si pelayan sambil tersenyum ramah.
Malas bertanya lagi, Kirana pun segera membaca isi surat di dalam amplop berwarna biru, warna kesukaan Pilar.
Halo pacar,
maaf ya udah bikin kamu nunggu lama. Itu bunga marigold putihnya jadi simbol permintaan maaf dari aku ya... sekarang cepetan ke bioskop studio 3 ya, aku udah pesen tiket.
-Pilar-

Tulisan cakar bebek milik Pilar yang sudah Kirana hapal benar itu pun membuat Kirana jadi penasaran dan ingin segera menemui Pilar di bioskop studio tiga. “Makasih ya mba,” ucap Kirana lalu pergi menuju bioskop.
Apa yang sedang direncanakan Pilar? Hanya itu pertanyaan yang memenuhi benaknya saat ini. Mendadak Pilar bersikap sok romantis. Iya, sok romantis. Kirana tahu benar bagaimana watak Pilar. Pacarnya selama lima tahun belakangan itu bisa dibilang bukan orang yang romantis. Dia jarang melakukan hal-hal yang romantis. Dia tidak pandai dalam hal-hal seperti itu. Dia lebih sering melakukan hal kecil yang tidak kasat mata dan tidak tertata. Tapi Kirana suka itu.
Sampainya di bioskop Kirana langsung mengecek jadwal film yang diputar di studio tiga hari ini dan ternyata film yang diputar di studio tiga hari ini adalah film horor. Sama sekali bukan jenis film kesukaan Kirana. Dia pun segera mengurungkan niatnya untuk menemui Pilar.
Duduk sambil mengetik sms. Itulah yang dilakukan Kirana sekarang. Rasa penasarannya hilang sudah. Dia sudah tahu apa yang direncanakan Pilar: iseng dan menjebaknya untuk menonton film horror –sama sekali bukan untuk beromantis-romantisan. Kirana tidak pernah suka film horor. Dia penakut dan Pilar tahu itu. Seharusnya Pilar juga tahu kalau ini tidak lucu, sama sekali tidak lucu.
To: Pilar
aku udh di bioskop.
From: Pilar
yaudah, buruan masuk. Aku udh di dlm studio 3.
To: Pilar
Lupa ya pacarnya nggak suka film horor? Lupa pacarnya penakut? Bete ah car. Gk lucu.
From: Pilar
Aku pny se-bucket marigold.
To: Pilar
Udh kamu nonton sndiri aja. Aku nunggu di sini.
Empat menit, lima menit, enam menit... dan Pilar nggak lagi membalas sms Kirana.
Mencoba menghilangkan perasaan bete plus kesalnya, Kirana mengambil headset dan mulai mendengarkan lagu dari playlist di handphonenya. Hari ini dia kesal banget sama Pilar. Tidak biasanya Pilar begini: tega untuk tetap lebih memilih menonton film horor dan membiarkan Kirana menunggu di sini sendirian sampai filmnya selesai nanti.
“Permisi, mba Kirana ya?” tanya seorang penjaga bioskop yang tiba-tiba hadir di hadapan Kirana.
“Iya, ada apa?” tanya Kirana.
“Ini, ada titipan bunga dari studio tiga,” jawab si penjaga bioskop sambil menyodorkan se-bucket bungan marigold.
“Makasih mba.”  Kirana menerima bucket bunga itu lalu membaca surat kecil yang ditempel di salah satu sisi bucket.
Maaf ya car, tapi aku males banget keluar dari dalam studio. Sebentar lagi filmnya mulai. Aku tetep tunggu kamu sampai kamu datang. Kalo sampai filmnya habis dan kamu nggak juga datang, aku nggak bakal keluar dari dalam studio.
-Pilar-
Lagi-lagi tulisan cakar bebek milik Pilar.
To: Pilar
sumpah car, nggak lucu.
From: Pilar
please, sekali ini aja car. Aku tunggu ya! ;)
Kali ini Kirana yang tidak membalas sms. Dia menimang-nimang sebentar lalu akhirnya bangun juga dari duduknya. Dengan perasaan kesal tambah terpaksa, Kirana pun beranjak juga ke studio tiga.
