Banjir Marigold
Ini dia
pacarnya Kirana, namanya Pilar. Mereka sudah lima tahun menjalin hubungan dan
sejauh ini semuanya hampir tidak ada yang berberubah dari sejak pertama mereka
pacaran. Pilar masih dengan sikap-sikapnya yang harus dimengerti Kirana. Dan
Kirana masih dengan sedikit keinginan-keinginannya yang seperti anak ABG.
Mereka sedang
melintasi arena ice skating.
“Car main yuk
car!” ‘Car’adalah cara mereka menggunakan panggilan sayang, yang diambil dari
suku kata terakhir dari kata ‘Pacar’. “Aku pengen banget,” pinta Kirana sambil
menunjuk-nunjuk arena ice skating dengan dagunya. Matanya berbinar persis
seperti anak kecil merajuk minta permen.
“Nggak. Kamu
nggak liat yang main anak kecil semua?” Pilar malah melangkah menjauhi arena
ice skating.
“Itu ada anak
SMA-nya kok…” ucap Kirana memelas. Seumur-umur dia belum pernah main ice
skating jadi dia penasaran banget mau mencoba permainan itu.
“Dan kita
udah bukan anak SMA lagi. Kita ke tempat makan aja!” Selalu saja ini yang
dikatakan Pilar saat menolak keinginan-keinginan –yang dianggap bocah- Kirana.
“Okay.” Dan
untuk kesekian kalinya Kirana tidak bisa memaksakan keinginan
kekanak-kanakannya itu. Mau tidak mau Kirana pun mengikuti kemauan Pilar untuk
meninggalkan arena ice skating dan pergi ke tempat makan. Ah lagi pula Kirana
juga sudah mulai merasa lapar.
Tapi bukan
Pilar namanya kalau mau bermanis-manis setelah menolak permintaan pacarnya.
Lihat saja kelakuannya, sudah menolak Kirana sekarang malah jalan duluan.
Kirana pun cuma bisa menggoyang-goyangkan tangannya yang hampa sambil manyun
dan mencoba untuk mengerti. Pilar memang tidak suka mengumbar kemesraan di
depan umum, seperti anak ABG saja katanya.
Tapi kadang…
Kirana kan juga ingin seperti pasangan-pasangan ABG yang kalau sedang jalan
tangannya digandeng.