Hari ini Kirana seperti kebanjiran marigold. Bunga di restoran dan saat menunggu di bioskop tadi sepertinya belum cukup, masih ada banyak marigold lagi yang Kirana terima. Sepanjang beberapa meter dari pintu masuk studio tiga, berjajar beberapa orang penjaga bioskop yang tiap satu orangnya memberi Kirana setangkai bunga marigold. Tapi kali ini Kirana sudah tidak merasa kaget lagi seperti saat diberi bunga oleh pelayan restoran tadi. Dia tahu, bunga yang kali ini pasti dari Pilar juga. Untuk apa? Ya jelas untuk meminta maaf sekaligus memaksanya untuk menonton film horor.
Niat banget sih Pilar! Gerutu Kirana dalam hati.
Kirana duduk di sebelah Pilar, di deretan bangku paling atas. Lampu bioskop sudah dimatikan tapi masih bisa kelihatan kalau empat deret bangku di depannya masih kosong melompong.
“Kamu apa-apaan sih maksa banget nonton film horor? Tumben,” ambek Kirana sambil mengahmburkan marigold ke pangkuan Pilar. Tapi Pilar tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil menatap lurus layar bioskop yang sedang menampilkan cuplikan film yang akan tayang berikutnya.
“Maju aja yuk!” ajak Kirana.
“Di sini aja car,” jawab Pilar tenang.
“Aku takut car,” bisik Kirana.
“Tenang aja, ada aku.” Pilar menggenggam tangan kanan Kirana yang sudah kedinginan karena takut. Padahal filmnya belum dimulai.
Lampu bioskop belum juga dinyalakan. Padahal film horornya sudah selesai diputar. Tangan Kirana yang sejak tadi dingin karena takut kini bertambah dingin dan malah menjadi basah oleh keringat. Tenggorokan Kirana terasa sakit akibat teriak-teriak karena ketakutan saat film horor itu menampilkan adegan yang menyeramkan.
“Udah yuk car, kita keluar! Filmnya kan udah abis,” rengek Kirana pada Pilar yang masih duduk dengan santai di bangkunya, sama sekali tidak ada niat untuk beranjak.
“Masih ada satu film lagi yang harus kita tonton car,” jawab Pilar dengan santai. Seolah tidak ada apa-apa dengan Kirana.
“Film apa? Kan harus beli tiket dulu car baru bisa nonton film berikutnya,” kata Kirana terus mengusahakan agar mereka segera keluar dari dalam studio ini.
“Udah aku urus semuanya,” kata Pilar. “Tuh filmnya udah mulai!”
Akhirnya terpaksa Kirana tetap berada di bangkunya, di samping Pilar, untuk menonton film berikutnya. Aneh. Tapi Kirana tidak repot-repot memedulikannya. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk segera keluar dari studio ini bersama Pilar secepatnya. Secepatnya!
Rencana demi rencana yang telah disusun Kirana untuk memboyong Pilar segera keluar dari studio ini mendadak hilang. Ia terpaku menatap layar bioskop yang tiba-tiba saja menampilkan slide-slide foto dirinya bersama Pilar. Kirana melirik ke sekitarnya dan baru menyadari kalau sekarang di deretan bangkunya hanya ada dirinya dan Pilar. Empat deret yang kosong tadi sudah terisi penuh entah oleh siapa dan sejak kapan. Rasa takut Kirana pada film horror tadi sukses membuat Kirana lupa untuk memerhatikan sekitar.
Lagu “Just The Way You Are” milik Bruno Mars versi akustik menjadi backsound dari slide-slide foto tersebut. Sesekali slide itu diberi judul entah dengan tanggal foto atau pun keterangan moment di dalam foto tersebut. Setelah slide-slide foto itu selesai ditampilkan, muncul layar berisi tulisan tangan. Itu tulisan tangan Pilar. Isinya sederhana, hanya beberapa kalimat berisi ucapan terima kasih atas lima tahun belakangan ini. Tapi berarti besar bagi Kirana.
Perlahan air mata menetes di pipi Kirana. Saat diliriknya, Pilar masih menatap lurus ke layar bioskop. Hari ini adalah adalah hari jadi mereka yang kelima tahun. Kirana sama sekali tidak menyangka Pilar akan memberinya kejutan seperti ini. Biasanya kalau memperingati hari jadi mereka Pilar hanya memberi kejutan kecil-kecilan yang sederhana, tidak pernah melibatkan pihak mana pun. Hanya rancangan Pilar dan hanya akan dirayakannya berdua saja. Tapi kali ini Pilar melibatkan banyak orang, setidaknya dengan pihak bioskop dan restoran tadi.
“Makasih car,” ucap Kirana. Pilar hanya menoleh sebentar sambil tersenyum. Gantian Kirana yang menggenggam tangan Pilar. Erat dan hangat.
Kirana kembali melirik Pilar saat secara mengejutkan layar menampilkan rekaman Pilar yang sedang duduk di balik piano dan mulai memainkan sebuah lagu untuknya.
“Car, kamu bisa main piano?” tanya Kirana dengan nada berbisik tapi terkejut. Yang Kirana tahu selama ini, Pilar hanyalah penikmat musik, bukan pemain musik. Satu-satunya alat musik yang bisa dia mainkan hanya gitar. Itu pun hanya sekadar bisa, tidak mahir.
“Khusus untuk moment ini dan khusus untuk lagu ini. Kamu suka kan?” tanya Pilar. Kirana mengangguk-angguk mantap sambil tersenyum menampilkan giginya. Senyum yang paling disukai Pilar.
Kirana dan Pilar kembali menatap layar bioskop. Menikmati lagu yang sedang dimainkan dan dinyanyikan Pilar di dalam video itu. Meski suara Pilar pas-pasan, tapi Kirana senang sekali mendengarnya. Lagu “Tak Sebebas Merpati” milik Kahitna mengalun dari mulut dan piano yang dimainkan Pilar di dalam video itu.

Kala kita lihat sepasang merpati terbang lepas bebas, tepat di hadapan
Lalu kaubertanya kapan kita bagai mereka?
Terbang bebas lepas... lepas bebas ke ujung dunia
Dan kubertanya maukah kau terima pinangan tanpa sisa cinta yang lain?
Pilar di dalam video itu tiba-tiba berhenti bernyanyi padahal lagu yang diaminkannya belum selesai. Video itu secara otomatis dipause, entah oleh siapa.
“Lihat ke bawah car! Pilar menyuruh Kirana untuk menengok ke deretan bangku paling bawah.
Kirana tersenyum dan meneteskan air matanya lagi saat dilihatnya empatderet bangku di bawahnya menampilkan sebuah kalimat dari susunan lilin yang menyala. “Will you marry me?” Begitu tulisan dari susunan lilin yang menyala itu.
Pilar bangkit dari duduknya dan meminta Kirana untuk ikut bangkit juga. Lalu dia berdiri menghadap Kirana dan menggenggam erat kedua tangan Kirana. Menatap dalam-dalam kedua mata Kirana.
“Malam ini saya, Pilar Angkasa Argantara dengan serius meminta Kirana Dewi Larasati untuk menjadi wanita yang akan mendampingi dan menemani sisa hidup saya. Menjadi istri saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya kelak. Saya berjanji akan dengan penuh kesungguhan menjaga kamu. Akan selalu berusaha menjadi pendamping yang terbaik untuk kamu. Jadi, mau kah kamu memenuhi permintaan saya? Will you Marry me?” tanya Pilar dengan mata yang menatap dalam kepada Kirana. Suaranya terdengar tegas tanpa keraguan sedikitpun. Pilar sangat serius.
Kirana menarik napas dalam lalu dengan penuh kepastian dia menjawab, “ Yes, I will”. Cuma itu kalimat yang sanggup keluar dari mulut Kirana. Air mata bahagia mengalir deras membasahi pipinya. Dia tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Pilar melingkarkan sebuah cincin putih bermata satu di salah satu jari Kirana. Membuat Kirana semakin tidak mampu berkata-kata.
Trek. Serentak lampu-lampu di dalam studio tiga menyala. Lilin yang tadi membentuk kata will you marry me juga sudah mati dan kini berganti dengan tepuk tangan riuh. Kirana terkejut bukan main saat dia melihat siapa saja yang berada di sana sambil memegang lilin yang sudah mati. Beberapa baru datang lewat pintu masuk studio. Mereka semua adalah sahabat-sahabat masa SMA, kuliah dan kerja Kirana, semua sahabat Pilar saat SMA, kuliah, dan kerjanya, serta keluarga inti Kirana dan Pilar.
Video kembali menyala dan Pilar dalam video itu pun melanjutkan nyanyiannya.
Rona bahagia terpancar dari anggukan
saat kupasangkan... pasang cincin di jemari
terima kasih kau terima pertunangan indah ini
bahagia meski mungkin tak sebebas merpati
Semua langsung mengerubungi Kirana dan Pilar. Keluarga inti Kirana dan Pilar berdiri tepat di samping mereka. Tersenyum pada keduanya.
“Mama sama papa kok ikut-ikutan iseng sih?” tanya Kirana dengan nada merajuk.
“Loh siapa yang iseng? Ini serius sayang,” jawab mamanya Kirana sambil tersenyum dan mengelus rambut panjang Kirana.
“Iya. Tadi siang waktu kamu lagi di kantor, Pilar dan orang tuanya datang ke rumah untuk melamar kamu,” kata papanya Kirana.
“Kok nggak ngabarin aku sih?”
“Untuk apa? Kan papa tahu apa yang akan menjadi jawaban kamu.”
“Iya sih.”
“Kita juga sudah menentukan tanggal pernikahan kamu. Nggak apa-apa kan?” tanya papa.
“Iya pa, Kirana yakin kalian tahu yang terbaik buat aku sama Pilar.”
“Cie kakak sebentar lagi jadi Mrs. Pilar nih...” goda Saskia, adik Pilar.
“Ah bisa aja kamu.” Pipi Kirana merona merah.
“Ini semua kak Pilar yang rancang loh... kita semua cuma ngikutin aturannya aja. Hebat ya kak Pilar?! Romantis,” kata Arisa, adik Kirana.
“Ih kamu sok tau-tauan ngomongin romantis. Sekolah yang bener dulu, jangan mikirin yang rom
antis-romantis aja!” sahut Kirana sambil mencubit gemas pipi Arisa, adiknya yang baru duduk di kelas dua SMP itu.
“Aku kan udah gede kak...” rajuk Arisa. Yang lain pun tertawa.
Satu persatu memberi ucapan selamat kepada Pilar dan Kirana. Kebahagiaan jelas tergambar di wajah keduanya.
“Bisalah kita makan-makan!” sahut salah seorang sahabat Pilar.
“Oh iya dong, pastinya. Yuk, sekarang kita pindah ke restoran sebelah, sudah om booking,” kata papanya Pilar. Mereka semua yang ada di sana pun satu persatu keluar dari dalam studio dan pergi ke restoran yang dimaksud papanya Pilar.


Meski acara lamaran dan tunangannya tidak seperti acara lamaran dan tunangan pada umumnya yang sakral, tapi Kirana bahagia. Sangat bahagia. Dia beruntung memiliki Pilar yang begitu mencintainya. Yang selalu punya cara-cara yang berbeda tetapi selalu berarti istimewa dan membuatnya bahagia. Begitu pun dengan Pilar. Dia bahagia sekali, beruntung memiliki Kirana yang begitu dicintainya. Yang selalu berada di sampingnya saat dia berada dalam keadaan apapun. Dia beruntung punya Kirana yang mau mengerti tabiatnya, yang tidak pernah marah atau pun protes kalau dirinya kaku dan kurang romantis seperti pacar-pacar pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar